ESEI
Kala Manusia Terpisah
dari Alam: Bencana!
Oleh: Herry Dim
Pancaaksara
guru-guruning janma. Pancaaksara byakta nu katongton kawreton, kacaksuh ku
indriya. Guru ma pananyaan na urang reya, nya mana dingaranan guru ing janma,
sang moha ma sa(ng) geusna aya bwana.
(Sanghiang Siksa Kandang Karesian,
Atja/Saleh Danasasmita)
LONGSOR, kini, menjadi
bencana paling mematikan, sepanjang Januari-Oktober 2016 tercatat ada 1.853
bencana yang terjadi di Indonesia. Demikian seperti diberitakan Tribun Jabar,
31 Oktober 2016 di halaman 2. Dari jumlah bencana tersebut, ditegaskan 89
persen adalah bencana hidrometeorologi yaitu bencana akibat siklus meteorologi
(cuaca) dengan siklus hidrologi (air) terutama di musim hujan.
Itu hanya salasatu saja
dari sekian berita-berita sebelumnya dan berita di hari-hari berikutnya yang
senantiasa berkabar tentang longsor, banjir, pergerakan atau amblasnya tanah di
berbagai kawasan. Sementara longsor di Sumedang dan banjir di Garut dengan
begitu banyak korban, itu masih mengambang dalam ingatan. Padahal, khususnya
yang berkenaan dengan longsor, sesungguhnya gejala alam yang paling mungkin
diantisipasi dini sehingga kemungkinannya bisa diperkecil bahkan mungkin sekali
dihindari. Seperti yang telah kita ketahui, kejadian longsor di Sumedang, September
2016, di satu kawasan longsor itu saja mencakup lima kampung dan menelan korban
jiwa juga. Berbagai sumber pun menyebutkan bahwa penyebab longsor Sumedang
karena terjadinya alih fungsi lahan terutama di kawasan dengan kemiringan
bahkan sampai 80 derajat. Data kecil itu saja sudah menjelaskan bahwa tak bisa
lagi terjadi pembiaran alih fungsi lahan terutama di kawasan yang memiliki
kemiringan cukup terjal.
Berbeda misalnya dengan
gempa (tektonik atau pun vulkanik) yang terjadi di kedalaman maka tidak ada
jalan lain selain siaga ditambah pengetahuan dasar bagi publik agar tidak
melahap korban, sementara longsor merupakan kejadian di permukaan tanah yang
artinya bisa dikenali melalui sifat dan konturnya.
Lantas berbagai tudingan
pun diarahkan kepada perubahan iklim global yang ekstrem. Tudingan itu tak
salah, tapi jika tanpa pemahaman yang lengkap maka seolah-olah si iklim global
itulah yang akan menjadi tertuduh, padahal benih atau asal-muasalnya justru
karena terjadinya perubahan pada diri kita sendiri (manusia) dalam
memperlakukan alam.
Ajaran Lama dan Kontemporer
PETIKAN pada awal tulisan
di atas, berdasar terjemahan Atja/Saleh Danasasmita/Ma’mur Danasasmita adalah
“Pancaaksara gurunya manusia. Pancaaksara itu kenyataan yang terlihat, terasa,
dan tersaksikan oleh indera kita. Guru itu tempat bertanya orang banyak. Karena
itu dinamakan guru manusia. Kebodohan itu baru ada setelah adanya dunia”
(Ma’mur Danasasmita, Wacana Bahasa dan
Sastra Sunda Lama, STSI Press, 2001).
Tafsir Atja/Saleh
Danasasmita/Ma’mur Danasasmita atas naskah kuno bertarikh tahun 1440 Saka atau
1518 Masehi tersebut antara lain: “Karenanya manusia melalui inderanya harus
mengenali lingkungannya yakni pancabyapara
dan pancadrebya dalam mengembangkan
pengalaman dirinya. Pancabyapara merupakan lingkungan yang lima, meliputi pretiwi (tanah), apali (air), teja (cahaya), bayu (angin), dan angkasa (langit) [...]
Pancadrebya (milik yang lima) ada pada diri manusia yaitu: kulit, darah-ludah,
mata, tulang, dan kepala [...] manusia perlu dan berkewajiban mengenali
lingkungan sekitarnya yang tak terbatas (makrokosmos) serta dalam dirinya
sendiri yang terbatas (mikrokosmos) [dst].”
Ajaran di atas tegas
menunjukan bahwa alam besar dan alam kecil (diri kita) itu tak terpisahkan,
memelihara alam besar sama dengan memelihara diri sendiri, dan sebaliknya.
Bahkan alam besar itu pun ditegaskan sebagai tempat kita (manusia) untuk
berguru, ini mirip sekali dengan prinsip mimetik
yang digariskan Aristoteles: ars simia
naturae. Bedanya, pada Aristoteles dan kemudian penentangnya, Plato, antara
alam dan manusia itu posisinya berhadap-hadapan (ontologis), sementara pada
ajaran Siksa Kandang Karesian
bersifat kosmologis (bersatunya mikro dan makrokosmos).
Kini, mari kita tanya
diri kita sendiri: apakah masih seperti ajaran lama yaitu memelihara alam
seperti halnya memelihara diri sendiri?
Jika melihat kenyataan
kesemenaan-menaan perlakuan terhadap gawir
(tebing), alih fungsi lahan di sepanjang sungai, membangun sembarang hunian di
kawasan yang seharusnya menjadi penyangga alam, pembangunan perkotaan (bahkan
kini sudah sampai pula ke pedesaan) dengan tanpa menyisakan “paru-paru” bagi
sirkulasi udara dan ruang bagi perjalanan serta mengendapnya air; jelas
menunjukan bahwa kita telah terpisah dan/atau memisahkan diri dari alam, bahkan
cenderung memperlakukan alam itu sebagai benda mati yang boleh dieksploitasi
dengan sakarep manusia. Alam telah
dilukai maka sesungguhnya luka pula diri kita seperti dalam wujud banjir dan
longsor itu. Ini sekaligus menunjukan bahwa “perubahan” itu pertama sekali
terjadi pada diri kita sendiri yang kemudian mengubah keadaan alam.
Pun kenyataan kontemporer
dalam konteks global, seperti dilansir oleh situs Greenpeace bahwa perubahan iklim global merupakan malapetaka! Kita
telah mengetahui sebabnya [...] sebagian dari akibat
pemanasan global ini yaitu mencairnya tudung es di kutub, meningkatnya suhu
lautan, kekeringan yang berkepanjangan, penyebaran wabah penyakit berbahaya,
banjir besar-besaran, coral bleaching
dan gelombang badai besar. Kita juga telah mengetahui siapa yang akan terkena
dampak paling besar yaitu negara pesisir pantai, negara kepulauan, dan daerah negara
yang kurang berkembang seperti Asia Tenggara.
Kiranya, tak ada jalan
lain, umat manusia mesti kembali kepada kesadaran kosmologis. Itu bukan sekadar
kita mesti belajar kembali kepada kearifan kuno, sebab teori-teori mutahir
seputaran environmentalisme pun pada gilirannya mengajak manusia agar kembali
bersatu bersama alam. Satu sama lain tidak saling-mencederai melainkan
memelihara dan saling memberi kehidupan. (Herry
Dim, seniman, pengamat kebudayaan, eseis, tinggal di kota Bandung).***
Dikirim
ke Tribun Jabar, 2 November 2016, dimuat 3 November 2016.
***
Kuam-keom Baca “Ini dan Itu Indonesia”
Oleh:
Herry Dim
BAHKAN manakala
membaca esei berjudul “Bahasa Pancasila” masih di bagian tengah, tak
tertahankan mulut kuam-keom yang
artinya sebuah pergeseran senyum antara malu tapi membuat berfikir, tersindir dan
menertawakan diri, serta ada juga upaya-upaya kritis untuk mencari-cari alasan
atau harapannya bisa menemukan pledoi atas
konsep bahasa Indonesia yang termaktub di dalam teks Pancasila.
Terjadinya
kuam-keom itu sambil berkata-kata
dalam hati di sepanjang proses membaca: Ya, jadi ingat, bahwa sejak kelas 1 SD
di tahun 1961 dengan kemampuan baca masih terbata-bata hingga kini memiliki
cucu menjelang masuk SD, rasanya tak pernah mengalami keraguan sedikit pun atas
bahasa Indonesia yang termaktub di dalam lima sila pada Pancasila. Itu untuk
mengatakan bahwa Pancasila diterima seperti demikian adanya, dan diterima pula
“harus” demikian adanya. Sepanjang 55 tahun tak mengalami kritisisme atas teks
Pancasilanya itu sendiri, kecuali menjadi karya seni yang memaknai keprihatinan
atas Pancasila yang tak jua menjadi kenyataan.
Esei
“Bahasa Pancasila” yang sesungguhnya pernah dimuat di dalam “kolom bahasa”
Majalah Tempo, 2011, itu seperti setrum kejut pembangun kesadaran yang pernah
tertidur tak kurang dari 55 tahun. Dua sila saja yang dibahas di dalam esei
tersebut yaitu sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” manakala dibahas berdasar
prinsip imbuhan ke dan an seperti lazimnya di dalam bahasa
Indonesia, muncul lah apa yang dimaksud dengan sila tersebut yaitu “Keesaan
Tuhan”; dan sila keempat yaitu “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan” yang kemudian terkuak kerumitan
bahasanya.
“Bahasa
Pancasila” adalah esei pertama karya Berthold Damshäuser yang termuat di dalam
buku “Ini dan Itu Indonesia : Pandangan Seorang Jerman” (Komodo Books, 2015).
Sebuah buku setebal 223 halaman yang terdiri atas sepuluh esei tentang bahasa
(Indonesia), delapan esei tentang sastra, tiga esei tentang budaya, dan sebuah
cerpen. Buku berkesan humor cerdas, kritis tapi tak menggurui apalagi bikin
jengkel, dan membawa kepada kenangan indah ini dilengkapki kata pengantar Agus
R. Sarjono “Berthold Damshäuser dan Ambiguitas Indonesia” dan kata penutup
Jamal D. Rahman “Wisata Intelektual Seorang Indonesianis.”
**
TAPI
tunggu, ternyata tak semua isi buku disampaikan dengan gurau cerdas berupa
esei-esei yang berdasar factum di
bangku kuliah bahasa Indonesia di Universitas Bonn, Jerman, nyatanya manakala
sampai ke pembicaraan tentang Kang Atun
(Ramadhan K.H.) tak ada lagi gurau di sana kecuali kisah haru percintaan
intelektual antara dua orang pejuang sastra. Demikian halnya Pak Trum, begitu
lah panggilan kami kepada Berthold Damshäuser, manakala menurunkan
tulisan-tulisan penghormatan semisal kepada Hamid Jabbar, Trisno Sumardjo, dan
Sapardi Djoko Damono; di sana sangat kuat sekali didasari rasa keterlibatan,
emfati, keren-nya feeling into atau einfühlung terhadap subjek yang dibicarakan kemudian di
sekelilingnya diberi bangunan prinsip-prinsip keilmuan yang meyakinkan. Dengan
itu si pembaca dibawa masuk ke dunia subjek yang dibicarakan, dan pada saat
bersamaan pembaca pun diajak tamasya ke lautan ilmu sastra. Maka bagi yang
belum kenal menjadi kenal, bagi yang telah kenal jadi ingat kembali bahkan kian
kenal, menitikan air mata haru, lantas manggut-anggut
mengatakan: “iya, ya, agung sekali mereka itu, bukan sekadar menyerahkan
seluruh hidupnya bagi sastra tapi di sana pun terdapat samudra kecendekiaan,
dan betapa kuatnya mereka menempuh jalan sepi, jalan arif.”
Kemudian
pada esei-esei yang memang tak ada jalan lain selain melalui pertanggungjawaban
ilmiah, seperti manakala Pak Trum menyampaikan kerinduannya pada “Puisi yang
Bukan Prosa,” mempertanyakan sekaligus menjawab hal-ihwal dan masa depan “Puisi
Esei,” apalagi ihwal “pertukaran budaya” yang hampir sepanjang hidup dijalani
Pak Trum, diurai dalam esei-esei panjang bahkan sulit (untuk tidak dikatakan
tak bisa lagi) disebut esei mengingat lebih dekat kepada kajian ilmiah.
Baru
kemudian di bagian penutup Pak Trum kembali ke dunia ironi dan humor tinggi.
Pada esei “Indonesia adalah Sarang Toleransi!” Pak Trum kembali ke setting perkuliahan kelas bahasa
Indonesia di Universitas Bonn. Di sini menyuruk sampai kepada hal yang esensial
di dalam kemanusiaan, mempertanyakan “teistis dan ateitis” di dalam konteks
toleransi Indonesia. Dan lagi, hal yang mungkin bisa bikin senewen bagi yang masih tunggal dimensi, di sini malah bisa dibaca
sambil kuam-keom, dan menjadi paham
meski tanpa kesimpulan.
Buku
ditutup dengan sebuah fiksi (cerpen) tapi kiranya bersifat biografis atau
pengalaman langsung penulisnya manakala sedang di dalam taksi, terjebak
kemacetan kota Jakarta, lantas muncul ironi dramatik melalui percakapan dengan
sopir taksi yang ternyata suku Sampit. Ada yang perih karena diingatkan kembali
kepada tragedi “Sampit – Madura,” tapi kita, kembali kuam-keom saat membacanya. (Herry
Dim, pelukis, pengamat kebudayaan,
eseis, tinggal di Cibolerang, Bandung)***
Dikirim
ke Galamedia, 22 Oktober 2016 – dimuat 27 Oktober 2016.
***
Jeprut adalah Perlawanan
Oleh: Herry Dim
Jeprut itu apapun.
Sementara, bagi saya, jeprut itu adalah perlawanan.
Disebut sebagai apapun
karena sebagai perilaku (seni), jeprut tidak bermula dari definisi dan bahkan
dalam berbagai hal dimulai dengan “menolak” segala definisi (seni) yang telah
ada. Di dalamnya dan sampai sejauh ini, pelaku-pelakunya bisa berasal dari
perupa, teatrawan, penari, pemusik, penyair. Tapi presentasi atau pun
representasinya sudah tidak bisa lagi disebut sebagai sajian dalam satuan rupa,
teater, tari, musik, atau pun syair; dan bahkan tidak juga bisa diartikan
sebagai gabungan atau penjumlahan dari itu semua. Citra-citra dari asalinya (rupa,
teater, tari, musik, teks, bahkan multimedia) memang kerap masih menjadi tanda
dan/atau masih teridentifikasi, namun umumnya tidaklah hadir dalam salasatu
atau pun gabungan kebakuan “ruang-ruang” tersebut. Jeprut pada gilirannya tak
lain merupakan seni yang mandiri.
Pada masa-masa awal
pertumbuhannya antara tahun 1980an (bahkan sesungguhnya sudah menggejala pada
1970an), jeprut sering disandingkan dengan fenomena “happening art” yang
digerakan oleh aktivis “Dada” mulai pada 1950an. Beberapa tandanya seperti
lukis, syair, musik, tari, dan teater pun memang menjadi cirinya. Bedanya,
“happening art” cenderung masih dilandasi kesadaran tinggi bahwa yang
disajikannya itu “pertunjukan,” tak heran jika pada masanya masih memilih ruang
atau arsitektur tertentu bahkan dengan sadar melakukan penataan sistem cahaya.
Sementara jeprut relatif tak mempedulikan itu, ia bisa hadir di tempat
“mongkleng” (gelap gulita) dan hanya dengan sedikit pencahayaan beberapa
“cempor” (lentera), tak juga memilih tempat seperti contohnya sungai yang
polutan pun bisa digunakannya.
Dalam hal “ketakpedulian”
akan media dan ruang serta keterbukaannya bagi siapapun, agak dekat juga dengan
gerakan “Fluxus” yang merupakan bagian dari gerakan avant-garde. Jeprut pun relatif sangat terbuka, tak hanya menjadi
tempat bagi yang belatarkan rupa, teater, tari, musik, teks, dan multimedia
melainkan terbuka untuk dimasuki oleh siapapun dengan latar-belakangnya
masing-masing. Maka bisa beserta personal peneliti atau lembaga lingkungan
hidup, politisi, agamawan/rohaniawan, dan sebagainya. “Setiap orang adalah
seniman” (everyone is an artist)
seperti yang dicetuskan Joseph Beuys dan kemudian menjadi “keimanan seni”nya
Fluxus pun berbayang di hampir setiap gerakan jeprut. Ini pula yang mengantar
kepada pengertian “jeprut itu bisa apapun,” anything
goes.
Mengingat dunia sejak
perkiraan pertengahan tahun 1980an itu mulai tumbuh menjadi “desa elektronik global”
(the global electronic village)
dengan masing-masing penghuninya bisa saling terhubung dalam tempo yang jauh
lebih cepat dari sebelumnya, maka lintas-informasi, lintas-fenomena,
lintas-seni, lintas-budaya pun berlangsung dalam percepatan yang tinggi. Saling
pengaruh dan saling akses ihwal seni dan fenomenanya menjadi sangat terbuka.
Kawan-kawan “jepruter” yang sebagian besar di antaranya adalah “anak sekolahan,”
rasanya tak terhindarkan dari “gaul gagas” di “desa baru” yang saling-terhubung
secara elektornis lantas mendorong pula kesaling-terhubungan tubuh yang
kemudian menjadi “gaul karya.”
Ah, tapi di bawah
matahari ini sesungguhnya tidak ada yang baru. La jadidu tahtasy syamsi, demikian kata pepatah Arab atau “tidak
ada yang baru di bawah matahari, semua terulang kembali” seperti tertera di
dalam Injil (Pengkhotbah 1:9), atau “if there be nothing new” seperti termaktub
pada bait awal Sonneta 59 Shakespeare, dan Wing Kardjo di dalam salasatu haiku-nya yang berjudul “Simulacra”
menulis: Hidup imitasi dari / sekian imitasi. Tak baru / di bawah matahari.
Saling terhubung dan
saling pengaruh telah terjadi sejak awal mula manusia dan kebudayaannya ini
meng”ada.” Maka saling-sua budaya itu tak hanya terjadi pada Paul Gauguin di
Tahiti pada 1890an, lazim juga terjadi pada Van Gogh (seperti diungkapkan dalam
suratnya kepada saudaranya, Theo) yang terkagum-kagum dan kemudian “belajar”
pada ukiyo-e atau seni cetak cukil
kayu Jepang, Picasso yang dipengaruhi topeng Afrika, Antonin Artaud yang
dirasuki teater Bali dan bahkan kemudian membuka babak baru yang disebut avant-garde. Tambah ke sini “gaul”
seperti itu kian panjang, Jackson Pollock dan Mark Rothko untuk sekadar
menyebut diantaranya yang “belajar” kepada Zen Buddhisme hingga membentuk
gerakan ekspresinonisme Amerika.
Maka yang menjadi
menarik di dalam seni di kemudian hari bukanlah pada siapa yang lebih dahulu
dan mana yang terpengaruh, melainkan pada perkara-perkara bagaimana seni itu
hadir di tengah-tengah masyarakatnya. Ini pula yang merupakan akhir dari “Critique
of Judgment” Kant dan pengikutnya (Kantianisme). Pencapaian seni tidak lagi
didasarkan pada timbangan atau penghakiman nilai berdasarkan baik atau buruk,
indah atau tak indah, agung (adiluhung) atau dunia cacah. Kelak runtuh pula
batas-batas klasik atau modern, Barat atau Timur, kontekstual atau universal, seni
maskulin atau feminin, tokoh atau bukan tokoh, dan seterusnya.
Seni menjadi bergeser
kepada kehadiran (present) atau pun
penghadiran (represent) atas segala
hal yang bersinggungan dengan pelaku (seniman)nya. Andai kata pun “Critique of Judgment” sepertinya masih terasa ada, umumnya
memang “dipertahankan” oleh dunia pasar sebab ada kecemasan akan terganggunya harga
jual “old master” yang artinya bisa berkenaan dengan kegoncangan yang luar
biasa di berbagai hal. Terakhir adalah pada pilihan tempat bagi presentasi atau
pun representasinya; meski jeprut bisa hadir pada kenduri-kenduri formal di
galeri-galeri, museum, atau keagungan kuil-kuil seni lainnya – tapi pada
dasarnya jeprut lebih berkehendak tampil dimanapun. Seperti halnya teater avant-garde atau teater absurd yang dirumuskan Martin Esslin
bahwa teater mutahir berkeinginan besar untuk bisa hadir kembali di
tengah-tengah masyarakatnya. Ya, tulis Esslin, teater kembali menjadi ritus. Namun,
lanjutnya, meski adakala masih membawa citra-citra ritus purbawi tapi yang
dihampiri sesungguhnya kerumunan atau ritus-ritus mutahir seperti halnya
kerumunan peristiwa sepakbola, politik, atau pun aksi-aksi sosial.
Itu sekadar gambaran
ringkas bahwa jeprut adalah apapun. Lantas, bagaimana dengan jeprut sebagai
perlawanan?
Jawabnya, mau tak mau,
harus dengan menengok genealogi atau
sui generisnya sebagaimana berikut
ini.
Sui Generis Jeprut
Prinsip-prinsip
“hadir,” “setiap orang adalah seniman,” dan “apapun” yang menjadi landasan
jeprut atau pun “seni baru” pada umumnya, itu menjadi menarik dalam sejumlah
hal.
Prinsip “hadir”
menodorng seniman keluar dari studio atau ruang pribadinya untuk kembali
melihat bahkan hadir menjadi bagian dari dunia dan kehidupan sekelilingnya.
Seniman tidak lagi berada di kuil-kuil seni atau pun kemegahan yang dibangunnya
demi “jaim” bahwa ia orang “yang disucikan dalam hal seni” dan menjadikan
kuilnya itu untuk merenung-renung agar menemukan ilham keadiluhungan seni, melainkan
turun ke jalan, ke tempat-tempat buruh bekerja, bersatu dengan petani atau pun
nelayan. Sawah, misalnya, tidak lagi dipandang dari kejauhan sebagai
pemandangan eksotis dengan padi hijau atau menguning dilatari gunung dan alur
sungai yang elok; kini, meski seniman tak harus dari/menjadi petani maka
sekurang-kurangnya sawah itu menjadi wilayah empirik sekaligus (semacam) studi,
maka lumpur sawah yang mengotori kaki hingga seluruh tubuh, alat kerja, bahkan
kerbau sebagai kerabat untuk membajak itu mejadi hal yang teralami ketimbang
dipandangi. Demikian halnya dengan ngarai dan sungai, ia tak lagi sebagai objek
yang dipandangi sambil berucap “elok nian kelok dan alur sungai itu” lantas
melukiskannya; kini, senimannya malah “ancrub” (turun ke sungai) dan
menyusurinya sepanjang ia sanggup. Maka bukan lagi keelokan yang dijumpai
melainkan sungai yang sudah sangat tercemar, bau busuk yang menyengat, tak
menunjukan lagi kehidupan ikan, dan tentu saja jauh dari bening [lihat
catatan lain: Herry Dim, “Prinsip ‘Achtung’ dan ‘Tolak Bala’ pada Seni
Kita”].
Tisna Sanjaya bersama
komunitas Ke’ruh (Isa Perkasa, Rahmat Jabaril, Wawan S Husin, dll), kerap
melakukan jeprut di sungai-sungai Cikapundung, Citarum, hingga Bengawan Solo.
Setidaknya tercatat jeprut “Doa Sumber Mata Air Cikapundung untuk Mandela,”
kemudian juga semacam “doa” melarung segala kotoran dalam rangka proses
pemilihan presiden RI 2014, dan lagi-lagi “doa” untuk negeri yang dilakukan di
Bengawan Solo yang kesemuanya berlangsung antara tahun 2013 - 2014. Jauh
sebelumnya, 1997, adalah karya “Rakit” memenuhi lebaran sungai Ciliwung sekira
16 m dengan susunan sejumlah rakit yang panjangnya tak kurang dari 32 m. Karya
yang bermula dari penulis (Herry Dim) tersebut kemudian dikerjakan bersama
(alm) Hendrawan Riyanto lantas melebar secara emansipatoris hingga akhirnya
menjadi karya bersama dengan Endo Suanda, Deden Sambas, Sulasmoro, dan sejumlah
ahli bambu yang didatangkan dari Bandung untuk mengerjakannya. Manakala karya
tersebut “sudah menjadi,” setiap hari/malamnya, sepanjang berlangsungnya
“Festival Istiqlal II,” menjadi “pentas” yang diisi oleh musik Harry Roesli,
dkk., Putu Wijaya, Rendra, Tony Broer, Ine Arini, Ikranagara, Sitok Srengenge,
Marjorie Suanda, Wawan S. Husin, dll. Pada saat itu pula kata sambung
“daripada” yang suatu saat menjadi semacam “semiotika kekuasaan” mulai secara
terbuka dilontarkan bahkan melalui pengeras suara bersama musiknya Harry
Roesli. Padahal festivalnya itu sendiri disponsori oleh regim yang saat itu
sedang berkuasa.
Prinsip hadir dengan
sendirinya mendorong setiap jepruter untuk bersinggungan dengan masyarakat dan
lingkungannya. Dorongan inilah yang memunculkan prinsip yang kedua yaitu
“setiap orang adalah seniman.” Peristiwa seni jeprut menjadi sangat
emansipatoris, menjadi terbuka bagi kalangan apapun di luar profesi seni, bahkan
terbuka pula bagi keterlibatan masyarakat umum. Ini yang kemudian menjadikan
peristiwa jeprut kerap menjadi semacam ritus baru.
Pertanyaan kita
sekarang: apa kiranya yang mendorong lahirnya jeprut di kalangan seniman
Bandung?
Itu, sesungguhnya,
merupakan pertanyaan yang seyogianya dikejar dengan serangkaian kerja genealogis berupa kajian sejak tentang “keluarga,”
penelusuran jalur keturunan, serta sejarah atau silsilah dari setiap pelakunya.
Jika serangkaian kajian tersebut dilakukan, saya yakin, akan mengantar kepada
pembuktian bahwa jeprut itu sui generis
(sejatinya) seni baru yang lahir atau dilahirkan oleh seniman Bandung dan
kemudian menjadi semacam gerakan seni. Ia dilahirkan oleh dan/atau reaksinya
terhadap keadaan sosial, politik, ekonomi, dan juga kerangkeng estetik. Gerakan-gerakan
happening art dan Fluxus seperti telah disebut di atas,
itu akhirnya merupakan bagian kecil sebab situasi tempat lahirnya sui generis jeprut justru menjadi
pendorong yang lebih besar.
Yang disebut situasi sui generis jeprut itu tentu saja
keadaan Indonesia, suatu keadaan yang demikian mencekam tapi sekaligus begitu membuai,
ya, semacam dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Mencekam karena suasana penuh
dengan represi yang terbuka atau pun digerakan oleh pusat kekuasaan secara
terselubung. Tekanan tersebut dibelakukan demi konsep “pembangunan” yang harus
berjalan lancar dan/atau tak boleh ada gangguan apapun. Hasil pembangunan
memang menggiurkan, terutama ditandai dengan pesatnya pembangunan gedung-gedung
di pusat pemerintahan, Jakarta. Gaya hidup kemapanan dan kenyamanan diciptakan
di pusat dengan mengabaikan bagian lain dari Indonesia yang lebih besar. Gaya
hidup baru tersebut antara lain dijadikan sebagai tanda keberhasilan
pembangunan. Bersamaan dengan berlangsungnya semangat pembangunan, antara lain,
adalah sebuah kelompok diskusi yang bernama “Kelompok Sepuluh” yang melakukan
diskusi-diskusi dengan cara bergerilya dari rumah ke rumah. Kelompok ini
adakalanya menyelenggarakan pembahasan yang menyuruk kepada pembicaraan seni
(sastra, teater, senirupa) an sich
tapi kerap juga melakukan pembahasan mendalam seputar politik, ekonomi, dan
kebudayaan Indonesia secara menyeluruh.
Hampir semua eksponen
“Kelompok Sepuluh” itu adalah pekerja pers dan/atau setidaknya berkait dengan
kehidupan pers, sastrawan, seniman, aktivis kampus, dan dosen. Tapi selama itu
pula tak seluruh makalah dan pembicaraan diskusi bisa dimaklumatkan melalui
media-media tempat mereka bekerja. Beberapa teks yang lolos (antara lain
melalui H.U. Pikiran Rakyat) adalah tulisan atau pun reportase diskusi yang
dianggap “aman,” sementara yang dianggap “tak aman” dibiarkan berkembang di
dalam kepala masing-masing atau adakalanya bocor
memalui forum-forum pembicaraan lain.
Di antara “yang tak
aman” itu antara lain dibicarakan bahwa keberhasilan pembangunan itu tak lain
merupakan keberhasilan semu dan/atau bukanlah pembangunan yang berdasarkan daya
sendiri melainkan bersumberkan kepada dana pinjaman dari IGGI (Inter-Governmental Group on-Indonesia),
yaitu suatu kelompok negara-negara maju dan juga lembaga-lembaga internasional
yang memberikan pinjaman kepada Indonesia untuk membiayai pembangunan. Lembaga
ini didirikan pada tahun 1967 dan pusat kegiatannya di Den Haag, Belanda.
Sebagai catatan saja,
bahwa jejak utang beserta bunga atas nama “pembangunan” itu masih terasa
menjerat leher hampir seluruh rakyat Indonesia yang tergolong miskin hingga
saat tulisan ini disusun, bahkan kian membuat sulit bernafas karena ditambah
lagi dengan utang baru dari Bank Dunia atau pun negara/lembaga donor lainnya.
Dana utang tersebut
menjadi lebih menyakitkan karena dikelola dengan gagasan Trickle Down Effect (TDE) yang dirancang sejumlah teknokrat dan
ekonom regim Soeharto. TDE, saat itu, dianggap sebagai sistem perekonomian
paling ideal untuk memajukan perekonomian bangsa. Pola ekonominya dimulai
dengan menyejahterakan level atas untuk kemudian ‘dibayangkan’ akan menetes ke
level paling bawah. Tapi pada kenyataannya TDE hanya menghasilkan kartel-kartel
dan konglomerasi yang berkisar di seputar pusat kekuasaan. Hasilnya antara lain
korupsi dan manipulasi pembangunan yang terjadi di mana-mana, semisal
penguasaan atas hutan, tambang, dan aneka monopoli perdagangan pada kalangan
tertentu. Rakyat sama sekali tak pernah mendapatkan tetesan TDE bahkan
sebaliknya menanggung beban utang yang berkepanjangan.
Seluruh jalur kritik
atas kebobrokan pembangunan itu dibikin mampet secara sistematis,
tanda-tandanya terdapat pada simbol-simbol represif semisal pengultusan
kata-kata stabilitas, subversi, bahaya laten komunis, dan sebagainya. Itu
setara dengan efeumisme semisal kata “kritik membangun” yang padahal menjadi
alat untuk menindas kritisisme. Kontrol negara dilakukan atas media yang
lazimnya menjadi ruang kritik publik melalui pensaktian SIUPP (Surat Izin Usaha
Penerbitan Pers) di tangan menteri penerangan. Media yang terbit tanpa SIUPP
dianggap media liar dan boleh diberangus setiap saat, sementara media ber-SIUPP
senantiasa hidup dalam kecemasan karena pencabutan SIUPP itu sama dengan
kematian.
Itu sekadar gambaran
teramat ringkas saja. Tegasnya situasi itu pula yang dirasakan sejumlah seniman
Bandung.
“Kudu kumaha deui atuh
urang teh?” (Jadi harus bagaimana lagi kita ini?) Demikian salasatu saja
kalimat yang pernah dilontarkan (almarhum) Harry Roesli untuk menandakan bahwa
hampir seluruh perangkat seni “macet” alias tak berdaya di hadapan kekuasaan. Sejumlah
pentas konvensional memang masih terus dilakukan. Suyatna Anirun, misalnya,
mementaskan “Badak-badak” berdasar naskah Eugene Ionesico tapi tak berimpak
apa-apa karena dunia di luar dirinya tetaplah bermuka dan berkulit badak. Ine
Arini yang sejak usia 10 tahun menggeluti tari tradisi, meski kelak hingga
melewati usia 60 tetap menari dan mengajarkan tari tradisi, merasa ada yang tak
terwadahi demi memperjuangkan gelegak keperempuannya. Tisna Sanjaya yang
sesungguhnya “canggih” dalam hal penguasaan seni grafis merasa tak cukup bicara
lewat karya datar yang tergantung di dinding, maka pada peristiwa “24 Jam
Menolak Breidel” (yang dirancang Herry Dim, Harry Roesli, dan Dieter Mack) ia
angkut seluruh peralatan kerjanya ke ruang publik untuk menjadi bagian aksi
jeprutnya. Isa Perkasa yang sangat pandai menggambar merasa tak cukup lagi
menggambar sosok yang sedang memakan bendera merah putih, demi menunjukan
kecintaan sekaligus keperihannya atas nasib negeri maka ia presentasikan secara
langsung adegan dirinya memakan bendera merah putih di hadapan publik yang
menghadiri acara tahilan untuk Harry Roesli dan memperingati 100 hari wafatnya
Munir di YPK. Pun Rahmat Jabaril yang sesungguhnya pelukis itu tidak lagi
melukis kepala babi melainkan menghadirkan kepala babi secara langsung
sepanjang pameran di YPK hingga membusuk. “Dalam lukisan tak akan pernah muncul
bau busuknya sebagai semiotik kebusukan pemerintahan negeri ini,” katanya.
Ringkas hikayat, jeprut
lahir menerobos kebuntuan situasi sosial, politik, dan ekonomi; pada saat yang
bersamaan ia pun melakukan bocoran terhadap kemacetan estetik. Agak jauh
sebelum istilah jeprut meng”ada,” sejumlah seniman yang merasakan kepengapan
tersebut telah melakukan kegiatan-kegiatan “mahiwal,” di antaranya pada tahun 1988
adalah kelompok Sumber Waras, di dalamnya adalah Isa Perkasa, Arahmayani, Marintan
Sirait, Diyanto, Tiarma, Sony Coa, dll. Pada tahun 1989 adalah kelompok Perengkel
Jahe (Isa Perkasa, Putu, Mutaqin, Jali, Yudi Yudoyoko, dll.). Tahun 1994 ada kelompok
Nyeuneu Nyeni (Heru Hikayat, Gustaf Hariman
Iskandar, Gusbarlian). 1996 kelompok Perengkel
Jahe (Isa Perkasa, Gusbarlian, Nandang Gawe, dll) aktif kembali. Pada saat
bersamaan pola-pola olah sukma dan olah tubuh pada acting course STB (Studiklub Teater Bandung) menjadi lebih
mengedepan karena (mungkin) seperti menjadi celah bocoran bagi segenap ghirah keinginan untuk keluar dari
formalisme. Di sini, rasanya, Tisna Sanjaya mulai tumbuh yang antara lain
mengantar dirinya membuat instalasi “Ngadu Bagong.” Demikian halnya Marintan
Sirait yang sudah punya bekal dari Sumber Waras, banyak melakukan kegiatan
“mahiwal” yang berpusat pada pengolahan diri yang sedalam-dalamnya.
Suyatna Anirun yang
juga mengajar pada generasi awal jurusan teater yang didirikan pada 1978 di
ASTI (kini STSI), pun membawa tradisi olah sukma dan olah tubuh sebagai metoda
pengajaran keaktoran. Sejauh yang saya ingat, adalah Sistriaji, Rachman Sabur, dan
penulis sendiri menjadi “anggota” yang paling antusias dan kemudian membuat
karya-karya “mahiwal” untuk kebutuhan formal akademik atau pun karya lepas
secara bersama-sama. Belakangan adalah pula Endo Suanda yang mengajar dan
menambah “kegilaan” kami, berikutnya adalah F.X. Widaryanto yang baru pulang
dari AS memutar nomor-nomor dari Philip Glass untuk kemudian kami respon dengan
gerak “tak berbudaya,” “purbawi,” “keluar dari kelaziman,” demikian
istilah-istlah yang kerap diucapkan. Karena perilaku “tak berbudaya” ini
kemudian bocor dan/atau hadir di ruang publik (antara lain pada peristiwa GFAM,
Gerakan Film Anak Muda, FFI 1985), saat itu pula sebutan “perengkel jahe” kian
santer diucapkan. Kadang dalam nada cemooh seperti sering dialamatkan kepada
Ine Arini, atau sekurang-kurangnya dalam nada tanya “nanaonan eta teh?”
Bocoran “mahiwal” pada
gilirannya semakin keluar dari sarang untuk memasuki ruang-ruang publik. Pada
saat itu pula, hemat saya, gerakan ini memulai dirinya menjadi semacam
“pernyataan.” Diantaranya adalah Arahmaiani yang membebat pohon dengan kain verband dan kembang (tanpa paku)
sepanjang jl Supratman, "proses untuk menjadi" bersama Harry Roesli
menjadi “ritus senirupa – senirupa ritus,” “metateater,” “rakit,” “opera tusuk
gigi,” “24 Jam Menolak Breidel,” “Ladang Mengerang” di pelataran tanah kosong
rumah Tisna Sanjaya, “Ruwatan Bumi” di Studio Pohaci yang tak henti mendapat
“terror” telefon, “Puitika Sampah” di CCF (kini IFI), bahkan di acara resmi
pernikahan Harry Pochang, dll.
Tibalah pada acara,
saya lupa entah saat sunatan Zico Albaiquni atau acara perkawinan Edi
Purnawadi, saya menulis sebagai kado yang secara tegas memakai judul “jeprut”
dan menawarkan “Lingkung Seni Jeprut Jaya” sebagai sebutan bagi komunitas
“mahiwal” yang telah tumbuh itu.
Istilah “jeprut” itu
sendiri saya pungut dari pernyataan Molly Agustina yang suatu ketika melihat
suaminya, Tisna Sanjaya, melakukan kegiatan “mahiwal.” Sambil menatap kelakuan
sang suami, Molly berkata: “Tah si akang tos ngajeprut deui bae” (tuh suamiku
sudah jeprut lagi).
Seperti yang saya
ungkapkan di dalam tulisan kado (yang mungkin telah hilang) tersebut, padanan
terdekat dan harfiah atas kata “jeprut” adalah manakala lampu (bohlam)
tiba-tiba putus. Sementara kata “jeprut” atau “ngajeprut” dalam percakapan
bahasa Sunda itu kerap dialamatkan kepada seseorang yang tiba-tiba terganggu
pikiran atau pun kejiwaannya. Saya sendiri jatuh cinta kepada istilah tersebut
karena tak jauh dari saat itu saya pun tengah membaca sebuah artikel di majalah
Intisari, di sana ada uraian ilmiah populer
dari hasil penelitian terhadap van Gogh dan Salvador Dali. Artikel tersebut
menyebutkan (bahkan rasanya menjadi judul) bahwa begitu tipis batas antara
“kegilaan” dan “kejeniusan.” Dari urut-urutan itu pula kemudian saya senantiasa
membedakan antara “kegilaan” dengan “ketidakwarasan.”
Tanpa maksud membuat
definisi, habitus jeprut, paling
tidak sampai dengan catatan ini disusun, kiranya adalah kegilaan untuk
melakukan perlawanan terhadap “kemandegan” dan apalagi kebobrokan yang terjadi
secara sosial, politik, ekonomi, atau pun estetik. Berkenaan dengan ini, maka
saya sering dibuat kagum oleh jeprutnya Wawan S. Husin. Bayangkan manakala
agama-agama mengalami pembekuan dan/atau bukan sebaliknya menjadi tempat untuk
saling memperluas diri, membentuk manusia menjadi jembar, shaleh secara
religius sekaligus sosial, tempat pembebasan rohani; sehingga agama menjadi
terjebak di dalam formalisme, kaku, sulit bahkan tegang dalam bertutur sapa
dengan yang berbeda – Wawan S Husin kerap “ngajeprut” dengan “doa” yang
bersumberkan dari aneka agama/kepercayaan. Itu adalah perlawanan terhadap
kebekuan, kekakuan, dan ketegangan tadi. Doa menjadi manusiawi kembali, manusia
menjadi kembali saling-terhubung meski satu sama lain berasal dari sumber dan
kepercayaan yang berbeda.
Jeprut memungkinkan
untuk itu!
Esei ini disampaikan kepada:
pada 23.09.2014 untuk "Annual Jeprut#1 2014"
--oo0oo--
Harry
Roesli: “Tertawakanlah Diri Sendiri”
[Sebuah Catatan Kecil]
Oleh: Herry Dim
Harry Roesli (1951 –
2014) tidak pernah menyatakan dirinya itu jeprut tapi kepada karya atau
tindak-tanduk kawan-kawannya yang “mahiwal,” ia kerap menggunakan kosa-kata “edan
siah maneh,” “gelo,” “dasar jeprut.”
Suatu ketika, misalnya,
datanglah Arahmaiani ke Supratman 57, ia dari tutup kepala hingga alas kakinya
mengenakan batik, lantas Harry Roesli (HR) pun berkata: “Herry tingali siah Si Yani, dasar jeprut.” Tapi manakala saya
menyelenggarakan pameran “Senirupa Ritus – Ritus Senirupa” (1986), ia
mengatakan: “gelo maneh mah... dst.”
Sebaliknya kepada Reksalam yang kerap datang ke Supratman 57 dan beberapa kali
juga datang dan menginap di rumah saya, HR tidak menggunakan kosa-kata “gelo”
melainkan “jeprut.” Padahal, (maaf) secara psikologis Reksalam bisa
dikategorikan mengalami gangguan kejiwaan yang sesungguhnya.
HR sendiri pada masa
pertengahan 1980an itu mengaku sedang dalam proses konsultasi dengan psikiater,
ia menyebut nama psikiaternya tapi saya lupa (jika tak salah Prof. Dr. Sutardjo
A. Wiramihardja, Psi., maaf jika saya salah). Inilah saat saya kerap dipanggil
untuk menemani ngobrol, berkali-kali bahkan panggilannya itu muncul dini hari
antara pkl. 01:00 atau 02:00 – tak ayal saya pun mengayuh sepeda dari
Cibolerang ke Supratman dan di kemudian hari dengan sepeda motor bebek butut
warna merah. Saya, tentu saja tak merasa ahli ilmu jiwa, hanya bisa ikut
merasakan saja bahwa HR saat itu sedang mengalami “kegilaan” atau “kegelisahan”
di dalam proses berkarya. Pada salasatu malam, misalnya, muncul kembali
panggilan lewat telepon rumah (saat itu belum ada ponsel): “Herr, maneh ka dieu euy, make taxi bae,
engke mayarna ku urang di dieu.” Saya pergi naik sepeda karena di daerah
Cibolerang bahkan siang hari pun hampir tidak pernah ada taxi.
Begitu tiba di
Supratman, HR menyodorkan majalah yang sudah lusuh terbitan Kedutaan Besar
Belanda. “Tah, tingali ku maneh, ceuk
urang mah ieu jelema edan,” kata HR sambil menyodorkan majalah yang terbuka
di halaman mengenai karya M. C. Escher serial “Relativitas.”
Meski awalnya obrolan
berkisar pada “Relativitas” Escher yang saya katakan struktural bahkan
matematis tapi cara susunnya jeprut, jungkir-balik, melawan gravitasi;
pembicaraan sampai pagi itu selanjutnya lebih berpusat kepada kepenasaran HR dan
dunianya yaitu musik.
Ia antara lain
mengatakan senirupa lebih leluasa dalam hal ruang dan waktu, cara melihatnya
bisa dimulai dari manapun dan boleh berakhir di manapun. Itu berbeda sekali dengan
musik yang nyatanya selalu terikat oleh awal dan akhir dari suatu komposisi.
HR, seperti dalam
obrolan dini hari hingga terbitnya matahari, itu “ngotot” ingin membuat karya
musik “yang bebas dari ikatan ruang dan waktu,” seperti halnya grafis karya M. C.
Escher yang menunjukan banyak pintu, setiap orang bisa masuk dari pintu manapun
bahkan dalam posisi pintu dan tangga yang terbalik (melawan gravitasi).
Panjang ceritanya. Ringkasnya
saja, dari obrolan itu antara lain lahirlah karya “Peti Kaca” yang direkam
terbatas dan hanya beredar pada kesempatan berlangsungnya Pasar Seni ITB
(lagi-lagi saya lupa tahunnya). Namun puncaknya, menurut hemat saya, adalah
pada karya “Tertawa.”
Komposisi “Tertawa”
untuk dimainkan sejumlah orang, “partitur”nya berupa rekaman suara
HR sendiri berupa
cerita-cerita lucu yang memancing tawa. Saat dimainkan HR pernah memimpin
presentasinya sebagai dirigen, tapi pada pentas-pentas lain dibiarkan berjalan
sendiri. Setiap pemain dibekali alat putar pita rekam saku dan masing-masing
dilengkapi ‘headphone’ sebagai alat dengar. Setiap pemain (katakanlah choral) menyalakan alat pemutar suaranya
secara acak, satu demi satu di antara mereka mulai tertawa kecil hingga
terbahak-bahak. Susunan choral
tertawa itulah karya musiknya.
HR sudah berhenti
konsultasi kejiwaan. Obatnya, seperti kerap juga ia katakan kepada saya, itu
datangnya dari Putu Wijaya. “Jelema
cageur jeung sehat mah jelema anu bisa nyeungseurikeun dirina sorangan,”
kata HR.
Seiring dengan itu
lahirlah karya lainnya seperti “Tahlil” yang menjadi bagian untuk pameran
“Senirupa Ritus – Ritus Senirupa.” Karya ini berupa looping delapan suara tahlil yang disebar melalui delapan alat
pemutar pita suara. Sedikit saja catatan, bahwa looping masa itu belum menggunakan komputer karena belum ada,
melainkan dengan cara memotong pita kaset lantas dibongkar-sambung hingga
menghasilkan suara bolak-balik tanpa akhir. Berikutnya adalah (katakan saja) workshop berulangkali yang kemudian
diberi nama oleh Eddy Purnawadi dengan sebutan “proses untuk menjadi.” Gerakan
proses ini antara lain melibatkan HR sendiri, Haviel, Sulasmoro, Ine Arini,
Marintan Sirait, kemudian Tisna Sanjaya, dll. Setiap kali “proses untuk
menjadi” itu tidak pernah melalui kodifikasi atau sistem penanda dari mana
harus mulai dan tidak ada pula penanda kapan mesti berakhir.***
--oo0oo--
JEPRUT DALAM JURUS IKHLAS
[esei status facebook 27 Desember pukul 16:36]
Paling tidak berdasar delapan kesaksian yang diucapkan delapan jepruter (dari jumlah keseluruhan 11 orang), dalam pembukaan Pameran Arsip Jeprut #1 di Galeri Soemardja, tadi sore hingga malam (26/12/2014), ada kesamaan 'jurus' yang dijadikan dasar pijakan mereka yaitu jurus ikhlas.
Dasar ikhlas ini pula yang kemudian muncul dalam bingkai umum menjadi semacam 'ketakpedulian.'
Ya, dalam kajian umum, bisa saja mereka itu terlihat sebagai pelaku yang tak peduli lagi karya dan perbuatannya itu disebut kesenian atau pun bukan seni, tak peduli dikatakan estetik atau pun tak-estetik, tak peduli dianggap berharga atau pun tak berharga, tak peduli dianggap berfungsi atau pun tak berfungsi, tak peduli barang(karya)nya itu dianggap sampah atau emas permata, dan seterusnya.
Itu jika diukur dengan kajian umum dan/atau kajian materialistik. Maka "jeprut" akan segera terbaca sebagai "nihilisme," sesuatu yang bukan untuk apapun. Itu pula, kelak, jika jeprut hanya dilihat melalui benda-benda peninggalan (artefak)nya.
Sementara jeprut jika dilihat di dalam konteks dan peristiwanya, ternyata amat sangat berlainan dan/atau bertentangan dengan premis 'ketakpedulian.'
Seluruh perbuatan jeprut yang kemudian artefaknya dipamerkan di Galeri Soemardja hingga 16 Januari 2015, itu tegas sekali beranjak dari sejumlah kepedulian bahkan sangat peduli karena relatif di atas rata-rata kepedulian umum.
Wawan S Husin yang 'nga'jeprut jauh-jauh ke hulu sungai di daerah lembang, tiada lain karena kepeduliannya bahwa sumber air itu perlu dirawat, 'dimumule,' dan bukan sebaliknya ketika menjadi sungai yang menjulur ke laut malah dinistakan menjadi tempat sampah dan/atau tempat membuang segala kotoran bikinan manusia.
Mas Nanu Muda dan kawan-kawan ketika menggelar "ngukus" di muka gedung Sate, tegas dan jelas semacam mengantar doa agar pemerintah dan rakyat menjadi baik. Hung, asap dupa itu 'ngelun' ke langit, sejauh dan setinggi itu pula kepedulian dan harapan yang disampaikan.
Pun Isa Perkasa yang 'berkantor' di kandang monyet adalah kepeduliannya yang amat sangat agar politisi di tampuk DPR itu itu tidak menjadi sekumpulan monyet melainkan betul-betul menjadi wakil rakyat yang berguna bagi rakyatnya.
Lihat pula perbuatan Iwan Ismael. Meski pada awal-mulanya bisa saja intuitif tapi kemudian tumbuh menjadi kepedulian dirinya atas perkembangan kota. Hajat warga kota yang paling mendasar yaitu buang air besar atau pun kecil, nyaris luput dari perhatian umum tapi nyatanya 'tertangkap' oleh sensibilitas (kepekaan) Iwan bahwa sebuah kota yang adab itu selayaknya memiliki sarana umum tempat kencing.
Kawan-kawan komunitas Ke'ruh secara material menampilkan artefak sejumlah lalat yang diambil dari beberapa tempat pembuangan sampah di kota Bandung. Jika bukan karena kepedulian, apa kiranya nama bagi perbuatan tersebut? Seperti kita ketahui, sampah di berbagai kota telah menjadi persoalan masing-masing regional, dan sejatinya pula menjadi persoalan nasional, bahkan sudah menjadi persoalan global.
Diyanto kemudian 'nikreuh' (berjalan jauh) sambil memanggul sejumlah bantal, ia hampiri setiap orang kecil yang dijumpainya kemudian meminta mereka menuliskan impiannya di atas bantal.
Ah, hanya bantal bertulisan, itu jika penglihatan kita berhenti pada material. Tapi, di balik itu, sesungguhnya bukan sekadar impian orang-orang yang kebetulan berkesempatan terhampiri, melainkan berkenaan dengan impian kita, impian umat manusia. Ya, bantal-bantal itu berhubungan dengan hal humanis yang universal.
Rahmat Jabaril dengan kawan-kawannya pergi berkuda ke gedung DPRD untuk menyampaikan 'tagihan' atas sejumlah Perda lingkungan hidup yang tidak/belum dilaksanakan, dan menawarkan revisi atas beberapa kandungan Perda. Apalagi namanya jika bukan kepedulian yang sungguh-sungguh atas berbagai kasus lingkungan hidup di kota Bandung dan provinsi Jawa Barat?
Lantas kawan-kawan 'invalider urban' yang mendorong sebuah roda penuh pernik, menyusur jalan panjang dari Buahbatu mendaki hingga Tamansari. Berkenaan dengan itu, banyak hal sesungguhnya yang bisa dibahas, tapi (saya sendiri) terpesona dan kemudian disadarkan atas gejala 'moving men,' perpindahan manusia, warga, bangsa-bangsa; dan yang terpenting (bagi saya) seperti dibawa kepada kesadaran bahwa zaman kontemporer yang kita alami sekarang ini ditandai oleh 'perpindahan,' tak ada lagi yang bersifat tetap dan abadi, segalanya berloncatan, 'sagala dibawa' atau pun tak sengaja terbawa sejak dari tumpukan informasi hingga kebendaan. Sementara di dalam setiap kepindahan, kita sendiri tak pernah tahu mengapa harus pindah, bahkan tak pernah bisa menentukan arah tuju kecuali berjalan begitu saja laiknya sysiphus yang bolak-balik mendorong batu ke puncak gunung.
Ya, ini sekadar untuk mengatakan betapa besar kepedulian invalider urban itu untuk mengajak berjalan di wilayah pikiran bahkan filsafat.
Dan kemudian Ine Arini yang kebetulan melibatkan diri saya sendiri... "ah, teu wasa menuliskannya," itu saja.
Bahasan berikut ini (untuk sementara) tidak berkehendak memasuki perdebatan seni atau bukan seni, maka jalan yang segera diambil adalah meng"ya"kan asumsi bahwa jeprut bukan seni.
Sesuatu yang bukan seni atau bukan apapun tapi pada kenyataannya dipertanyakan, dipikirkan, dicemooh sekalgus diberi tepuk tangan, dihujat tapi juga dirangkul, dan seterusnya, itu (di bidang keilmuan, psikologi, sosiologi, dan filsafat) disebut fenomena tempat kajiannya para fenomenolog. Nietzsche menyebutnya 'lobang hitam' yang ketika dirumuskan oleh Heideger menjadi ajaran Nietzsche tentang kembalinya kekekalan (eternal return) dan fenomenologi keterbatasan manusia (human finitude).
Panjang, tapi singkatnya saja, manusia selalu sadar akan keterbatasannya tapi bersamaan dengan itu selalu saja manusia itu berusaha menembus keterbatasannya. Itulah yang sebut Nietzsche memasuki lobang hitam, memasuki ruang gelap sambil tidak pernah diketahui apa hasilnya dan/atau akan bagaimana setelah memasuki itu.
"Lobang itu mengerikan sekaligus menantang," ujar Nietzsche, maka tak setiap orang pergi dan berani masuk ke sana, bahkan kebanyakannya lagi justru menjauh karena sadar bahwa pergi ke sana itu tidak aman.
Seniman sejati, rajuk Nietzsche seperti dirumuskan Heideger, justru harus mau ke sana, di sanalah yang disebut kreativitas itu (ini 100% sudah reintrepetasi dan/atau dibahasakan sendiri oleh HD). Sebab, hanya dengan itulah kita bisa menemukan kekekalan (dalam hal ini mohon dibaca 'jantung seni').
Kini, mari kita bertanya: manusia seperti apa yang mau/berani memasuki ruang hitam tak jelas itu? Apa kiranya yang bisa dijadikan modal?
[TULUYKEUN ATAWA ULAH NYA? IEU GEUS ASA NGACAPRUK YEUH, PIRAKU STATUS FB PANJANG-PANJANG TEUING, DASAR ...]
--oo0oo--
[esei status facebook 27 Desember pukul 16:36]
Paling tidak berdasar delapan kesaksian yang diucapkan delapan jepruter (dari jumlah keseluruhan 11 orang), dalam pembukaan Pameran Arsip Jeprut #1 di Galeri Soemardja, tadi sore hingga malam (26/12/2014), ada kesamaan 'jurus' yang dijadikan dasar pijakan mereka yaitu jurus ikhlas.
Dasar ikhlas ini pula yang kemudian muncul dalam bingkai umum menjadi semacam 'ketakpedulian.'
Ya, dalam kajian umum, bisa saja mereka itu terlihat sebagai pelaku yang tak peduli lagi karya dan perbuatannya itu disebut kesenian atau pun bukan seni, tak peduli dikatakan estetik atau pun tak-estetik, tak peduli dianggap berharga atau pun tak berharga, tak peduli dianggap berfungsi atau pun tak berfungsi, tak peduli barang(karya)nya itu dianggap sampah atau emas permata, dan seterusnya.
Itu jika diukur dengan kajian umum dan/atau kajian materialistik. Maka "jeprut" akan segera terbaca sebagai "nihilisme," sesuatu yang bukan untuk apapun. Itu pula, kelak, jika jeprut hanya dilihat melalui benda-benda peninggalan (artefak)nya.
Sementara jeprut jika dilihat di dalam konteks dan peristiwanya, ternyata amat sangat berlainan dan/atau bertentangan dengan premis 'ketakpedulian.'
Seluruh perbuatan jeprut yang kemudian artefaknya dipamerkan di Galeri Soemardja hingga 16 Januari 2015, itu tegas sekali beranjak dari sejumlah kepedulian bahkan sangat peduli karena relatif di atas rata-rata kepedulian umum.
Wawan S Husin yang 'nga'jeprut jauh-jauh ke hulu sungai di daerah lembang, tiada lain karena kepeduliannya bahwa sumber air itu perlu dirawat, 'dimumule,' dan bukan sebaliknya ketika menjadi sungai yang menjulur ke laut malah dinistakan menjadi tempat sampah dan/atau tempat membuang segala kotoran bikinan manusia.
Mas Nanu Muda dan kawan-kawan ketika menggelar "ngukus" di muka gedung Sate, tegas dan jelas semacam mengantar doa agar pemerintah dan rakyat menjadi baik. Hung, asap dupa itu 'ngelun' ke langit, sejauh dan setinggi itu pula kepedulian dan harapan yang disampaikan.
Pun Isa Perkasa yang 'berkantor' di kandang monyet adalah kepeduliannya yang amat sangat agar politisi di tampuk DPR itu itu tidak menjadi sekumpulan monyet melainkan betul-betul menjadi wakil rakyat yang berguna bagi rakyatnya.
Lihat pula perbuatan Iwan Ismael. Meski pada awal-mulanya bisa saja intuitif tapi kemudian tumbuh menjadi kepedulian dirinya atas perkembangan kota. Hajat warga kota yang paling mendasar yaitu buang air besar atau pun kecil, nyaris luput dari perhatian umum tapi nyatanya 'tertangkap' oleh sensibilitas (kepekaan) Iwan bahwa sebuah kota yang adab itu selayaknya memiliki sarana umum tempat kencing.
Kawan-kawan komunitas Ke'ruh secara material menampilkan artefak sejumlah lalat yang diambil dari beberapa tempat pembuangan sampah di kota Bandung. Jika bukan karena kepedulian, apa kiranya nama bagi perbuatan tersebut? Seperti kita ketahui, sampah di berbagai kota telah menjadi persoalan masing-masing regional, dan sejatinya pula menjadi persoalan nasional, bahkan sudah menjadi persoalan global.
Diyanto kemudian 'nikreuh' (berjalan jauh) sambil memanggul sejumlah bantal, ia hampiri setiap orang kecil yang dijumpainya kemudian meminta mereka menuliskan impiannya di atas bantal.
Ah, hanya bantal bertulisan, itu jika penglihatan kita berhenti pada material. Tapi, di balik itu, sesungguhnya bukan sekadar impian orang-orang yang kebetulan berkesempatan terhampiri, melainkan berkenaan dengan impian kita, impian umat manusia. Ya, bantal-bantal itu berhubungan dengan hal humanis yang universal.
Rahmat Jabaril dengan kawan-kawannya pergi berkuda ke gedung DPRD untuk menyampaikan 'tagihan' atas sejumlah Perda lingkungan hidup yang tidak/belum dilaksanakan, dan menawarkan revisi atas beberapa kandungan Perda. Apalagi namanya jika bukan kepedulian yang sungguh-sungguh atas berbagai kasus lingkungan hidup di kota Bandung dan provinsi Jawa Barat?
Lantas kawan-kawan 'invalider urban' yang mendorong sebuah roda penuh pernik, menyusur jalan panjang dari Buahbatu mendaki hingga Tamansari. Berkenaan dengan itu, banyak hal sesungguhnya yang bisa dibahas, tapi (saya sendiri) terpesona dan kemudian disadarkan atas gejala 'moving men,' perpindahan manusia, warga, bangsa-bangsa; dan yang terpenting (bagi saya) seperti dibawa kepada kesadaran bahwa zaman kontemporer yang kita alami sekarang ini ditandai oleh 'perpindahan,' tak ada lagi yang bersifat tetap dan abadi, segalanya berloncatan, 'sagala dibawa' atau pun tak sengaja terbawa sejak dari tumpukan informasi hingga kebendaan. Sementara di dalam setiap kepindahan, kita sendiri tak pernah tahu mengapa harus pindah, bahkan tak pernah bisa menentukan arah tuju kecuali berjalan begitu saja laiknya sysiphus yang bolak-balik mendorong batu ke puncak gunung.
Ya, ini sekadar untuk mengatakan betapa besar kepedulian invalider urban itu untuk mengajak berjalan di wilayah pikiran bahkan filsafat.
Dan kemudian Ine Arini yang kebetulan melibatkan diri saya sendiri... "ah, teu wasa menuliskannya," itu saja.
**
Setiap pelaku jeprut, dalam konteks konvensi seni atau ke-seni-an yang disepakati secara umum, itu hampir pasti dinilai tak wantah, mahiwal, atau bisa juga tidak dikategorikan seni sebab tidak ada di dalam konvensinya.Bahasan berikut ini (untuk sementara) tidak berkehendak memasuki perdebatan seni atau bukan seni, maka jalan yang segera diambil adalah meng"ya"kan asumsi bahwa jeprut bukan seni.
Sesuatu yang bukan seni atau bukan apapun tapi pada kenyataannya dipertanyakan, dipikirkan, dicemooh sekalgus diberi tepuk tangan, dihujat tapi juga dirangkul, dan seterusnya, itu (di bidang keilmuan, psikologi, sosiologi, dan filsafat) disebut fenomena tempat kajiannya para fenomenolog. Nietzsche menyebutnya 'lobang hitam' yang ketika dirumuskan oleh Heideger menjadi ajaran Nietzsche tentang kembalinya kekekalan (eternal return) dan fenomenologi keterbatasan manusia (human finitude).
Panjang, tapi singkatnya saja, manusia selalu sadar akan keterbatasannya tapi bersamaan dengan itu selalu saja manusia itu berusaha menembus keterbatasannya. Itulah yang sebut Nietzsche memasuki lobang hitam, memasuki ruang gelap sambil tidak pernah diketahui apa hasilnya dan/atau akan bagaimana setelah memasuki itu.
"Lobang itu mengerikan sekaligus menantang," ujar Nietzsche, maka tak setiap orang pergi dan berani masuk ke sana, bahkan kebanyakannya lagi justru menjauh karena sadar bahwa pergi ke sana itu tidak aman.
Seniman sejati, rajuk Nietzsche seperti dirumuskan Heideger, justru harus mau ke sana, di sanalah yang disebut kreativitas itu (ini 100% sudah reintrepetasi dan/atau dibahasakan sendiri oleh HD). Sebab, hanya dengan itulah kita bisa menemukan kekekalan (dalam hal ini mohon dibaca 'jantung seni').
Kini, mari kita bertanya: manusia seperti apa yang mau/berani memasuki ruang hitam tak jelas itu? Apa kiranya yang bisa dijadikan modal?
[TULUYKEUN ATAWA ULAH NYA? IEU GEUS ASA NGACAPRUK YEUH, PIRAKU STATUS FB PANJANG-PANJANG TEUING, DASAR ...]
--oo0oo--
Saya telah berpikir bahwa semua perusahaan pinjaman online curang sampai saya bertemu dengan perusahaan pinjaman Suzan yang meminjamkan uang tanpa membayar lebih dulu.
BalasHapusNama saya Amisha, saya ingin menggunakan media ini untuk memperingatkan orang-orang yang mencari pinjaman internet di Asia dan di seluruh dunia untuk berhati-hati, karena mereka menipu dan meminjamkan pinjaman palsu di internet.
Saya ingin membagikan kesaksian saya tentang bagaimana seorang teman membawa saya ke pemberi pinjaman asli, setelah itu saya scammed oleh beberapa kreditor di internet. Saya hampir kehilangan harapan sampai saya bertemu kreditur terpercaya ini bernama perusahaan Suzan investment. Perusahaan suzan meminjamkan pinjaman tanpa jaminan sebesar 600 juta rupiah (Rp600.000.000) dalam waktu kurang dari 48 jam tanpa tekanan.
Saya sangat terkejut dan senang menerima pinjaman saya. Saya berjanji bahwa saya akan berbagi kabar baik sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi jika Anda memerlukan pinjaman, hubungi mereka melalui email: (Suzaninvestment@gmail.com) Anda tidak akan kecewa mendapatkan pinjaman jika memenuhi persyaratan.
Anda juga bisa menghubungi saya: (Ammisha1213@gmail.com) jika Anda memerlukan bantuan atau informasi lebih lanjut