PUISI

Zen 1
hamparan rumput
subur terpelihara
batu di ujung

Zen 2
terberi hidup
itu untuk kehidupan
salam semesta

Zen 3 (Kejawen)
o anuning ning
bisik Rendra di sana
tumbuhlah diri

Zen 4
tak seorang pun
tunggu kita di sana
hanya sang ajal


[19 Desember 2014]


--oo0oo--

Menjemput Tahun Baru

semesta,
beri aku kekuatan untuk menutup 
tahun ini dengan khidmat

kuasa alam,
bersatulah dalam diri
ajari kembali nyanyian fajar
ajari tentang senjakala
ajari khidmat tentang datang dan pergi
seperti selembar daun yang gugur dan mati
ternyata khidmat bagi kehidupan baru

ajari,
agar segenap sembilu lara pun
salin rupa menjadi ghirah
bahwa hidup harus dilanjutkan


[cibolerang, 29 desember 2014, "menutup tahun 2014"]

--oo0oo--


9 Haiku Ese Nangka 5 7 5

1
ada gelisah
kala timbangan cinta
tidak terbaca

2
burung hijau
pun tak lagi bersiul
di pohon nangka

3
lidah kelu
tenggelam dalam kamus
tak temukan ucap

4
berulang bunyi
klenengan di kepala
desak-mendesak

5
: anak-anakku
tak terbang cinta itu
juga tak tidur

6
tak jadi kata
terselip dan terlipat
nyusup ke sepi

7
tak juga sanggup
tak juga sampai buhul
terhimpit rindu

8
sudah di ujung
bergetar-getar lidah
hendak berucap

9
terdengar kelak
menjadi ese nangka
jadi siul : ning

Cibolerang, puasa malam ke-12 (tahunnya lupa)

--oo0oo--


9 Haiku Ese Nangka 5 7 5
(versi Sunda)

1
asa guligah
basa timbangan asih
hanteu kabaca

2
manuk nu hejo
oge eureun nyiricit
di tangkal nangka

3
letah baal
ngerelep jero kamus
teu manggihan kecap

4
teu eureun sora
ngeleneng jero sirah
pasedek-sedek

5
deudeuh anaking
kaasih moal hiber
oge teu sare

6
teu jadi kecap
nyaluuh jeung narilep
nyusup na suni

7
boh nu ayeuna
oge nu mangsa buhun
katindih sono

8
geus di tungtung
letah sawan ngageter 
hayang nyarita

9
engke karungu
ngajadi ese nangka
jadi heot : ning!

Cibolerang, puasa peuting ka-12 (poho deui taunna mah)

--oo0oo--


Haiku Pulang

o satu kawan
terkabar telah pulang
selamat jalan

siit uncuing
menjerit di wuwungan
memberi kabar

satu satu o
kawan dan sahabatku
bergilir pergi

kucari-cari
doa penghantar itu
kususun kata

selamat jalan
lirih bisik hatiku
tunggu giliran

--oo0oo--


Haiku Waktu Berjalan

jerit uncuing
bijak beri pertanda
ini keniscayaan

sesiapa pun
di sana akan tiba
tak terelakkan

--oo0oo--


Aku Suka Haiku

bagaimana
aku suka haiku
yang irit itu?

ia ajarkan
artinya kesabaran
kesetiaan

seperti biksu
ikhlas merawat rumput
menyusun batu

jauhkan diri
dari keangkuhannya
libre o bebas

--oo0oo--


Sajak Tamu dari Ibukota

minum, ayo minumlah 
reguk, reguklah air suci
dari piala sang dewi kesenian

orang-orang dahaga
dengan sayap-sayap patah
berdatangan membuka telapak tangan

kemudian uang ditebar
wajah suci dikenakan
lengkaplah tanda kedatangan dari surga

"telah datang sang penyelamat"
teriak orang-orang papa
menyambut dengan lambaian daun palma

"suka, bersukacitalah"
ia melambai berbaju jirah
sambil menebar rencana dari kota

bahkan si pemberontak
jadi kelu dan gelap matanya tertutup
semua terbuai manisnya angin surga

air suci campur uang ibukota
diaduk lembut dalam cawan
di ruang dengan ac sangat dingin

ayo, agungkan sang dewi kesenian
berapa pun uang dibutuhkan 
sedingin apa pun ac diperlukan

"lihat, ah, betul-betul sang penyelamat"
si pemberontak nan lupa si papa nan kedinginan ac
sorai bersama sambil lambaikan daun palma

"lihat, segalanya bisa kukendalikan"
ujar si pendatang sambil melepas jirah
ada seringai tapi orang-orang tak melihatnya

(Desember, 2014)


--oo0oo--



Tarian Terakhir

Purnama bulan ke tujuh
Angin barat, timur, utara, selatan
Bersatulah dalam diri untuk menyapa semesta
Kenanga di puncak wilis
Melati di puncak galunggung
Bertemu harum mawar di astana gede
Barat tetap dengan baratnya
Timur senantiasa timur
Utara dan selatan tak mengubah diri
Karena itu maka ada pertemuan
Jumpa satu dengan lainnya yang berbeda
Wangi kenanga pun tak berganti melati
Tak berebut udara dengan mawar
                            
Purnama bulan ke tujuh
Kakiku telanjang menapak bumi
Tak beralas tidak juga tilam
Dinginnya tanah coklat
Gelitik kerikil di telapak kaki
Sapaan semesta sang pemberi hidup
Wahai purnama
Wahai pemilik semesta alam
Darimu aku bermula
Ke sana pula aku berpulang
Di atas kaki telanjang
Ini aku bersaksi
Tubuh ini tak punya daya apapun
Selain atas ruh dan tenaga kesemestaanmu
Beri tubuh ini kekuatan untuk berdiri
Beri tubuh ini kekuatan untuk bergerak

Bergerak
Bergerak, dan terus bergerak
Untuk bersatu denganmu
Bergerak
Bergerak, dan terus bergerak
Untuk semata-mata menghamba padamu
Bergerak
Bergerak, dan terus bergerak
Agar tetap bisa merasakan nadi
Bergerak
Bergerak, dan terus bergerak
Untuk merasakan bahwa punya nafas

Bergerak
Bergerak, dan terus bergerak
Hingga pori terbuka
Memberi jalan bagi keringat
Bergerak
Bergerak, dan terus bergerak
Hingga tak lagi memiliki gerak
Luruh, sujud,
di atas tanah coklat
yang telanjang


--o0o--


Haiku Sukrasana

Ki Dalang bijak
mohon ajarkan lagi
bab Sukrasana

lembar ke lembar
kitab lapuk berkisah
nurani bijak

pangkat dan harta
bahkan kedigjayaan
nyata tak daya

ah Sriwedari
kukuh tidak beranjak
Somantri lunglai

Cakrabaskara
takluk tidak berdaya 
menanti cinta

kasih Sukrasana
si papa buruk rupa
tulus bertebar

semesta runduk
lafalkan arti ikhlas
ummm, kunfayakun

--o0o--


Ode untuk IA

dan tibalah dikau di ruang pengabdian
ruang luas tak berbatas
bahkan tanpa lampu tanpa penghias

diskusi indah dan tak indah
telah menjadi lampau
memudar dan menghilang

jangankan uang dan sebentuk bayaran
bahkan ada dan tak ada tepuk tangan
pun 

dalam gelap hujan berhalilintar
dikau menari mewujud menjadi air
menjadi halilintar

di pelataran cetha yang disucikan
dikau sapa rembulan
menebar cinta bersama gerimis

sungai bacin ah teramat kotor
berkeramas malah dikau di sana
wening

air matamu menitik
bersatu dengan tirta Situ Talaga
menari bersama ikan-ikan berloncatan

deru mesin-mensin penghancur
dikau ubah jadi pirig kupu tarung
tegak di sana: melawan

bersama SS dan dua lembar daun pisang
sssssss... desis dikau bukan ular
saksinya bulu kuduk nan meremang

ruang luas tak berbatas
tempat dikau menghentak soder
tanpa lampu tanpa penghias

luruh dikau bersama semesta
menjadi semesta
aku menatap sambil belajar

[ditulis sesungguhnya saat IA menari di tengah hujan dan halilintar di Cipaku, tahunnya lupa, tak usai dan/atau selalu merasa tulisan ini mentah maka tak pernah diselesaikan - kini, di ujung 2014, ditengok kembali, ada yang tumbuh tapi merasa tak matang jua]

--o0o--


credo badingkut

o, negeriku
inilah negeri yang masa lalunya tercabik-cabik alasan modernitas yang tak jelas
negeri yang begitu pengap dibanjiri sampah kata-kata
wakil rakyatnya terus menanam benih hianat di ladang keringat rakyat
maka si lemah-lembut pun berubah menjadi pemberang yang merusak
buahnya adalah api dan huru-hara yang merajalela di mana-mana.

martabat telah lama dibiarkan menjadi reruntuk
peradaban baru belum lagi tegak tiba-tiba runtuh
dan kelelap utang yang tak terperikan
dalam bingung, seni dan televisinya semakin memuliakan kepalsuan
ketimbang akal sehat dan kecerdasan
ragam isme modern memang bertaburan tapi hampir semua serba sepenggal
itu pun hari demi hari terus dibakar hingga tinggal puing berserakan
berbaur dengan ragam sampah partai hingga celana dalam.

o, bagaimana pun
ini adalah negeriku
biarlah kupungut reruntuk dan sampah-sampah itu
beri aku waktu memilih dan mengeramasinya kembali
biarlah kususun ulang agar sinar kehidupan kembali berpijar

Herry Dim
2002


 --o0o--


belajar kepada daun

tumbuh dan menjadi
tanpa memaksa waktu

keteduhan
warna-warni
bisik zikir
daya hidup
dipersembahkannya kepada semesta

bahkan kematian
adalah sapaan salam
bagi kehidupan mendatang

(2004)


 --o0o--



matikan televisi

anakku,
jangan terlalu lama kau tatap televisi
sebab seribu dusta nanti tertanam di kepala

ah ayah,
dengan apakah aku harus membunuh sepi
sebab tak ada lagi yang bisa diajak berkata-kata
lihatlah, di sini kata-kata tak henti mengalir
harapan pun bisa diubahnya jadi angan-angan
bahkan nestapa dalam sekejap tak terasa
dan bukankah semua ini dibentuk dari fakta?

fakta?
bau keringat para pembuat bata
tak pernah bisa tercium di layar kaca
air matanya yang berubah menjadi gedung-gedung
tak akan pernah menetes di remot kontrolmu
kesabaran anak-anaknya menghitung lapar
tak akan terdata menjadi angka rating

tapi,
itu, oh itu… ada pula seratus ajaran
sorga pun terasa menjadi begitu dekat
doa bersama acapkali ditayangkan
aku pun tenggelam di lautan ayat-ayat
bukankah itu kebenaran adanya?

kebenaran…
bukanlah manequin yang gemar dipertontonkan
ia kerap berada di keheningan
meski adakalanya suwung di tengah keramaian
tali pusarnya tetaplah di sepinya nurani
maka bagaimana bisa doa dititipkan dan jadi keramaian
robanna, ya, robanna…
biarlah hatimu mengucapkannya sendiri
mulailah dengan mematikan televisi.

 (Giri Mekar, November 2006)

  --o0o--


riwayat gerabah yang dihancurkan

padahal yang kulihat sebuah rekaman video
atau mungkin juga disebabkan rekaman video
aku menangis kala melihat guci-guci gerabah
itu satu demi satu dihancurkan atas nama kegagahan seni

ia, kemarin, dijumput dari asal-muasal kehidupan manusia
dengan cinta dan demi hidup
dipisahkannya dari pasir-pasir dan kuarsa
bersama air yang juga dari riwayat asal-muasal
ia kini menjadi lentur dan iklas dibentuk menjadi apapun
bersama riwayat asal-muasal lainnya: api
ia disempurnakan dan dimatangkan
kini
ia menjadi

  --o0o--


Rindu dalam Diam

di tengah kehidupan
yang berkuping tapi tak mendengar
masih patutkah aku berbicara?

di tengah kehidupan
yang bermata tapi tak melihat
masih patutkah aku berbuat?

di tengah kehidupan
yang berhati tapi tinggal segumpal daging
masih patutkah aku berbagi rasa?

di tengah kehidupan
yang diberi otak tapi kehilangan akal
masih patutkah aku berpendapat?

(o, penguasa ruang yang maha di atas segala maha):

dengar, dengar, dengarlah
begitu gaduh mereka berceracau
tapi tak satu alif pun menjadi kabar

sibuk mereka bersilang-siur
padat di jalanan padat di ruang hati
semua pergi hanya ke entah

berbisik atau pun berteriak
kepada mereka
hanya tinggal gaung
yang memantul kembali kepada diri

kini,
rinduku
rindu
belajar untuk mendengar

kini,
rinduku
rindu
dalam
diam.


Cibolerang, 7 Juni 2005

   --o0o--


pelajaran berhitung*)

sembilan nyawa tak menggenapkan yang tiga ratus
tiga ratus tak menggenapkan ratus yang ke tujuh
ribu bahkan menjadi tak berbilang
juta akhirnya hanya jadi warta berita
semuanya berpindah hanya jadi angka-angka
bumi negeri ini pun meradang kesakitan penuh luka
mati, mati, mati, mati...
riwayat kematian sederet angka saja layaknya
o,
lihat pula di sana wabah menyebar
bergeser pandang tampak terlihat bah yang amuk
gunung di sebelah utara memperlihatkan amarah
jauh ke timur tanahnya mengering kerontang
barisan pendaftar jadi babu kian memanjang
berbaris pula kala pulang bawa luka diperkosa majikan
ada pula yang termangu nanar sinar lampu neon
lantas terkapar mabuk heroin dan impian jadi bintang
o,
inilah kala penyairnya tak lagi jadi penunjuk jalan
satu, dua, dan sembilan agamawannya mabuk kekuasaan
ini kala negeri diurus laiknya permainan
rakyatnya hanya dihitung sebagai bilangan
satu, dua, dan sembilan rakyatnya pun kehilangan ingatan.


(Cibolerang-Giri Mekar, September - Oktober 2004 - Februari 2005)

*) sajak ini adalah bagian dari libretto "Godot Telah Datang"


   --o0o--


Di Manakah Manusia?*)

berabad kujalani hidup ini
semuanya sama berulang
diawali kesendirian yang indah
berlanjut pada pemassaan yang kejam
            nero, caligula, hitler
            bencana habil-qabil, vietnam, afganistan.
            ketakberakhiran di tanah kelahiran Ibrahim
desing peluru dan bom berulang di mana-mana.
atas nama revolusi, reformasi, demokrasi...
bahkan memaknai merdeka:
tandanya berulang... darah!

di manakah sesungguhnya damai?
di manakah sesungguhnya manusia?

(Cibolerang-Giri Mekar, September-Oktober 2004 - Februari 2005)

*) sajak ini adalah bagian dari libretto "Godot Telah Datang"

   --o0o--


sajak tentang sejumlah nama

komputerku lantang berulang-ulang
menyuarakan nyanyian mukti-mukti tentang rasinah
mengembara menjadi laut lantun syair sonny soeng
pola copy-paste memunculkan wajah dedi koral
berhamburan bersama aksara
yang mengeja ahda, matdon, soni farid, alwy, acep,
godi, agus sarjon, juniarso, ridlo, jamal

bang hamid bangkit dari kuburnya
melihat bahwa jalan indonesia
masih pula berlika-liku
harry roesli menepuk bahunya dan berbisik
“janganlah menangis indonesiaku”
sebuah bakiak tertidur lelap di bantal putih
manusia-manusia kepalanya berubah jadi semangka
afrizal membuka jendela sambil tersenyum
indonesia seperti hilang dari peta
dari abad ke abad
terkubur nyanyian-nyanyian lara

kata-kata yang disusun ahda, matdon,
soni farid, alwy, acep, godi, agus sarjon,
juniarso, ridlo, jamal
pun berubah jadi hujan air mata
“berapa kuping yang harus dimiliki manusia
agar ia bisa mendengar jerit tangis,” urai dylan
“mas,” kata hatiku di pusara harry roesli,
“bagaimana tidak menangis?”
anak-anak yang terpaksa hidup di jalanan
kian banyak dan beredar di seluruh kota
perih, luka, nanah ketidakadilan masih
jadi perbendaharaan kata teman-teman kita

(Giri Mekar, 2006)

    --o0o--

rindu kawan

di pembaringan
malam ini
bersama rembulan yang malu-malu di balik awan
ngilu tubuh hingga belulang juga demam
adakah merajalelanya dasamuka jadi penyebab?
atau tubuh memang telah renta?
ah,
ternyata rindu
bisik hati dengan bulu-bulu kujur tubuh merinding

di pembaringan
malam ini
bersama rembulan yang malu-malu di balik awan
dalam ngilu dalam demam
dalam luka melihat kejahatan kerah putih
berulang kulirik jendela;
adakah kawan yang datang?
bisik angin sambil mengusik pohon rambutan

di pembaringan
malam ini
bersama rembulan yang malu-malu di balik awan
dalam ngilu dalam demam
dalam pedih melihat segala kecurangan
berulang kulirik jendela;
kawan?
jika ada tentu datang
sebab tubuh tak tergantikan sms
angin pun diam tak menjawab

di pembaringan
malam ini
aku rindu suara;
"her, ka dieu maneh, mun euweuh kendaraan make taxi bae, engke dibayar di didieu ku urang"
maka sampai ayam berkokok
tawa, lara, marah dan geram
jadi milik bersama
tubuh saling berkunjung
bersebab belum ada sms

kulirik jendela;
tampak angin mengangguk
dalam hati kubacakan al-fatihah


Cibolerang, 20 Agustus 2011
(puasa malam ke 20)

    --o0o--

Sajak Menunggu Ibu Menjelang Ajal
kupu-kupu putih mendekat,
terbang rendah di atas rumput halaman
siit uncuing yang selama 4 hari 4 malam berkirim jerit duka di pucuk cengkeh,
kini terdengar menjauh
turaes, pagi ini, hingar di mana-mana;
sesekali bersahutan dengan ese nangka

tapi sejak lima matahari lima rembulan dalam selimut senyapnya rumah sakit,
tak kudengar juga suara ibuku berkata-kata
lidah ibu menjadi kelu

rinduku memuncak
rindu dimarahi ibu karena kenakalan semasa kanak
rindu celoteh suara ibu saat masak
rinduku membatu menjadi doa yang tak cukup-cukup jua

(the 5th days between me and my mother, RS Salamun 19 Maret 2011)

   --o0o--
Kawan
(bagi yang lebih awal pulang)
yang kini bersama angin
luruh bersama rontokan daun
dalam pelukan bumi yang dingin
suara lirihnya bunyi seruling
menyelinap di antara batang pohon
di antara cabang-cabang reranting
di antara rimbun hijau dedaunan
kepergiannya menghamparkan altar
bagi kehidupan baru warna-warni bunga
selalu hadir berhadapan
tak menghujat
tak ragu membentak kala ada salah
selalu hadir berhadapan
membasuh luka
memeluk hangat kala ada duka
seperti bayang-bayang
kala dekat kala jauh
bisik dan candanya berbayang
berdengung di gemawan
baur bersama rangkulan angin
sesekali bersama berulangnya ombak
renyah suci bersama tawa anak-anak
bahkan di tengah pikuk
lautan manusia dan kata-kata
suara langkah sepatunya
jernih terdengar menyapa
satu dua ketukan lantas datang
di kaca jendela
hembus nafas menjadi embun
menjadi gambar kenangan
kala embun disusut terbit senyum
menjadi harapan menjadi esok
seperti kemarin kita bersama
menyusur waktu menjemput harap
kini pun engkau senantiasa hadir
menyapa di dalam mimpi
menepuk pundak kala sendiri
berlompatan bersama rintik hujan
memberontak pula kala melihat ketakadilan
kawan
engkau tak pernah pergi
engkau adalah angin
engkau dedaunan
engkau bumi tempatku kini berdiri
engkau lirihnya bunyi seruling
engkau menyelinap di antara batang pohon
engkau di antara cabang-cabang reranting
di antara rimbun hijau dedaunan
engkau senantiasa hadir dalam kehidupan
di hamparan altar riwayat
bersama hidup warna-warni bunga
selalu hadir berhadapan
tak menghujat
tak ragu membentak kala ada salah
selalu hadir berhadapan
membasuh luka
memeluk hangat kala ada duka
dan engkau pun mendengar
kata-kataku yang tak harus kuucapkan
kawan
kawan
kawan
engkau pun mendengar
kata-kataku yang tak harus kuucapkan
(Harry Roesli, Suyatna Anirun, Roedjito, Rendra, Hamid Jabbar, Munir, Dede Haris, Beny R Budiman, Wan Anwar, Nano S, Wawan Djuanda, Mamannoor, Sanento Yuliman, Redha Sorana, Hendrawan Riyanto, Aip Dimjati, Aty Herlianti, dan semua yang mendauhuluiku pergi)

  --o0o--

Menggelinding Bersama Sepikul Singkong
Pagi itu menjelang berangkat sekolah, saya melihat ibu pulang dari pasar dengan tertatih-tatih. Belum lagi gendongan di punggungnya dilepas, ia menjatuhkan diri duduk di kursi.
"Labuh, Amih teh.... atuh sampeu patinggulutuk (terjatuh Amih ini... maka singkong pun bergelindingan)," ungkapnya antara sambil melepas lelah dan mengurut kaki serta pinggangnya yang memar.
Berikutnya dengan masih mengurut kaki, ibu bercerita tentang jatuhnya itu di tangga penyeberangan. Akibat anak tangga yang licin dan terlalu curam maka ibu tergelincir kemudian jatuh terduduk, gedongannya berupa singkong dan ubi terlepas kemudian menggelinding sampai ke anak tangga yang terbawah.
Saya melupakan keharusan pergi sekolah sambil sebisanya mengurut bagian tubuh ibu yang kesakitan. Di dalam hati ada penyesalan dan rasa berdosa karena tak bisa menemani ibu belanja. Ibu memang selalu pergi ke pasar pagi hari, itu artinya bersamaan dengan persiapan hingga saat kami pergi sekolah. Kami yang sudah sekolah, semuanya masuk pagi. Waktu itu tidak ada jadual bergiliran antara sekolah pagi dan siang karena perbandingan antara jumlah siswa dan ruang kelas masih memadai.
Masih sambil mengurut, semakin kusadari bahwa ibu telah tua, tak sepatutnya lagi pergi jauh dan kemudian membawa beban berat. Untuk belanja, ia berjalan kaki dari tempat tinggal kami di gang Kina hingga ke pasar Babatan. Usai belanja, dengan membawa gendongan ia pulang dengan berjalan kaki pula.Pernah juga kami melarang atau menawarkan agar mengubah jadual belanjanya yaitu jadi setelah kami pulang sekolah. Tapi ibu mengatakan tak mungkin belanja siang atau sore hari, sebab singkong yang masih segar itu datangnya pagi. Alasan lainnya, kata ibu, jika belanja siang atau sore maka akan mengubah pula jadual pengolahan singkong tersebut untuk menjadi keripik, dan berubah pula jadual penjualannya.
"Tapi siang atau sore pun singkong masih ada dijual," bantah saya."Betul," sanggah ibu, "tapi untuk keripik sebaiknya yang betul-betul baru, selain sarinya masih ada pun nantinya tidak keras. Andai untuk membuat kanji, ya, yang sudah kering pun tak apa-apa."
Untuk membantu penghasilan ayah dari gaji pensiun yang jauh dari memadai, ibu membuat usaha membuat keripik singkong dan pengaman obi yang terbuat dari ubi jalar. Sepulangnya dari pasar, singkong itu biasanya langsung dikupas dan diiris tipis-tipis untuk kemudian direndam di dalam ramuan yang telah disediakan. Menjelang sore, barulah irisan singkong itu diangkat dari rendaman dan digoreng. Ayah yang mengerjakan itu semua. Demikian halnya dengan ubi, langsung dicuci dan direbus. Setelah matang dan dingin kembali, kulitnya dikupas kemudian ubi tersebut dihancurkan sampai lembut. Setelah lembut diaduk dengan tepung dan gula untuk kemudian dibentuk bulat-bulat sebesar bola bekel lantas digoreng.
Saya biasanya membantu setiap pulang sekolah. Tugas utama saya adalah membuat kantong dari kertas-kertas bekas yang nantinya dijadikan wadah untuk keripik atau obi itu. Adakalanya saya diberi tugas tambahan yaitu mencari terlebih dahulu kertas-kertas bekasnya.
Kala sore tiba, warung di rumah kami itu ramai oleh pembeli. Tak jarang kami keteteran sehingga terus menggoreng dua macam penganan itu tanpa jeda. Demikian juga dengan ketersediaan kantong untuk wadah, biasanya tak henti dibuat sampai dagangan habis atau memang sudah waktunya tutup.
Menurut lidah kami, keripik dan obi bikinan ibu itu memang lezat. Rupanya begitu pula menurut tetangga yang menjadi pembeli. Berita kelezatan penganan bikinan ibu itu pun rupanya menyebar ke kampung-kampung lain yang kemudian berdatangan untuk membeli.
Hasil dari dagangan keripik dan obi itu lumayan. Selain sangat membantu biaya hidup keluarga kami, buktinya bisa juga membantu keponakan ibu untuk tinggal di rumah sekaligus dibiayai sekolahnya. Mereka berdua adalah putri dari kakaknya ibu, Ong Sek Kian, yang bekerja sebagai sopir oplet. Di kalangan sopir oplet dikenal dengan sebutan Si Baret karena tak pernah lepas dari topi baretnya.
**
Saya masih mengurut kaki ibu. Tubuh kurusnya itu kusadari memendam semangat hidup yang amat kuat, tak kenal menyerah, tak banyak cakap, intuitif, tulus."Ya, sudah pergi saja sekolah, jangan sampai kesiangan," kata ibu sambil mendorong saya agar pergi. Dengan perasaan masih berat hati, saya pun berlalu untuk pergi sekolah.
Tiga puluh enam tahun kemudian, tepatnya tahun 2003, saya membuat lukisan ibu yang padahal kedua matanya sudah tidak bisa lagi melihat lukisan itu. Ibu terkena glaucoma hingga menjadi buta.
Di sisi lukisan itu saya menulis:
labuh, Amih teh atuh sampeu patinggulutuk
leupas tina gembolan
ragrag ka handap jambatan
terjatuh bersama sepikulan singkong!
ibu bawa kabar itu dengan langkah tertatih
sementara peluh
segera menjadi lampau
tercecer di sepanjang sejarah
dan kau tetap saja
tersenyum menebar cinta
meski tak pernah sampai
di puncak pengorbananmu
kuhayati luka dan deritamu, ibu
sepikulan singkong,senyum dan cintamu, ibu
kumaknai agar hiduptak pernah menyerah!
(Cibolerang, 15 Januari 2010)

   --o0o--

Uga Tangkuban Parahu 2013 
tos lami anjeuna kulem
tapi sanes tibra ngagebra
estu salawasna eling maca kahirupan
teu weleh nitenan sakabeh paripolah
teu eureun ngambeu renghap nafas

kamari, muhun kamari pisan
anjeunna nguniang wanci Senen ka Rebo
sarupaning sasatoan lungsur
alam Bandung panasna karasa nyoco
sakadang monyet luncat nepikeun beja,
"jigana rada bendu, renghapna ngaluarkeun racun"

bendu?
tanya piit jeung si cangkur meh bareng
"heueuh, geus rea teuing paripolah
jelema anu henteu ngamanusa deui,"
ceuk gagak anu katelah si goak ngalelebah
"nanahaon eta maksudna?"
sarombongan kapinis milu tatanya
"heueuh, geus rea teuing jelema
paripolahna ngaleuleuwihi sato"
walon si goak ku teugeug

atuh da saenyana,
Dayang Sumbi mah teu eureun-eureun
lumpat ngajauhan paripolah larangan
aeh-aeh turunan jeung pangeusi lemburna,
kadar maweuh riweuh parebut kawasa
maranehna geus poekeun
teu bisa ngabedakeun
mana hak anu bisa didahar
jeung mana anu haram keur telihna
carekna getih rahayat oge diuyup
kalayan bari suka-suka

"eureun... eureun"
ceuk si goak gegeleberan
"enya kudu eureun kalayan eling
mun teu hayang Bandung balik deui jadi sagara"
walon si unggil bari teu eureun nyiricit jumerit.

[Cibolerang, 7.2.2013]

  --o0o--
CATATAN: mohon seluruh sajak yang termuat diperlakukan sebagaimana manuskrip, penulis tidak/belum memperlakukan sajak-sajak ini sebagai final.*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tak Ada Lagi "Awi jeung Gawirna," Banjir dan Longsor pun Berdatangan

Paradigma Budaya Eks Palaguna

Harry Roesli Sang Jenius Monumen Musik Indonesia