PUISI
Zen 1
hamparan rumput
subur terpelihara
batu di ujung
Zen 2
terberi hidup
itu untuk kehidupan
salam semesta
Zen 3 (Kejawen)
o anuning ning
bisik Rendra di sana
tumbuhlah diri
Zen 4
tak seorang pun
tunggu kita di sana
hanya sang ajal
[19 Desember 2014]
--oo0oo--
Menjemput Tahun Baru
semesta,
beri aku kekuatan untuk menutup
tahun ini dengan khidmat
kuasa alam,
bersatulah dalam diri
ajari kembali nyanyian fajar
ajari tentang senjakala
ajari khidmat tentang datang dan pergi
seperti selembar daun yang gugur dan mati
ternyata khidmat bagi kehidupan baru
ajari,
agar segenap sembilu lara pun
salin rupa menjadi ghirah
bahwa hidup harus dilanjutkan
[cibolerang, 29 desember 2014, "menutup tahun 2014"]
--oo0oo--
9 Haiku Ese Nangka 5 7 5
1
ada gelisah
kala timbangan cinta
tidak terbaca
2
burung hijau
pun tak lagi bersiul
di pohon nangka
3
lidah kelu
tenggelam dalam kamus
tak temukan ucap
4
berulang bunyi
klenengan di kepala
desak-mendesak
5
: anak-anakku
tak terbang cinta itu
juga tak tidur
6
tak jadi kata
terselip dan terlipat
nyusup ke sepi
7
tak juga sanggup
tak juga sampai buhul
terhimpit rindu
8
sudah di ujung
bergetar-getar lidah
hendak berucap
9
terdengar kelak
menjadi ese nangka
jadi siul : ning
Cibolerang, puasa malam ke-12 (tahunnya lupa)
--oo0oo--
9 Haiku Ese Nangka 5 7 5
(versi Sunda)
1
asa guligah
basa timbangan asih
hanteu kabaca
2
manuk nu hejo
oge eureun nyiricit
di tangkal nangka
3
letah baal
ngerelep jero kamus
teu manggihan kecap
4
teu eureun sora
ngeleneng jero sirah
pasedek-sedek
5
deudeuh anaking
kaasih moal hiber
oge teu sare
6
teu jadi kecap
nyaluuh jeung narilep
nyusup na suni
7
boh nu ayeuna
oge nu mangsa buhun
katindih sono
8
geus di tungtung
letah sawan ngageter
hayang nyarita
9
engke karungu
ngajadi ese nangka
jadi heot : ning!
Cibolerang, puasa peuting ka-12 (poho deui taunna mah)
--oo0oo--
Haiku Pulang
o satu kawan
terkabar telah pulang
selamat jalan
siit uncuing
menjerit di wuwungan
memberi kabar
satu satu o
kawan dan sahabatku
bergilir pergi
kucari-cari
doa penghantar itu
kususun kata
selamat jalan
lirih bisik hatiku
tunggu giliran
--oo0oo--
Haiku Waktu Berjalan
jerit uncuing
bijak beri pertanda
ini keniscayaan
sesiapa pun
di sana akan tiba
tak terelakkan
--oo0oo--
Aku Suka Haiku
bagaimana
aku suka haiku
yang irit itu?
ia ajarkan
artinya kesabaran
kesetiaan
seperti biksu
ikhlas merawat rumput
menyusun batu
jauhkan diri
dari keangkuhannya
libre o bebas
--oo0oo--
Sajak Tamu dari Ibukota
minum, ayo minumlah
reguk, reguklah air suci
dari piala sang dewi kesenian
orang-orang dahaga
dengan sayap-sayap patah
berdatangan membuka telapak tangan
kemudian uang ditebar
wajah suci dikenakan
lengkaplah tanda kedatangan dari surga
"telah datang sang penyelamat"
teriak orang-orang papa
menyambut dengan lambaian daun palma
"suka, bersukacitalah"
ia melambai berbaju jirah
sambil menebar rencana dari kota
bahkan si pemberontak
jadi kelu dan gelap matanya tertutup
semua terbuai manisnya angin surga
air suci campur uang ibukota
diaduk lembut dalam cawan
di ruang dengan ac sangat dingin
ayo, agungkan sang dewi kesenian
berapa pun uang dibutuhkan
sedingin apa pun ac diperlukan
"lihat, ah, betul-betul sang penyelamat"
si pemberontak nan lupa si papa nan kedinginan ac
sorai bersama sambil lambaikan daun palma
"lihat, segalanya bisa kukendalikan"
ujar si pendatang sambil melepas jirah
ada seringai tapi orang-orang tak melihatnya
(Desember, 2014)
--oo0oo--
Tarian Terakhir
hamparan rumput
subur terpelihara
batu di ujung
Zen 2
terberi hidup
itu untuk kehidupan
salam semesta
Zen 3 (Kejawen)
o anuning ning
bisik Rendra di sana
tumbuhlah diri
Zen 4
tak seorang pun
tunggu kita di sana
hanya sang ajal
[19 Desember 2014]
--oo0oo--
Menjemput Tahun Baru
semesta,
beri aku kekuatan untuk menutup
tahun ini dengan khidmat
kuasa alam,
bersatulah dalam diri
ajari kembali nyanyian fajar
ajari tentang senjakala
ajari khidmat tentang datang dan pergi
seperti selembar daun yang gugur dan mati
ternyata khidmat bagi kehidupan baru
ajari,
agar segenap sembilu lara pun
salin rupa menjadi ghirah
bahwa hidup harus dilanjutkan
[cibolerang, 29 desember 2014, "menutup tahun 2014"]
--oo0oo--
9 Haiku Ese Nangka 5 7 5
1
ada gelisah
kala timbangan cinta
tidak terbaca
2
burung hijau
pun tak lagi bersiul
di pohon nangka
3
lidah kelu
tenggelam dalam kamus
tak temukan ucap
4
berulang bunyi
klenengan di kepala
desak-mendesak
5
: anak-anakku
tak terbang cinta itu
juga tak tidur
6
tak jadi kata
terselip dan terlipat
nyusup ke sepi
7
tak juga sanggup
tak juga sampai buhul
terhimpit rindu
8
sudah di ujung
bergetar-getar lidah
hendak berucap
9
terdengar kelak
menjadi ese nangka
jadi siul : ning
Cibolerang, puasa malam ke-12 (tahunnya lupa)
--oo0oo--
9 Haiku Ese Nangka 5 7 5
(versi Sunda)
1
asa guligah
basa timbangan asih
hanteu kabaca
2
manuk nu hejo
oge eureun nyiricit
di tangkal nangka
3
letah baal
ngerelep jero kamus
teu manggihan kecap
4
teu eureun sora
ngeleneng jero sirah
pasedek-sedek
5
deudeuh anaking
kaasih moal hiber
oge teu sare
6
teu jadi kecap
nyaluuh jeung narilep
nyusup na suni
7
boh nu ayeuna
oge nu mangsa buhun
katindih sono
8
geus di tungtung
letah sawan ngageter
hayang nyarita
9
engke karungu
ngajadi ese nangka
jadi heot : ning!
Cibolerang, puasa peuting ka-12 (poho deui taunna mah)
--oo0oo--
Haiku Pulang
o satu kawan
terkabar telah pulang
selamat jalan
siit uncuing
menjerit di wuwungan
memberi kabar
satu satu o
kawan dan sahabatku
bergilir pergi
kucari-cari
doa penghantar itu
kususun kata
selamat jalan
lirih bisik hatiku
tunggu giliran
--oo0oo--
Haiku Waktu Berjalan
jerit uncuing
bijak beri pertanda
ini keniscayaan
sesiapa pun
di sana akan tiba
tak terelakkan
--oo0oo--
Aku Suka Haiku
bagaimana
aku suka haiku
yang irit itu?
ia ajarkan
artinya kesabaran
kesetiaan
seperti biksu
ikhlas merawat rumput
menyusun batu
jauhkan diri
dari keangkuhannya
libre o bebas
--oo0oo--
Sajak Tamu dari Ibukota
minum, ayo minumlah
reguk, reguklah air suci
dari piala sang dewi kesenian
orang-orang dahaga
dengan sayap-sayap patah
berdatangan membuka telapak tangan
kemudian uang ditebar
wajah suci dikenakan
lengkaplah tanda kedatangan dari surga
"telah datang sang penyelamat"
teriak orang-orang papa
menyambut dengan lambaian daun palma
"suka, bersukacitalah"
ia melambai berbaju jirah
sambil menebar rencana dari kota
bahkan si pemberontak
jadi kelu dan gelap matanya tertutup
semua terbuai manisnya angin surga
air suci campur uang ibukota
diaduk lembut dalam cawan
di ruang dengan ac sangat dingin
ayo, agungkan sang dewi kesenian
berapa pun uang dibutuhkan
sedingin apa pun ac diperlukan
"lihat, ah, betul-betul sang penyelamat"
si pemberontak nan lupa si papa nan kedinginan ac
sorai bersama sambil lambaikan daun palma
"lihat, segalanya bisa kukendalikan"
ujar si pendatang sambil melepas jirah
ada seringai tapi orang-orang tak melihatnya
(Desember, 2014)
--oo0oo--
Purnama bulan ke
tujuh
Angin barat,
timur, utara, selatan
Bersatulah dalam
diri untuk menyapa semesta
Kenanga di puncak
wilis
Melati di puncak
galunggung
Bertemu harum
mawar di astana gede
Barat tetap dengan
baratnya
Timur senantiasa
timur
Utara dan selatan
tak mengubah diri
Karena itu maka
ada pertemuan
Jumpa satu dengan
lainnya yang berbeda
Wangi kenanga pun
tak berganti melati
Tak berebut udara
dengan mawar
Purnama bulan ke
tujuh
Kakiku telanjang
menapak bumi
Tak beralas tidak
juga tilam
Dinginnya tanah
coklat
Gelitik kerikil di
telapak kaki
Sapaan semesta
sang pemberi hidup
Wahai purnama
Wahai pemilik
semesta alam
Darimu aku bermula
Ke sana pula aku
berpulang
Di atas kaki
telanjang
Ini aku bersaksi
Tubuh ini tak
punya daya apapun
Selain atas ruh
dan tenaga kesemestaanmu
Beri tubuh ini
kekuatan untuk berdiri
Beri tubuh ini
kekuatan untuk bergerak
Bergerak
Bergerak, dan
terus bergerak
Untuk bersatu
denganmu
Bergerak
Bergerak, dan
terus bergerak
Untuk semata-mata
menghamba padamu
Bergerak
Bergerak, dan
terus bergerak
Agar tetap bisa
merasakan nadi
Bergerak
Bergerak, dan
terus bergerak
Untuk merasakan
bahwa punya nafas
Bergerak
Bergerak, dan
terus bergerak
Hingga pori
terbuka
Memberi jalan bagi
keringat
Bergerak
Bergerak, dan
terus bergerak
Hingga tak lagi
memiliki gerak
Luruh, sujud,
di atas tanah coklat
yang telanjang
--o0o--
Haiku Sukrasana
Ki Dalang bijak
mohon ajarkan lagi
bab Sukrasana
lembar ke lembar
kitab lapuk berkisah
nurani bijak
pangkat dan harta
bahkan kedigjayaan
nyata tak daya
ah Sriwedari
kukuh tidak beranjak
Somantri lunglai
Cakrabaskara
takluk tidak berdaya
menanti cinta
kasih Sukrasana
si papa buruk rupa
tulus bertebar
semesta runduk
lafalkan arti ikhlas
ummm, kunfayakun
--o0o--
Ode untuk IA
dan tibalah dikau di ruang pengabdian
ruang luas tak berbatas
bahkan tanpa lampu tanpa penghias
diskusi indah dan tak indah
telah menjadi lampau
memudar dan menghilang
jangankan uang dan sebentuk bayaran
bahkan ada dan tak ada tepuk tangan
pun
dalam gelap hujan berhalilintar
dikau menari mewujud menjadi air
menjadi halilintar
di pelataran cetha yang disucikan
dikau sapa rembulan
menebar cinta bersama gerimis
sungai bacin ah teramat kotor
berkeramas malah dikau di sana
wening
air matamu menitik
bersatu dengan tirta Situ Talaga
menari bersama ikan-ikan berloncatan
deru mesin-mensin penghancur
dikau ubah jadi pirig kupu tarung
tegak di sana: melawan
bersama SS dan dua lembar daun pisang
sssssss... desis dikau bukan ular
saksinya bulu kuduk nan meremang
ruang luas tak berbatas
tempat dikau menghentak soder
tanpa lampu tanpa penghias
luruh dikau bersama semesta
menjadi semesta
aku menatap sambil belajar
[ditulis sesungguhnya saat IA menari di tengah hujan dan halilintar di Cipaku, tahunnya lupa, tak usai dan/atau selalu merasa tulisan ini mentah maka tak pernah diselesaikan - kini, di ujung 2014, ditengok kembali, ada yang tumbuh tapi merasa tak matang jua]
--o0o--
credo badingkut
o,
negeriku
inilah negeri yang masa lalunya tercabik-cabik alasan modernitas yang tak jelas
negeri yang begitu pengap dibanjiri sampah kata-kata
wakil rakyatnya terus menanam benih hianat di ladang keringat rakyat
maka si lemah-lembut pun berubah menjadi pemberang yang merusak
buahnya adalah api dan huru-hara yang merajalela di mana-mana.
martabat telah lama dibiarkan menjadi reruntuk
peradaban baru belum lagi tegak tiba-tiba runtuh
dan kelelap utang yang tak terperikan
dalam bingung, seni dan televisinya semakin memuliakan kepalsuan
ketimbang akal sehat dan kecerdasan
ragam isme modern memang bertaburan tapi hampir semua serba sepenggal
itu pun hari demi hari terus dibakar hingga tinggal puing berserakan
berbaur dengan ragam sampah partai hingga celana dalam.
o, bagaimana pun
ini adalah negeriku
biarlah kupungut reruntuk dan sampah-sampah itu
beri aku waktu memilih dan mengeramasinya kembali
biarlah kususun ulang agar sinar kehidupan kembali berpijar
Herry Dim
2002
inilah negeri yang masa lalunya tercabik-cabik alasan modernitas yang tak jelas
negeri yang begitu pengap dibanjiri sampah kata-kata
wakil rakyatnya terus menanam benih hianat di ladang keringat rakyat
maka si lemah-lembut pun berubah menjadi pemberang yang merusak
buahnya adalah api dan huru-hara yang merajalela di mana-mana.
martabat telah lama dibiarkan menjadi reruntuk
peradaban baru belum lagi tegak tiba-tiba runtuh
dan kelelap utang yang tak terperikan
dalam bingung, seni dan televisinya semakin memuliakan kepalsuan
ketimbang akal sehat dan kecerdasan
ragam isme modern memang bertaburan tapi hampir semua serba sepenggal
itu pun hari demi hari terus dibakar hingga tinggal puing berserakan
berbaur dengan ragam sampah partai hingga celana dalam.
o, bagaimana pun
ini adalah negeriku
biarlah kupungut reruntuk dan sampah-sampah itu
beri aku waktu memilih dan mengeramasinya kembali
biarlah kususun ulang agar sinar kehidupan kembali berpijar
Herry Dim
2002
--o0o--
belajar kepada daun
tumbuh dan menjadi
tanpa
memaksa waktu
keteduhan
warna-warni
bisik
zikir
daya
hidup
dipersembahkannya
kepada semesta
bahkan
kematian
adalah
sapaan salam
bagi
kehidupan mendatang
(2004)
--o0o--
matikan televisi
anakku,
jangan
terlalu lama kau tatap televisi
sebab
seribu dusta nanti tertanam di kepala
ah
ayah,
dengan
apakah aku harus membunuh sepi
sebab
tak ada lagi yang bisa diajak berkata-kata
lihatlah,
di sini kata-kata tak henti mengalir
harapan
pun bisa diubahnya jadi angan-angan
bahkan
nestapa dalam sekejap tak terasa
dan
bukankah semua ini dibentuk dari fakta?
fakta?
bau
keringat para pembuat bata
tak
pernah bisa tercium di layar kaca
air
matanya yang berubah menjadi gedung-gedung
tak
akan pernah menetes di remot kontrolmu
kesabaran
anak-anaknya menghitung lapar
tak
akan terdata menjadi angka rating
tapi,
itu,
oh itu… ada pula seratus ajaran
sorga
pun terasa menjadi begitu dekat
doa
bersama acapkali ditayangkan
aku
pun tenggelam di lautan ayat-ayat
bukankah
itu kebenaran adanya?
kebenaran…
bukanlah
manequin yang gemar dipertontonkan
ia
kerap berada di keheningan
meski
adakalanya suwung di tengah keramaian
tali
pusarnya tetaplah di sepinya nurani
maka
bagaimana bisa doa dititipkan dan jadi keramaian
robanna,
ya, robanna…
biarlah
hatimu mengucapkannya sendiri
mulailah
dengan mematikan televisi.
(Giri Mekar,
November 2006)
--o0o--
riwayat
gerabah yang dihancurkan
padahal yang kulihat sebuah rekaman video
atau mungkin juga disebabkan rekaman video
aku menangis kala melihat guci-guci gerabah
itu satu demi satu dihancurkan atas nama kegagahan seni
atau mungkin juga disebabkan rekaman video
aku menangis kala melihat guci-guci gerabah
itu satu demi satu dihancurkan atas nama kegagahan seni
ia,
kemarin, dijumput dari asal-muasal kehidupan manusia
dengan
cinta dan demi hidup
dipisahkannya dari pasir-pasir dan kuarsa
bersama air yang juga dari riwayat asal-muasal
ia kini menjadi lentur dan iklas dibentuk menjadi
apapun
bersama
riwayat asal-muasal lainnya: api
ia disempurnakan dan dimatangkan
kini
ia menjadi
--o0o--
Rindu dalam Diam
di tengah
kehidupan
yang berkuping
tapi tak mendengar
masih patutkah
aku berbicara?
di tengah
kehidupan
yang bermata tapi
tak melihat
masih patutkah
aku berbuat?
di tengah
kehidupan
yang berhati tapi tinggal segumpal daging
masih patutkah
aku berbagi rasa?
di tengah
kehidupan
yang diberi otak
tapi kehilangan akal
masih patutkah
aku berpendapat?
(o, penguasa
ruang yang maha di atas segala maha):
dengar, dengar,
dengarlah
begitu gaduh
mereka berceracau
tapi tak satu alif pun menjadi kabar
sibuk mereka
bersilang-siur
padat di jalanan
padat di ruang hati
semua pergi hanya
ke entah
berbisik atau pun
berteriak
kepada mereka
hanya tinggal
gaung
yang memantul
kembali kepada diri
kini,
rinduku
rindu
belajar untuk
mendengar
kini,
rinduku
rindu
dalam
diam.
Cibolerang, 7
Juni 2005
--o0o--
pelajaran
berhitung*)
sembilan nyawa tak menggenapkan yang tiga
ratus
tiga ratus tak menggenapkan ratus yang ke
tujuh
ribu bahkan
menjadi tak berbilang
juta akhirnya
hanya jadi warta berita
semuanya
berpindah hanya jadi angka-angka
bumi negeri ini
pun meradang kesakitan penuh luka
mati, mati, mati,
mati...
riwayat kematian
sederet angka saja layaknya
o,
lihat pula di sana wabah menyebar
bergeser pandang
tampak terlihat bah yang amuk
gunung di sebelah
utara memperlihatkan amarah
jauh ke timur
tanahnya mengering kerontang
barisan pendaftar
jadi babu kian memanjang
berbaris pula kala pulang bawa luka
diperkosa majikan
ada pula yang termangu nanar sinar lampu
neon
lantas terkapar mabuk heroin dan impian
jadi bintang
o,
inilah kala penyairnya tak lagi jadi
penunjuk jalan
satu, dua, dan sembilan agamawannya mabuk
kekuasaan
ini kala negeri diurus laiknya permainan
rakyatnya hanya dihitung sebagai bilangan
satu, dua, dan
sembilan rakyatnya pun kehilangan ingatan.
(Cibolerang-Giri
Mekar, September - Oktober 2004 - Februari 2005)
*) sajak ini adalah bagian dari libretto
"Godot Telah Datang"
--o0o--
Di
Manakah Manusia?*)
berabad kujalani hidup ini
semuanya sama
berulang
diawali
kesendirian yang indah
berlanjut pada
pemassaan yang kejam
nero, caligula, hitler
bencana habil-qabil, vietnam, afganistan.
ketakberakhiran di tanah kelahiran
Ibrahim
desing peluru dan
bom berulang di mana-mana.
atas nama
revolusi, reformasi, demokrasi...
bahkan memaknai
merdeka:
tandanya
berulang... darah!
di manakah
sesungguhnya damai?
di manakah
sesungguhnya manusia?
(Cibolerang-Giri
Mekar, September-Oktober 2004 - Februari 2005)
*) sajak ini adalah bagian dari libretto
"Godot Telah Datang"
--o0o--
sajak tentang sejumlah nama
komputerku
lantang berulang-ulang
menyuarakan
nyanyian mukti-mukti tentang rasinah
mengembara
menjadi laut lantun syair sonny soeng
pola copy-paste
memunculkan wajah dedi koral
berhamburan bersama aksara
yang mengeja ahda, matdon, soni farid,
alwy, acep,
godi, agus sarjon, juniarso, ridlo, jamal
bang hamid bangkit dari kuburnya
melihat bahwa jalan indonesia
masih pula berlika-liku
harry roesli menepuk bahunya dan berbisik
“janganlah menangis indonesiaku”
sebuah bakiak tertidur lelap di bantal
putih
manusia-manusia kepalanya berubah jadi semangka
afrizal membuka jendela sambil tersenyum
dari abad ke abad
terkubur nyanyian-nyanyian lara
kata-kata yang disusun ahda, matdon,
soni farid, alwy, acep, godi, agus sarjon,
juniarso, ridlo, jamal
pun berubah jadi hujan air mata
“berapa kuping yang harus dimiliki manusia
agar ia bisa mendengar jerit tangis,” urai
dylan
“mas,” kata hatiku di pusara harry roesli,
“bagaimana tidak menangis?”
anak-anak yang terpaksa hidup di jalanan
kian banyak dan
beredar di seluruh kota
perih, luka,
nanah ketidakadilan masih
jadi
perbendaharaan kata teman-teman kita
(Giri Mekar, 2006)
--o0o--
rindu kawan
di pembaringan
malam ini
bersama rembulan yang malu-malu di balik awan
ngilu tubuh hingga belulang juga demam
adakah merajalelanya dasamuka jadi penyebab?
atau tubuh memang telah renta?
ah,
ternyata rindu
bisik hati dengan bulu-bulu kujur tubuh merinding
di pembaringan
malam ini
bersama rembulan yang malu-malu di balik awan
dalam ngilu dalam demam
dalam luka melihat kejahatan kerah putih
berulang kulirik jendela;
adakah kawan yang datang?
bisik angin sambil mengusik pohon rambutan
di pembaringan
malam ini
bersama rembulan yang malu-malu di balik awan
dalam ngilu dalam demam
dalam pedih melihat segala kecurangan
berulang kulirik jendela;
kawan?
jika ada tentu datang
sebab tubuh tak tergantikan sms
angin pun diam tak menjawab
di pembaringan
malam ini
aku rindu suara;
"her, ka dieu maneh, mun euweuh kendaraan make taxi bae, engke dibayar di didieu ku urang"
maka sampai ayam berkokok
tawa, lara, marah dan geram
jadi milik bersama
tubuh saling berkunjung
bersebab belum ada sms
kulirik jendela;
tampak angin mengangguk
dalam hati kubacakan al-fatihah
Cibolerang, 20 Agustus 2011
(puasa malam ke 20)
--o0o--
Sajak Menunggu Ibu Menjelang Ajal
kupu-kupu putih mendekat,
terbang rendah di atas rumput halaman
siit uncuing yang selama 4 hari 4 malam berkirim jerit duka di pucuk cengkeh,
kini terdengar menjauh
turaes, pagi ini, hingar di mana-mana;
sesekali bersahutan dengan ese nangka
tapi sejak lima matahari lima rembulan dalam selimut senyapnya rumah sakit,
tak kudengar juga suara ibuku berkata-kata
lidah ibu menjadi kelu
rinduku memuncak
rindu dimarahi ibu karena kenakalan semasa kanak
rindu celoteh suara ibu saat masak
rinduku membatu menjadi doa yang tak cukup-cukup jua
(the 5th days between me and my mother, RS Salamun 19 Maret 2011)
terbang rendah di atas rumput halaman
siit uncuing yang selama 4 hari 4 malam berkirim jerit duka di pucuk cengkeh,
kini terdengar menjauh
turaes, pagi ini, hingar di mana-mana;
sesekali bersahutan dengan ese nangka
tapi sejak lima matahari lima rembulan dalam selimut senyapnya rumah sakit,
tak kudengar juga suara ibuku berkata-kata
lidah ibu menjadi kelu
rinduku memuncak
rindu dimarahi ibu karena kenakalan semasa kanak
rindu celoteh suara ibu saat masak
rinduku membatu menjadi doa yang tak cukup-cukup jua
(the 5th days between me and my mother, RS Salamun 19 Maret 2011)
--o0o--
Kawan
(bagi
yang lebih awal pulang)
yang kini bersama angin
luruh bersama rontokan daun
dalam pelukan bumi yang dingin
suara lirihnya bunyi seruling
menyelinap di antara batang pohon
di antara cabang-cabang reranting
di antara rimbun hijau dedaunan
kepergiannya menghamparkan altar
bagi kehidupan baru warna-warni bunga
luruh bersama rontokan daun
dalam pelukan bumi yang dingin
suara lirihnya bunyi seruling
menyelinap di antara batang pohon
di antara cabang-cabang reranting
di antara rimbun hijau dedaunan
kepergiannya menghamparkan altar
bagi kehidupan baru warna-warni bunga
selalu
hadir berhadapan
tak menghujat
tak ragu membentak kala ada salah
selalu hadir berhadapan
membasuh luka
memeluk hangat kala ada duka
tak menghujat
tak ragu membentak kala ada salah
selalu hadir berhadapan
membasuh luka
memeluk hangat kala ada duka
seperti
bayang-bayang
kala dekat kala jauh
bisik dan candanya berbayang
berdengung di gemawan
baur bersama rangkulan angin
sesekali bersama berulangnya ombak
renyah suci bersama tawa anak-anak
kala dekat kala jauh
bisik dan candanya berbayang
berdengung di gemawan
baur bersama rangkulan angin
sesekali bersama berulangnya ombak
renyah suci bersama tawa anak-anak
bahkan di tengah pikuk
lautan manusia dan kata-kata
suara langkah sepatunya
jernih terdengar menyapa
satu dua ketukan lantas datang
lautan manusia dan kata-kata
suara langkah sepatunya
jernih terdengar menyapa
satu dua ketukan lantas datang
di kaca jendela
hembus nafas menjadi embun
menjadi gambar kenangan
kala embun disusut terbit senyum
menjadi harapan menjadi esok
hembus nafas menjadi embun
menjadi gambar kenangan
kala embun disusut terbit senyum
menjadi harapan menjadi esok
seperti kemarin kita bersama
menyusur waktu menjemput harap
kini pun engkau senantiasa hadir
menyapa di dalam mimpi
menepuk pundak kala sendiri
berlompatan bersama rintik hujan
memberontak pula kala melihat ketakadilan
menyusur waktu menjemput harap
kini pun engkau senantiasa hadir
menyapa di dalam mimpi
menepuk pundak kala sendiri
berlompatan bersama rintik hujan
memberontak pula kala melihat ketakadilan
kawan
engkau tak pernah pergi
engkau adalah angin
engkau dedaunan
engkau bumi tempatku kini berdiri
engkau lirihnya bunyi seruling
engkau menyelinap di antara batang pohon
engkau di antara cabang-cabang reranting
di antara rimbun hijau dedaunan
engkau senantiasa hadir dalam kehidupan
di hamparan altar riwayat
bersama hidup warna-warni bunga
engkau tak pernah pergi
engkau adalah angin
engkau dedaunan
engkau bumi tempatku kini berdiri
engkau lirihnya bunyi seruling
engkau menyelinap di antara batang pohon
engkau di antara cabang-cabang reranting
di antara rimbun hijau dedaunan
engkau senantiasa hadir dalam kehidupan
di hamparan altar riwayat
bersama hidup warna-warni bunga
selalu
hadir berhadapan
tak menghujat
tak ragu membentak kala ada salah
selalu hadir berhadapan
membasuh luka
memeluk hangat kala ada duka
tak menghujat
tak ragu membentak kala ada salah
selalu hadir berhadapan
membasuh luka
memeluk hangat kala ada duka
dan
engkau pun mendengar
kata-kataku yang tak harus kuucapkan
kawan
kawan
kawan
engkau pun mendengar
kata-kataku yang tak harus kuucapkan
kata-kataku yang tak harus kuucapkan
kawan
kawan
kawan
engkau pun mendengar
kata-kataku yang tak harus kuucapkan
(Harry Roesli, Suyatna Anirun, Roedjito, Rendra, Hamid
Jabbar, Munir, Dede Haris, Beny R Budiman, Wan Anwar, Nano S, Wawan Djuanda,
Mamannoor, Sanento Yuliman, Redha Sorana, Hendrawan Riyanto, Aip Dimjati, Aty
Herlianti, dan semua yang mendauhuluiku pergi)
--o0o--
Menggelinding
Bersama Sepikul Singkong
Pagi itu menjelang berangkat sekolah, saya melihat ibu
pulang dari pasar dengan tertatih-tatih. Belum lagi gendongan di punggungnya
dilepas, ia menjatuhkan diri duduk di kursi.
"Labuh, Amih teh.... atuh sampeu patinggulutuk (terjatuh Amih ini... maka singkong pun bergelindingan)," ungkapnya antara sambil melepas lelah dan mengurut kaki serta pinggangnya yang memar.
"Labuh, Amih teh.... atuh sampeu patinggulutuk (terjatuh Amih ini... maka singkong pun bergelindingan)," ungkapnya antara sambil melepas lelah dan mengurut kaki serta pinggangnya yang memar.
Berikutnya dengan masih mengurut kaki, ibu bercerita tentang jatuhnya itu di tangga penyeberangan. Akibat anak tangga yang licin dan terlalu
curam maka ibu tergelincir kemudian jatuh terduduk, gedongannya berupa singkong
dan ubi terlepas kemudian menggelinding sampai ke anak tangga yang terbawah.
Saya melupakan keharusan pergi sekolah sambil sebisanya
mengurut bagian tubuh ibu yang kesakitan. Di dalam hati ada penyesalan dan rasa
berdosa karena tak bisa menemani ibu belanja. Ibu memang selalu pergi ke pasar
pagi hari, itu artinya bersamaan dengan persiapan hingga saat kami pergi
sekolah. Kami yang sudah sekolah, semuanya masuk pagi. Waktu itu tidak ada
jadual bergiliran antara sekolah pagi dan siang karena perbandingan antara
jumlah siswa dan ruang kelas masih memadai.
Masih sambil mengurut, semakin kusadari bahwa ibu telah
tua, tak sepatutnya lagi pergi jauh dan kemudian membawa beban berat. Untuk
belanja, ia berjalan kaki dari tempat tinggal kami di gang Kina hingga ke pasar
Babatan. Usai belanja, dengan membawa gendongan ia pulang dengan berjalan kaki
pula.Pernah juga kami melarang atau menawarkan agar mengubah
jadual belanjanya yaitu jadi setelah kami pulang sekolah. Tapi ibu mengatakan
tak mungkin belanja siang atau sore hari, sebab singkong yang masih segar itu
datangnya pagi. Alasan lainnya, kata ibu, jika belanja siang atau sore maka
akan mengubah pula jadual pengolahan singkong tersebut untuk menjadi keripik, dan berubah pula jadual penjualannya.
"Tapi
siang atau sore pun singkong masih ada dijual," bantah saya."Betul,"
sanggah ibu, "tapi untuk keripik sebaiknya yang betul-betul baru, selain
sarinya masih ada pun nantinya tidak keras. Andai untuk membuat kanji, ya, yang
sudah kering pun tak apa-apa."
Untuk
membantu penghasilan ayah dari gaji pensiun yang jauh dari memadai, ibu membuat
usaha membuat keripik singkong dan pengaman obi yang terbuat dari ubi jalar.
Sepulangnya dari pasar, singkong itu biasanya langsung dikupas dan diiris
tipis-tipis untuk kemudian direndam di dalam ramuan yang telah disediakan. Menjelang sore, barulah
irisan singkong itu diangkat dari rendaman dan digoreng. Ayah yang mengerjakan
itu semua. Demikian halnya dengan ubi, langsung dicuci dan direbus. Setelah
matang dan dingin kembali, kulitnya dikupas kemudian ubi tersebut dihancurkan
sampai lembut. Setelah lembut diaduk dengan tepung dan gula untuk kemudian
dibentuk bulat-bulat sebesar bola bekel lantas digoreng.
Saya biasanya membantu setiap pulang sekolah. Tugas utama
saya adalah membuat kantong dari kertas-kertas bekas yang nantinya dijadikan
wadah untuk keripik atau obi itu. Adakalanya saya diberi tugas tambahan yaitu
mencari terlebih dahulu kertas-kertas bekasnya.
Kala sore tiba, warung di rumah kami itu ramai oleh
pembeli. Tak jarang kami keteteran sehingga terus menggoreng dua macam penganan
itu tanpa jeda. Demikian juga dengan ketersediaan kantong untuk wadah, biasanya
tak henti dibuat sampai dagangan habis atau memang sudah waktunya tutup.
Menurut lidah kami, keripik dan obi bikinan ibu itu
memang lezat. Rupanya begitu pula menurut tetangga yang menjadi pembeli. Berita
kelezatan penganan bikinan ibu itu pun rupanya menyebar ke kampung-kampung lain
yang kemudian berdatangan untuk membeli.
Hasil dari dagangan keripik dan obi itu lumayan. Selain
sangat membantu biaya hidup keluarga kami, buktinya bisa juga membantu
keponakan ibu untuk tinggal di rumah sekaligus dibiayai sekolahnya. Mereka
berdua adalah putri dari kakaknya ibu, Ong Sek Kian, yang bekerja sebagai sopir
oplet. Di kalangan sopir oplet dikenal dengan sebutan Si Baret karena tak
pernah lepas dari topi baretnya.
**
Saya masih mengurut kaki ibu. Tubuh kurusnya itu kusadari
memendam semangat hidup yang amat kuat, tak kenal menyerah, tak banyak cakap,
intuitif, tulus."Ya, sudah pergi saja sekolah, jangan sampai
kesiangan," kata ibu sambil mendorong saya agar pergi. Dengan perasaan
masih berat hati, saya pun berlalu untuk pergi sekolah.
Tiga puluh enam tahun kemudian, tepatnya tahun 2003, saya
membuat lukisan ibu yang padahal kedua matanya sudah tidak bisa lagi melihat
lukisan itu. Ibu terkena glaucoma hingga menjadi buta.
Di sisi lukisan itu saya menulis:
labuh,
Amih teh atuh
sampeu patinggulutuk
leupas tina gembolan
ragrag ka handap jambatan
leupas tina gembolan
ragrag ka handap jambatan
terjatuh bersama sepikulan singkong!
ibu bawa kabar itu dengan langkah tertatih
sementara peluh
segera menjadi lampau
tercecer di sepanjang sejarah
dan kau tetap saja
tersenyum menebar cinta
ibu bawa kabar itu dengan langkah tertatih
sementara peluh
segera menjadi lampau
tercecer di sepanjang sejarah
dan kau tetap saja
tersenyum menebar cinta
meski tak pernah sampai
di puncak pengorbananmu
kuhayati luka dan deritamu, ibu
di puncak pengorbananmu
kuhayati luka dan deritamu, ibu
sepikulan singkong,senyum
dan cintamu, ibu
kumaknai agar hiduptak pernah menyerah!
kumaknai agar hiduptak pernah menyerah!
(Cibolerang,
15 Januari 2010)
--o0o--
Uga Tangkuban Parahu 2013
tos lami anjeuna
kulem
tapi sanes tibra
ngagebra
estu salawasna
eling maca kahirupan
teu weleh nitenan
sakabeh paripolah
teu eureun
ngambeu renghap nafas
kamari, muhun
kamari pisan
anjeunna nguniang
wanci Senen ka Rebo
sarupaning
sasatoan lungsur
alam Bandung
panasna karasa nyoco
sakadang monyet
luncat nepikeun beja,
"jigana rada
bendu, renghapna ngaluarkeun racun"
bendu?
tanya piit jeung
si cangkur meh bareng
"heueuh,
geus rea teuing paripolah
jelema anu henteu ngamanusa deui,"
ceuk gagak anu
katelah si goak ngalelebah
"nanahaon
eta maksudna?"
sarombongan
kapinis milu tatanya
"heueuh,
geus rea teuing jelema
paripolahna
ngaleuleuwihi sato"
walon si goak ku
teugeug
atuh da saenyana,
Dayang Sumbi mah teu
eureun-eureun
lumpat ngajauhan
paripolah larangan
aeh-aeh turunan
jeung pangeusi lemburna,
kadar maweuh
riweuh parebut kawasa
maranehna geus
poekeun
teu bisa
ngabedakeun
mana hak anu bisa
didahar
jeung mana anu
haram keur telihna
carekna getih
rahayat oge diuyup
kalayan bari
suka-suka
"eureun...
eureun"
ceuk si goak
gegeleberan
"enya kudu
eureun kalayan eling
mun teu hayang
Bandung balik deui jadi sagara"
walon si unggil
bari teu eureun nyiricit jumerit.
[Cibolerang,
7.2.2013]
--o0o--
CATATAN: mohon seluruh sajak yang termuat diperlakukan sebagaimana manuskrip, penulis tidak/belum memperlakukan sajak-sajak ini sebagai final.*
Komentar
Posting Komentar