MEMAHAMI SENI
Seni Itu Kufur?
Seni dalam Obrolan Keseharian #01
oleh: Hérry Dim
JAWINUL beserta keluarga bertandang ke rumah saudaranya yaitu keluarga U di kota C, tujuan utamanya tentu saja silaturahmi sekaligus untuk mendapatkan benih pohon jati yang hendak ditanam di kampung sekitar JK.
Setelah berbincang, Jawinul menjadi tahu bahwa sejak masuk gerbang berpagar sederhana di muka jalan sebelah timur tadi, kemudian memanjang dan berdérét ke arah barat yaitu tempat pembibitan pohon jati, dérétan rumah-rumah termasuk rumah keluarga U, dan berujung di sebuah mesjid besar, itu merupakan wilayah binaan sebuah organisasi berlatarkan keagamaan.
Rumah tinggal keluarga U seperti yang lainnya, sangat sederhana berukuran sekira 4 X 6 meter, berdinding batako tanpa pléster.
Kami duduk dan ngobrol di sekeliling méja makan yang bersatu dengan dapur dan langsung menghadap kamar mandi sekaligus toilét. Di ujung méja makan yang menémpél ke dinding terdapat sebuah télévisi berukuran kecil.
Di antara obrolan kangen-kangenan, Ny. H sebagai ibu rumah tangga berkata sambil menunjuk télévisi yang sedang menyiarkan musik dengan penyanyi yang bergoyang seronok, "seni itu hanya membawa atau mendekatkan manusia kepada kekufuran."
Pernyataan tersebut jelas ditujukan kepada Jawinul, tapi sebelum sempat memberikan jawaban terdengar ada yang menyampaikan salam sambil mengetuk pintu.
Pak U membuka pintu dan menyambut tamu yang tampak begitu dihormatinya. Sementara obrolan Ny. H dan Jawinul terus berlanjut.
"Yang lebih seronok dari itu bahkan disertai tari telanjang pun ada, tapi kita tak bisa mengatakan bahwa seni itu kufur sebab masih banyak seni yang lainnya," kata Jawinul sambil menikmati ketéla rebus yang disuguhkan.
"Ya, tapi kebanyakan seni begitu, sekurang-kurangnya membuat orang lupa diri dan melupakan ibadah," tungkas Ny. H.
"Anda mengatakan banyak atau kebanyakan, itu karena berdasarkan penglihatan yang umumnya tampil di télévisi, padahal di luar télévisi masih banyak lagi yang lain," jawab Jawinul.
"Yang jelas seni itu banyak mudarat ketimbang manfaatnya," tiba-tiba sang tamu yang ternyata bernama Ust D itu menimpali.
"Jadi seni itu tak ada gunanya?" Pancing Jawinul.
"Kenyataannya begitu, menyita waktu, membuat orang lupa diri dan lupa kepada yang lebih pokok yaitu menunaikan perintah agama," urai Ust D.
"Singkatnya seni itu bertentangan dengan agama," pancing Jawinul lagi.
"Begitulah kenyataannya, maka ummat kami tidak diperkenankan atau setidaknya diperintahkan untuk menjauhi seni," Ust D menyampaikan prinsip keagamaannya.
Jawinul sesungguhnya cukup panjang menyampaikan uraian semisal bagaimana para wali menyebarkan agama dengan menggunakan seni (wayang dan gamelan). Tapi seluruhnya dibantah oleh Ust D. Ia antara lain berargumén bahwa banyak ajaran agama yang menyertakan seni itu tak sejalan dengan yang dicontohkan Rasulullah. Bahkan, menurutnya pula, banyak yang bersifat musrik.
Jawinul masih mencoba bertahan bahwa yang disebutnya musrik itu bukanlah ritual formal keagamaan, melainkan suatu cara manusia untuk menyentuh religiusitasnya, mendekatkan diri dengan ke-Illahi-an dengan cara seni, menghadirkan kesemestaan dengan simbol bunga, kelapa muda, bunga kelapa, daun hanjuang, dan sebagainya. Penghadiran unsur alam, lanjut Jawinul, itu sejatinya semacam pernyataan sekaligus pengakuan bahwa Tuhan yang kita sembah itu adalah Tuhan bagi semesta alam seperti digariskan di dalam surah Al-Fatihah ayat kedua.
Ust D tetap berkeyakinan itu salah, musrik, kufur.
"Itu pula yang menetapkan keyakinan bahwa seni seyogianya tidak ada, harus hilang dari muka bumi," ucap Jawinul yang maksudnya ingin mengakhiri perdebatan.
"Kami tak akan bisa menghilangkan atau menghapuskan seni dari muka bumi, kecuali mengajak ummat kami menjauhi dan tak pernah menggunakan seni di dalam ibadahnya," jawab Ust D.
"Apakah berhasil? Artinya seratus persén tak bersinggungan dengan seni," Jawinul terpancing untuk melanjutkan perbincangan.
"Alhamdulillah, ummat kami tak bersinggungan dengan seni," kata Ust D meyakinkan.
"Nyatanya di rumah ini ada télévisi, bahkan dari sana pula awal perbincangan ini. Maaf, saya menduga di setiap rumah lainnya pun niscaya memasang télévisi, bahkan mungkin terpasang juga di rumah Ust D," kata Jawinul dan tampak sekali menyampaikannya dengan nada iseng.
Ust D tampak agak gelagapan tapi segera menangkis, "télévisi kami gunakan hanya untuk mengikuti syiar agama."
"Dengan itu maka tak ada lagi seni di lingkungan komunitas ini?" Tanya Jawinul.
"Begitulah," tegas Ust D.
"Jika tidak keberatan, saya ingin mengajak Ust D dan semuanya untuk sejenak keluar untuk melihat-lihat. Semoga ini bisa menutup perbincangan kita," ajak Jawinul.
"Ke mana?" Tanya Ust D yang hampir bersamaaan dengan beberapa penghuni rumah lainnya.
"Cukup sampai di depan pintu saja," kata Jawinul sambil melangkah keluar, dan diikuti oleh yang lainnya, dan "mari kita perhatikan mesjid itu," kata Jawinul setelah di halaman rumah yang tak seberapa luasnya itu.
"Kami tahu persis karena itu adalah mesjid kami, apa yang harus dilihat?" Tanya Ust D, kelihatan air mukanya antara agak kesal dan bingung.
"Kita lihat, dan justru saya ingin bertanya," ucap Jawinul, "kita lihat lantai dan dinding bagian bawah mesjid itu berkeramik putih, agak tengah berkeramik warna biru pekat, di atasnya sampai ke atap menggunakan keramik warna hijau."
"Kami semua tahu dan tiap hari pula kami lihat," potong Pak U.
"Pertanyaannya, mengapa di sana putih, lantas biru tua, kemudian hijau? Mengapa pula keramik dan/atau mengapa tak dibiarkan, ya, misalnya cukup dengan semen saja? Perhatikan juga bentuk keseluruhannya, di sana ada tiang penyangga yang dibentuk sedemikian rupa, itu ada pula semacam kolam sebelum sampai di serambi masjid, di depannya ada semacam taman, dan di puncaknya diberi bentuk kubah. Mengapa dan untuk apa itu semua?" Tanya Jawinul.
"Ya, tentu saja supaya bagus dan nyaman manakala melaksanakan ibadah," jawab Ust D.
"Upaya membentuk agar bagus itu adalah seni, bangunan mesjid tersebut termasuk ke dalam seni arsitektur," tandas Jawinul sambil mengajak semua agar kembali ke dalam rumah. Ia, sambil berjalan, melanjutkan pertanyaannya "apakah mesjid ini sama dengan mesjid-mesjid lainnya?"
"Prinsipnya sama yaitu menghadap qiblat dan umumnya berciri khas sama pula yaitu berkubah, tapi bentuk keseluruhannya tentu béda-béda," jawab Ust D.
"Itulah pula seni, disamping hal-hal praktis semisal ukuran, ketersediaan lahan, dan sebagainya, niscaya masing-masingnya dilandasi naluri untuk membuat bentuk sendiri yang dirasakan paling sesuai, karena itu maka kita melihat perbédaan-perbédaan tadi," urai Jawinul.
"Jadi mesjid itu termasuk seni?" Tanya Ust D penasaran.
"Ya, seni, termasuk ke dalam seni arsitektur atau seni bangunan," jawab Jawinul yang kemudian melanjutkan, "di tubuh kita pun ada seni, silakan perhatikan pakaian kita masing-masing, mengapa pakaian Ust D bentuknya seperti itu, saya sendiri begini, Ny. H dan Pak U pun lain lagi... itu tidak lain berdasarkan prinsip desain, kemudian kita memilih manakala membelinya. Saat memilih, sesungguhnya kita sedang menyelenggarakan cita-rasa seni masing-masing."
"Saya mulai faham," kata Ust D sambil manggut-manggut.
"Bahkan bagian terkecil yaitu kancing, cobalah perhatikan, semua yang tertera di pakaian kita masing-masing itu berbéda-béda. Itu pun buah dari seni desain," ungkap Jawinul kian semangat.
"Bisakah menunjukan yang lain?" Tanya Pak U agak menantang karena kepenasarannya.
"Kita lihat saja sepéda motor yang terparkir itu," kata Jawinul sambil menunjuk ke halaman, "di sana bukan hanya urusan mékanika, ada roda, dan ada stang agar bisa dikendalikan, maka marilah kita bertanya-tanya seperti saya tadi."
"Ya, mengapa stang, blok mesin, tanki bensin, knalpot dan lain-lainnya berbentuk seperti itu?" Tanya Pak U.
"Di sana ada gabungan penataan fungsi dan desain bentuk," jawab Jawinul.
"Jadi sepéda motor itu pun seni?" Tanya Ust D.
"Ya, seni! Bahkan sendok, garpu, atau piring yang kita gunakan sehari-hari. Atau alat makan dan alat kehidupan sehari-hari produk kita sendiri, lihatlah boboko, cukil, cangkul, golok, itu semua terbentuk karena adanya naluri rancang bangun atau desain yang ditunjang keahlian (skill) untuk mewujudkannya," urai Jawinul.
"Kalau begitu seluruh kehidupan kita ini ada di dalam seni?" Tanya Pak U, sementara Ust D manggut-manggut tanda memendam pertanyaan yang sama.
"Demikianlah adanya di dalam lingkungan kehidupan manusia, maka bersama kehidupannya tumbuhlah peradaban, tumbuh kebudayaan, tumbuh tata aturan, tumbuh gelaran tempat mengomunikasikan seni, tumbuh sekolah, tumbuh pula pasar, tumbuh ékonomi, dan yang paling penting di atas itu semua adalah pertumbuhan kecendekiaan, intélégensia, intéléktualitas, gabungan antara pemuasan rohani dan akal pikiran. Itu semua khas atau fitrah manusia, itulah daya yang tidak dimiliki oleh binatang, karena itu pula binatang dari waktu ke waktu tidaklah melahirkan peradaban dan kebudayaan."
Pembicaraan sesungguhnya masih berlangsung dalam suasana yang lebih mesra hingga léwat dhuhur. Seusai dhuhur barulah Jawinul dan keluarga berpamitan untuk meneruskan perjalanan ke JK.***
.
.
.
Seni dalam Obrolan Keseharian #01
oleh: Hérry Dim
JAWINUL beserta keluarga bertandang ke rumah saudaranya yaitu keluarga U di kota C, tujuan utamanya tentu saja silaturahmi sekaligus untuk mendapatkan benih pohon jati yang hendak ditanam di kampung sekitar JK.
Setelah berbincang, Jawinul menjadi tahu bahwa sejak masuk gerbang berpagar sederhana di muka jalan sebelah timur tadi, kemudian memanjang dan berdérét ke arah barat yaitu tempat pembibitan pohon jati, dérétan rumah-rumah termasuk rumah keluarga U, dan berujung di sebuah mesjid besar, itu merupakan wilayah binaan sebuah organisasi berlatarkan keagamaan.
Rumah tinggal keluarga U seperti yang lainnya, sangat sederhana berukuran sekira 4 X 6 meter, berdinding batako tanpa pléster.
Kami duduk dan ngobrol di sekeliling méja makan yang bersatu dengan dapur dan langsung menghadap kamar mandi sekaligus toilét. Di ujung méja makan yang menémpél ke dinding terdapat sebuah télévisi berukuran kecil.
Di antara obrolan kangen-kangenan, Ny. H sebagai ibu rumah tangga berkata sambil menunjuk télévisi yang sedang menyiarkan musik dengan penyanyi yang bergoyang seronok, "seni itu hanya membawa atau mendekatkan manusia kepada kekufuran."
Pernyataan tersebut jelas ditujukan kepada Jawinul, tapi sebelum sempat memberikan jawaban terdengar ada yang menyampaikan salam sambil mengetuk pintu.
Pak U membuka pintu dan menyambut tamu yang tampak begitu dihormatinya. Sementara obrolan Ny. H dan Jawinul terus berlanjut.
"Yang lebih seronok dari itu bahkan disertai tari telanjang pun ada, tapi kita tak bisa mengatakan bahwa seni itu kufur sebab masih banyak seni yang lainnya," kata Jawinul sambil menikmati ketéla rebus yang disuguhkan.
"Ya, tapi kebanyakan seni begitu, sekurang-kurangnya membuat orang lupa diri dan melupakan ibadah," tungkas Ny. H.
"Anda mengatakan banyak atau kebanyakan, itu karena berdasarkan penglihatan yang umumnya tampil di télévisi, padahal di luar télévisi masih banyak lagi yang lain," jawab Jawinul.
"Yang jelas seni itu banyak mudarat ketimbang manfaatnya," tiba-tiba sang tamu yang ternyata bernama Ust D itu menimpali.
"Jadi seni itu tak ada gunanya?" Pancing Jawinul.
"Kenyataannya begitu, menyita waktu, membuat orang lupa diri dan lupa kepada yang lebih pokok yaitu menunaikan perintah agama," urai Ust D.
"Singkatnya seni itu bertentangan dengan agama," pancing Jawinul lagi.
"Begitulah kenyataannya, maka ummat kami tidak diperkenankan atau setidaknya diperintahkan untuk menjauhi seni," Ust D menyampaikan prinsip keagamaannya.
Jawinul sesungguhnya cukup panjang menyampaikan uraian semisal bagaimana para wali menyebarkan agama dengan menggunakan seni (wayang dan gamelan). Tapi seluruhnya dibantah oleh Ust D. Ia antara lain berargumén bahwa banyak ajaran agama yang menyertakan seni itu tak sejalan dengan yang dicontohkan Rasulullah. Bahkan, menurutnya pula, banyak yang bersifat musrik.
Jawinul masih mencoba bertahan bahwa yang disebutnya musrik itu bukanlah ritual formal keagamaan, melainkan suatu cara manusia untuk menyentuh religiusitasnya, mendekatkan diri dengan ke-Illahi-an dengan cara seni, menghadirkan kesemestaan dengan simbol bunga, kelapa muda, bunga kelapa, daun hanjuang, dan sebagainya. Penghadiran unsur alam, lanjut Jawinul, itu sejatinya semacam pernyataan sekaligus pengakuan bahwa Tuhan yang kita sembah itu adalah Tuhan bagi semesta alam seperti digariskan di dalam surah Al-Fatihah ayat kedua.
Ust D tetap berkeyakinan itu salah, musrik, kufur.
"Itu pula yang menetapkan keyakinan bahwa seni seyogianya tidak ada, harus hilang dari muka bumi," ucap Jawinul yang maksudnya ingin mengakhiri perdebatan.
"Kami tak akan bisa menghilangkan atau menghapuskan seni dari muka bumi, kecuali mengajak ummat kami menjauhi dan tak pernah menggunakan seni di dalam ibadahnya," jawab Ust D.
"Apakah berhasil? Artinya seratus persén tak bersinggungan dengan seni," Jawinul terpancing untuk melanjutkan perbincangan.
"Alhamdulillah, ummat kami tak bersinggungan dengan seni," kata Ust D meyakinkan.
"Nyatanya di rumah ini ada télévisi, bahkan dari sana pula awal perbincangan ini. Maaf, saya menduga di setiap rumah lainnya pun niscaya memasang télévisi, bahkan mungkin terpasang juga di rumah Ust D," kata Jawinul dan tampak sekali menyampaikannya dengan nada iseng.
Ust D tampak agak gelagapan tapi segera menangkis, "télévisi kami gunakan hanya untuk mengikuti syiar agama."
"Dengan itu maka tak ada lagi seni di lingkungan komunitas ini?" Tanya Jawinul.
"Begitulah," tegas Ust D.
"Jika tidak keberatan, saya ingin mengajak Ust D dan semuanya untuk sejenak keluar untuk melihat-lihat. Semoga ini bisa menutup perbincangan kita," ajak Jawinul.
"Ke mana?" Tanya Ust D yang hampir bersamaaan dengan beberapa penghuni rumah lainnya.
"Cukup sampai di depan pintu saja," kata Jawinul sambil melangkah keluar, dan diikuti oleh yang lainnya, dan "mari kita perhatikan mesjid itu," kata Jawinul setelah di halaman rumah yang tak seberapa luasnya itu.
"Kami tahu persis karena itu adalah mesjid kami, apa yang harus dilihat?" Tanya Ust D, kelihatan air mukanya antara agak kesal dan bingung.
"Kita lihat, dan justru saya ingin bertanya," ucap Jawinul, "kita lihat lantai dan dinding bagian bawah mesjid itu berkeramik putih, agak tengah berkeramik warna biru pekat, di atasnya sampai ke atap menggunakan keramik warna hijau."
"Kami semua tahu dan tiap hari pula kami lihat," potong Pak U.
"Pertanyaannya, mengapa di sana putih, lantas biru tua, kemudian hijau? Mengapa pula keramik dan/atau mengapa tak dibiarkan, ya, misalnya cukup dengan semen saja? Perhatikan juga bentuk keseluruhannya, di sana ada tiang penyangga yang dibentuk sedemikian rupa, itu ada pula semacam kolam sebelum sampai di serambi masjid, di depannya ada semacam taman, dan di puncaknya diberi bentuk kubah. Mengapa dan untuk apa itu semua?" Tanya Jawinul.
"Ya, tentu saja supaya bagus dan nyaman manakala melaksanakan ibadah," jawab Ust D.
"Upaya membentuk agar bagus itu adalah seni, bangunan mesjid tersebut termasuk ke dalam seni arsitektur," tandas Jawinul sambil mengajak semua agar kembali ke dalam rumah. Ia, sambil berjalan, melanjutkan pertanyaannya "apakah mesjid ini sama dengan mesjid-mesjid lainnya?"
"Prinsipnya sama yaitu menghadap qiblat dan umumnya berciri khas sama pula yaitu berkubah, tapi bentuk keseluruhannya tentu béda-béda," jawab Ust D.
"Itulah pula seni, disamping hal-hal praktis semisal ukuran, ketersediaan lahan, dan sebagainya, niscaya masing-masingnya dilandasi naluri untuk membuat bentuk sendiri yang dirasakan paling sesuai, karena itu maka kita melihat perbédaan-perbédaan tadi," urai Jawinul.
"Jadi mesjid itu termasuk seni?" Tanya Ust D penasaran.
"Ya, seni, termasuk ke dalam seni arsitektur atau seni bangunan," jawab Jawinul yang kemudian melanjutkan, "di tubuh kita pun ada seni, silakan perhatikan pakaian kita masing-masing, mengapa pakaian Ust D bentuknya seperti itu, saya sendiri begini, Ny. H dan Pak U pun lain lagi... itu tidak lain berdasarkan prinsip desain, kemudian kita memilih manakala membelinya. Saat memilih, sesungguhnya kita sedang menyelenggarakan cita-rasa seni masing-masing."
"Saya mulai faham," kata Ust D sambil manggut-manggut.
"Bahkan bagian terkecil yaitu kancing, cobalah perhatikan, semua yang tertera di pakaian kita masing-masing itu berbéda-béda. Itu pun buah dari seni desain," ungkap Jawinul kian semangat.
"Bisakah menunjukan yang lain?" Tanya Pak U agak menantang karena kepenasarannya.
"Kita lihat saja sepéda motor yang terparkir itu," kata Jawinul sambil menunjuk ke halaman, "di sana bukan hanya urusan mékanika, ada roda, dan ada stang agar bisa dikendalikan, maka marilah kita bertanya-tanya seperti saya tadi."
"Ya, mengapa stang, blok mesin, tanki bensin, knalpot dan lain-lainnya berbentuk seperti itu?" Tanya Pak U.
"Di sana ada gabungan penataan fungsi dan desain bentuk," jawab Jawinul.
"Jadi sepéda motor itu pun seni?" Tanya Ust D.
"Ya, seni! Bahkan sendok, garpu, atau piring yang kita gunakan sehari-hari. Atau alat makan dan alat kehidupan sehari-hari produk kita sendiri, lihatlah boboko, cukil, cangkul, golok, itu semua terbentuk karena adanya naluri rancang bangun atau desain yang ditunjang keahlian (skill) untuk mewujudkannya," urai Jawinul.
"Kalau begitu seluruh kehidupan kita ini ada di dalam seni?" Tanya Pak U, sementara Ust D manggut-manggut tanda memendam pertanyaan yang sama.
"Demikianlah adanya di dalam lingkungan kehidupan manusia, maka bersama kehidupannya tumbuhlah peradaban, tumbuh kebudayaan, tumbuh tata aturan, tumbuh gelaran tempat mengomunikasikan seni, tumbuh sekolah, tumbuh pula pasar, tumbuh ékonomi, dan yang paling penting di atas itu semua adalah pertumbuhan kecendekiaan, intélégensia, intéléktualitas, gabungan antara pemuasan rohani dan akal pikiran. Itu semua khas atau fitrah manusia, itulah daya yang tidak dimiliki oleh binatang, karena itu pula binatang dari waktu ke waktu tidaklah melahirkan peradaban dan kebudayaan."
Pembicaraan sesungguhnya masih berlangsung dalam suasana yang lebih mesra hingga léwat dhuhur. Seusai dhuhur barulah Jawinul dan keluarga berpamitan untuk meneruskan perjalanan ke JK.***
.
.
.
Kisah Empat
Pelukis Mencari Kebenaran
Seni dalam
Obrolan Keseharian #2
SUATU soré
datanglah dua orang muda. Salaseorang dari meréka membuka percakapan dengan
menyampaikan ke"galau"annya.
"Wahai
Jawinul, maaf kami yang sedang galau alias bingung," kata Pemuda 1.
"Apa yang
membingungkan kalian?" Tanya Jawinul.
"Tak habis
pikir, mengapa orang-orang saling serang bahkan berbunuhan atas nama
Tuhan?" Pemuda 2 balik bertanya.
"Kenapa harus pusing, bukankah itu di luar urusan kalian?
Atau, apakah kalian menjadi bagian dari perseteruan hingga berbunuhan itu menjadi
kebingungan kalian?" Pancing Jawinul untuk mendapatkan kejelasan.
"Bahkan jika
tidak ada sangkut pautnya dengan diri saya, itu tetap saja mengganggu. Atas
nama Tuhan dari agama berbéda terbukti begitu abadi saling serang di berbagai
negeri. Éh, atas nama Tuhan dari agama yang sama pun ternyata bisa saling
gasak. Itu nyata sekali sangat mengganggu pikiran. Saya sampai membayangkan
atau berharap mungkin akan lebih baik kalau tidak ada Tuhan, tidak usah ada
agama," demikian urai Pemuda 2.
"Ya, itulah
yang membuat kami galau," kata Pemuda 1 menandaskan.
"Apakah
Tuhan-tuhan meréka itu pun ikut berseteru, ikut saling serang, dan ikut saling
bunuh?" Tanya Jawinul.
"Ya, tidak
tahu lah yaw... Tuhan kan tidak kelihatan," jawab Pemuda 2.
"Lantas yang
kalian saksikan, yang bisa terlihat saling serang itu apa?" Pancing
Jawinul lagi.
"Tentu saja
manusia, lihat saja semua télévisi, média cetak, bahkan radio-radio pun kerap
memberitakan dan menyampaikan gambaran tentang bagaimana manusia-manusia itu
saling serang, saling témbak, saling sabet dengan senjata tajam," kata
Pemuda 1.
"Sering juga
jadi bahasan atau sekadar obrolan di facebook, twitter, dan média sosial
lainnya," tambah Pemuda 2.
"Jadi,
jelasnya, Tuhan tidak hadir dan tidak ikut berperang di sana?" Tanya
Jawinul untuk menyambung kembali inti pembicaraan.
"Ya, tidak
ada, tidak hadir, atau tepatnya tidak kelihatan," jawab Pemuda 1 dan 2
hampir berbarengan.
"Itu artinya
urusan manusia, sepenuhnya merupakan perkara antarmanusia. Sesama Tuhan
sejatinya tidaklah demikian, mereka malah duduk-duduk dengan damai sambil
melihat dari kejauhan. Sesekali meréka saling rangkul bertangisan, saling
berbagi lara yang tak tertahankan karena melihat manusia berbunuhan."
"Tapi tetap
saja membingungkan, masing-masing yang berseteru merasa Tuhannya lah yang
paling benar. Bahkan begitu pula pada meréka yang menganut agama yang sama,
satu sama lain merasa dirinya lah pemilik kebenaran, maka karena itu pula meréka
terus-menerus bertikai," tukas Pemuda 1.
"Begitulah
manusia dalam segala urusannya, selalu merasa paling benar padahal ia tak
mengenal atau selalu sangat jauh untuk bisa menyentuh kebenaran itu sendiri.
Namun demikian, masing-masingnya bisa saja benar menurut pandangannya,"
kata Jawinul.
"Lantas,
benar itu apa? Dan, kalau masing-masing benar artinya kebenaran itu tidak
tunggal melainkan jamak atau banyak?" Tanya Pemuda 2.
"Ya,
kebenaran manusia itu tak tunggal, jumlahnya bahkan sebanyak populasi manusia
itu sendiri sebab satu sama lain manusia itu tak akan pernah memiliki sudut
pandang yang persis sama. Jika manusia itu menyadari, itu pula sesungguhnya
yang menjadi keterbatasan sekaligus keluasan kemanusiaannya," urai
Jawinul.
"Apa maksud
pandangan terbatas itu?" Tanya Pemuda 2 kian penasaran.
"Manusia itu
hanya punya kemampuan melihat dari satu sudut pandang. Memang ada kemungkinan
pandangannya itu melébar atau tambah luas sesuai perkembangan ilmu dan
pengetahuan yang bisa meréka raih, tapi sebanyak apapun pengetahuan yang
dimilikinya tetap lah ia tak akan pernah mampu melihat kebenaran secara
menyeluruh," ujar Jawinul.
"Saya sudah
mulai bisa menangkap, jadi kebenaran itu sendiri sesungguhnya tunggal atau
hanya satu tapi karena keterbatasan pandang manusia maka jumlahnya menjadi
banyak?" Tanya Pemuda 1.
"Ya,
kebenaran illahiyah itu tunggal, sementara kebenaran manusia itu bersifat
jamak," tegas Jawinul.
"Berilah
kami gambaran tentang kebenaran yang tunggal dan yang bersifat jamak itu,"
lanjut Pemuda 2.
"Maukah
kalian mendengarkan sebuah cerita?" Tanya Jawinul yang dijawab anggukan
oleh kedua anak muda itu.
"Baiklah,"
lanjut Jawinul, "saya sendiri sudah lupa sumber ceritanya kecuali isi
ceritanya yang berkisah tentang empat orang pelukis kerajaan yang berseteru
tentang kebenaran lukisannya."
Kemudian Jawinul
pun berceritalah.
**
Alkisah adalah
seorang raja di negeri antah-berantah, sebut saja bernama Raja Galur dan
kerajaannya bernama Caraka Galur. Raja yang bijak ini gemar sekali menjalin
persahabatan dengan kerajaan tetangga atau pun dengan raja-raja lain nun jauh
di sana. Di antara meréka senantiasa saling menjaga hubungan dengan cara saling
mengunjungi. Setiap kunjungan selalu ditandai dengan pemberian cendera mata
dari pihak yang datang kepada sang tuan rumah. Meski tidak diikat oleh
perjanjian tertulis, para raja yang bersahabat ini senantiasa saling memberi
cendera mata berupa benda atau barang yang paling disayanginya. Indahnya lagi
persahabatan ini manakala memilih atau menentukan cendera mata yang dianggap
disayangi tersebut, ternyata ukuran "sayang" itu tidak ditentukan
apakah harus emas, permata, atau berlian melainkan betul-betul atas dasar rasa
sayang sehingga bisa saja berupa canglong, kursi, tongkat atau benda-benda
biasa lainnya.
Demikianlah
tradisi meréka untuk saling menjaga kekerabatan dan kehormatan masing-masing.
Jauh sebelum masa
panén buah-buahan dan palawija, Raja Galur telah berencana bahwa seusai panén
akan melakukan lawatan ke negeri seberang yaitu ke kerajaan Dwipa. Sehubungan
dengan niatnya itu pula maka Sang Raja segera memilih-pilih barang yang akan
dijadikannya cendera mata. Setelah tidak kurang dari tiga hari memilih dan
menimbang, Raja Galur akhirnya memutuskan akan membawa sebuah jambangan bunga
untuk dijadikan cendera mata.
Benda berupa
jambangan itu sangat disayang oleh Raja Galur, sejumlah kenangan dengan
mendiang istrinya pun seolah terékam di sana karena semasa sang permaisuri
masih hidup senantiasa mengisi jambangan itu dengan bunga-bunga yang dipetik
oleh tangannya langsung dari taman. Jambangan berisi bunga itu selalu hadir di
méja dekat pembaringan, setiap pagi manakala sang raja bangun tidur selalu
duduk di sana sambil menghirup semilir wangi bunga segar. Bahkan kini setelah
jambangan itu tak lagi berisi bunga, wangi bunganya seolah senantiasa
mengambang di dalam angannya.
Dalam duduk
termangu di kursi sambil menatap jambangan kosong, terbersit pikiran di dalam
angan Raja Galur bahwa dirinya tetap akan menghadiahkan jambangan kesayangannya
itu tapi ia pun ingin tetap memelihara kenangannya.
"Sebelum
jambangan itu dibawa, sebaiknya dilukis terlebih dahulu oleh pelukis kerajaan,
dengan demikian maka jambangan itu tetap ada," demikian pikiran yang
terbersit di dalam angan sang raja.
Sang Raja segera
beranjak keluar kamar, dijumpainya pamong agar memanggil empat pelukis kerajaan
yang terbaik.
"Daulat
tuanku," ujar sang pamong sambil segera pamit untuk menjalankan tugas.
Dalam separuh
hari, sang pamong pun telah kembali menghadap sang raja disertai empat pelukis
terbaik dari kerajaan Caraka Galur.
Sang Raja pun
kemudian berujar: "lukislah jambangan kesayanganku ini oleh kalian
berempat, kelak akan dipilih satu saja lukisan yang paling benar menyerupai
jambangan ini,"
"Daulat
tuanku, akan kami kerjakan dengan sebaik-baiknya," jawab para pelukis
hampir bersamaan.
**
Singkat cerita,
keempat pelukis yang hébat-hébat itu pun segera bekerja. Keempatnya mengitari
jambangan yang ditempatkan di tengah. Disebabkan oléh keterampilannya yang
mumpuni, lukisan mereka masing-masing pun selesai sebelum tengah malam.
Sang Raja Galur
yang memang menunggu dengan tak sabar sepanjang para pelukis itu bekerja, ia
segera bangkit dari tempat duduknya kemudian memandangi satu demi satu lukisan
yang belum lagi kering dengan sempurna.
Terdengar sang
raja berdecak kagum. Keempat lukisan tersebut memang menakjubkan, semuanya
memperlihatkan wajah dan bentuk jambangan dengan sempurna.
Menyusul decak
kekagumannya, tampak sang raja menempatkan ujung jari telunjuk tangan kanannya
di dagu, dahinya berkernyit. Para pelukis saling pandang, ada semacam kecemasan
bahwa ada yang kurang berkenan dalam karya mereka.
“Mengapa yang
mulia, apakah ada yang salah dengan lukisan kami?” Tanya mereka hampir
bersamaan.
“Tidak. Semuanya
bagus, kalian hebat-hebat sehingga lukisan-lukisan kalian begitu persis
menggambarkan jambangan kesayangan kami,” jawab sang raja.
“Tapi yang mulai
tampak seperti ragu atau sedang memikirkan sesuatu, apakah gerangan itu?” Tanya
pelukis #2 yang di “ya”kan oléh ketiga pelukis lainnya.
“Jambangan itu
hanya satu, maka saya hanya akan memilih satu saja lukisan yang paling benar
menyerupai, namun saya bingung karena semua sama baiknya. Menurut kalian
sendiri, mana kiranya yang paling benar menyerupai jambangan itu?” Kata sang
raja dengan tangan kiri bersilang di atas perut, itu menopang sikut sebelah
tangannya lagi dengan ujung-ujung jari agak tertekuk di bawah hidung.
Mendengar daulat
sang raja, seketika itu pula para pelukis saling berargumén, masing-masing
saling menyampaikan pendapat bahwa karyanya lah yang benar. Perdebatan
berkepanjangan, hingga sang raja yang kemudian mengakhirinya.
“Kalian adalah
ahli-ahlinya, silakan kalian temukan yang paling benar. Kini tengah malam sudah
cukup lama berlalu, bésok begitu fajar menyingsing aku harus berangkat membawa
jambangan ini,” tutup sang raja sambil berlalu dengan menénténg jambangan yang
akan dibawanya berlayar.
**
Sepeninggalan
sang raja, perdebatan antarpelukis pun berlanjut bahkan kian memanas, tak satu
pun diantara mereka yang mau kalah atau mengalah. Karena masing-masing pelukis
memiliki murid dan pengikut-pengikutnya, tak ayal pertentangan itu pun kian
melebar hingga menimbulkan ketegangan di antara murid dan pengikut meréka.
Empat mazhab kesenimanan yang semula akur itu pun pecah.
Situasi kian
memburuk karena perpecahan meréka tercium oleh sejumlah politisi yang memang
tengah mempersiapkan suksési kerajaan. Masing-masing politisi mendompléng
kepada empat faksi yang pecah. Perdebatan yang semula berpusat kepada pencarian
lukisan yang dianggap paling benar pun melebar; isu-isu tentang keadilan, hak
rakyat atas tanah, serta tudingan-tundingan kepada sang raja pun bermunculan.
Béntrok antar-massa tak terhindarkan.
Manakala sang
raja kembali, ia dapati sudut-sudut désa di wilayah kerajaannya rusak, bahkan
di sana-sini tampak ada bekas kebakaran dengan asap yang masih mengepul. Ia
merunduk dengan perasaan teramat lara.
Sekembalinya di
balairung kerajaan, ia menugaskan pamong untuk memanggil kembali keempat
pelukis yang berseteru.
Keempat pelukis
tiba, memberi hormat tapi semuanya, kini, dengan dagu yang terangkat. Ketika
sang raja mempertanyakan duduk-perkara, meréka berebut bicara dengan suara nyaring.
Sang raja merunduk dengan perasaan teramat lara.
Ia pun kemudian
berkata lirih, “jika kalian tak dapat memutuskannya, carilah seorang bijak
untuk menimbang dan memutuskan.”
Singkat cerita,
karena yang disebut para bijak itu pun sudah terpecah-pecah ke dalam
faksi-faksi, maka ketika satu demi satu menyampaikan pendapatnya, pun tidak ada
yang ajeg, masing-masing hanya menyampaikan “kebenaran” berdasarkan kepentingan
faksinya.
Sang raja sangat
kecéwa, ia merunduk dengan perasaan teramat lara.
Dengan perasaan
lara itu pula ia berlalu ke kamarnya. Ia menanggalkan seluruh pakaian
kebesarannya lantas menggantinya dengan pakaian yang paling bersahaja.
“Mungkin juga
saya ini sudah tak patut lagi menjadi raja,” bisiknya ke diri sendiri sambil
mengenakan caping.
Sang raja
kemudian pergi meninggalkan kerajaan secara diam-diam. Ia pergi tidak dengan
keréta kencana, tidak pula menunggang kuda, melainkan jalan kaki dan
semata-mata melangkah mengikuti ibu jari kaki.
Hari, minggu,
bulan terléwati. Sang raja yang kini sangat kumal itu tiba lah di suatu warung
yang tak kalah kumalnya. Di sana telah duduk seorang berperawakan kurus dengan
pakaian yang lebih kumal lagi, pakaiannya yang mungkin semula berwarna putih
itu sudah jauh dari aslinya. Lelaki yang cenderung gundul tersebut sedang
terlibat pembicaraan dengan perempuan sepuh sang pemilik warung. Sang raja yang
baru tiba, itu hanya memesan minuman untuk kemudian hanya mendengarkan
pembicaraan meréka.
Di penghujung
pembicaraan meréka barulah sang raja berkata, “Kisanak, berkenankah datang ke
Caraka Galur?”
Lelaki kumal
berpaling dan balik bertanya, “ada apakah gerangan?”
“Ada persoalan
yang sangat rumit dan perlu ditimbang dengan seadil-adilnya, hémat saya,
kisanak akan mampu memberikan timbangan,” jawab sang raja yang kemudian
ditambah dengan penjelasan ringkasnya.
Lelaki itu pun
tertawa kemudian berkata, “bukankah itu urusan para bijak, saya ini hanya
gelandangan yang ke sana ke mari tanpa tujuan, bagaimana mungkin orang seperti
saya bisa memberikan pertimbangan.”
“Saya mendengar
dan menyimak pembicaraan kisanak,” tungkas sang raja.
“Ya, tapi tadi
itu obrolan biasa, hanya sekitar harga beras ketan, tentang kehidupan, tentang
huma dan sawah. Tentang burung-burung yang bébas, ternak, dan kegirangan
anak-anak. Semuanya tidak ada hubungan dengan kehendak saudara. Dan... saudara
sendiri ini siapa sehingga mengajak saya untuk ke sana?”
“Tentang siapa
saya, nanti jika kisanak berkenan akan saya jelaskan sambil jalan,” kata sang
raja.
“Ah, hidup saya
kan bergantung kepada ke mana angin membawa arah, apa salahnya jika arah itu
menentukan bertambahnya kawan,” ujar lelaki kumal menyetujui ajakan sang raja.
**
Alkisah, sejak di
perjalanan sang raja memperkenalkan diri yang sebenarnya, menyampaikan riwayat
kejadian di Caraka Galur selengkapnya, untuk kemudian meminta kepada si lelaki
kumal agar memecahkan persoalannya.
Si lelaki kumal
tertawa terbahak-bahak, namun terasa nadanya bukanlah menertawakan sang raja
melainkan seperti menertawakan dirinya sendiri. Sang raja agak héran juga,
mengingat di tengah kebingungan, teman barunya ini malah tertawa
terbahak-bahak.
Di ujung tawanya
ia pun berkata, “meski keempat kebenaran lukisan itu dijumlahkan, niscaya tak
akan menjadi kebenaran aslinya.”
Setelah
mengucapkan kalimatnya, si lelaki kumal itu pun minta diri. Sang raja, tentu,
kian terhéran-héran.
“Kisanak, telah
kutemukan kebenaran yang selama ini kami cari. Tepat seperti yang kisanak
katakan bahwa meski keempat kebenaran lukisan itu dijumlahkan, niscaya tak akan
menjadi kebenaran aslinya. Maka kisanak pula yang paling patut mengucapkannya
di muka para pelukis dan rakyat kami, selain itu berilah kami kesempatkan untuk
sekadar menyampaikan tanda terimakasih. Mohon, datanglah kisanak ke Caraka
Galur,” demikian permohonan sang raja kepada si lelaki kumal.
Si lelaki kumal
hanya tersenyum, tetap beranjak pergi sambil berkata, “berterimakasihlah kepada
sejatinya pemilik kebenaran, saya bukanlah yang hak.”
Sang raja hanya
sanggup menatap punggung si lelaki kumal yang menjauh kemudian menjadi noktak
di cakrawala, lantas menghilang. Ia sendiri melanjutkan perjalanan ke Caraka
Galur.
Begitu tiba di
gerbang kerajaan, seisi kerajaan menyambut kedatangan kembali sang raja dengan
penuh kegirangan. Sementara sang raja tanpa mengganti lagi pakaiannya yang
kumal, segera minta agar para pelukis berkumpul, diperintahkannya pula agar hulubalang
menyampaikan berita kepada rakyat agar kumpul di pelataran.
Sang raja pun
kemudian bersabda, “meski keempat kebenaran lukisan itu dijumlahkan, niscaya
tak akan menjadi kebenaran aslinya.”
Ia pun
menjelaskan bahwa tak perlu lagi ada pertengkaran dan saling berebut kebenaran
sebab tak seorang pun akan bisa mencapai hakikinya kebenaran jambangan yang
telah menjadi milik sahabatnya itu.
Sejak itu, seluruh
rakyat Caraka Galur pun damai kembali.
**
“Begitulah cerita
yang cukup panjang itu,” pungkas Jawinul kepada dua pemuda yang sedari tadi
mendengarkan dengan saksama.
"Sesungguhnya
kami sudah mulai faham, tapi agar tidak salah tafsir, mohon jelaskan
hubungannya dengan pertanyaan kami tentang mengapa orang-orang saling serang
bahkan berbunuhan atas nama Tuhan?" Tanya Pemuda 2 yang disetujui dengan
anggukan kepala Pemuda 1.
“Bayangkanlah,
kebenaran jambangan itu adalah kebenaran yang terukur, bendanya bisa diraba,
nyata. Bahkan kepada kebenaran nyata itu pun kita tak akan pernah sanggup
mendapatkannya dengan mutlak. Apalagi terhadap kebenaran illahiah, yaitu
kebenaran yang tak berhingga, kebenaran yang tak akan pernah bisa ditakar oleh
keterbatasan manusia, maka bagaimana mungkin manusia mengakui telah memegang
kebenaranNya? Itu tak lain merupakan kejumawaan manusia yang telah merampas
kebenaran illahiah. Perang atau saling berbunuhan itu semata-mata karena
kejumawaan tersebut, sama sekali tak ada kaitannya dengan kebenaran illahiah,”
urai Jawinul.
“Warga Caraka
Galur kiranya sampai pula kepada pemahaman itu?” Tanya pemuda 1.
Demikianlah
menurut sahibul kisah, lanjut Jawinul, warga Caraka Galur pun tercerahkan,
mereka bisa saling menghargai “kebenaran manusiawi” dengan tetap mengagungkan “kebenaran
illahiah.” Hidup mereka bukan saja damai, tapi juga sejahtera, dan kreatif.
***
Komentar
Posting Komentar