MEMAHAMI SENI

Seni Itu Kufur?

Seni dalam Obrolan Keseharian #01

oleh: Hérry Dim


JAWINUL beserta keluarga bertandang ke rumah saudaranya yaitu keluarga U di kota C, tujuan utamanya tentu saja silaturahmi sekaligus untuk mendapatkan benih pohon jati yang hendak ditanam di kampung sekitar JK.
Setelah berbincang, Jawinul menjadi tahu bahwa sejak masuk gerbang berpagar sederhana di muka jalan sebelah timur tadi, kemudian memanjang dan berdérét ke arah barat yaitu tempat pembibitan pohon jati, dérétan rumah-rumah termasuk rumah keluarga U, dan berujung di sebuah mesjid  besar, itu merupakan wilayah binaan sebuah organisasi berlatarkan keagamaan. 
Rumah tinggal keluarga U seperti yang lainnya, sangat sederhana berukuran sekira 4 X 6 meter, berdinding batako tanpa pléster.
Kami duduk dan ngobrol di sekeliling méja makan yang bersatu dengan dapur dan langsung menghadap kamar mandi sekaligus toilét. Di ujung méja makan yang menémpél ke dinding terdapat sebuah télévisi berukuran kecil.
Di antara obrolan kangen-kangenan, Ny. H sebagai ibu rumah tangga berkata sambil menunjuk télévisi yang sedang menyiarkan musik dengan penyanyi yang bergoyang seronok, "seni itu hanya membawa atau mendekatkan manusia kepada kekufuran."
Pernyataan tersebut jelas ditujukan kepada Jawinul, tapi sebelum sempat memberikan jawaban terdengar ada yang menyampaikan salam sambil mengetuk pintu.
Pak U membuka pintu dan menyambut tamu yang tampak begitu dihormatinya. Sementara obrolan Ny. H dan Jawinul terus berlanjut.
"Yang lebih seronok dari itu bahkan disertai tari telanjang pun ada, tapi kita tak bisa mengatakan bahwa seni itu kufur sebab masih banyak seni yang lainnya," kata Jawinul sambil menikmati ketéla rebus yang disuguhkan.
"Ya, tapi kebanyakan seni begitu, sekurang-kurangnya membuat orang lupa diri dan melupakan ibadah," tungkas Ny. H.
"Anda mengatakan banyak atau kebanyakan, itu karena berdasarkan penglihatan yang umumnya tampil di télévisi, padahal di luar télévisi masih banyak lagi yang lain," jawab Jawinul.
"Yang jelas seni itu banyak mudarat ketimbang manfaatnya," tiba-tiba sang tamu yang ternyata bernama Ust D itu menimpali.
"Jadi seni itu tak ada gunanya?" Pancing Jawinul.
"Kenyataannya begitu, menyita waktu, membuat orang lupa diri dan lupa kepada yang lebih pokok yaitu menunaikan perintah agama," urai Ust D.
"Singkatnya seni itu bertentangan dengan agama," pancing Jawinul lagi.
"Begitulah kenyataannya, maka ummat kami tidak diperkenankan atau setidaknya diperintahkan untuk menjauhi seni," Ust D menyampaikan prinsip keagamaannya.
Jawinul sesungguhnya cukup panjang menyampaikan uraian semisal bagaimana para wali menyebarkan agama dengan menggunakan seni (wayang dan gamelan). Tapi seluruhnya dibantah oleh Ust D. Ia antara lain berargumén bahwa banyak ajaran agama yang menyertakan seni itu tak sejalan dengan yang dicontohkan Rasulullah. Bahkan, menurutnya pula, banyak yang bersifat musrik. 
Jawinul masih mencoba bertahan bahwa yang disebutnya musrik itu bukanlah ritual formal keagamaan, melainkan suatu cara manusia untuk menyentuh religiusitasnya, mendekatkan diri dengan ke-Illahi-an dengan cara seni, menghadirkan kesemestaan dengan simbol bunga, kelapa muda, bunga kelapa, daun hanjuang, dan sebagainya. Penghadiran unsur alam, lanjut Jawinul, itu sejatinya semacam pernyataan sekaligus pengakuan bahwa Tuhan yang kita sembah itu adalah Tuhan bagi semesta alam seperti digariskan di dalam surah Al-Fatihah ayat kedua.
Ust D tetap berkeyakinan itu salah, musrik, kufur. 
"Itu pula yang menetapkan keyakinan bahwa seni seyogianya tidak ada, harus hilang dari muka bumi," ucap Jawinul yang maksudnya ingin mengakhiri perdebatan.
"Kami tak akan bisa menghilangkan atau menghapuskan seni dari muka bumi, kecuali mengajak ummat kami menjauhi dan tak pernah menggunakan seni di dalam ibadahnya," jawab Ust D.   
"Apakah berhasil? Artinya seratus persén tak bersinggungan dengan seni," Jawinul terpancing untuk melanjutkan perbincangan.
"Alhamdulillah, ummat kami tak bersinggungan dengan seni," kata Ust D meyakinkan.
"Nyatanya di rumah ini ada télévisi, bahkan dari sana pula awal perbincangan ini. Maaf, saya menduga di setiap rumah lainnya pun niscaya memasang télévisi, bahkan mungkin terpasang juga di rumah Ust D," kata Jawinul dan tampak sekali menyampaikannya dengan nada iseng.
Ust D tampak agak gelagapan tapi segera menangkis, "télévisi kami gunakan hanya untuk mengikuti syiar agama."
"Dengan itu maka tak ada lagi seni di lingkungan komunitas ini?" Tanya Jawinul.
"Begitulah," tegas Ust D.
"Jika tidak keberatan, saya ingin mengajak Ust D dan semuanya untuk sejenak keluar untuk melihat-lihat. Semoga ini bisa menutup perbincangan kita," ajak Jawinul.
"Ke mana?" Tanya Ust D yang hampir bersamaaan dengan beberapa penghuni rumah lainnya.
"Cukup sampai di depan pintu saja," kata Jawinul sambil melangkah keluar, dan diikuti oleh yang lainnya, dan "mari kita perhatikan mesjid itu," kata Jawinul setelah di halaman rumah yang tak seberapa luasnya itu.
"Kami tahu persis karena itu adalah mesjid kami, apa yang harus dilihat?" Tanya Ust D, kelihatan air mukanya antara agak kesal dan bingung.
"Kita lihat, dan justru saya ingin bertanya," ucap Jawinul, "kita lihat lantai dan dinding bagian bawah mesjid itu berkeramik putih, agak tengah berkeramik warna biru pekat, di atasnya sampai ke atap menggunakan keramik warna hijau."
"Kami semua tahu dan tiap hari pula kami lihat," potong Pak U.
"Pertanyaannya, mengapa di sana putih, lantas biru tua, kemudian hijau? Mengapa pula keramik dan/atau mengapa tak dibiarkan, ya, misalnya cukup dengan semen saja? Perhatikan juga bentuk keseluruhannya, di sana ada tiang penyangga yang dibentuk sedemikian rupa, itu ada pula semacam kolam sebelum sampai di serambi masjid, di depannya ada semacam taman, dan di puncaknya diberi bentuk kubah. Mengapa dan untuk apa itu semua?" Tanya Jawinul.
"Ya, tentu saja supaya bagus dan nyaman manakala melaksanakan ibadah," jawab Ust D.
"Upaya membentuk agar bagus itu adalah seni, bangunan mesjid tersebut termasuk ke dalam seni arsitektur," tandas Jawinul sambil mengajak semua agar kembali ke dalam rumah. Ia, sambil berjalan, melanjutkan pertanyaannya "apakah mesjid ini sama dengan mesjid-mesjid lainnya?"
"Prinsipnya sama yaitu menghadap qiblat dan umumnya berciri khas sama pula yaitu berkubah, tapi bentuk keseluruhannya tentu béda-béda," jawab Ust D.
"Itulah pula seni, disamping hal-hal praktis semisal ukuran, ketersediaan lahan, dan sebagainya, niscaya masing-masingnya dilandasi naluri untuk membuat bentuk sendiri yang dirasakan paling sesuai, karena itu maka kita melihat perbédaan-perbédaan tadi," urai Jawinul.
"Jadi mesjid itu termasuk seni?" Tanya Ust D penasaran.
"Ya, seni, termasuk ke dalam seni arsitektur atau seni bangunan," jawab Jawinul yang kemudian melanjutkan, "di tubuh kita pun ada seni, silakan perhatikan pakaian kita masing-masing, mengapa pakaian Ust D bentuknya seperti itu, saya sendiri begini, Ny. H dan Pak U pun lain lagi... itu tidak lain berdasarkan prinsip desain, kemudian kita memilih manakala membelinya. Saat memilih, sesungguhnya kita sedang menyelenggarakan cita-rasa seni masing-masing."
"Saya mulai faham," kata Ust D sambil manggut-manggut.
"Bahkan bagian terkecil yaitu kancing, cobalah perhatikan, semua yang tertera di pakaian kita masing-masing itu berbéda-béda. Itu pun buah dari seni desain," ungkap Jawinul kian semangat.
"Bisakah menunjukan yang lain?" Tanya Pak U agak menantang karena kepenasarannya.
"Kita lihat saja sepéda motor yang terparkir itu," kata Jawinul sambil menunjuk ke halaman, "di sana bukan hanya urusan mékanika, ada roda, dan ada stang agar bisa dikendalikan, maka marilah kita bertanya-tanya seperti saya tadi."
"Ya, mengapa stang, blok mesin, tanki bensin, knalpot dan lain-lainnya berbentuk seperti itu?" Tanya Pak U.
"Di sana ada gabungan penataan fungsi dan desain bentuk," jawab Jawinul.
"Jadi sepéda motor itu pun seni?" Tanya Ust D.
"Ya, seni! Bahkan sendok, garpu, atau piring yang kita gunakan sehari-hari. Atau alat makan dan alat kehidupan sehari-hari produk kita sendiri, lihatlah boboko, cukil, cangkul, golok, itu semua terbentuk karena adanya naluri rancang bangun atau desain yang ditunjang keahlian (skill) untuk mewujudkannya," urai Jawinul.
"Kalau begitu seluruh kehidupan kita ini ada di dalam seni?" Tanya Pak U, sementara Ust D manggut-manggut tanda memendam pertanyaan yang sama.
"Demikianlah adanya di dalam lingkungan kehidupan manusia, maka bersama kehidupannya tumbuhlah peradaban, tumbuh kebudayaan, tumbuh tata aturan, tumbuh gelaran tempat mengomunikasikan seni, tumbuh sekolah, tumbuh pula pasar, tumbuh ékonomi, dan yang paling penting di atas itu semua adalah pertumbuhan kecendekiaan, intélégensia, intéléktualitas, gabungan antara pemuasan rohani dan akal pikiran. Itu semua khas atau fitrah manusia, itulah daya yang tidak dimiliki oleh binatang, karena itu pula binatang dari waktu ke waktu tidaklah melahirkan peradaban dan kebudayaan."
Pembicaraan sesungguhnya masih berlangsung dalam suasana yang lebih mesra hingga léwat dhuhur. Seusai dhuhur barulah Jawinul dan keluarga berpamitan untuk meneruskan perjalanan ke JK.***
.
.
.


Kisah Empat Pelukis Mencari Kebenaran



Seni dalam Obrolan Keseharian #2


SUATU soré datanglah dua orang muda. Salaseorang dari meréka membuka percakapan dengan menyampaikan ke"galau"annya.
"Wahai Jawinul, maaf kami yang sedang galau alias bingung," kata Pemuda 1.
"Apa yang membingungkan kalian?" Tanya Jawinul.
"Tak habis pikir, mengapa orang-orang saling serang bahkan berbunuhan atas nama Tuhan?" Pemuda 2 balik bertanya.
"Kenapa harus pusing, bukankah itu di luar urusan kalian? Atau, apakah kalian menjadi bagian dari perseteruan hingga berbunuhan itu menjadi kebingungan kalian?" Pancing Jawinul untuk mendapatkan kejelasan.
"Bahkan jika tidak ada sangkut pautnya dengan diri saya, itu tetap saja mengganggu. Atas nama Tuhan dari agama berbéda terbukti begitu abadi saling serang di berbagai negeri. Éh, atas nama Tuhan dari agama yang sama pun ternyata bisa saling gasak. Itu nyata sekali sangat mengganggu pikiran. Saya sampai membayangkan atau berharap mungkin akan lebih baik kalau tidak ada Tuhan, tidak usah ada agama," demikian urai Pemuda 2.
"Ya, itulah yang membuat kami galau," kata Pemuda 1 menandaskan.
"Apakah Tuhan-tuhan meréka itu pun ikut berseteru, ikut saling serang, dan ikut saling bunuh?" Tanya Jawinul.
"Ya, tidak tahu lah yaw... Tuhan kan tidak kelihatan," jawab Pemuda 2.
"Lantas yang kalian saksikan, yang bisa terlihat saling serang itu apa?" Pancing Jawinul lagi.
"Tentu saja manusia, lihat saja semua télévisi, média cetak, bahkan radio-radio pun kerap memberitakan dan menyampaikan gambaran tentang bagaimana manusia-manusia itu saling serang, saling témbak, saling sabet dengan senjata tajam," kata Pemuda 1.
"Sering juga jadi bahasan atau sekadar obrolan di facebook, twitter, dan média sosial lainnya," tambah Pemuda 2.    
"Jadi, jelasnya, Tuhan tidak hadir dan tidak ikut berperang di sana?" Tanya Jawinul untuk menyambung kembali inti pembicaraan.
"Ya, tidak ada, tidak hadir, atau tepatnya tidak kelihatan," jawab Pemuda 1 dan 2 hampir berbarengan.
"Itu artinya urusan manusia, sepenuhnya merupakan perkara antarmanusia. Sesama Tuhan sejatinya tidaklah demikian, mereka malah duduk-duduk dengan damai sambil melihat dari kejauhan. Sesekali meréka saling rangkul bertangisan, saling berbagi lara yang tak tertahankan karena melihat manusia berbunuhan."
"Tapi tetap saja membingungkan, masing-masing yang berseteru merasa Tuhannya lah yang paling benar. Bahkan begitu pula pada meréka yang menganut agama yang sama, satu sama lain merasa dirinya lah pemilik kebenaran, maka karena itu pula meréka terus-menerus bertikai," tukas Pemuda 1.
"Begitulah manusia dalam segala urusannya, selalu merasa paling benar padahal ia tak mengenal atau selalu sangat jauh untuk bisa menyentuh kebenaran itu sendiri. Namun demikian, masing-masingnya bisa saja benar menurut pandangannya," kata Jawinul.
"Lantas, benar itu apa? Dan, kalau masing-masing benar artinya kebenaran itu tidak tunggal melainkan jamak atau banyak?" Tanya Pemuda 2.
"Ya, kebenaran manusia itu tak tunggal, jumlahnya bahkan sebanyak populasi manusia itu sendiri sebab satu sama lain manusia itu tak akan pernah memiliki sudut pandang yang persis sama. Jika manusia itu menyadari, itu pula sesungguhnya yang menjadi keterbatasan sekaligus keluasan kemanusiaannya," urai Jawinul.
"Apa maksud pandangan terbatas itu?" Tanya Pemuda 2 kian penasaran.
"Manusia itu hanya punya kemampuan melihat dari satu sudut pandang. Memang ada kemungkinan pandangannya itu melébar atau tambah luas sesuai perkembangan ilmu dan pengetahuan yang bisa meréka raih, tapi sebanyak apapun pengetahuan yang dimilikinya tetap lah ia tak akan pernah mampu melihat kebenaran secara menyeluruh," ujar Jawinul.    
"Saya sudah mulai bisa menangkap, jadi kebenaran itu sendiri sesungguhnya tunggal atau hanya satu tapi karena keterbatasan pandang manusia maka jumlahnya menjadi banyak?" Tanya Pemuda 1.
"Ya, kebenaran illahiyah itu tunggal, sementara kebenaran manusia itu bersifat jamak," tegas Jawinul.
"Berilah kami gambaran tentang kebenaran yang tunggal dan yang bersifat jamak itu," lanjut Pemuda 2.
"Maukah kalian mendengarkan sebuah cerita?" Tanya Jawinul yang dijawab anggukan oleh kedua anak muda itu.
"Baiklah," lanjut Jawinul, "saya sendiri sudah lupa sumber ceritanya kecuali isi ceritanya yang berkisah tentang empat orang pelukis kerajaan yang berseteru tentang kebenaran lukisannya."
Kemudian Jawinul pun berceritalah.

**

Alkisah adalah seorang raja di negeri antah-berantah, sebut saja bernama Raja Galur dan kerajaannya bernama Caraka Galur. Raja yang bijak ini gemar sekali menjalin persahabatan dengan kerajaan tetangga atau pun dengan raja-raja lain nun jauh di sana. Di antara meréka senantiasa saling menjaga hubungan dengan cara saling mengunjungi. Setiap kunjungan selalu ditandai dengan pemberian cendera mata dari pihak yang datang kepada sang tuan rumah. Meski tidak diikat oleh perjanjian tertulis, para raja yang bersahabat ini senantiasa saling memberi cendera mata berupa benda atau barang yang paling disayanginya. Indahnya lagi persahabatan ini manakala memilih atau menentukan cendera mata yang dianggap disayangi tersebut, ternyata ukuran "sayang" itu tidak ditentukan apakah harus emas, permata, atau berlian melainkan betul-betul atas dasar rasa sayang sehingga bisa saja berupa canglong, kursi, tongkat atau benda-benda biasa lainnya.
Demikianlah tradisi meréka untuk saling menjaga kekerabatan dan kehormatan masing-masing.
Jauh sebelum masa panén buah-buahan dan palawija, Raja Galur telah berencana bahwa seusai panén akan melakukan lawatan ke negeri seberang yaitu ke kerajaan Dwipa. Sehubungan dengan niatnya itu pula maka Sang Raja segera memilih-pilih barang yang akan dijadikannya cendera mata. Setelah tidak kurang dari tiga hari memilih dan menimbang, Raja Galur akhirnya memutuskan akan membawa sebuah jambangan bunga untuk dijadikan cendera mata.
Benda berupa jambangan itu sangat disayang oleh Raja Galur, sejumlah kenangan dengan mendiang istrinya pun seolah terékam di sana karena semasa sang permaisuri masih hidup senantiasa mengisi jambangan itu dengan bunga-bunga yang dipetik oleh tangannya langsung dari taman. Jambangan berisi bunga itu selalu hadir di méja dekat pembaringan, setiap pagi manakala sang raja bangun tidur selalu duduk di sana sambil menghirup semilir wangi bunga segar. Bahkan kini setelah jambangan itu tak lagi berisi bunga, wangi bunganya seolah senantiasa mengambang di dalam angannya.
Dalam duduk termangu di kursi sambil menatap jambangan kosong, terbersit pikiran di dalam angan Raja Galur bahwa dirinya tetap akan menghadiahkan jambangan kesayangannya itu tapi ia pun ingin tetap memelihara kenangannya.
"Sebelum jambangan itu dibawa, sebaiknya dilukis terlebih dahulu oleh pelukis kerajaan, dengan demikian maka jambangan itu tetap ada," demikian pikiran yang terbersit di dalam angan sang raja.
Sang Raja segera beranjak keluar kamar, dijumpainya pamong agar memanggil empat pelukis kerajaan yang terbaik.
"Daulat tuanku," ujar sang pamong sambil segera pamit untuk menjalankan tugas.
Dalam separuh hari, sang pamong pun telah kembali menghadap sang raja disertai empat pelukis terbaik dari kerajaan Caraka Galur.
Sang Raja pun kemudian berujar: "lukislah jambangan kesayanganku ini oleh kalian berempat, kelak akan dipilih satu saja lukisan yang paling benar menyerupai jambangan ini,"
"Daulat tuanku, akan kami kerjakan dengan sebaik-baiknya," jawab para pelukis hampir bersamaan.

**

Singkat cerita, keempat pelukis yang hébat-hébat itu pun segera bekerja. Keempatnya mengitari jambangan yang ditempatkan di tengah. Disebabkan oléh keterampilannya yang mumpuni, lukisan mereka masing-masing pun selesai sebelum tengah malam.
Sang Raja Galur yang memang menunggu dengan tak sabar sepanjang para pelukis itu bekerja, ia segera bangkit dari tempat duduknya kemudian memandangi satu demi satu lukisan yang belum lagi kering dengan sempurna.
Terdengar sang raja berdecak kagum. Keempat lukisan tersebut memang menakjubkan, semuanya memperlihatkan wajah dan bentuk jambangan dengan sempurna.
Menyusul decak kekagumannya, tampak sang raja menempatkan ujung jari telunjuk tangan kanannya di dagu, dahinya berkernyit. Para pelukis saling pandang, ada semacam kecemasan bahwa ada yang kurang berkenan dalam karya mereka.
“Mengapa yang mulia, apakah ada yang salah dengan lukisan kami?” Tanya mereka hampir bersamaan.
“Tidak. Semuanya bagus, kalian hebat-hebat sehingga lukisan-lukisan kalian begitu persis menggambarkan jambangan kesayangan kami,” jawab sang raja.
“Tapi yang mulai tampak seperti ragu atau sedang memikirkan sesuatu, apakah gerangan itu?” Tanya pelukis #2 yang di “ya”kan oléh ketiga pelukis lainnya.
“Jambangan itu hanya satu, maka saya hanya akan memilih satu saja lukisan yang paling benar menyerupai, namun saya bingung karena semua sama baiknya. Menurut kalian sendiri, mana kiranya yang paling benar menyerupai jambangan itu?” Kata sang raja dengan tangan kiri bersilang di atas perut, itu menopang sikut sebelah tangannya lagi dengan ujung-ujung jari agak tertekuk di bawah hidung.
Mendengar daulat sang raja, seketika itu pula para pelukis saling berargumén, masing-masing saling menyampaikan pendapat bahwa karyanya lah yang benar. Perdebatan berkepanjangan, hingga sang raja yang kemudian mengakhirinya.
“Kalian adalah ahli-ahlinya, silakan kalian temukan yang paling benar. Kini tengah malam sudah cukup lama berlalu, bésok begitu fajar menyingsing aku harus berangkat membawa jambangan ini,” tutup sang raja sambil berlalu dengan menénténg jambangan yang akan dibawanya berlayar.


**

             
Sepeninggalan sang raja, perdebatan antarpelukis pun berlanjut bahkan kian memanas, tak satu pun diantara mereka yang mau kalah atau mengalah. Karena masing-masing pelukis memiliki murid dan pengikut-pengikutnya, tak ayal pertentangan itu pun kian melebar hingga menimbulkan ketegangan di antara murid dan pengikut meréka. Empat mazhab kesenimanan yang semula akur itu pun pecah.
Situasi kian memburuk karena perpecahan meréka tercium oleh sejumlah politisi yang memang tengah mempersiapkan suksési kerajaan. Masing-masing politisi mendompléng kepada empat faksi yang pecah. Perdebatan yang semula berpusat kepada pencarian lukisan yang dianggap paling benar pun melebar; isu-isu tentang keadilan, hak rakyat atas tanah, serta tudingan-tundingan kepada sang raja pun bermunculan. Béntrok antar-massa tak terhindarkan.
Manakala sang raja kembali, ia dapati sudut-sudut désa di wilayah kerajaannya rusak, bahkan di sana-sini tampak ada bekas kebakaran dengan asap yang masih mengepul. Ia merunduk dengan perasaan teramat lara.
Sekembalinya di balairung kerajaan, ia menugaskan pamong untuk memanggil kembali keempat pelukis yang berseteru.
Keempat pelukis tiba, memberi hormat tapi semuanya, kini, dengan dagu yang terangkat. Ketika sang raja mempertanyakan duduk-perkara, meréka berebut bicara dengan suara nyaring. Sang raja merunduk dengan perasaan teramat lara.
Ia pun kemudian berkata lirih, “jika kalian tak dapat memutuskannya, carilah seorang bijak untuk menimbang dan memutuskan.”
Singkat cerita, karena yang disebut para bijak itu pun sudah terpecah-pecah ke dalam faksi-faksi, maka ketika satu demi satu menyampaikan pendapatnya, pun tidak ada yang ajeg, masing-masing hanya menyampaikan “kebenaran” berdasarkan kepentingan faksinya.
Sang raja sangat kecéwa, ia merunduk dengan perasaan teramat lara.
Dengan perasaan lara itu pula ia berlalu ke kamarnya. Ia menanggalkan seluruh pakaian kebesarannya lantas menggantinya dengan pakaian yang paling bersahaja.
“Mungkin juga saya ini sudah tak patut lagi menjadi raja,” bisiknya ke diri sendiri sambil mengenakan caping.
Sang raja kemudian pergi meninggalkan kerajaan secara diam-diam. Ia pergi tidak dengan keréta kencana, tidak pula menunggang kuda, melainkan jalan kaki dan semata-mata melangkah mengikuti ibu jari kaki.
Hari, minggu, bulan terléwati. Sang raja yang kini sangat kumal itu tiba lah di suatu warung yang tak kalah kumalnya. Di sana telah duduk seorang berperawakan kurus dengan pakaian yang lebih kumal lagi, pakaiannya yang mungkin semula berwarna putih itu sudah jauh dari aslinya. Lelaki yang cenderung gundul tersebut sedang terlibat pembicaraan dengan perempuan sepuh sang pemilik warung. Sang raja yang baru tiba, itu hanya memesan minuman untuk kemudian hanya mendengarkan pembicaraan meréka.
Di penghujung pembicaraan meréka barulah sang raja berkata, “Kisanak, berkenankah datang ke Caraka Galur?”
Lelaki kumal berpaling dan balik bertanya, “ada apakah gerangan?”
“Ada persoalan yang sangat rumit dan perlu ditimbang dengan seadil-adilnya, hémat saya, kisanak akan mampu memberikan timbangan,” jawab sang raja yang kemudian ditambah dengan penjelasan ringkasnya.
Lelaki itu pun tertawa kemudian berkata, “bukankah itu urusan para bijak, saya ini hanya gelandangan yang ke sana ke mari tanpa tujuan, bagaimana mungkin orang seperti saya bisa memberikan pertimbangan.”
“Saya mendengar dan menyimak pembicaraan kisanak,” tungkas sang raja.
“Ya, tapi tadi itu obrolan biasa, hanya sekitar harga beras ketan, tentang kehidupan, tentang huma dan sawah. Tentang burung-burung yang bébas, ternak, dan kegirangan anak-anak. Semuanya tidak ada hubungan dengan kehendak saudara. Dan... saudara sendiri ini siapa sehingga mengajak saya untuk ke sana?”
“Tentang siapa saya, nanti jika kisanak berkenan akan saya jelaskan sambil jalan,” kata sang raja.
“Ah, hidup saya kan bergantung kepada ke mana angin membawa arah, apa salahnya jika arah itu menentukan bertambahnya kawan,” ujar lelaki kumal menyetujui ajakan sang raja.

**

Alkisah, sejak di perjalanan sang raja memperkenalkan diri yang sebenarnya, menyampaikan riwayat kejadian di Caraka Galur selengkapnya, untuk kemudian meminta kepada si lelaki kumal agar memecahkan persoalannya.
Si lelaki kumal tertawa terbahak-bahak, namun terasa nadanya bukanlah menertawakan sang raja melainkan seperti menertawakan dirinya sendiri. Sang raja agak héran juga, mengingat di tengah kebingungan, teman barunya ini malah tertawa terbahak-bahak.
Di ujung tawanya ia pun berkata, “meski keempat kebenaran lukisan itu dijumlahkan, niscaya tak akan menjadi kebenaran aslinya.”
Setelah mengucapkan kalimatnya, si lelaki kumal itu pun minta diri. Sang raja, tentu, kian terhéran-héran.
“Kisanak, telah kutemukan kebenaran yang selama ini kami cari. Tepat seperti yang kisanak katakan bahwa meski keempat kebenaran lukisan itu dijumlahkan, niscaya tak akan menjadi kebenaran aslinya. Maka kisanak pula yang paling patut mengucapkannya di muka para pelukis dan rakyat kami, selain itu berilah kami kesempatkan untuk sekadar menyampaikan tanda terimakasih. Mohon, datanglah kisanak ke Caraka Galur,” demikian permohonan sang raja kepada si lelaki kumal.
Si lelaki kumal hanya tersenyum, tetap beranjak pergi sambil berkata, “berterimakasihlah kepada sejatinya pemilik kebenaran, saya bukanlah yang hak.”
Sang raja hanya sanggup menatap punggung si lelaki kumal yang menjauh kemudian menjadi noktak di cakrawala, lantas menghilang. Ia sendiri melanjutkan perjalanan ke Caraka Galur.
Begitu tiba di gerbang kerajaan, seisi kerajaan menyambut kedatangan kembali sang raja dengan penuh kegirangan. Sementara sang raja tanpa mengganti lagi pakaiannya yang kumal, segera minta agar para pelukis berkumpul, diperintahkannya pula agar hulubalang menyampaikan berita kepada rakyat agar kumpul di pelataran.
Sang raja pun kemudian bersabda, “meski keempat kebenaran lukisan itu dijumlahkan, niscaya tak akan menjadi kebenaran aslinya.”
Ia pun menjelaskan bahwa tak perlu lagi ada pertengkaran dan saling berebut kebenaran sebab tak seorang pun akan bisa mencapai hakikinya kebenaran jambangan yang telah menjadi milik sahabatnya itu.       
Sejak itu, seluruh rakyat Caraka Galur pun damai kembali.
  
**

“Begitulah cerita yang cukup panjang itu,” pungkas Jawinul kepada dua pemuda yang sedari tadi mendengarkan dengan saksama.
"Sesungguhnya kami sudah mulai faham, tapi agar tidak salah tafsir, mohon jelaskan hubungannya dengan pertanyaan kami tentang mengapa orang-orang saling serang bahkan berbunuhan atas nama Tuhan?" Tanya Pemuda 2 yang disetujui dengan anggukan kepala Pemuda 1.
“Bayangkanlah, kebenaran jambangan itu adalah kebenaran yang terukur, bendanya bisa diraba, nyata. Bahkan kepada kebenaran nyata itu pun kita tak akan pernah sanggup mendapatkannya dengan mutlak. Apalagi terhadap kebenaran illahiah, yaitu kebenaran yang tak berhingga, kebenaran yang tak akan pernah bisa ditakar oleh keterbatasan manusia, maka bagaimana mungkin manusia mengakui telah memegang kebenaranNya? Itu tak lain merupakan kejumawaan manusia yang telah merampas kebenaran illahiah. Perang atau saling berbunuhan itu semata-mata karena kejumawaan tersebut, sama sekali tak ada kaitannya dengan kebenaran illahiah,” urai Jawinul.
“Warga Caraka Galur kiranya sampai pula kepada pemahaman itu?” Tanya pemuda 1.
Demikianlah menurut sahibul kisah, lanjut Jawinul, warga Caraka Galur pun tercerahkan, mereka bisa saling menghargai “kebenaran manusiawi” dengan tetap mengagungkan “kebenaran illahiah.” Hidup mereka bukan saja damai, tapi juga sejahtera, dan kreatif.


***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tak Ada Lagi "Awi jeung Gawirna," Banjir dan Longsor pun Berdatangan

Paradigma Budaya Eks Palaguna

Harry Roesli Sang Jenius Monumen Musik Indonesia