Bahan/Manuskrip Novel :
Anak Laut
sebuah fiksi petualangan
Oleh Herry Dim
Daftar Isi:
1. Begitu Cepat
2. Tarupah
3. Nama Saya TSB
4. Selamat Tinggal, Saya Pergi…
5. Bandung – Wonokromo
5. Bandung – Wonokromo
6. Jumpa Si Codot
7. Kita Ta Nia Babaroh Numalang
8. Hasnah, Inikah Cinta?
9. Breidel, Bergerak, dan Ah Reformasi Itu
10. Musik Perang di Banda Aceh
11. Hilang Bersama Tsunami
1
Semuanya berlangsung begitu cepat. Saat Aji dengan langkah santai menikmati pemandangan di atas jembatan yang menghubungkan pelataran setelah gerbang masuk ke bangunan rumah makan yang dituju, tiba-tiba dari arah belakang berhambur sejumlah orang berseragam kepolisian berlari menyusul langkahnya. Aji pun bersegera ke pinggir memberi jalan, tak melanjutkan langkah melainkan bertahan diam di sana. Dari arah dalam rumah makan tampak serombongan lain menggelandang seseorang dengan kedua tangan terikat ke belakang. Kedua rombongan yang datang dan yang keluar dari rumah makan, itu bertemu nyaris di tengah jembatan, masing-masing dengan memegang senjata berupa pistol dan senapan. Saat yang keluar lewat, Aji sempat memperhatikan sosok yang sedang digelandang. Tatap pandang mata mereka pun sempat bertemu dalam tempo sepersekian detik. Ia mengenakan t-shirt putih dan luarnya bertutup jas yang mungkin warna merah ati tapi karena cahaya temaram jadi tampak seperti hitam. Tubuh orang itu hanya sedikit lebih tinggi darinya, tapi jauh lebih kekar dengan kepala yang kini gundul pelontos.
"Si Codot," ucap Aji dalam hati ketika melihat orang yang digelandang itu melewati dirinya. Pakaian dan penampilannya persis seperti yang dijanjikan kenalannya tersebut untuk bertemu di sana.
Sebelum dugaan dan pikirannya berlanjut, segera terdengar teriakan, "dia lompat, kejar," disusul oleh suara letusan tembakan. Aji tak bisa melihat jelas. Selain sinar lampu yang temaram, jarak yang sudah agak jauh, kejadiannya pun berlangsung begitu cepat.
Si Codot rupanya lompat dari jembatan dengan kedua tangan masih terikat. Lembah kecil di bawah jembatan adalah sungai yang juga tidak begitu besar. Lompatan Si Codot disusul oleh dua polisi yang tadi mengapingnya. Salah seorang dari dua orang yang di atas melepas tembakan peringatan ke udara, dan dua orang lagi yang berpakaian preman mengamati sampai setengah badannya condong ke bawah. Kemudian mereka pun lari mengejar melalui jalur atas. Setelah itu sangat senyap, suara tembakan berikutnya di kejauhan jadi terdengar jelas.
Tak lama kesenyapan itu segera berganti gemuruh suara tamu-tamu yang keluar untuk mencari tahu, satu sama lain saling bertanya-tanya. Aji malah keluar dari kerumunan, menyelinap masuk ke ruangan rumah makan. Tampak di dalam hanya beberapa perempuan dan di satu meja lagi satu keluarga bersama anak-anak yang bertahan. Beberapa kelompok lainnya adalah wisatawan kulit putih. Suasana di sini senyap dengan wajah-wajah penuh ketakutan. Aji memperhatikan sebuah meja kosong, kap lampunya yang terbuat dari anyaman bambu bergoyang-goyang, mungkin sebelumnya tersenggol, tidak seperti lampu-lampu di meja lain tampak tak bergerak. Cahaya kap lampu itu pun bergerak di atas meja yang masih kosong kecuali sebuah gelas yang berisi minuman berwarna merah masih utuh. Aji yakin itu tempat duduknya Si Codot yang semula dijanjikan akan bertemu dengannya di sana. Kian yakin sebab di sana tampak dua orang petugas didampingi satu orang pelayan rumah makan sedang memeriksa meja tersebut hingga ke kolongnya. Tamu-tamu yang tadi memburu keluar untuk mencari tahu, kini sudah bergerak kembali ke mejanya masing-masing. Aji sendiri memutuskan untuk pergi berlalu dari sana.
"Si Codot," ucap Aji dalam hati ketika melihat orang yang digelandang itu melewati dirinya. Pakaian dan penampilannya persis seperti yang dijanjikan kenalannya tersebut untuk bertemu di sana.
Sebelum dugaan dan pikirannya berlanjut, segera terdengar teriakan, "dia lompat, kejar," disusul oleh suara letusan tembakan. Aji tak bisa melihat jelas. Selain sinar lampu yang temaram, jarak yang sudah agak jauh, kejadiannya pun berlangsung begitu cepat.
Si Codot rupanya lompat dari jembatan dengan kedua tangan masih terikat. Lembah kecil di bawah jembatan adalah sungai yang juga tidak begitu besar. Lompatan Si Codot disusul oleh dua polisi yang tadi mengapingnya. Salah seorang dari dua orang yang di atas melepas tembakan peringatan ke udara, dan dua orang lagi yang berpakaian preman mengamati sampai setengah badannya condong ke bawah. Kemudian mereka pun lari mengejar melalui jalur atas. Setelah itu sangat senyap, suara tembakan berikutnya di kejauhan jadi terdengar jelas.
Tak lama kesenyapan itu segera berganti gemuruh suara tamu-tamu yang keluar untuk mencari tahu, satu sama lain saling bertanya-tanya. Aji malah keluar dari kerumunan, menyelinap masuk ke ruangan rumah makan. Tampak di dalam hanya beberapa perempuan dan di satu meja lagi satu keluarga bersama anak-anak yang bertahan. Beberapa kelompok lainnya adalah wisatawan kulit putih. Suasana di sini senyap dengan wajah-wajah penuh ketakutan. Aji memperhatikan sebuah meja kosong, kap lampunya yang terbuat dari anyaman bambu bergoyang-goyang, mungkin sebelumnya tersenggol, tidak seperti lampu-lampu di meja lain tampak tak bergerak. Cahaya kap lampu itu pun bergerak di atas meja yang masih kosong kecuali sebuah gelas yang berisi minuman berwarna merah masih utuh. Aji yakin itu tempat duduknya Si Codot yang semula dijanjikan akan bertemu dengannya di sana. Kian yakin sebab di sana tampak dua orang petugas didampingi satu orang pelayan rumah makan sedang memeriksa meja tersebut hingga ke kolongnya. Tamu-tamu yang tadi memburu keluar untuk mencari tahu, kini sudah bergerak kembali ke mejanya masing-masing. Aji sendiri memutuskan untuk pergi berlalu dari sana.
"Untung," kata hati Aji, ada kalanya keterlambatan itu membawa keberuntungan. Dia memang terlambat sekira 20 menit dari janji bertemu dengan kenalannya yang sudah terpisah belasan tahun lalu itu. "Si Codot ternyata masih tetap dengan pekerjaannya," lanjut Aji pada dirinya sendiri sambil meneruskan langkah selewat jembatan tempat kejadian tadi.
**
Selang sehari keesokan paginya, hampir semua surat kabar yang beredar di Singaraja menurunkan berita utama "Si Jeger Gembong Jaringan Narkoba Tertangkap." Setelah membaca isi beritanya, Aji yakin bahwa yang dimaksud Si Jeger itu adalah Codot kenalannya. Dari berita itu pula Aji menjadi tahu bahwa Codot yang dulu ia kenal sebagai pengedar ganja kecil-kecilan, kini telah menjadi bandar narkoba yang telah lama diincar oleh aparat. Codot atau Si Jeger, seperti dijelaskan pula di dalam berita-berita, itu tertembak sebanyak dua kali di kaki kirinya. Ia kini dirawat di sebuah rumah sakit dengan diawasi kepolisian setempat dan bahkan kepolisian pusat dari Jakarta. Penyelidikan akan dilanjutkan, ungkap salah seorang perwira polisi di berita itu, guna mengungkap seluruh jaringannya yang diduga meluas secara nasional bahkan diduga ada kaitannya dengan jaringan internasional.
"Ah, Codot, sampai sebegitu jauh dendammu pada kemiskinan," kata Aji sambil melipat koran dengan suara seolah Codot ada di hadapannya. Hari-hari berikutnya seluruh televisi pun menyiarkan, menggambarkan penantian kabar dari rumah sakit yang dijaga ketat, diramu dengan bumbu-bumbu, dinantikan kelak berita pengadilan dan putusan hukumannya. Bersambung, tapi tak satu pun yang menggambarkan tentang apa dan siapa Si Codot itu.
Pertemanan Aji dengan Codot memang termasuk aneh. Bahkan aneh pula rencana pertemuannya yang gagal itu. Seyogianya pertemuan setelah lewat 17 tahun itu di tempat kediaman Codot yang saat itu sedang di sekitar Denpasar, tapi nyatanya Codot minta bertemu di sebuah rumah makan di Singaraja. Secara terpisah mereka menempuh perjalanan tak kurang antara lima hingga enam jam. Aji berangkat dari Denpasar menggunakan travel tapi entah dengan Codot. Rumah makan yang dituju pun agak terpencil, sebuah rumah makan di pinggir pantai yang jauh dari keramaian. Meskipun jauh dan memerlukan waktu khusus, Aji dalam kunjungannya ke Bali kali ini memang telah diniatkan untuk menjumpai beberapa kenalan atau bahkan sekadar melihat tempat-tempat yang pernah dikunjunginya dahulu ketika mukim di pulau ini. Codot baginya lebih khusus lagi karena termasuk yang pernah menyelamatkannya dari kelaparan, dan hanya Codot pula yang selama ini melakukan kontak rahasia dengannya. Aji sendiri, selepas dari pulau ini, sesungguhnya terus berkelana ke berbagai tempat, begitu pula dengan Codot. Tapi ketika Aji ada kesempatan sesaat kembali ke Bandung, dijumpainya sejumlah kartu pos yang seluruhnya dikirim oleh Codot ke alamat rumah yang pernah diberikannya saat kali pertama bertemu dulu. Melihat pada cap pos, gambar pada kartu pos, atau terkadang disebutkan pula oleh Codot; jelaslah kartu-kartu pos tersebut dikirim dari kota-kota yang berbeda. Tak satu pun dari kartu pos itu yang menyantumkan alamat pengirimnya, sehingga tak satu pun Aji pernah membalasnya. Begitu pula dengan nama pengirimnya selalu berganti-ganti, bahkan beberapa diantaranya tak bernama. Tapi dari isi dan bahasanya, jelas itu semua dari Codot. Dan tidak ada pula isi kartu pos yang menyampaikan sesuatu yang dianggap penting, bahkan beberapa hanya berisi satu kalimat "hey, apa kabar?" kemudian ditutup dengan menyebut nama kota atau cukup hanya satu kalimat itu saja.
Dari kartu-kartu pos yang tak ada apa-apanya itu, Aji malah menangkap suasana betapa kesepiannya Codot. Ia bahkan menduga hanya dirinyalah yang dikiriminya kartu pos. Satu-satunya petunjuk adalah kartu pos yang berisi kalimat "jika ke Bali lagi, temui Ketut di kampung A, Banjar B RT 4/11, tanya nama Oscar." Itu pun kartu pos tahun 1986, maka ketika Aji melacaknya betul-betul hanya untung-untungan saja. Untungnya alamat Ketut ternyata masih tetap karena sejak dulu hingga saat itu masih membuka pemondokan, Oscar adalah salah seorang pelanggannya yang menggunakan nama Basun. Ketika mencari alamat dan orang yang bernama Oscar atau Basun inilah Aji bertemu lika-liku yang sungguh rumit. Ketut memang mengenalnya sehingga bisa menyebutkan ciri-ciri orangnya, begitu pula satu alamat yang dimilikinya itu diberikan kepada Aji. Tapi ketika dikejar ke alamat tersebut, ternyata yang dicari tidak ada karena telah pindah, dan Oscar atau Basun pun cenderung berganti-ganti nama. Kerumitan tersebut malah menambah kepenasaran dan kegigihan Aji untuk terus mencarinya. Titik agak terang baru ditemukan ketika pencarian sampai di sebuah kedai minum yang bingar dengan musik reggae di K. Seseorang di sini menghubungkan Aji ke sebuah komunitas di Gili Trawangan, Lombok. Itu pun hanya bisa dihubungi lewat telefon, dan hanya boleh dihubungi melalui telefon umum.
Dari kartu-kartu pos yang tak ada apa-apanya itu, Aji malah menangkap suasana betapa kesepiannya Codot. Ia bahkan menduga hanya dirinyalah yang dikiriminya kartu pos. Satu-satunya petunjuk adalah kartu pos yang berisi kalimat "jika ke Bali lagi, temui Ketut di kampung A, Banjar B RT 4/11, tanya nama Oscar." Itu pun kartu pos tahun 1986, maka ketika Aji melacaknya betul-betul hanya untung-untungan saja. Untungnya alamat Ketut ternyata masih tetap karena sejak dulu hingga saat itu masih membuka pemondokan, Oscar adalah salah seorang pelanggannya yang menggunakan nama Basun. Ketika mencari alamat dan orang yang bernama Oscar atau Basun inilah Aji bertemu lika-liku yang sungguh rumit. Ketut memang mengenalnya sehingga bisa menyebutkan ciri-ciri orangnya, begitu pula satu alamat yang dimilikinya itu diberikan kepada Aji. Tapi ketika dikejar ke alamat tersebut, ternyata yang dicari tidak ada karena telah pindah, dan Oscar atau Basun pun cenderung berganti-ganti nama. Kerumitan tersebut malah menambah kepenasaran dan kegigihan Aji untuk terus mencarinya. Titik agak terang baru ditemukan ketika pencarian sampai di sebuah kedai minum yang bingar dengan musik reggae di K. Seseorang di sini menghubungkan Aji ke sebuah komunitas di Gili Trawangan, Lombok. Itu pun hanya bisa dihubungi lewat telefon, dan hanya boleh dihubungi melalui telefon umum.
Keesokan harinya, dengan sepeda motor yang selama ini disewanya untuk melakukan pelacakan, Aji sengaja menjauh dari tempatnya menginap di daerah Sanur, sekalian pula ia mencari tempat makan siang dan tentu saja yang ada sarana telefon umum di sekitarnya. Sepeda motor ia parkir di sebuah rumah makan Padang, tapi yang dituju pertama adalah kios telefon umum di sampingnya. Setelah melalui tanya jawab yang aneh-aneh tapi pada intinya berkenaan dengan identitas Oscar dan terutama yang dicarinya yaitu Codot, seseorang di seberang telefon itu menjanjikan akan mengontak Oscar, dan meminta Aji menelefon kembali sejam kemudian.
Saat makan sambil menunggu waktu satu jam, Aji tak bisa merasakan kenikmatan apapun dari makanan yang dipilihnya. Makan dirasakannya hanya sebagai keperluan mekanis agar tidak lapar saja. Usai makan ternyata waktu yang ditunggu masih 40 menit lagi. Aji buang waktu tanpa beranjak dari sana. Karena terdiam dan menunggu, akhirnya terperhatikan juga bahwa rumah makan itu memutar musik melalui alat suaranya. Aji tahu betul musik yang terdengar itu adalah musik degung instrumental yang membawakan lagu-lagunya melalui alunan suling. Ini pengalaman kali keduanya saat makan di rumah makan di Bali, itu diiringi musik Sunda. Pengalaman pertamanya saat di Ubud, itu diiringi musik kacapi suling.
"Musik Sunda di sini rupanya menjadi musik pengantar makan," kata hati Aji sambil melirik jam yang menempel di salah satu dinding.
"Musik Sunda di sini rupanya menjadi musik pengantar makan," kata hati Aji sambil melirik jam yang menempel di salah satu dinding.
Saat yang ditunggu tiba, Aji bergegas kembali ke kios telefon. Begitu tersambung, di luar dugaan, di seberang sana terdengar suara Codot. Semula Aji menduga itu adalah Oscar, tapi dari pertanyaan-pertanyaannya yang mengingatkan ke masa lalu, itu menunjukan Codot. Dari kontak itu pula Aji menjadi tahu bahwa Codot sebenarnya berada di sekitar Denpasar, dan dari itu pula janji pertemuan di Singaraja itu dilakukan.
Mula Aji bertemu dengan Codot, itu di pantai Kuta pada 1973. Ini menjadi salah satu dari serangkaian jalan hidupnya yang begitu panjang. Setelah itu mereka berpisah. Codot melanjutkan pengelanaannya sendiri, sementara Aji terbawa angin barat hingga sampai ke pulau Tarupah.
2
Tarupah
Pernahkah mendengar nama Pulau Tarupah?
Betul, zaman sekarang tentu berbeda dengan masa kejadian ini berlangsung sekira 40 tahun lalu. Untuk sekadar tahu tentang apapun termasuk untuk mengetahui tentang pulau-pulau di manapun di pelosok dunia, saat ini, tinggal melacak melalui google atau peta google. Lain halnya dengan masa lalu, hampir seluruh terbitan peta untuk pelajaran sekolah bahkan peta-peta resmi yang berukuran jauh lebih besar itu banyak yang tidak memetakan keberadaan Pulau Tarupah.
Pulaunya memang kecil, hanya sedikit saja lebih luas dari lapangan untuk sepak bola. Terletak di perairan laut Banda, pulau ini merupakan bagian dari satu lingkaran karang atol, bentuk pulaunya memanjang seperti terhubung dengan pulau-pulau kecil lainnya, seluruhnya membentuk lingkaran menyerupai sebentuk cincin. Seluruh permukaan pulau tertutup pasir putih, tumbuhan yang umum hanya pohon kelapa serta semak tanaman yang tumbuh di atas tanah berlapis pasir laut.
Karena kecil dan tidak terpetakan, pulau Tarupah pun nyaris seperti pulau rahasia atau setidaknya selama puluhan atau bahkan ratusan tahun menjadi pulau yang tak dikenal. Bahkan masyarakat di pulau-pulau yang lebih besar dan menjadi tetangga pulau Tarupah seperti masyarakat di ujung pulau Sulawesi selatan dan tenggara, Selayar, rumpun pulau-pulau Nusa Tenggara Timur, dan ke timurnya di wilayah laut Banda berbatas pulau Binongko; kemungkinan besar tak pernah membayangkan bahwa di sana ada pulau dan kehidupan, tentu tak akan pernah membayangkan pula untuk pergi ke tempat yang tidak di dalam bayangan tersebut. Kecuali bagi penduduk pulau-pulau terdekat yang pernah saling-berhubungan seperti penghuni pulau Rajuni, hingga yang sedikit agak jauh yaitu masyarakat pulau Jampea dan Bonerate; selebihnya atau orang-orang di luar itu umumnya tak menduga bahwa di sana ada kehidupan.
Penghuni pulau Tarupah hanya sedikit. Di pantai sebelah timur berjajar rumah-rumah yang tak lebih dari sepuluh buah, sementara di sebelah barat hanya ada tujuh rumah. Tak lebih dari 17 keluarga saja. Bahkan satu rumah yang lebih menyerupai gubuk reyot, hanya dihuni oleh seorang nenek renta yang kehidupannya disokong oleh warga yang lain. Jadi tepatnya tak lebih dari 16 keluarga yang semuanya adalah suku Bajo.
Nama “Tarupah” berasal dari cara mereka sendiri ketika melafalkannya. Kemungkinan besar jika dalam tulisan yang benar adalah “Tarupa” (tanpa ‘h’), bunyi ‘h’ hanya muncul dalam pengucapan.
Pola pengucapan dan percakapan masyarakat di sana, memang memiliki beberapa kecenderungan seperti itu, yaitu kecenderungan membunyikan seperti aksara tertentu yang sesungguhnya tidak ada di dalam kemungkinan tulisannya. Contohnya terhadap nama Mahadi dilafalkan menjadi Mahading, Palata menjadi Palatang, atau Palu Ganda menjadi Palu Gandah. Ada juga kecenderungan terjadinya perubahan antara penulisan dan bunyi pengucapan, misalnya Puang menjadi Puah atau Boe Pinang menjadi Boe Pinah.
Sesungguhnya terdapat dua pulau Tarupah yaitu Tarupah Kecil dan Tarupah Besar. Tarupah Kecil tidak berpenghuni, hanya berupa hamparan pasir putih memanjang, jika sedang surut besar maka bersambung dengan Tarupah Besar. Pulau atol lainnya adalah Tinabo serta beberapa pulau kecil lagi yang tidak berpenghuni. Sementara pulau yang lebih besar dan menjadi bagian dari atol ini adalah Pulau Rajuni besar dan Rajuni kecil.
Selain sejumlah kecil rumah dan perahu atau kapal-kapal yang sedang didaratkan, bagian terbesar dari pulau Tarupah adalah hamparan pasir putih yang sebagiannya dijadikan tempat untuk menjemur ikan-ikan hasil tangkapan mereka. Di tengah-tengah pulau, di antara pohon-pohon kelapa dan sedikit rimbunan semak, terdapat beberapa sumur umum tapi yang berfungsi hanya tiga sumur saja sebab yang lainnya kering tak berair. Sumur mereka ini berupa sumur gali, tanpa dinding di atasnya sehingga berupa lobang saja di atas tanah berhampar pasir. Di seputaran sumur itulah penghuni pulau Tarupah mandi, mencuci, atau memenuhi keperluan air lainnya. Tak ada pula bangunan kamar mandi atau pelindung lainnya di seputaran sumur itu, maka betul-betul hanya ada lubang sumur dan beberapa lembar papan di sekelilingnya yang digunakan sebagai alas kegiatan mereka. Di sanalah mereka semua, lelaki atau pun perempuan serta anak-anak atau pun dewasa, mandi. Kecuali anak-anak, orang-orang dewasa mandi tidaklah dengan tubuh telanjang melainkan tertutup kain sarung hingga pinggang bagi lelaki dan tertutup kain sedada bagi perempuan. Air langsung ditimba dari sumur dan langsung pula diguyurkan ke tubuh. Semua permukaan air sumur tidaklah dalam hingga cukup ditimba dengan ember yang disambung tali tak lebih dari sedepa.
Tapi mereka tak pernah dan memang tak bisa menggunakan air sumur itu untuk keperluan minum, sebab airnya asin, hanya sedikit saja beda tingkat keasinannya dengan air laut di sekeliling pulau. Bahkan manakala digunakan untuk mencuci pun sesungguhnya tak pernah mengeluarkan busa sabun. Mereka mendapatkan air minum dengan cara menampung air hujan di sejumlah guci yang besarnya sepelukan orang dewasa. Setiap keluarga umumnya memiliki lebih dari sepuluh buah guci. Karena sulitnya untuk mendapatkan air tawar, maka air tawar menjadi benda yang berharga, sangat dihemat. Oleh karena itu, jika suatu saat satu keluarga atau lebih berkumpul dan minum-minum teh manis atau kopi, menjadi terasa seperti pesta yang adakalanya pula disertai acara nyanyi-nyanyi tanpa alat pengiring kecuali tabuhan irama pukulan pada pantat ember plastik.
Tentu saja orang-orang pulau Tarupah ini menempatkan air sebagai benda berharga, mengingat bahwa daerah di seputaran karang atol itu bukanlah daerah yang memiliki curah hujan cukup tinggi. Hujan jarang datang meski bukan pula artinya sama sekali tidak ada. Maka manakala hujan tak datang dan apalagi jika masa kemarau tiba, itulah saat bagi mereka berlayar ke pulau-pulau besar untuk mendapatkan air sambil memasarkan ikan kering yang telah mereka kumpulkan berbulan-bulan. Arah tujuan ke beberapa pulau yang biasa dihampiri, itu biasanya bergantung kepada arah angin musim, dan arah terdekat itu antara lain Sulawesi Tenggara dan Selatan, pulau Kabaina, Selayar, Jampea, atau Bone Rate.
**
Jika warga pulau-pulau yang lebih besar dan menjadi tetangganya pun tidak pernah membayangkan ada dan bisa sampai ke pulau Tarupah yang terpencil itu, maka apalagi bagi Aji yang jelas-jelas anak kota B dan termasuk orang gunung yang jauh dari laut. Ketidakmungkinan itu menjadi lebih besar mengingat Aji selama di B itu tak pernah bisa berenang. Dirinya yang tak bisa berenang, pun tentu saja tak penah membayangkan akan mengalami hidup di Tarupah yang hampir seluruh kehidupannya adalah di laut. Bukan itu saja, Aji yang kelak dipanggil oleh teman-temannya dengan sebutan Si Duwe atau lebih sering disingkat SD, itu sejak kecil tak pernah suka segala macam makanan ikan laut kecuali udang yang digoreng kering atau kalau sudah terpaksa sekali ia hanya makan sebatas ikan asin saja.
Tapi memang tidak ada yang tak mungkin di dalam kehidupan ini. Disebabkan oleh hal yang mirip keajaiban, Aji menjadi sempat tinggal di pulau terpencil itu dan menjalani kehidupan seperti umumnya suku Bajo di sana. Boleh jadi termasuk ajaib pula karena kelak ia menjadi pandai sekali berenang, bahkan menyelam, dan menjadi sangat menyukai berbagai jenis ikan laut sekitar Tarupah.
Jika itu belum juga terasa sebagai keajaiban, maka harus dilihat bahwa pulau Tarupah lah yang mengubah seluruh jalan hidup Aji. Karena pulau Tarupah ia kemudian menjalani hidup sebagai pengelana, aktivis klandestin, ikut di dalam gerakan perubahan yang disebut Reformasi, menjadi seniman, hingga kemudian semuanya berakhir bersama datangnya tsunami 2004 di Aceh.
Aji yang kemudian dikenal juga dengan nama Si Duwe atau SD, anak gunung yang kemudian hidup dengan masyarakat laut dan menjadi anak laut, itu secara ‘klandestin’ atau seperti begitu saja menghilang pergi bersama laut. Karena itulah, sesungguhnya, tidak ada catatan yang ia buat sendiri yang ia tinggalkan. Padahal, mengingat dirinya yang pernah juga menjadi wartawan dan dikenal rajin membuat catatan-catatan perjalanan, mestinya atau diduga ia pun sebenarnya punya atau membuat catatan perjalanan hidupnya sendiri; namun, juga menurut dugaan, catatan-catata itu pun rupanya menghilang bersama dirinya.
Aji bukanlah tokoh atau sosok hero di dalam sebuah melodrama apalagi sejarah, dia orang biasa dan senantiasa hanya ingin menjadi orang biasa. Bahkan, sesungguhnya, ia cenderung suka menyembunyikan diri atau mengerjakan apapun bukan untuk diketahui orang banyak. Maka dalam menceritakan sebagian dari hidupnya ini bukan tanpa risiko, ia sendiri belum tentu suka. Tapi, saya (JA) sebagai salah seorang sahabatnya, justru sejak awal kenal menjadi tertarik sekali akan sifat dan sepak-terjangnya itu. Paling tidak, ada semacam ‘keanehan’ yang mengasyikan jika diikuti.
Oh, ya, saya sendiri adalah Jamal Ariadinata (JA). Kenal dengan Aji tidaklah sejak masa kecilnya, melainkan melalui pergaulan ketika bersama-sama berkelana di J. Sejak itu pula sesekali, melalui obrolan, saya mendengar tentang dirinya. Meski kala itu sudah ada rasa tertarik akan ke’aneh’an jalan hidupnya, tak terbersit sedikit pun untuk mengulang-ceritakan perjalan hidupnya. Keinginan besar itu baru muncul justru ketika Aji menghilang.
Riwayat Aji atau SD yang kemudian tersusun seperti berikut ini berasal dari obrolan; kumpulan surat-surat yang tersimpan di sejumlah teman lainnya; guntingan atau kliping artikel-artikel, puisi, dan prosanya yang pernah dimuat media; cerita orang-orang, saudara, tetangga, dan sejumlah orang yang pernah mengenalnya.
Sejumlah artikel yang bisa terkumpulkan, sesungguhnya tidak satu pun berisi tulisan yang berkenaan dengan dirinya secara langsung, sebab seluruhnya adalah tulisan yang justru berupa feature hingga human interest mengenai orang lain; lebih banyak lagi adalah tulisan-tulisannya yang berupa kritik seni, pembahasan kebudayaan, serta beberapa yang agak dekat dengan permasalahan sosial-politik. Tapi dari tulisan-tulisan yang bertebar dan berkenaan dengan ‘orang lain’ tersebut, ternyata bisa terkonstruksikan juga tentang minat, keberpihakan, harapan, pikiran, dan sejumlah pemahamannya tentang kehidupan.
Begitu pula dengan puisi atau sedikit prosanya yang bisa ditemukan, tak satu pun yang mengindikasikan biografis; tapi dari sana bisa ditemukan hatinya yang terdalam yang kemudian sangat membantu di dalam upaya memahami jalan hidupnya.
Relatif surat-suratnyalah yang paling banyak membantu sebab diantaranya terdapat surat yang begitu personal, bahkan ada pula indikasi seperti bukan bersurat kepada yang dikiriminya melainkan uraian bawah sadarnya yang kemudian mengungkapkan cerita tentang dirinya. Surat-surat seperti ini pula yang membuka jalan kepada kemungkinan untuk menggali informasi lain hingga satu sama lain menjadi bisa saling melengkapkan. Riwayat yang terjadi dalam rentang waktu lebih dari 30 tahun, yaitu dimulai pada tahun 1970an dan berakhir hingga datangnya tsunami Aceh 2004, ini pun ada baiknya kita mulai dengan bagian dari sebuah surat yang pernah dikirimkan Aji kepada salah satu temannya, Agus R. Syamsulhari (ARS), di Lombok Utara. Surat berikut ini hanya diambil sebagian saja, yaitu yang dianggap penting bahkan telah diedit serta ulang-susun. Sebagian dari isi surat tersebut adalah seperti berikut ini:
3
Nama Saya TSB
Seperti Si Codot yang memiliki banyak nama, begitu pula dengan saya, Gus. Nama saya kan Tatang Sanjaya Bachri, teman-teman di Bandung umumnya memanggil dengan panggilan akrab yang hanya mengambil ujung suara dari Bachri yaitu “ri” atau “ahri” tapi kemudian menjadi “Ai,” bahkan lantas menjadi “Aji.”
Kenapa saya ingin bercerita tentang nama sama kamu, Gus?
Bukan apa-apa, tiba-tiba saja saya merasa aneh karena begitu banyak nama atau panggilan yang saya bawa. Dari tiga potong nama Tatang Sanjaya Bachri saja, saya mendapatkan empat panggilan yaitu Tatang, Sanjaya, Jaya, dan Bachri. Sementara teman-teman yang sudah kenal sejak kecil biasanya memakai panggilan anak-anak yang belum bisa melafalkan kata Bachri hingga kemudian menjadi Ai lantas menjadi Aji itu.
Abah saya memberikan nama Bachri itu dari kosa kata bahasa Arab, ‘bahri,’ yang artinya lautan, dan kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi bahari. Sedangkan Sanjaya, adalah tanda kesukaan Abah kepada cerita-cerita pewayangan. Di dalam cerita Mahabharata, Sanjaya adalah penasihat sekaligus kusir pribadi Raja Destarata. Sanjaya diberkati penglihatan istimewa oleh Resi Abiyasa sehingga mampu melihat kejadian-kejadian dari jarak jauh. Oleh kemampuannya itu pula Sanjaya bisa menyaksikan percakapan antara Kresna dan Arjuna sebelum meletusnya peperangan di Kurusetra. Catatan percakapan itu kemudian menjadi kitab Bhagawadgita. Tapi ketika saya tanyakan kepada Abah tentang nama Tatang, ia tak bisa menjelaskan apapun, kecuali sebagai nama umum pada masyarakat Sunda.
Oh, ya, bagaimana kabarnya Lombok, Gus?
Saya senang sekali waktu punya kesempatan jalan-jalan di Lombok Utara, suasananya masih natural, sebelum tiba ke pantai terasa hutannya masih alami, pantai serta pedesaannya pun masih terasa asli.
Lantas, bagaimana, jadikah Lombok Utara itu dipisah menjadi kabupaten tersendiri?
Kalaupun jadi semoga saja tidak seperti pengembangan kota-kota kabupaten lainnya yang terlalu berorientasikan kepada model kosmopolitan Jakarta, sehingga kota-kota di seluruh Indonesia menjadi seragam karena semuanya meniru Jakarta. Itu hanya akan kian meruntuhkan kepercayaan diri masyarakat pedesaan saja, seolah kebenaran hidup itu hanya satu-satunya yaitu gaya kosmopolitan, gaya Jakarta. Padahal kehidupan pedesaan itu telah menyimpan kebahagiaannya masing-masing, tapi ketika ia tersentuh gaya kosmopolit – saat itu pula desa menjadi punya kehendak atas hal yang ada di luar dirinya, ingin menjadi seperti kosmopolitan sebab sudah teracuni bahwa tanda kemajuan itu satu-satunya adalah gaya kosmopolit, dari sanalah ketidakbahagiaan bermula.
Ah, tapi sudahlah, saya ingin cerita, ternyata di dalam nama saya itu ada tiga kebudayaan yaitu Sunda, India, dan Arab, plus darah Tionghoa dari indung. Sebelumnya tak pernah kupikirkan serius. Sekarang pun bukan maksudnya begitu, hanya tiba-tiba terpikirkan saja.
Dan perkara nama campuran budaya ini sesungguhnya sama dengan namamu, karena itu pula saya bersurat ke kamu, Gus. Disamping tentu selebihnya karena kangen.
Gus, kamu dan kawan-kawan di Lombok pun memanggilku Sanjay. Ha ha ha, waktu itu saya tertawa dalam hati karena nama saya seperti nama orang India dan telah bertambah pula sebutanku. Dulu, perasaan lucu yang membuatku tertawa dalam hati, terjadi pula manakala saya hidup bersama beberapa suku Bugis dan terutama orang-orang laut dari suku Bajo, saya dipanggil Bahring. Awalnya tidak saya fahami, tapi kemudian saya tahu bahwa tambahan bunyi sengau “ng” itu merupakan tradisi pelafalan nama yang berakhir dengan aksara “i,” misalnya Mahadi menjadi Mahading, dan karena nama saya Bachri maka menjadi Bahring. Itu terjadi pula pada kata-kata yang huruf akhirnya “n,” contohnya “bagan” menjadi “bagang.” Begitu juga kalau menyebut ‘ikan’ dalam bahasa Indonesia, oleh mereka dilafalkan menjadi ‘ikang,’ sementara ‘ikan’ dalam bahasa Bajonya sendiri adalah dayah.
Entah ini dianggap menarik olehmu atau tidak? Tapi ada lagi, bahwa untuk kosa kata yang berujung bunyi “ng” adakala pelafalannya menjadi berbunyi “h” semisal boe pinang yang berarti air pinang menjadi boe pinah, puang menjadi puah, atau dayung menjadi dayoh.
Untungnya waktu itu saya tidak memperkenalkan diri dengan nama Tatang, sebab kalau itu terjadi maka nama saya menjadi Tatah. Serta tidak pula memperkenalkan sebutanku waktu kecil, sebab Aji nantinya jadi Ajing dan kelak bisa saja menjadi Anjing ha ha ha... dan mereka tidak tahu jika anjing itu nama hewan, sebab “anjing” dalam bahasa Bajo adalah “asu.”
Pada awal saya mengenal perubahan bunyi pelafalan seperti itu, maka kerap saya membayangkan nama teman-teman kita sambil tertawa-tawa sendiri. Saya ucapkan sendiri nama Wawan S. Husin menjadi Wawang S. Husing, Aat Suratin jadi Aat Surating, Garin Nugroho jadi Garing Nugroho, Maman S. Mahayana jadi Mamang S. Mahayana, Joni Ariadinata jadi Joning Ariadinata, Soni Farid Maulana jadi Soning Farid Maulana, Harry Roesli jadi Haring Rusling, Ine Arini jadi Ine Arining, dan namamu sendiri jadi Agus. R Samsulharing ha ha ha...
Gus, saya saat ini sedang di Jakarta dalam persiapan menuju ke Banda Aceh. Seperti biasa, di J kota paling sibuk, heboh, dan panas ini, saya selalu merasa kesepian tak menemukan kehangatan, karena itu saya menulis. Waktu kali pertama ke kota ini tahun 1976, jumlah penduduknya sudah 6 juta jiwa, kini sudah mencapai antara 7 - 8 juta, dan para ahli memperkirakan pada 2010 kelak mencapai 10 juta orang. Itu, seperti kita tahu, bukanlah semata-mata angka melainkan manusia. Tapi, begitulah, manakala berdiri di tengah keramaian kota ini selalu serasa berdiri di tengah kepikukan serta angkuhnya bangunan tapi hampa manusia. Mungkin pula ada yang salah dengan diri saya, terlalu merindukan bahwa antar-manusia itu harus selalu saling bersapa. Saya lupa bahwa J adalah kota yang sibuk, orang-orangnya harus berkejaran dengan waktu agar bisa bertahan hidup, fokus perhatiannya dari mulai bangun tidur hingga ke menjelang tidur lagi itu adalah mencari uang untuk hidup, begitu lurus pandangan mereka itu karena memang tak ada waktu lagi untuk menoleh ke kiri dan ke kanan, mereka menjadi agak luput memperhatikan bahwa di kiri dan kanan itu ada manusia lain yaitu tempat untuk memanusiawikan dirinya sendiri. Tidaklah heran jika menjelang lebaran tiba, gelombang hasrat mereka untuk mudik itu demikian luar biasa. Seolah apapun dipertaruhkan untuk bisa keluar dari J dan kembali ke kampung halaman hatinya masing-masing. Ini sekaligus menunjukan mereka itu sesungguhnya tetaplah manusia, bawah sadarnya tetap memiliki kehendak berdiri di tengah manusia-manusia lain yang pada saat bersamaan saling memanusiawikan diri masing-masing.
Dari kenyataan itu, sering membuat saya berfikiran iseng: orang-orang yang memilih hidup di J itu hanya memiliki kesempatan sekali dalam setahun untuk menjadi manusia. Dalam sekali tersebut, sepanjang-panjangnya dalam masa sebulan bisa tinggal di kampung halaman hatinya, menjadi manusia. Pertanyaannya, selama 11 bulan di J, mereka ini sesungguhnya apa?
Ah, tapi daya tahan desa-desa dan kota-kota di luar J pun terbatas. Disamping mereka yang pulang itu membawa kebudayaan baru, kebudayaan urban J, lebih hebatnya lagi tiap menit mata dan otak mereka itu dicuci oleh televisi. Hampir sebagian besar waktu luang masyarakat di berbagai pelosok, itu kini digunakannya untuk duduk dan mencuci otaknya dengan gambaran gaya hidup hingga cara berkata-kata seperti yang terlihat di televisi. Oleh kekuatan dan sihir media yang satu ini, cara pandang hidup hingga struktur nilai-nilai yang semula menyangga seluruh kehidupan mereka, itu kini pun sudah tampak berubah dan bahkan sudah mulai menempatkan televisi sebagai pusat nilai-nilai. Lambat laun, mereka pun menjadi seolah-olah tak memiliki lagi nilai-nilai dan/atau nilai-nilai yang mereka miliki itu menjadi rendah diri di hadapan nilai-nilai yang dihadirkan televisi. Saat itu pula desa atau kota-kota di luar J dan/atau di luar televisi, sesungguhnya telah kehilangan kebanggaan atas dirinya dan kemudian mulai pula kehilangan harga dirinya.
Ya, hemat saya, kotak Pandora itu tak lain dari televisi. Benda kotak ajaib ini memang buah dari kecerdasan dan keterampilan yang diturunkan Prometheus kepada umat manusia. Tapi begitulah rupanya riwayat ilmu pengetahuan yang diturunkan Prometheus, itu adalah ‘api’ hasil curian dari Zeus. Mengetahui apinya dicuri, Zeus pun marah, kutukan demi kutukan pun kemudian turun. Kutukan pertama, tentu saja, dijatuhkan kepada sang pencuri dengan hukuman diikat pada sebuah batu. Prometheus tak berdaya. Setiap hari ia didatangi Elang Kaukasus untuk memakan hatinya yang kemudian tumbuh lagi dan dimakan lagi, demikianlah sepanjang zaman. Demikian pula, sepanjang zaman, manusia adakalanya kehilangan hati, kehilangan nurani.
Sementara hukuman kepada manusia yang sudah terlanjur menerima api dari Prometheus, diciptakanlah Pandora yang kemudian dinikahkan dengan Epimetheus yang tak lain adalah saudaranya Prometheus. Zeus memberikan sebuah kotak indah sebagai hadiah pernikahan bagi mereka. Prometheus masih sempat memperingatkan dengan berbisik kepada Pandora, “jangan buka kotak itu.”
Tapi begitu pula tabiat manusia, ia selalu ingin tahu segala apa yang dirahasiakan. Pandora pun penasaran dan kemudian membuka kotak tersebut. Sejak itu pula di satu sisi ilmu pengetahuan bermunculan, tapi di sisi lainnya kejahatan dan penderitaan manusia menyertainya. Manusia mulai menemukan alat kerja berupa pisau yang di satu sisi bermanfaat bagi keberlanjutan hidup tapi di sisi lain digunakan untuk membunuh manusia lainnya. Kecerdesan manusia pula yang kemudian menemukan inti energi atom neutron yang bisa dipertemukan dengan inti fissile berisi uranium; disamping temuannya bisa menghasilkan energi yang luar biasa besar, adalah pula kenyataan benturan inti neutron dan uranium itu menjadi daya panas luar biasa serta radiasi yang mematikan 140.000 orang serta derita 10.000 jiwa berpenyakit akut di Hirosima dan Nagasaki.
Televisi pun rangkaian buah kecerdasan manusia, penjumlahan dari temuan demi temuan yang membutuhkan masa proses selama 98 tahun jika dihitung sejak ditemukannya teknologi rekam gambar oleh Joseph Nicéphore Niépce, 1822, yang kemudian menjadi teknologi fotografi dan bertemu dengan temuan gelombang radio hingga munculnya televisi pertama pada tahun 1920an. Di satu sisi ia berguna di dalam proses dan kebutuhan manusia untuk ‘menjadi tahu.’ Terbukti pada pemanfaatan pertamanya untuk menyiarkan Olimpiade Berlin, 1936, sehingga masyarakat yang lebih luas bisa menyaksikan setiap pertandingan secara langsung. Tapi kemudian dengan melihat daya jangkau dan sihir pukaunya, Marshall McLuhan segera sejak 1964 mengingatkan melalui “Pemahaman Media: Ketercerabutan Manusia” (Understanding Media: The Extensions of Man). Salah satu pernyataan McLuhan yang sangat terkenal “media adalah pesan,” ia mengingatkan bahwa efek sosial yang diakibatkan oleh media itu tidak hanya muatan yang disampaikan oleh media, melainkan ‘dibentuk’ pula oleh karakteristik medianya itu sendiri.
Gus, kita pun tahu, bisnis televisi itu adalah bisnis dengan modal gigantik. Pemilik modal manapun, tentu tak pernah berkehendak modal raksasanya itu menguap begitu saja, malah logisnya mereka akan berpikir sebaliknya yaitu dengan modal tersebut diupayakan untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya pula. Maka jelas pula kiranya karakter umum media telivisi itu mesti menjadi mesin uang bagi pemodalnya. Apapun masukan dan apapun yang kemudian menjadi muatannya, manakala setelah melewati mesin uang, kiranya ketika keluar akan atau tepatnya haruslah menjadi uang. Pada batas ini, apapun yang menjadi muatan itu sesungguhnya sudah tidak penting lagi, sebab perhatian yang sesungguhnya bukanlah kepada sejatinya muatan tersebut melainkan dicari ‘gimmick’nya agar laku dijual dan menjadi uang. Dan lazimnya gimmick niscaya akan sekeras mungkin selalu menghindar dari kebenaran yang sesungguhnya, bahkan melakukan manipulasi atas kebenaran agar memang menjadi tampak beda dari kenyataan. Teknik dan rekayasa masukan apapun agar menjadi gimmick, tentu saja sangat bermacam-macam dan semuanya dilakukan dengan seolah-olah menggunakan pranata atau krama media. Ya, yang hadir ke pemirsa sesungguhnya dunia seolah-olah, dunia yang bukan kebenaran yang sesungguhnya, tapi sekaligus memang itu pula yang disukai kebanyakan orang sebab ‘dunia nyata’ itu telah diubah menjadi gimmick yang menarik, menawan, “to be continued” seperti dipidatokan Günter Grass saat menerima penghargaan Nobel 1999 – alias merangsang untuk diikuti terus karena memang ke dalamnya telah disusupkan obat perangsang dari olahan gimmick tadi. Karena telah menjadi dunia seolah-olah; jika di sana ada yang seperti ‘cover both side’ dalam pemberitaan hingga pertunjukan dabrul, eh, talk show, maka cenderung bukan ‘cover both side’ yang sebenarnya, melainkan ‘ramuan konflik’ agar enak ditonton. Saat itu pula kejadian bencana dan kematian tidak ditunjukkan di dalam irama hati simfati dan emfati melainkan menjadi sajian ‘tontonlah, tontonlah ada sekian puluh atau ratus yang mati!” Bahkan seolah-olah di televisi itu ada pembicaraan agama padahal yang muncul adalah lagi-lagi gimmick atau pukau-pukau yang direkayasa....
Ah, kotak itu memang telah terbuka, dari dalamnya telah berhamburan segala bala. Pandora pun kemudian melongok ke dasar kotak yang paling dalam, ia terus mencari yang bernama “harapan.”
Kadang-kadang atau bahkan kerap kali, seperti malam ini, merasa “sayalah Pandora itu,” dari waktu ke waktu terus berjalan mencari harapan. Ya, berjalan dan terus berjalan dari kampung ke kampung dan dari kota ke kota, sambil tak pernah tahu kapan akan berakhir serta tak tahu pula apakah harapan itu akan ditemukan atau tidak. Perkaranya adalah pada ‘ditemukan atau tidak ditemukan’ sebab saya yakin sesungguhnya ‘ada,’ karena itu saya terus berjalan mencarinya, baik dengan peran sebagai Si Ai, Aji, atau pun Si Duwe.
Entah semua ini akan berakhir di mana. Tapi, dimanapun itu akan berujung, kalau kelak saya mati, di nisanku hanya ingin tertulis: Tatang Sanjaya Bachri.
4
Selamat Tinggal, Saya Pergi….
Pagi, Medio 1973, awal dari segalanya bagi Tatang Sanjaya Bachri atau Aji. Saat itu ia baru saja usai mandi bahkan belum lagi lengkap berpakaian, Abahnya memanggil dan mempersilakannya duduk di salah satu kursi di hadapan sebuah meja yang biasa mereka gunakan untuk makan bersama, kerja, atau pun tempat Aji mengerjakan tugas-tudas sekolah. Sebuah piring di hadapan Abah, tampak sudah kosong. Di piring lain tampak satu dari enam keratan dadar telor telah berkurang, menandakan Abah telah makan lebih awal.
Satu telor didadar selebar mungkin lantas dipotong enam, itulah upacara tetap keluarga Alwy Z. Noor setiap pagi. Lima kerat adalah jatah Aji dan empat saudaranya, sementara keratan keenam adalah jatah untuk Abah. Indung yang membuatkan telur dadar, itu malah lebih sering mengalah, jika ada cukuplah dengan kecap tapi tak jarang ia merasa cukup makan nasi dengan garam saja. Padahal indung cenderung bekerja lebih berat dari yang lainnya. Ia yang selalu paling awal bangun di pagi buta sebelum kumandang adzan terdengar, mencuci pakaian, menyapu halaman, beres-beres warung, untuk kemudian biasanya terus ke pasar untuk belanja. Kalau sudah harus belanja ubi dan ketela pohon untuk bahan keripik dan penganan obi, tak jarang ia harus membawa beban tak kurang dari 30 kg. Malah kadang-kadang ia suka nekat, dari pasar Babatan ke rumah ditempuhnya dengan berjalan kaki.
Sejak Aji duduk di kelas 3 SMA, praktis tak lagi bisa menemani indung ke pasar. Sebelumnya, sejak kelas 1 SMP, dia memang sempat menjadi jongos penjual ikan basah di celah jalan antara Pasar Baru dan Pasar Babatan. Pukul satu malam Aji sudah menembus malam menuju pasar untuk menyambut datangnya truk-truk pembawa ikan dari Cirebon, Brebes, Pemalang, dan sebagainya. Pagi hari sekitar pkl. 05.30 indung biasanya mampir ke tempat Aji bekerja untuk mengajak belanja dan pulang bersama.
"Ada yang serius," pikir Aji sambil mengambil nasi dan kemudian duduk. Ia tahu betul gaya Abahnya jika hendak menyampaikan hal yang dianggapnya khusus, yaitu selalu mengundang duduk di sana.
Sampai ke suapan nasi yang ketiga, Abah belum juga bicara, Aji mencoba menengok. Tampak Abah menatap Aji begitu dalam. Setelah itu, Abah menghela nafas.
"Hari ini pengumuman hasil ujian?" Tanya Abah membuka pembicaraan.
"Ya, Abah," jawab Aji masih dengan nasi di mulut.
"Maafkan Abah.... harapan sih kamu bisa meneruskan sekolah, tapi maafkanlah Abah tak bisa memenuhi kewajiban sebagai orang tua... Abah tak akan mampu membiayai lagi kamu untuk meneruskan kuliah."
Itu rupanya hal penting yang hendak disampaikan. Hal yang sudah diperkirakan oleh Aji jauh-jauh hari. Tapi meskipun gelagatnya sejak lama sudah bisa diperkirakan, pagi itu terasa oleh Aji agak lain manakala Abah mengucapkannya. Aji pun tak bisa berkata apa-apa selain menatap Abah yang juga hanya menatap dirinya tanpa melanjutkan lagi kata-katanya. Pada saat berpandangan itu pula tiba-tiba terasa ada ratusan bahkan ribuan kata-kata yang bermunculan di dalam kepala, tak pernah tercetuskan tapi Aji atau mungkin juga Abah memahami apa yang ada di dalam kepala masing-masing.
Dengan pengantar kata-kata itulah Aji melangkah ke sekolah untuk melihat pengumuman hasil ujian. Ada perasaan dalam hatinya bahwa tak perlulah pergi ke sekolah; sebagian karena tanpa dilihat pun ia sudah bisa memastikan bakal lulus, sementara perasaan yang sebagiannya lagi tak bisa ia rumuskan. Entahlah yang sebagian itu perasaan macam apa, kecuali terasa baginya begitu berat sehingga menimbulkan keengganan untuk meneruskan langkah. Maka langkah Aji pun nyaris seperti langkah mesin yang berjalan dengan perasaan kosong, amat pelan tapi akhirnya tiba juga di sekolah.
Tiba di sana, kiranya suasana sudah begitu pikuk oleh teman-temannya yang sedang saling mengobral kegembiraan. Baru saja melangkah hendak melewati gerbang, tiba-tiba Aji melihat ada semburan air dari ember yang menyiram salah satu teman yang berlari ke arahnya. Tak jauh dari itu Aji melihat dan mendengar pula teman-teman perempuan yang menjerit-jerit kegirangan di depan papan pengumuman.
Aji tak melanjutkan langkah untuk melewati gerbang, melainkan berbalik dan kembali pulang.
**
"Lulus?" Tanya Abah setibanya Aji kembali di rumah.
"Lulus, Abah," jawab Aji dengan senyum yang dibuat-buat sekadar untuk membahagiakan Abahnya.
"Syukurlah, bagaimana nilainya?" Tanya Abah lagi.
"Ijazahnya baru dibagikan lusa, hari Senin," jawab Aji dengan menebak-tebak sebab sesungguhnya ia tak tahu kapan ijazah itu akan dibagikan, bahkan boleh jadi sesungguhnya hari itu pun sudah dibagikan.
"Tadi tak lama setelah kamu pergi, ada mahasiswa yang mencari indekosan ke sini. Abah berpikir bagaimana kalau kamu pindah ke atas, dan kamarmu disewakan...... Indung memang perlu tambahan modal serta bayaran sekolah adik-adikmu, tapi separonya mungkin bisa kamu pakai untuk daftar ke perguruan tinggi," urai Abah di tempat duduk yang sama dengan ketika ia bicara pagi hari tadi.
"Terserah Abah saja, memang berapa uang sewanya?" Tanya Aji.
"Dia hanya perlu tinggal sebulan saja sebelum paviliun yang disewanya di rumah Pak Karna selesai dibenahi, seperti umumnya sewa sebulan itu 12.000 rupiah, tapi cukup kan untuk pendaftaran, kamu kira-kira mau daftar ke mana?"
"Biaya pendaftaran itu hanya 1.600 rupiah, Bah, tapi andai diterima lantas uang kuliahnya dari mana?"
"Iya, ya...," Abah tampak tercenung dan kemudian lanjutnya, "atau kamu ada rencana, atau mau apa, Abah bisa menyisihkan dari uang sewa itu untuk kamu."
Entah kenapa, tiba-tiba saja di hadapan tawaran itu yang muncul hanya dua hal saja di benak Aji. Pertama, ingat ke si Kintil, demikian panggilan kepada salah seorang temannya yang sesungguhnya bernama Iing, yang hendak menjual gitarnya seharga 4.800 rupiah; kedua, adalah keinginan pergi jauh, pergi dan pendeknya pergi entah ke mana. Maka dari mulut Aji meluncurlah dengan begitu saja kata-kata "saya mau beli gitarnya si Kintil," sementara di dalam benak yang terpikirannya adalah kehendak untuk pergi; dan tiba-tiba pula yang terpikir itu adalah pulau Bali.
"Oh, ya, kamu sudah lama sekali bilang ingin punya gitar. Berapa si Kintil mau jual gitarnya?" Tanya Abah dan kemudian disebutkan harganya oleh Aji. Abah menyetujui akan memberikan sejumlah uang itu kalau si penyewa kamar sudah membayar uang sewanya.
Aji tercenung sambil bertanya-tanya kembali di dalam pikirannya, "kenapa Bali?"
Kian pertanyaan itu diulang, kian besar pula keinginannya untuk pergi ke sana. Maka ia tanya kembali hatinya sendiri, "kenapa Bali?"
“Ah, yang penting pergi,” ucap hatinya pula sambil mencari-cari alasan yang sebenarnya, dan ia temukan alasan itu. Pada dasarnya Aji tak mampu menanggung malu jika kelak bertemu teman-temannya yang melanjutkan kuliah, sementara dirinya sudah dipastikan akan menganggur. Terbayang olehnya Si Ukeu dan Si Iton yang jauh-jauh hari telah berencana akan meneruskan ke Universitas Padjadjaran. Sementara lingkungan teman-teman sekitar rumah, pasti akan menerimanya jika ia menganggur karena di antara mereka pun kebanyakan tidak memilih sekolah sebagai jalan untuk meneruskan hidup. Tapi bukan artinya pula itu aman, malah sebaliknya: gawat. Daerah Gg. K saat itu termasuk wilayah merah tempat peredaran ganja dan tempanya beberapa ‘preman.’ Aji sendiri, tentu saja, pernah menggunakannya, bahkan tahu dan pernah ikut dalam pergaualan pengedarannya di sekitar bioskop Elita, kadang menyaru di antara pedagang buku kaki lima di depan Sumur Bandung, atau berkeliaran di antara kios-kios rotan Cikapundung. Padahal Abahnya adalah yang dengan seorang diri dan dengan caranya sendiri memerangi itu. Tidak dengan cara memusuhi anak-anak muda itu melainkan dengan cara merangkulnya. Bahkan suatu ketika ada seorang anak yang dipanggil dengan sebutan Si S dipenjarakan di Sukamiskin, Abahlah satu-satunya yang rajin nengok, sementara orang tua si anak itu sendiri tak sekalipun pernah ke sana. Abah sendiri tak pernah menceritakannya kepada siapapun, justru Si S ketika sudah keluar dan pada suatu lebaran bercerita bahwa Abah berkali-kali datang menengok. Bukan hanya itu, Si S menceritakan pula bahwa Abah memberikan satu-satunya kacamata baca miliknya karena tahu kacamata S pecah saat di dalam. “Abah pun memberikan kopiah yang dipakainya,” tambah Si S. Dari ceritanya itu pula orang-orang di tengah keramaian lebaran menjadi faham kenapa S yang dikenal berangasan, ditakuti banyak orang, dan pernah membunuh itu malah bersimpuh dan menangis di pangkuan Abah.
“Ah, tidak... saya sangat mengagumi Abah, tak mungkin memilih jalan berseberangan dengannya. Sementara kalau tetap tinggal dan apalagi menganggur, bisa saja terbawa ke arus sana. Oleh karena itu harus pergi!” Tegas Aji di dalam hatinya.
Di lubuk hatinya yang lain, Aji pun menyimpan sebuah keinginan terpendam yaitu ingin bisa melukis, dan satu-satunya pengetahuan untuk belajar melukis selain lewat pendidikan tinggi "ya, pulau Bali," kata hatinya lagi. Saat itu pula Aji telah membulatkan tekad akan membohongi Abah dengan menerima uang untuk beli gitar, dan uangnya akan digunakan untuk pergi ke Bali.
“Telah saya putuskan pula bahwa saya akan pergi diam-diam, tak akan memberi tahu siapapun ke mana saya pergi,” kata hatinya ditambah dengan romantisme cerita-cerita silat Kho Ping Hoo yang hampir seluruhnya pernah ia baca, maka hatinya pun berkata laiknya calon-calon pendekar di dalam cerita-cerita itu, "saya akan mencari guru, tak akan kembali dan tak akan berkirim kabar sebelum berhasil."
**
Hari itu pun tiba. Ada juga rasa iri ketika Aji melihat mahasiswa yang mau indekos itu tiba dan menyerahkan uang sewa kamarnya kepada Abah.
"Silakan pakai kamar saya, tokh saya mau pergi," begitu gerutu Aji dalam hati dan kemudian berlalu karena tak tahan juga melihat adegan serah-terima itu berlama-lama. Mahasiswa itu pun langsung memasuki kamar yang sehari sebelumnya telah dibersihkan oleh tangan Aji sendiri. Seluruh penanda diri sebagai anak urban dan tanda keremajaannya di kamar itu telah dilepasnya. Sebuah lukisan besar di atas kertas A0 yang menggambarkan gitaris Keith Richard hasil tangannya sendiri, hitam-putih, dengan bahan pewarna dari serbuk bagian dalam batu batere bekas, yang paling pertama diturunkannya untuk kemudian digulung. Berikutnya ia lepas juga satu demi satu gambar-gambar dari majalah Music Express dan Pop terbitan Belanda atau pun Aktuil yang memenuhi hampir seluruh dinding kamar ukuran 2 X 4 meter itu. Majalah-majalah itu umumnya ia beli dari loakan serta beberapa dari toko buku Insulinde yang menjual majalah lawas atau lewat waktu beberapa bulan bahkan setahun lebih dari masa terbitnya. Aji memang sangat menyukai musik, semasa SD ia telah bergabung dengan grup rampak sekar di sekolahnya, bahkan ikut menjadi pemain sandiwara radio berbahasa Sunda bersama Abah Kabayan di Radio Kencana. Sementara ketika menginjak remaja adalah saat gelombang pop dan rock sedang melanda kota B dan kota-kota besar lainnya. Ia yang suka dan telah pandai menggambar dengan cara meniru foto, banyak pula membuat gambar ukuran kertas folio yang menggambarkan pemusik dari majalah-majalah itu untuk kemudian dititip jual di kios buku “Ora et Labora” dekat sekolahnya.
Tanpa diketahui Aji, Abahnya pun rupanya segera memutus pembicaraan dengan mahasiswa penyewa kamar dan menghampiri anaknya. Ia mengajak Aji ke belakang pintu yang menuju ke arah dapur, lantas merogoh kantong sambil tampak matanya melirik kiri-kanan dan berbisik, "nih, uang untuk gitar itu."
Aji pun dengan gerak seperti orang sembunyi-sembunyi menghitung uang yang diserahkan Abah, sesungguhnya tak menghitung serius, oleh karena itu Aji sempat melirik wajah Abah.
"Memandang wajahnya untuk kali terakhir,” bisiknya dalam hati.
Aji melihat di wajah ayahnya ada gambaran puas, haru, bahagia; sementara jantungnya sendiri berdegup-degup karena sadar tengah menyimpan rencana tersembunyi. Setelah itu Aji tak berani memandang wajah Abahnya lagi. Aji hanya bersikeras menyimpan baik-baik keinginannya untuk pergi.
“Tak akan pernah mengakatakan dan tak akan minta izin karena yakin Abah tak akan mengizinkan,” kata hatinya pula.
Menjelang siang Aji meraih ransel buatannya sendiri yang terbuat dari bahan terpal warna biru. Ya, di antara teman-teman seusia, Aji termasuk yang paling pandai menjahit. Abah memang pandai menjahit dan indung lebih pandai lagi. Adakalanya indung menerima pesanan menjahit borongan, kalau sudah begitu mau tak mau Aji ikut membantu, secara bergiliran menjahit dengan satu-satunya mesin jahit yang mereka miliki.
Pernah suatu ketika Aji mendapat giliran menjahit malam hari, kian mendekati saat tengah malam kantuknya tak tertahankan lagi, padahal jahitan itu di pagi hari harus selesai semuanya. Aji jadinya menjahit dengan serba sekenanya. Yang dikerjakan adalah menjahit ratusan pasang sarung tangan untuk perlengkapan pemain olah-raga anggar. Saat pekerjaan usai dan ia memeriksa hasil pekerjaannya satu persatu, ternyata ada beberapa pasang sarung tangan yang terjahit sampai di lobang jari-jarinya. Aji tahu bahwa seharusnya membongkar dan menjahitnya kembali, tapi malam itu ia putuskan untuk mengaduknya dengan hasil pekerjaan indung dan Abah. Pada saat itu hati Aji tertawa-tawa membayangkan akan ada orang kesulitan memasuk-masukan jarinya ke sarung tangan yang tak berlobang itu, tapi tawanya kian hari berubah menjadi semacam perasaan berdosa; terutama rasa berdosa kepada indung yang sesungguhnya demikian telaten dan penuh tanggung jawab terhadap pekerjaannya.
Tak banyak barang yang dimasukan Aji ke ransel biru itu, hanya sebuah sarung yang berwarna dasar hijau dengan garis-garis putih dan hitam serta sepotong t-shirt berwarna biru pula. Setelah itu Aji mengenakan sepatu warrior hitam. Sepatu basket itu telah ia potong bagian atasnya hingga menyerupai sepatu kets, bukan agar menjadi model baru melainkan karena bagian atasnya memang sudah robek.
Dua adik sudah pergi sekolah, satu adik masih dipelukan indung, sedang satu adik lagi yang perempuan mungkin sedang main-main entah di mana. Karena itu rumah terasa sepi. Saking sepinya, Aji hampir-hampir bisa mendengar degup jantungnya sendiri.
Sebelum beranjak, cukup lama Aji terduduk di anak tangga paling bawah. Dari tempat itu pula ia pandangi sudut demi sudut rumah. Si mahasiswa yang indekos pun sudah tak tampak lagi, pintu dorong ke kamarnya tertutup rapat. Aji mengamati kembali lemari jati tua dengan cat 'belah-ketupat' hasil tangan Abah, warna biru muda dan merah lemari itu kini sudah begitu lusuh. Di pinggir ada sebuah bangku tinggi dari kayu jati yang dibuat juga oleh tangan Abah sendiri. Aji tersenyum karena tiba-tiba menyadari bahwa bangku itu sungguh serba guna, kadang dipakai duduk sebagaimana biasanya, kadang dipakai untuk naik ketika meraih benda yang terletak di tempat agak tinggi, sering pula dipakai untuk penyambung ketinggian kalau harus mengecat langit-langit rumah. Bahkan saat Aji kecil, bangku itu biasa ia mainkan menjadi mobil-mobilan, jadi gerobak, jadi becak, atau jadi apapun. Kadang pula jadi perintang untuk main loncat-loncatan, dan kadang Abah pun menggunakannya untuk landasan menggergaji.
"Benda itu ajaib sekali," desah Aji sambil memandangi benda sederhana yang ia niatkan akan disimpannya baik-baik.
Dengan itu Aji beranjak bangkit. Ia melongok sebentar ke arah dapur yang langsung berhubungan dengan warung indung. Tampak indung sedang menimbang sesuatu melayani pembeli. Aji tak mau memandang berlama-lama melainkan segera beranjak menuju pintu depan.
"Indung, saya pergi," hanya itu yang sanggup ia katakan di dalam hatinya.
Arah ke stasiun seharusnya ke selatan, tapi karena arah itu harus melewati lagi warung indung dan mestinya Abah pun tak akan jauh dari sana; maka Aji memutuskan berjalan ke utara untuk menempuh jalan memutar lewat serambi masjid Al-Hidayah. Tiba di lorong masjid, di luar dugaannya, Aji bertemu dengan adiknya yang ketiga, lantas bertanya dengan bahasa kanak-kanaknya.
“Mau ke mana, Kang Aji,” tanya adiknya.
Aji tak kuasa menjawab ke mana akan pergi, sebagai basa-basi ia serahkan uang logam setengah rupiah yang kebetulan ada di kantong celana.
Aji merasa seolah adiknya memandangi terus punggungnya, tapi ia terus melangkah meninggalkannya, ia tak berani berpaling dan terus menjauh.
Jarak dari rumah keluarga Alwy Z. Noor ke stasiun tidaklah jauh. Masa-masa kecil Aji bahkan sering bermain di daerah stasioun hingga ke daerah gedong delapan sekitar Ciroyom. Seperti keisengan anak-anak lainnya Aji pun gemar sekali bermain melindaskan paku di rel KA. Ada semacam ketegangan ketika menunggu datangnya KA, ketegangan itu terasa begitu memuncak ketika roda-roda KA melindas paku-paku yang mereka simpan di sana. Begitu KA lewat, mereka pun berhamburan melihat "hasil kerjaan"nya. Kalau menghasilkan bentuk menyerupai pedang, maka si pemilik akan mengacung-acungkannya dengan bangga. Sebaliknya jika ada teman yang mendapati pakunya menjadi bentuk aneh, maka mereka pun bisa tergelak-gelak tertawa.
Selepas melewati gedung gubernuran, Aji menyusup ke jalan tikus untuk memotong jalan. Sampai di lorong sempit itu, ia pandangi lagi deretan rumah yang bersusun rapat tanpa jarak serta serba seadanya itu, beberapa langkah kemudian tiba pula di rumah tempat memproduksi penganan wajit yang sebagian pekerjanya ada juga yang ia kenal. Aji memang agak sering ke sana, sesekali pura-pura membantu tapi sesungguhnya agar mendapatkan wajit gratisan. Sementara mereka bekerja, Aji secara diam-diam sangat mengagumi keuletan orang-orang mengerjakan pembuatan wajit di kuali besar itu. Gambarannya mirip dengan orang-orang yang sedang menempa pedang yang ia lihat di film-film. Api besar dari setumpuk kayu bakar yang sesekali disorong-sorongkan oleh petugas yang lain, dalam pikiran Aji seperti api pembakar besi bahan pedang. Di atas tungku api besar itulah kuali yang juga berukuran besar dan penuh berisi bahan wajit ditempatkan.
Meskipun hampir tak masuk akal bagi kehidupan Aji untuk bisa berhibur diri nonton film, kenyataannya ia sejak kecil sangat tergila-gila pergi ke bioskop. Kerap ia bisa berhasil menerobos bioskop Nirmala. Caranya yaitu dengan menggandengkan diri kepada seseorang yang kebetulan nonton sendiri, dengan begitu Aji bisa pura-pura jadi anak atau adiknya. Kalau cara tersebut gagal, maka cara yang sama ia lakukan di bioskop di sebelahnya yang kelasnya lebih rendah lagi, yaitu bioskop Taman Riang. Kalau masih pula gagal, maka Aji suka berputar lewat gedung sandiwara Sri Murni di daerah Babatan; dari sana ia melewati deretan WC kemudian memanjat serta sedikit saja melewati rintangan kawat berduri, dengan sekali loncatan tibalah di Taman Riang. Namun adakalanya ia kecantol juga untuk nonton di gedung sandiwara itu. Untuk masuk ke gedung sandiwara Sri Murni jauh lebih mudah, sebagai anak kecil kerap dibiarkan nyelonong begitu saja untuk masuk.
Mungkin karena "kecerdasan"nya sebagai anak jalananlah yang membuat Aji enteng melakukan itu semua. Jauh semasa ia lebih kecil lagi, yaitu di saat-saat begitu sulitnya untuk mendapatkan beras, gula pasir, atau minyak tanah, yang antara lain harus melalui antrian panjang di salah satu loket di Pasar Baru, diam-diam tanpa sepengetahuan Abah dan indung, Aji menjalani profesi menjadi pedagang esmiran, yaitu menjajakan es, semir sepatu, dan jualan koran secara simultan. Dari pengalaman itu pula ia mendapatkan jalan menerobos ke bioskop Dian lewat jeruji yang direkahkan, atau ke bioskop Puspita dengan memanjat WC hingga bisa masuk ruang balkon.
Di luar celah-celah pekerjaan esmiran adalah musim-musim layangan di areal pekuburan Belanda yang kini telah berubah menjadi lapangan olah raga. Di sini ada pekerjaan lain yaitu menjadi pesuruh atau bertugas pegang golongan benang. Honor dan tips yang didapat biasanya jauh lebih besar dari bekerja esmiran seharian. Yang lebih gila lagi, Aji yang masih bocah itu pandai main judi 'jisong' dengan kartu domino. Dengan permainan itu ia memiliki keterampilan yang bisa mengelabui orang-orang yang lebih besar bahkan orang tua. Ia punya cara yang ditemukannya sendiri waktu mencampur dan mengocok kartu-kartu, hingga setiap saat bisa terus-menerus mendapatkan kartu yang baik. Dengan cara dan hasil kecurangannya itulah film demi film ia tonton dengan tanpa harus menerobos, melainkan dengan ‘ginding’ membeli karcis di loket.
Selewat "pabrik wajit," kemudian lewat beberapa rumah lagi, sampailah di ujung mulut lorong jalan. Garis-garis rel kereta api pun segera terlihat. Beberapa langkah lagi dari sana, rangka besi stasiun pun segera tampak. Sesungguhnya masih ada keinginan dalam dirinya untuk membuka-buka kenangan masa lalunya, Aji begitu menikmati jalan-jalan pikirannya sendiri, sekaligus ia jadikan semua kenangan itu sebagai tanda perpisahan dengan masa lalunya. Ia berusaha menggali kenangan yang lainnya. Tapi begitu bangunan stasiun itu tampak semakin jelas di hadapannya, semua kenangan itu pun seperti menghilang dengan sendirinya. Semuanya berganti dengan dugaan-dugaan yang akan datang. Ia pun mencoba untuk membayang-bayangkan apa kiranya yang akan terjadi dan apa kiranya yang akan ditemukan selepas pergi dari B. Anehnya, kian keras ia berfikir dan mencari-cari kemungkinan, kian hilang pula gambaran yang bisa ia dapatkan. Akhirnya ia sadari, itu semua tak lain karena ia belum punya gambaran apapun tentang tempat yang akan ditujunya. Bahkan selain nama pulau Bali, ia tak punya setitik pun gambaran lainnya, tak ada tempat yang dijadikan tujuan, tak ada kenalan apalagi saudara. Gambaran masa lalu kian samar dan menghilang, gambaran yang sedang ia tempuh ke depan pun kosong, ia hanya bisa berkata di dalam hati: “selamat tinggal, saya pergi….”
5
Bandung – Wonokromo
Di tahun 1973, karcis KA malam Bandung – Surabaya, itu seharga Rp. 4.200,00 saja. Tanpa harus merogoh kantong dan menghitung jumlah lembarannya, Aji bisa menghitung dengan cepat bahwa jika dibelikan karcis maka sisa uangnya hanya tinggal Rp. 600,00 - tak kurang tak lebih. Padahal, meski tak pernah jelas seperti apa, akan ke mana, dan bagaimana; dalam benaknya hanya ada satu tujuan yaitu ke pulau Bali. Disebabkan itu pula pikirannya mulai bertanya-tanya: berapa ongkos dari Surabaya ke Bali? Kalau sama sekali habis, lantas akan makan apa setibanya di sana nanti? Itu pun kalau ongkosnya persis Rp. 600,00 saja, tapi jika lebih dari itu bagaimana?
Sejenak Aji termangu. Teringatlah pada peralatan kotak semir sepatu yang jauh-jauh hari yaitu sebelum menjadi jongos pedagang ikan laut, telah ia titipkan kepada temannya, Aa Rahadian.
“Kenapa tak dibawa?” Tanyanya dalam hati, “ah, jangan-jangan sudah tidak ada, karena kejadiannya sudah cukup lama, tak kurang dari tiga tahun yang lalu.” Demikianlah pikirannya sendiri yang menjawab.
“Betul juga, ya, pekerjaan itu kan dilakukan pada masa kelas empat hingga kelas enam SD, begitu di SMP pekerjaan tersebut berganti jadi jongos di pasar,” pikirannya yang lain menambahkan.
“Seandainya dibawa,” demikian pikiran yang berikutnya memerotes, “kalau sampai terdampar di Surabaya tentu masih ada kemungkinan penghasilan dari menyemir sepatu.”
“Ah, lagi pula di manakah Si Aa itu sekarang?” Separo pikirannya lagi mendebat dengan alasan bahwa Si Aa yang ibunya pedagang sate sapi keliling, itu sejak lulus SD konon ikut kakaknya, Subana, tinggal di Purwakarta.
“Bagaimana pun sisa Rp. 600,00 itu gawat,” pikirannya yang paling awal memperingatkan. Di sana, lanjutnya, bukankah serba tidak jelas. Lain jika masih di sini, asal datang saja ke tempat bikin wajit dan bahkan tanpa harus membantunya, maka untuk sekadar dua atau tiga potong wajit bisa didapat. Cukuplah itu untuk penahan lapar. Mereka memberi wajit karena mereka sudah kenal.
“Sedangkan di Surabaya atau Bali, siapa yang saya kenal?” Timbangnya.
Semua diskusi di kepala itu berlangsung tepat di sisi kanan loket karcis untuk ke Surabaya, yaitu stasiun bagian selatan. Aji sesekali melihat ke arah loket, tampak antrian tak begitu padat dan bahkan nyaris kosong, para pembeli karcis bergilir datang dan pergi tanpa harus berdesakan. Melihat itu, hampir saja kakinya langsung melangkah untuk membeli karcis. Tapi diskusi di kepala yang belum selesai, lagi-lagi menahannya. Saat itulah teringat kepada pengalaman-pengalaman perjalanan jarak pendek seperti halnya kalau ke Cicalengka atau ke Padalarang dengan KA rakyat atau KA ekonomi. Dalam beberapa perjalanan yang sekadar main-main bersama beberapa teman, itu selalu dilakukan tanpa membeli karcis. Sejumlah perjalanan yang ia lakukan bersama teman-temannya, itu seratus persen hanya untuk jalan-jalan dengan menikmati perjalanan naik KA. Tanpa tujuan, sebab begitu sampai di stasiun tujuan terakhir pun nyaris tak pernah turun melainkan menunggu KA tersebut balik lagi. Tak lebih hanya dua kali saja pernah turun di Ranca Ekek untuk tujuan membeli jangkrik yang relatif lebih murah ketimbang harga jangkrik di B, setelah itu menunggu KA yang tujuan ke Cicalengka itu tadi kembali, dan dengan KA itu pula mereka kembali lagi.
Ketika KA sudah mulai berjalan, bukan artinya sama sekali tanpa rasa takut. Aji dan kawan-kawan pun tahu bahwa naik KA dengan tanpa membeli karcis itu adalah salah. Karena itu pula kerap menggunakan berbagai akal agar selamat dari tagihan kondektur. Siasat ini dilakukan mulai dengan modus pura-pura tidur sampai dengan cara kucing-kucingan. Siasat pura-pura tidur, tentu saja merupakan pilihan yang paling jarang dilakukan karena faktor ketegangan menunggu kondektur lewat dan faktor risiko dibangunkan terhitung sangat tinggi. Meskipun demikian, dengan cara ini beberapa kali bisa juga lolos. Kemungkinan terbesar lolosnya dari tagihan kondektur, menurut pikiran Aji, mungkin karena mereka masih dianggap kanak-kanak. Tapi, ya, itu tadi, tegangnya setengah mati. Apalagi kalau mengingat cerita-cerita orang yang sampai kini pun belum pernah terbukti kebenarannya, bahwa kalau ketahuan tidak membeli karcis maka akan diturunkan di salah satu stasiun atau halte terdekat. Bukan itu saja, menurut sahibul cerita, sebagai hukuman bagi anak-anak yang kedapatan tidak membeli karcis bisa disekap di WC atau disuruh membersihkan WC tersebut. Ini, tentu saja, amat mengerikan karena mereka pun tahu bahwa semua WC di stasiun dan apalagi halte KA itu kotor dan baunya minta ampun. Maka opsi yang paling sering dilakukan adalah cara kucing-kucingan. Caranya bisa berupa sembunyi di antara barang-barang, di bawah kursi penumpang, atau masuk ke toilet yang ada di gerbong KA. Cara yang terakhir, yaitu sembunyi di toilet, pun jarang dilakukan karena menurut sahibul cerita pula katanya suka digedor oleh kondektur ataupun polsuska (petugas polisi khusus untuk KA).
“Bisakah?” begitu pertanyaan Aji ketika mulai menimbang hal ini untuk tujuan ke Surabaya.
Topik diskusi jadi bertambah. Pertengkaran di kepala pun tak terhindarkan, terjadi dalam tempo tinggi dan lumayan keras.
“Surabaya itu jauh, tak bisa disamakan dengan ke Cicalengka atau ke Padalarang.”
“Ya, tapi kalau berhasil artinya bisa menyelamatkan uang lumayan banyak.”
“Itu kalau selamat, bagaimana kalau tertangkap?”
“Wah, sudah terbukti kan belum pernah tertangkap.”
“Ya, karena dekat. Surabaya itu jauhnya berlipat-lipat, pemeriksaannya pun mesti berkali-kali.”
“Berapa kali pemeriksaannya?”
“Tak tahulah, tapi mesti tak sekali.”
“Kalau hanya dua kali, rasanya masih mungkin.”
“Kalau lebih?”
“Ya, itulah… lebihnya berapa kali?”
“Kalau sampai lima kali pemeriksaan bagaimana?”
“Ah, masa sih sampai sesering itu?”
“Iya dong, semestinya berhitung dari yang tersulit.”
“Iya juga sih….”
“Ya, sudah beli karcis saja.”
“Berarti uangnya habis. Sengsaralah begitu tiba di Bali bahkan baru sampai Surabaya nanti.”
“Jangan lupa, dulu itu masih SMP, masih kelihatan kanak-kanak. Sekarang tak mungkin lagi.”
“Jadi beli karcis saja?”
“Ya, sudah beli saja.”
“Bukankah belum tahu berapa ongkosnya dari Surabaya ke Bali itu? Kalau tak cukup dan hanya bisa sampai di Surabaya Bagaimana?”
“Ya… balik lagi?”
“Balik lagi bagaimana? Kan uangnya sudah habis!”
“Ah, apa bedanya hanya sampai di Surabaya dengan sampai di Bali.”
“Beda dong… kalau hanya sampai Surabaya, ya, lebih baik tidak sama sekali.”
“Jadi?”
Diskusi terhenti. Terdengar pengeras suara mengumumkan bahwa KA tujuan Surabaya sudah siap di jalur empat, kepada penumpang dipersilakan untuk segera naik. Tapi kebimbangan antara beli dan tidak beli karcis jelas belum berakhir, bahkan terasa semakin tegang karena kini lebih dihimpit lagi oleh desakan waktu. Tubuh Aji malah jadi terpaku, tidak menghampiri loket karcis yang sudah tampak kosong dan tidak juga beranjak untuk menghampiri KA yang sudah siap berangkat.
Pengumuman yang kedua kembali terdengar, bersamaan dengan itu terlihat satu rombongan yang mungkin satu keluarga berlarian dari arah gerbang stasiun menuju peron masuk. Yang perempuan tampak sambil mengendong bayi dan menuntun anak laki-laki, mereka berlari sambil berusaha nunjuk-tunjuk ke arah dalam stasiun, sementara yang laki-laki yang juga menuntun anak dan sejumlah barang bawaan berusaha lari lebih cepat menuju loket karcis yang hanya selangkah saja dari tempat Aji berdiri. Dari tempat penjaga peron yang jaraknya sekitar delapan meteran, tampak petugasnya berteriak sambil melambai-lambaikan tangannya agar yang baru datang tersebut cepat-cepat. Begitu usai membeli karcis, laki-laki yang membawa barang serta menuntun anak itu segera berlari.
Entahlah, sungguh Aji sendiri tak faham. Ketika laki-laki itu berlari melewatinya, tubuh seperti tersedot magnet dan dengan begitu saja mengikutinya berlari. Penjaga peron pun tak sempat lagi untuk memeriksa karcis mereka, melainkan dengan penuh simpati mendorong semangat mereka untuk sesegera mungkin tiba di KA yang hampir berangkat. Oleh kesibukan dan ketergesa-gesaan itu pula, Aji lolos dengan begitu saja tanpa mengalami pemeriksaan peron.
Mereka naik ke gerbong tiga. Masih seperti tersedot magnet, Aji mengikuti rombongan keluarga itu, naik ke gerbong yang sama. Bedanya, jika mereka setelah melihat keluarganya selamat, sudah bisa naik semua, segera mereka melihat karcis dan mencari tempat duduk berdasarkan nomor di karcis tersebut, sementara Aji tertahan di bordes untuk menimbang-timbang ke arah mana kiranya harus melangkah. Bunyi peluit terdengar, disusul kejut dari gerak KA yang mulai berjalan.
**
Bersama bunyi roda KA yang mulai bergerak, Aji menghela nafas, masih seperti tak percaya ia berkata cukup keras ke arah pintu KA yang tak tertutup karena sudah rusak, “saya pergiiii?
Tak ada yang mendengarnya kecuali hembusan angin yang menerobos pintu serta bunyi gedukan roda KA setiap bertemu sambungan rel. KA pun kian melaju, dalam dua kejapan mata sudah hampir melewati jembatan penyeberangan yang hampir setiap pagi biasanya dilewati oleh Aji dan indung kalau ke pasar. Begitu gerbongnya lewat di sana, Aji menyempatkan nongol dari pintu bordes yang tak tertutup itu. Ia pandangi jembatan itu.
“Pas di tangga turun sana indung suatu ketika terjatuh,” kenangnya sambil membayangkan bagaimana indung yang terjatuh dan barang dari gendongannya yang berupa ubi dan ketela berhamburan.
Ia masih ingat betul kata-kata ibunya ketika menceritakan kejadian itu kepada Aji, Abah, dan adik-adik dalam bahasa Sunda:
“Labuh indung teh, atuh sampeu pating gulutuk, leupas tina gembolan, ragrag ka handap jambatan (Indung terjatuh, singkong lepas dari pikulan, berjatuhan, bergelindingan ke bawah jembatan)”
Dengan fasih ia ingat pula puisi yang tak pernah berani diakuinya sebagai puisi yang ia tulis sehubungan dengan kejadian itu:
terjatuh bersama sepikulan singkong!
indung bawa kabar itu dengan langkah tertatih
sementara peluh segera menjadi lampau
tercecer di sepanjang sejarah
dan kau tetap saja tersenyum menebar cinta
meski tak pernah sampai di pucuk pengorbananmu
kuhayati luka dan deritamu, indung
sepikulan singkong, senyum dan cintamu, indung
kumaknai: agar hidup tak pernah menyerah!
Belum lagi selesai Aji membacakan kembali puisi yang dianggapnya bukan puisi itu di dalam hatinya, gerbong tempatnya berdiri sudah cukup jauh meninggalkan jembatan kenangan. Ketika ia melongokan kepala untuk melihatnya kembali, jembatan itu sudah tak tampak.
“Indung, izinkan saya pergi,” bisik Aji kepada indung yang ia wakilkan kepada jembatan yang sudah hilang dari pandangan.
**
Selewat Ranca Ekek, langit di luar sudah mulai gelap, para penumpang pun sudah tertib pada tempatnya masing-masing, keluarga yang tadi ia ikuti itu kelihatan dari tempatnya berdiri di bordes. Mereka sedang membuka ransum atau bekal makannya, bersiap-siap untuk makan malam di atas KA yang sedang berjalan. Tampak rona girang di wajah-wajah mereka. Salah seorang putranya yang tadi dituntun ayahnya sambil berlari-lari, kini tampak sibuk membuka-buka daun pembungkus dan mencari-cari makanan yang diinginkannya.
Aji berlalu dari pemandangan penuh kebahagiaan itu. Sebagian karena merasa jika ia kini menyendiri, tapi lebih pentingnya lagi; terpikirkan olehnya untuk memeriksa seluruh gerbong kereta.
“Ini saatnya,” pikir Aji.
Ia berencana akan memeriksa seluruh gerbong dari yang terdepan hingga paling belakang. Seperti dulu di masa kecilnya, Aji bergerak ke arah muka menuju gerbong paling depan. Tempat duduk keluarga itu pun terlewatinya, sang ayah menyapa dengan senyuman dan pipi yang kelihatan masih menyimpan makanan. Tepat di ujung gerbong tiga tersebut, Aji masuk ke WC untuk memeriksa keadaannya. Ternyata WC-nya terbuka, tidak berkunci, dan tidak digunakan karena rusak. Ia terus bergerak lebih ke muka lagi. Sambil melangkah Aji menangkap kesan Kereta Api Senja Mutiara Selatan ini cukup nyaman, setidaknya berbeda dengan KA Cicalengka atau Padalarang yang dulu pernah ia naiki. Meski kedapatan ada WC rusak dan pintu di bordes yang tak bisa ditutup itu, bagi Aji tetaplah KA ini lebih baik sebab inilah kali pertama ia menaikinya dan tidak pula memiliki bandingan yang lainnya.
Ia perhatikan bagian atas gerbong itu, tampak berjajar kipas angin yang bergerak menoleh ke kiri dan kanan. “Itu juga yang tidak ada di KA Cicalengka,” gumam Aji. Kemudian ia melihat dua orang yang tertidur berdampingan, sementara yang di depannya bolak-balik membuka halaman majalah yang kelihatan tidak begitu menarik perhatiannya. Di jajaran kursi seberangnya, satu kursi yang seharusnya berisi dua orang itu hanya dihuni satu orang.
Langkah Aji sudah sampai di gerbong satu yang paling depan. Ia melihat kondektur dan asisten yang sama-sama berseragam biru pekat sedang mulai memeriksa karcis. Sontak, ia pun balik badan menjauh ke arah rangkaian gerbong belakang. Seluruh kenyamanan KA yang tadi ia nikmati, kini berubah menjadi ketidaknyamanan, menggelisahkan, bahkan menakutkan. Aji setengah berlari terus menjauh sambil tak lepas melihat dan mencari kemungkinan untuk bersembunyi dari pemeriksaan. Kursi demi kursi, dari yang terisi penumpang atau pun yang kosong, ia perhatikan kemungkinannya. Jika sebelumnya ia melihat kembang-kembang penuh senyum atau setidaknya penumpang tertidur dalam mimpi indah, kini terasa semuanya seolah berubah menjadi seringai yang menakutkan. Dari penglihatannya yang setengah berlari, Aji merasakan semua penumpang ini menolak kehadirannya dan pasti tak akan berkenan menolongnya. Pada saat itu pula Aji seperti melihat semua penumpang telah berubah wajah, ada yang bermasker pelindung udara beracun, berganti wajah menyerupai hewan, ada juga yang menjadi bertaring sambil menyeringai ketika ia tatap. Gerbong demi gerbong yang ia lewati pun kini telah mejadi lorong gelap seperti di dalam film-film horror.
“Tak mungkin ikut duduk bersama penumpang lain,” kata hati Aji sambil terus berjalan.
Satu-satunya yang kini terpikirkan adalah mengunci diri di salah satu WC. Perhatiannya pun kemudian diarahkan kepada kemungkinan tersebut, dan di tengah rasa gelap lorong-lorong gerbong tiba-tiba ada seberkas sinar petunjuk “pergilah ke WC kelas eksekutif.” Aji mengikuti anjuran yang muncul di kepalanya. Ia terus berjalan ke belakang hingga sampailah di gerbong restoran yang memisahkan rangkaian gerbong ekonomi dengan kelas eksekutif. Sejenak ia menghentikan langkah, terpikir jika terus masuk ke gerbong itu akan bertemu dengan sejumlah petugas KA, sekurang-kurangnya akan bertemu dengan petugas restoran KA. “Akankah mereka mencurigai saya sebagai penumpang gelap?” Tanya Aji kepada dirinya sendiri.
“Ah, tapi tak ada jalan lain, apapun risikonya,” jawab hati Aji pula sambil menetapkan diri terus melangkah menjauhi arah kondektur. Dengan kepala merunduk menghindar pertemuan pandang mata dengan siapapun yang ada di gerbong restoran, Aji menerobos beberapa orang yang sedang duduk sekadar minum atau pun makan, terdengar pula ada suara tawa di antara mereka yang tiba-tiba terasa seperti menertawakan dirinya.
“Ah, selamat,” ada rasa lega kala gerbong itu selesai terlewati. Aji langsung menghampiri WC di ujung gerbong tersebut, tapi, dengan tangan masih di gagang pintu, ia mengurungkan niatnya. “Terlalu dekat dengan restoran,” pikirnya sambil membayangkan pula kemungkinan WC tersebut termasuk WC yang sibuk digunakan terutama oleh petugas-petugas restoran. Ia pun meneruskan langkahnya. Tiba di gerbong eksekutif yang jauh lebih nyaman dari gerbong ekonomi tadi, tak memberikan perubahan apa-apa, gerbong ber-AC luput dari perhatian karena satu-satunya yang dituju adalah WC yang dirasakan aman.
Di ujung gerbong eksekutif, Aji memeriksa WC yang sebelah kiri, terbuka tapi gelap, mungkin karena lampunya sudah putus. Ia pindah ke WC kanan, tampak terang, dan segera masuk lantas mengunci diri. Sejenak di dalam, Aji berfikir lain, “mungkin lebih aman malah di WC yang gelap.” Ia pun keluar lagi dan memutuskan masuk, sembunyi dan mengeram diri di WC gelap.
Kecuali jika ada bocoran cahaya dari luar, WC itu pekat sepanjang jalan. Jendelanya yang selebar 20an cm memanjang sekira 100 cm, terbuka mengirim angin cukup deras. Meski ada bocoran cahaya dari luar, tak cukup jelas bagi Aji untuk melihat segalanya di dalam. Selain cahayanya tak begitu kuat pun karena jalannya KA yang cepat, maka cahaya dari luar itu hanya sekilas-sekilas saja. Yang terasa kuat adalah bau pesing serta bau lainnya.
Ruang gelap sekira 120 X 120 cm dengan bau menyengat, itu malah memberikan rasa aman, ada lagi cahaya terang dan harapan di dalam hati dan pikiran Aji. Ia pun menghela nafas sambil bersandar di pintu WC yang sudah ia kunci. Setelah itu ia tertawa, betul-betul tawa yang lepas, bebaur dengan gemuruh suara roda KA dan hembusan angin. Ia ingat kembali bagaimana tadi melihat wajah-wajah orang-orang berubah menjadi seperti bermasker, bertopeng, bertaring, serta dirinya seperti sedang menembus lorong gelap. Sementara kini di tempat gelap, sempit, bahkan bau malah seperti berada di tempat yang terang; begitu senang karena sepertinya sedang menggenggam atau tepatnya dipeluk harapan. “Betul juga,” pikirnya setelah reda dari tawa, “cahaya itu baru terasa justru ketika di dalam kegelapan.” Dan selebihnya, Aji menjadi tahu bahwa keadaan di luar itu amat bergantung kepada keadaan di dalam dirinya. “Gerbong-gerbong itu yang tadi-tadi juga, begitu pula orang-orangnya,” bisiknya pada kegelapan, “tapi begitu keadaan diri berubah, maka berubah pula semua keadaan yang terlihat di luar itu.” Aji tertawa lagi, dan juga cukup keras serta sebebas-bebasnya. Ia sadari bahwa tadi itu keadaan di dalam dirinya sedang dalam ketakutan, maka apapun tiba-tiba menjadi seperti yang ia takutkan.
Rasa takut, obrolnya pula kepada dirinya sendiri, itu memang harus dilawan dan dikalahkan. Tadi terbukti harus dilawan oleh dirinya sendiri. Tapi ia ingat pula bahwa adakalanya dorongan untuk melawan itu karena adanya paksaan dari luar. Rasa takut yang nyaris sama, tapi masih di bawah keadaan takut kala sendiri, itu terjadi saat dirinya baru saja menginjak kelas I SMP.
Saat awal masuk SMP antara tahun 1965 - 1966, sekolah-sekolah agak sering diliburkan karena sering terjadi keributan. Ya, yang ia fahami adalah keributan karena tidak tahu apapun yang sesungguhnya terjadi. Awalnya adalah beberapa kali seluruh siswa dibariskan ke gedung yang kami kenal dengan nama Konsulat Julius Usman di jalan Lembong. Mereka, di sana, bergabung dengan sekolah-sekolah lain untuk mengikuti upacara menaikan bendera merah putih, menyanyikan lagu Indonesia Raya, setelah itu bubar dan pulang ke rumah masing-masing, dan bukan kembali ke sekolah. Gedung dan terutama areal halamannya, sesungguhnya lebih mereka kenal sebagai tempat pertandingan bola basket karena memang sering berlangsung pertandingan antar-sekolah tingkat SMP di sana. Tapi belakangan itu lebih sering dijadikan tempat untuk upacara. Suatu saat sekolah diliburkan lagi tapi tidak ada kejelasan harus berbaris lagi ke konsulat. Kabar simpang-siur pun beredar di antara teman-teman sekolah. Terdengar kabar, misalnya, bahwa anak-anak diharuskan berkumpul di “markas.” Tak jelas siapa yang berkabar, maka anak-anak pun lebih banyak yang pulang ke rumahnya masing-masing. Aji pun semula bermaksud pulang. Tepat menjelang melewati Sekolah Nan Hua yang kala itu telah berubah menjadi SMA, Aji dan beberapa kawannya bertemu dengan serombongan besar siswa SMA. “Kita ke markas,” demikian di antaranya yang Aji dengar di antara kehiruk-pikukan suara siswa SMA itu. Di jalan itu pula mereka membentuk barisan, Aji dan kawan-kawan digiring untuk bergabung, serta langsung bergerak menuju yang disebut “markas” tadi. Antara senang ada ramai-ramai, rasa ingin tahu, dan keengganan untuk pulang, itu campur baur membimbing langkah Aji mengikuti barisan siswa SMA tersebut. Di tengah jalan, teman Aji yang semula sekira ada enam orang telah berkurang tinggal tiga orang saja, sebagiannya itu memutuskan pulang ketika perjalanan sudah mendekati belokan jalan ke rumah mereka.
Yang dimaksud “markas” itu ternyata memang ada tandanya di papan putih dengan aksara merah dan hitam bertuliskan “Markas KAMI dan KAPI – Bandung.” Gedungnya kumuh berlantai dua, sebagian besar bercat warna merah tua, berada di ujung timur jalan Suniaraja. Tiba di sana, siswa yang semula dalam barisan menjadi bubar berantakan karena sudah terjadi kesibukan yang sangat simpang siur. Aji pun tak tahu harus apa dan entah harus ke mana, kecuali tiba-tiba mendengar suara “kamu ikut sini,” seraya tangannya ditarik oleh seseorang. Dengan tangan yang setengah tergusur dengan langkah terburu-buru, Aji masih sempat memperhatikan sumber suara cukup keras yang muncul dari beberapa kendaraan panzer dan tank baja yang melintas viaduct. Rasa ingin tahu dan keengganan pulang ke rumah, kini telah berubah menjadi bingung dan cemas. Orang yang menuntun atau tepatnya menggusur Aji, ternyata terdiri dari satu rombongan. Macam-macam pakaian mereka itu, ada yang berpakaian loreng tapi bukan tentara, ada juga yang serba hitam, dan ada pula yang memakai jaket sekolahannya. Rombongan ini menuju arah barat, ke arah Pasar Baru. Tiba di jalan Alkateri, rombongan berbelok, langsung menggedor sebuah toko cat yang sesungguhnya tutup. Gedoran kian keras. Setelah agak lama gedoran berulang, tampak salah satu papan penutup toko bergerak lantas terbuka. “Kamu masuk ke sana, ambil cat dan oper ke sini,” perintah orang yang memegang tangan Aji. Karena tidak faham, Aji mencoba menatap wajah yang memerintahnya. Tak ada yang bisa dipahami kecuali dorongan dan bentakan “cepat!” Tentu saja Aji amat sangat ragu. Ketika tangannya menempel di celah papan terbuka, itu masih sempat bertahan diam karena masih bingung. Tapi hanya dalam hitungan detik tubuhnya didorong masuk.
“Oh, karena alasan ini saya diajak,” sempat sesaat Aji berfikir seperti itu sambil menyadari tubuhnya yang kecil, dan karena itu pula ia kerap lebih mudah dari teman-temannya untuk menerobos celah di pinggir bioskop. Tapi pada saat itu pula antara takut dan bingung campur aduk. Belum juga sempat berfikir lebih jauh lagi, terdengar perintah dari luar, “ambil cat-cat di sana!”
Ruang di dalam toko sesungguhnya agak gelap karena lampu ruangan padam. Tapi tidaklah gelap pekat, maka Aji bisa melihat deretan rak cat hampir mencapai atap. Rasa takut antara mengambil dan takut oleh yang memerintah, membuat Aji terpaku di ruang yang terasa asing itu.
“Ambil saja,” lagi-lagi bentak suara dari luar ditambah suara gedoran di papan, dor dor dor! Saat itu pula Aji melihat seorang tua berdiri di belakang meja dengan baju piyama bergaris putih dan biru muda. Aji yakin bahwa orang tua tersebut pemilik toko. Orang tua itu memandang Aji, sebaliknya begitu pula Aji yang bingung sekaligus takut. Orang tua itu menunjuk ke salah satu rak. Bagi Aji itu difahami sebagai izin untuk mengambil cat, barulah ia mau bergerak menghampiri deretan cat warna merah. Dua kaleng ia bawa ke celah papan terbuka tadi dan disambut oleh yang menerimanya di luar. “Lagi,” kata suara dari luar, Aji pun kembali mengambil cat, orang tua pemilik toko masih berdiri di tempat yang sama. Itu kira-kira sampai empat balik. “Cukup,” kata suara dari suara di luar. Sebelum keluar, Aji masih menyempatkan menatap orang tua itu, pun tidak mengeluarkan kata-kata, Aji pun keluar dengan pandangan agak silau karena di luar benderang tengah hari. Rombongan pun bergerak ke utara. Tak jauh karena hanya menyeberang jalan saja. Tiba di seberang, beberapa orang dari rombongan itu naik ke atas plafon beranda jejeran toko di sana yang juga semuanya tutup. Dengan cat yang tadi diambil melalui tangan Aji, mereka menulis “Turunkan Harga dan Perbaiki Sandang-pangan,” hurufnya besar-besar hingga seluruh tulisan itu melintas beberapa toko. Meski awalnya ada perasaan antara takut serta tak suka karena mengambil dengan paksa, setelah melihat tulisan itu, ada juga rasa bangga di dalam dada Aji. Tulisan itu semuanya dengan cat merah, di bagian bawah tiap aksara ada lelehan catnya, aksara “g”nya malah hampir tak terbaca dan nyaris membentuk bulatan seperti “o” tanpa bolong.
Semuanya berjalan begitu cepat. Bahkan ketika tulisan itu belum usai, beberapa orang di sebelah timur melambai-lambaikan tangan memanggil rombongan yang menulis di tembok. “Ayo, rapatkan barisan, bergerak ke kotapraja,” teriak salah seorang dari mereka, disusul dengan bunyi sirine dan munculnya kendaraan polisi, tentara, serta sebuah panzer. Yang tadi menulis di atas, itu berloncatan dan bergabung dengan teman-temannya. Hiruk pikuk tapi tidaklah kacau. Rombongan KAMI dan KAPI hanya sesaat dari beberapa arah berlarian untuk gabung dalam jumlah lebih besar di jalan, setelah itu semuanya berjalan kaki, serempak, saling bergandengan tangan, dan meneriakan yel-yel “turunkan harga,” “kita tidak perlu monumen-monumen lagi,” “kita bosan dengan pidato,” “hancurkan gestapu,” “bubarkan PKI,” terus berulang-ulang hingga menghilang di belokan, kendaraan polisi, tentara, serta sebuah panzer mengikuti dari belakang mereka.
Tinggalah Aji seorang diri. Semua, termasuk yang tadi menuntunnya, telah lupa. Aji masih berdiri menghadap tulisan yang dibuat dengan cat yang ia ambil. Jalan jadi lengang. Aji masih belum juga mengerti dengan semua kehebohan yang berjalan begitu cepat itu. Ia melangkah sedikit ke tengah jalan, senyap tak ada siapapun, ia pungut kaleng cat kosong yang tadi dilempar seseorang dari atas, sudah berlumur tumpahan cat, tak terbaca lagi merk-nya. Karena masih basah, sisa cat itu nempel di tangannya, kalengnya ia lempar dan masih ia pandangi. Muncul iba pada orang tua pemilik toko yang wajahnya muncul lagi di dalam ingatannya, ada juga perasaan bersalah, tapi ketika tengadah melihat lagi tulisan “Turunkan Harga dan Perbaiki Sandang-pangan,” itu; kembali ada rasa bangga, merasa terwakili, merasa bahwa tulisan itu sepantasnya ada. Itu bukan karena faham, melainkan secara samar-samar ia rasakah ada hubungannya dengan yang ia alami.
Aji bersama Abah, indung, seperti keluarga-keluarga lain tetangganya, dan keluarga-keluarga yang datang dari jauh; nyaris sekali seminggu, bisa juga dua minggu sekali, dan pernah juga sampai dua bulanan tak datang jua – berbaris di loket gerbang masuk Pasar Baru untuk mendapatkan beras, atau minyak tanah, minyak goreng, gula pasir, serta sekali-kalinya susu bubuk. Barang kebutuhan pokok tersebut sejak akhir 1963 sulit didapat. Jika pun ada di pasar, harganya begitu tinggi hingga tak terjangkau oleh masyarakat. Maka diberlakukanlah sistem penjualan bahan kebutuhan pokok harga murah yang dikelola oleh pemerintah. Cara ini dimaksudkan bagi masyarakat miskin, tapi karena kemiskinan merata, maka sistem itu pun nyaris menjadi kebutuhan seluruh masyarakat. Waktu pembagian sesungguhnya dilaksanakan pada siang hingga sore menjelang malam. Tapi antrian sudah berlangsung sejak subuh, memanjang, melingkar ke jalan S, jalan A, dan ujungnya bertemu kepala di jalan OID. Abah dan indung mengantri bergantian. Biasanya Abah yang mendapat giliran antri awal, menjelang siang digantikan oleh indung, lantas Aji dapat giliran berikutnya. Hingga kira-kira waktu loket pembagian dibuka, antrian digantikan kembali oleh Abah. Tak jarang terjadi bahwa yang mengantri terutama paling belakang itu tidak mendapatkan bagian karena persediaannya telah habis.
“Ah, lagi-lagi beras yang jelek,” kata Abah setelah membuka hasil antrian dan sambil duduk di jojodog untuk sekadar membuang lelah. Indung ikut memeriksa kantung beras yang telah terbuka itu untuk kemudian memindahkannya ke baskom sebelum kemudian menyimpannya di padaringan.
“Betul, berasnya kuning, pecah-pecah, dan banyak kutunya,” kata Indung sambil memeriksa beras dan memilih untuk membuang pasir dan kutu-kutunya. “Tapi, ya lumayan daripada sama sekali tidak punya beras,” lanjutnya sambil terus dengan tekun memeriksa beras yang tak lebih dari 5 kg, itu pun jika timbangannya tidak kérok.
“Turunkan Harga dan Perbaiki Sandang-pangan.” Aji membaca kembali tulisan itu. Selain kesulitan pangan dan juga sandang, Aji tetap tak faham dengan maksud “turunkan harga.” Ia hanya tahu peristiwa yang sangat menyakitkan bagi dirinya, maka ia menduga-duga ada hubungan dengan bencana yang dialaminya. Bahwa suatu ketika uang Rp. 1000,00 tiba-tiba berubah menjadi senilai Rp.1,00 yang artinya persis hanya cukup untuk membeli sebuah kerupuk, saat itulah cita-cita Aji yang dikumpul selama dua tahun menjadi luluh-lantak.
Bagaimana tidak menyakitkan? Sejak kelas 3 SD, Aji menabung karena ingin punya sepatu kulit dan tas sekolah yang baru. Seluruh uang jajannya yang sebesar Rp. 2,00 ia tabungkan setiap hari. Jika teman-temannya jajan ‘pingping cakcak,’ Aji hanya bisa nonton, dan beruntunglah jika ada teman yang berbelas kasih membaginya.
Pingping cakcak jika diterjemahkan sesungguhnya berarti ‘paha cicak,’ tapi bukan itu maksudnya. Yang sebenarnya adalah penganan anak-anak yang terbuat dari gula, berbentuk memajang warna putih, harganya Rp. 1,00 per potong yang diukur per tiga jari. Jika seorang anak membeli seharga Rp. 2,00 maka ia mendapatkan ‘pingping cakcak’ sepanjang enam jari. Mendapatkan nama ‘pingping cakcak’ adalah dari cara si penjual saat menjajakannya, yaitu dengan memukul sepotong besi yang menimbulkan bunyi ‘ting ting tak tak,’ yang akhirnya dilafalkan menjadi ‘pingping cakcak.’
Cara menabung waktu itu yaitu dengan cara menempelkan semacam perangko di atas lembar kartu tabungan. Nilai ‘perangko’ mulai dari Rp. 1,00 hingga Rp. 5,00 yang dikeluarkan oleh Bank Tabungan Negara. Menabungnya pun bisa di warung-warung yang menyediakan sarana ini. Aji bahkan menabung di warung Bi Cacih yang berjualan sayur, sebab warung inilah yang selalu dilewati waktu pergi dan pulang sekolah. Hanya saja kelak, entah karena apa, menabung tak bisa lagi di warung melainkan dipindahkan ke sebuah ‘bank anak-anak’ yang ditempatkan di dalam Taman Lalu-lintas. Tentu saja bagi Aji menjadi sangat merepotkan, selain menjadi jauh dan harus memakai waktu khusus – yang paling merepotkan bahwa resminya masuk ke Taman Lalu-lintas itu harus bayar. Aji melanjutkan tabungannya seminggu sekali yaitu setiap hari Minggu, hari bukanya Taman Lalu-lintas. Untuk masuknya pun tak kalah akal, yaitu dengan cara menerobos kawat duri yang agak jauh dari gerbang masuk yang sebenarnya. Selain menabung, Aji tak bisa menikmati apa-apa kecuali nonton orang-orang sebayanya yang naik korsel, kereta-kereta apian, atau berenang. Tapi masih untung di sana ada sarana gratis berupa ayun-ayunan, papan jungkit, dan korsel dorong. Di sanalah Aji kadang menyempatkan bermain sendiri. Ya, sendiri karena tak satu pun dari teman di rumah atau di sekolahnya yang menabung di sana.
Yang paling menarik hati Aji jika tiba pada hari Minggu, sebetulnya bukan waktu tiba di Taman Lalu-lintas, melainkan waktu di perjalanan pergi atau pun pulangnya. Sejak dari jalan Kebon Jukut dan terutama mulai dari jalan Aceh hingga di seputaran luar Taman Lalu-lintas, itu berjajar pohon kenari. Dengan cara memungut buah kenari yang jatuh saja, terkadang dua kantong di kiri dan kanan celana Aji bisa penuh. Adakalanya beberapa buah kenari itu dipecahkan di sana dengan cara dipukul menggunakan batu.
Sambil jongkok dan masih bersandar ke pintu WC, Aji tersenyum mengenang kemewahan saat makan kenari hasil pungutannya itu. Tapi sambil menghirup bau pesing WC yang begitu sengit, tetaplah keperihan hancurnya tabungan tak tergantikan. Ia mencoba mengingat-ingat bahwa upayanya menabung itu tak kurang dari setahun. Karena sering juga menabung lebih dari Rp. 2,00 per harinya, Aji ingat bahwa jumlah yang tertabung telah mencapai Rp. 1.200,00 dan itu hampir cukup untuk mencapai cita-citanya. Tapi oleh kejadian yang tak difahaminya, uang tabungannya selama setahun itu menjadi hanya senilai sebuah kerupuk seharga Rp. 1,00 dan sisanya hanya menjadi Rp. 0,2 yang tak bisa dibelanjakan apapun.
Jalannya KA terasa melambat, cahaya dari luar pun lebih terang, rupanya sudah mau masuk stasiun Cicalengka. Sejumlah kenangan yang bagaikan adegan-adegan layar film di kegelapan, itu pun tiba-tiba terputus, berterbangan, menghilang, berganti lagi dengan ketegangan. Aji memberanikan diri melongok lewat kaca jendela yang terbuka, lantas segera merapatkan diri lagi ke pintu. Kini ia bisa melihat WC tempatnya sembunyi itu memang tidak berair tapi rupanya suka dipakai kencing oleh orang-orang yang kepepet. Itulah yang membuat baunya begitu sengit. Dindingnya pun banyak ditulisi kata-kata dan gambar cabul serta ada pula yang sekadar menuliskan nama.
Stasiun ini resminya bukanlah tempat perhentian KA Mutiara Selatan untuk menurunkan atau pun menaikan penumpang. KA berhenti karena menunggu KA lain dari arah berlawanan, sebab jalur rel selanjutnya akan menjalani jalur tunggal yang cukup panjang, paling akan jumpa lagi perhentian di Cipeundeuy jika tidak di Tasikmalaya. Perlahan-lahan Aji memberanikan diri keluar untuk sekadar menghirup udara segar. Tapi, entah mengapa, belum lagi sempat Aji menongolkan kepala di pintu yang terbuka, terdengar peluit aba-aba kereta harus jalan kembali. Ia pun segera menarik diri dari pintu, tidak langsung masuk kembali ke WC melainkan menatap jauh ke sepanjang ruang gerbong di depannya. “Aman,” cetusnya dalam hati karena tidak melihat kondektur di sana. Aji memutuskan untuk berdiam di bordes sepanjang situasinya dirasakan aman.
“Rasa takut yang ini beda dengan waktu disuruh mengambil cat,” kata Aji sambil sejenak menikmati kebebasan dari penjara WC. Di sana itu ada banyak orang lain, di sini betul-betul sendirian. Menjadi berani di sana karena dorongan bahkan tekanan orang lain, sementara menjadi berani di sini karena keterpaksaan dan karena tidak ada pilihan lain. “Ah, tapi dua-duanya sama tidak enaknya,” ucap Aji sambil memutuskan melangkah ke depan setelah dilihatnya sampai sejauh ini aman dan tidak ada orang lain yang bergerak. Satu demi satu penumpang diperhatikannya kembali, tak ada lagi yang bermasker, bertopeng, atau bertaring; umumnya kelihatan tertidur, meski beberapa ada juga yang memandang kegelapan lewat kaca jendela, dan beberapa lagi tampak sedang ngobrol. Aji tak berani berjalan lebih dari satu gerbong, setelah tiba di ujung depan ia segera kembali mendekati pangkalannya: WC tempat ia sembunyi.
KA ini ternyata berhentinya di stasiun kecil Cipeundeuy. Di sini rupanya pertemuan dengan KA lain dari arah timur itu. Seusai pertemuan, KA tidak segera jalan. Sejumlah pedagang sejak tadi berhamburan menjajakan dagangannya. Beberapa penumpang tampak turun untuk sekadar meluruskan badan, ada juga yang belanja penganan atau nasi bungkus, Aji ikut turun karena justru merasa aman di tengah keramaian. Setelah di bawah tampak beberapa petugas berjongkok-jongkok memeriksa roda kereta, satu orang menggunakan lampu senter, dua orang lagi yang masuk ke bawah badan kereta menggunakan lentera. Terdengar yang di bawah memukul-pukul bagian kereta dengan palu besi. Mereka menyusur dari satu gerbong ke gerbong berikutnya hingga yang paling belakang. Seusai itu tampak petugas stasiun berpici merah membawa sebuah alat mirip bentuk raket. Para penumpang yang tadi turun, cepat-cepat naik kembali, Aji ikut naik. Peluit dari petugas berpici merah melengking menembus sepi. Kereta kembali berjalan.
“Demi keamanan,” kata hati Aji yang memutuskan untuk mengeram diri kembali di dalam WC.
Jalannya kereta tak secepat sebelumnya yang meluncur di atas permukaan datar berlatar pesawahan, kini merangkak menyusur gunung-gunung di kegelapan malam. Derit roda besi bertemu rel yang juga besi, berderit-derit bersahutan dengan jeritan rem, mengabarkan jalan berkelak-kelok. Tak juga bertambah cepat ketika tiba di atas jembatan Trowek, bahkan rasanya bertambah lambat. Jembatan Trowek yang meninggalkan banyak cerita itu dibangun pada periode kedua pembanguan rel kereta api di pulau Jawa, yaitu tahun 1888 – 1889. Sebelumnya dua jajaran pegunungan yang terpisah dan dipotong oleh dua sungai Cipamali dan sungai Binoang, belumlah terhubung. Dalam waktu setahun itulah mulai terhubung bersama pengerjaan seluruhnya yang menghubungkan Cicalengka dan Cilacap. Jadi usia jembatan itu sudah 84 tahun. Sudah cukup tua. Aji melongok dari kaca WC, tampak lampu-lampu perkampungan dan kendaraan di jalur Bandung – Tasimalaya berkerlap-kerlip jauh di bawah. Udara dingin menerpa wajahnya lewat jendela yang terbuka. Ia pun duduk kembali beralas ranselnya.
**
Lewat pukul 01:30 dini hari, KA tiba di stasiun Yogyakarta dan kembali berhenti. Selepas Tasikmalaya, Aji rupanya tertidur dengan posisi duduk beralas ransel birunya. Ia terbangun karena desakan lapar. Perlahan-lahan ia buka kunci WC-nya, mengintip dari celah pintu yang dibuka sedikit, setelah merasa aman ia keluar. Diluar dugaannya karena tak terintip dari celah yang mengarah ke kanan, di sebelah kiri pintu WC ternyata telah ada seseorang tengah berdiri dan bersiap-siap akan turun. Orang berjaket warna khaki itu tersenyum ramah lantas turun. Aji mengikutinya tapi kemudian terpisah di tengah lalu-lalang pedagang makanan, orang-orang yang turun untuk sekadar istirahat atau mencari makanan, serta penumpang baru yang naik.
Aji menaksir-taksir pedagang makanan yang menurutnya paling pantas untuk kemampuannya. Satu demi satu dari pedagang yang umumnya ibu-ibu berjongkok di pelataran atau pun yang bergerak menjajakan, itu diperhatikannya. Melihat ada yang sedang bertransaksi di salah satu sudut dekat tiang, Aji menghampiri karena ingin tahu harga nasi bungkus itu. Ia mengintip dari jarak sekira dua langkah, kecuali jumlah bungkusannya yang sebanyak tiga buah - tak begitu jelas berapa uang yang diberikan si pembeli dan tak terlihat juga berapa uang pengembaliannya. Si ibu berkain batik dengan baju potongan kebaya putih lusuh itu menatapnya, “satus limang puluh, nduk... seratus lima puluh saja,” sapanya.
Aji masih tercenung menimbang, saat itulah ia merasa ada yang menepuk pundaknya. Ia menoleh, ternyata orang berjaket warna khaki tadi sambil menyodorkan bungkusan. “Ini, dan cepat naik, kereta mau jalan lagi,” ucapnya seraya memburu pintu kereta, Aji mengikuti di belakangnya. Orang itu menuju ke tempat duduknya, sementara Aji kembali ke bunkernya. Dari pengalamannya ia tahu jika usai berhenti di tempat perhentian dan menaikan penumpang baru, tak lama lagi biasanya ada kondektur untuk memeriksa karcis. Ia tak berani segera membuka bungkusan hangat yang dipastikan berisi nasi itu. Pendengarannya dipusatkan kepada kemungkinan suara yang mengetuk pintu WC tempatnya bersembunyi, sementara hatinya berulang-ulang menyampaikan doa, “lewat, lewat, lewat.” Setelah lewat stasiun Klaten baru ia rogoh kantung plastik kuning itu, ternyata lengkap dengan air minum di dalam kantung plastik yang lain. Gelap, tapi dengan rabaannya ia menduga lauknya adalah tempe, tahu, sepotong daging, dan sayur yang tak dikenalinya, nasinya masih lumayan hangat. “Daging ayam,” cetusnya setelah daging itu digigitnya dan kemudian lahap makan semua isi bungkusan itu. Bau WC yang sengit sudah lama tak mengganggunya lagi, apalagi kini terkalahkan oleh nikmatnya makan dan terutama sekali oleh lapar yang menjadikanya rakus.
Berkali-kali Aji sendawa, dengan perut kenyang ia selojorkan kaki tanpa dipikir lagi ruang itu kotor atau pun tidak. Sambil menatap dinding yang nyaris tak tampak karena gelap, Aji berbisik, “andai waktu itu pun ada yang ngasih coklat dan es krim, tentu jadi tahu rasanya.” Aji tertawa karena ingat lagi masa kecilnya. Suatu sore di depan rumah es krim Baltik, Aji berdiri lama hanya untuk menyaksikan orang-orang makan es krim di bawah tenda payung. Hari sangat terik, Aji pun bertanya dalam hati, “bagaimanakah rasanya es krim?” Tak jauh melangkah dari tempat itu, ia melihat seorang anak seusianya sedang makan coklat, pun sambil berdiri memandang di balik kaca, ia berkata lagi, “seperti apakah rasanya coklat.” Hingga kini ia terduduk selonjor di dalam gelap, dua makanan itu belum pernah ia mendapatkannya. Sambil menatap dinding yang nyaris tak tampak karena gelap, rasanya Aji ingin menulis seperti orang-orang menuliskan kata-kata jorok di dinding itu. Ia ingin menulis, “ada tiga dendamku: satu, tak mau terulang naik kendaraan tanpa bayar, bahkan nanti keliling dunia dengan membawa karcis; dua, makan es krim; dan tiga, makan coklat.”
**
Kantuk dan sepenggal mimpi indah menyelimuti kecemasan Aji dari kejaran kondektur. Ia terbangun oleh cahaya pagi yang menerobos jendela. Ketika kereta melambat dan suara rodanya kian pikuk tanda akan memasuki stasiun, Aji melongkok lewat jendela bolong, “Mojokerto” demikian tulisan di stasiun yang sekadar dilewati dan kemudian kecepatan kereta kembali ke semula. Ruang WC itu pun kini segalanya tampak jelas, tapi tulisan “tiga dendam” tak ia temukan di salah satu dindingnya, kecuali ia temukan remasan bungkus nasi bekas makannya tadi malam, bekas bungkusan itu pula yang mendorongnya untuk keluar dari persembunyian. Ia amati kembali satu demi satu penumpang di gerbong, Aji mencari orang tua berjaket warna khaki. Ia ternyata duduk di deretan agak tengah, tempat duduk nomor 19 D. Belum juga Aji menghampiri dan menyapanya, orang tua itu melambai kemudian menunjuk tempat duduk di sisinya yang kosong.
“Sudah tidak akan ada lagi pemeriksaan, sebentar lagi kita sampai,” kata orang tua berjaket warna khaki itu langsung setelah Aji duduk di sampingnya. Aji kaget, kata-kata untuk mengucapkan terimakasih yang telah disiapkan berganti pertanyaan, “bapak tahu?”
“Kalau punya karcis, tentu tidak akan sembunyi di WC. Hendak ke mana? Surabaya?” Tanya orang tua itu ramah. Aji jadi ingat Abahnya, tapi orang ini tampak sedikit lebih muda dan lebih gagah.
“Saya mau ke Bali,” jawab Aji.
“Oh, masih jauh. Paling setengah jam lagi kita sampai di Surabaya, sudah pernah ke Bali?” Sambung orang tua itu.
“Belum Pak, bapak mau ke Bali juga?” Tanya Aji penuh harap akan mendapatkan teman.
“Tidak, saya hanya sampai Surabaya,” jawab orang tua yang diperlakukan Aji sebagai dewa penolong itu.
“Oh,” ucap Aji agak kecewa.
“Kamu masih sekolah?”
“Baru saja lulus, Pak.”
“SMA?”
“SMA!”
“Oh, rupanya kamu seusia putriku, ia pun baru lulus juga, kini ia kembali ke Surabaya untuk meneruskan kuliahnya di sini.”
Obrolan ringkas inilah yang membuat perjalanan Aji menjadi seperti kisah roman picisan yang penuh dengan kejadian serba-kebetulan atau seperti kisah-kisah pewayangan dan dongeng orang suci yang selalu disertai riwayat keajaiban. Tapi kali ini betul-betul terjadi pada diri Aji. Orang tua ini bernama Franciscus Xaverius Mujianto, tapi ringkasnya dipanggil Pak Efix, tugasnya di ketentaraan bagian penerangan tapi lebih tepatnya lagi sebagai rohaniawan di ketentaraan. Putrinya yang tadi disebut baru lulus, itu bernama Anneke. Itu pula ajaibnya, Anneke adalah teman sekelasnya Aji. Selama ini Aji tak tahu jika ayah Anneke itu tentara, tapi Aji tahu tinggalnya di B itu di rumah sederhana di jalan P karena pernah belajar bersama dengan teman-temannya yang lain. Dan yang paling Aji ingat; Anneke dikenal sebagai teman sekelasnya yang paling baik, ramah seperti ayahnya yang kini baru dikenalnya, termasuk jarang ngobrol, seorang Kristiani yang shaleh. Tentang keshalehan Anneke, tak sedikit pun disinggung oleh Aji kecuali disimpan di dalam hatinya. Tapi tentang rumah yang memang begitu mengesankan baginya, ia ceritakan kembali kepada Pak Efix untuk meyakinkan bahwa dirinya pernah di sana. Rumah itu berupa bangunan setengah tembok dan bagian atasnya berupa bilik anyaman bambu yang dilabur kapur putih. Tiang-tiang rumah, pintu, jendela dan bingkainya dicat warna kuning muda yang dekat ke warna putih juga. Rumah itu berjajar dengan rumah-rumah lainnya membentuk aksara “U,” sehingga keseluruhannya mengesankan lingkungan asrama, di tengahnya berupa halaman terbuka yang berlantai tembok sederhana. Yang paling mengesankan adalah kebersihan lingkungannya. Ubinnya biasa, berwarna abu-abu tapi mengkilap tanda senantiasa dibersihkan dan selalu dipel. Di depannya ada sedikit beranda berhias beberapa pot tanaman kuping gajah yang juga daun-daunnya terawat. Pintu masuk ruang depan terhubung dengan pintu ke ruang tengah yang tak berdaun pintu, di atasnya terpasang sebentuk salib terbuat dari kayu. Di ruang tengah terdapat sebuah meja agak besar yang difungsikan juga sebagai meja makan. Di atas meja itulah Aji, Anneke, dan teman lainnya belajar bersama. Mendengar Aji menceritakan rumah itu, Pak Efix hanya tersenyum.
“Sebaiknya kamu mampir dulu di Surabaya nanti, Anneke akan senang jumpa teman sekolahnya,” kata Pak Efix di ujung cerita Aji tentang rumah di jalan P itu. Aji tak segera menjawab, diam sambil membuang pandangan ke arah jendela kereta yang sudah memperlihatkan deretan bangunan gedung-gedung, tanda sudah mau memasuki perkotaan. Teringat pula ia kepada tulisannya di dinding WC yang tak tertulis itu, ia ingin menambahkan “mengapa ada orang yang bisa terus sekolah dan ada yang tak bisa terus, mengapa ada orang yang mampu dan mengapa ada yang tak mampu?” Tanda tanya di dinding itu dibuatnya besar sebagai tanda penandasan. “Ah,” tulis Aji di dalam angannya pula, “kalau sekolahan itu benar tempat ilmu, maka akan kucari ilmu itu di tempat-tempat lain.”
“Saya akan langsung ke Bali saja, salam sama Anneke,” kata Aji setelah lama terdiam. Jawaban sisanya, tentu ia simpan, ia tetap tak ingin perjalanannya yang tak menentu karena tak bisa melanjutkan sekolah itu diketahui oleh temannya.
“Kamu masih harus meneruskan perjalanan dengan bus dari Wonokromo, sayang kereta ini tak berhenti di sana sehingga kamu harus kembali, di belakang stasiun Gubeng nanti ada angkutan kota ke arah Wonokromo, kalau tidak salah hampir tiap jam ada yang ke Denpasar.”
“Masih jauh ya, Pak? Barangkali Bapak tahu, berapa ongkosnya dari Wonokromo hingga Denpasar? Kini Aji sudah tak sungkan lagi untuk bertanya.
“Sampai ke Ketapang kira-kira empat atau lima jam, menyeberang sekitar 40 – 60 menit, lantas dari Gilimanuk ke Denpasar sekitar 2 atau bisa sampai 4 jam. Ya, kira-kira masih tujuh atau bisa juga sampai 10 jam perjalanan. Bapak tak tahu lagi berapa ongkosnya, tapi kira-kira antara Rp. 2.000,00 sampai Rp. 3.000,00 atau bisa juga sudah naik,” urai Pak Efix.
“Terimakasih, Pak, terimakasih juga makanannya tadi malam,” Aji seperti mendapatkan kesempatan untuk mengucapkan kata yang sejak tadi tertahan.
“Ke mana tujuanmu di Denpasar?” Tanya Pak Efix.
Aji hanya bisa terdiam karena memang tak punya jawaban untuk pertanyaan tersebut.
“Ada saudara di sana?” Tanya Pak Efix lagi. Aji menggelengkan kepala. Pak Efix tampak mengernyitkan dahi. “Kalau begitu sebaiknya kamu ke rumah bapak,” lanjutnya dengan nada mulai agak was-was. Aji lagi-lagi menggelengkan kepala dan hanya mengatakan “terimakasih.”
“Jadilah dirimu sendiri, jangan pernah mau menjadi orang lain,” kata Pak Efix yang dirasakan oleh Aji begitu tiba-tiba dan tak nyambung dengan pembicaraan sebelumnya, maka Aji pun tak segera faham kecuali mengangguk. Terdengar bunyi rem berderit disambung suara benturan besi dengan besi pada bagian bordes atau sambungan KA. Kereta melambat, kemudian berhenti.
**
Wonokromo adalah terminal bus antar-kota ke berbagai jurusan di Jawa Timur, Madura, Bali, bahkan hingga ke Sumatera. Pada papan besar biru tua yang telah lusuh dengan tulisan putih yang tak begitu bagus, tertera nama-nama bus dengan jurusan-jurusannya. Di depannya adalah beberapa buah bus yang tampak masih kosong. “Tapi tak tertera jam keberangkatan dan harganya,” gumam Aji sambil kemudian arah matanya mencari-cari orang yang mungkin bisa dimintakan keterangan. Kesibukan sudah terlihat namun beberapa kios masih tampak tutup, satu dua sudah kelihatan sedang membuka lembaran papan-papan penutupnya. Pada beberapa bangku tempat tunggu masih tampak pula orang-orang yang terbaring pulas berselimut sarung serta entah kain apa sebagai pelindung dari embun. Diantara semua itu terlihat satu sosok yang paling menyerap pandang matanya. Di ujung kaki orang yang masih tertidur, itu tampak seorang berkepala gundul pelontos berbaju kain kuning dari pundak hingga ke bawah betisnya. Ia tidak tidur karena terlihat matanya tenang menatap ke depan dengan arah agak ke bawah. Penampilannya mengingatkan Aji kepada pendeta-pendeta perguruan Shaolin dari buku-buku cerita silat yang pernah dibacanya atau pun film-film yang pernah ditontonnya. Tak jauh dari jajaran bangku-bangku adalah ruang berkaca besar, tampak belum ada kegiatan dan pintunya masih tertutup. Tak ada pilihan lain, Aji melangkah sekadar untuk mencari orang yang mungkin bisa dimintakan keterangan. Jajaran bangku-bangku dengan orang gundul itu ia lewati. Pada ujung jajaran ketiga dari bangku-bangku itu, seorang ibu yang agak gemuk sedang membuka kiosnya. Orang sedang sibuk, pikirnya, maka ia tak berani mengganggu. Sebuah angkutan kota berhenti tak jauh dari sana, dari dalamnya turun beberapa orang yang disusul turunnya pikulan-pikulan yang berisi sayuran serta beberapa pikulan berisi gerabah berupa celengan, tungku, kendi, dan barang-barang lainnya. Aji menyelinap di sisa celah jalan yang terhalang pikulan-pikulan itu. Tiba di ujung sana tampak beberapa anak berseragam sekolah setengah berlari lantas naik ke angkutan kota, calo-calo berlintasan sambil berteriak-teriak menawarkan jurusan angkutan, kadang terlihat pula mereka setengah memaksa calon penumpangnya. Sejenak Aji menikmati tontonan kesibukan itu, tiba-tiba saja semua itu terasa seperti penghibur bagi kebingungan karena kebelumjelasan tujuannya. Hanya dalam hitungan menit, kesibukan yang tadi alakadarnya kini terlihat meningkat kian sibuk. Orang berlalu-lalang mencari dan mengejar angkutan kota kian banyak, teriakan-teriakan calo pun kian keras terdengar, matahari sudah mulai tampak sedikit di atas bubungan salah satu bangunan di seberang jalan.
Terpikirkan juga untuk bertanya kepada salah seorang calo itu, tapi disamping agak menakutkan, maksudnya takut salah kendaraan karena mereka cenderung memaksa ke arah angkutan yang ditawarkannya semata, Aji pun berpikirkan bahwa bukan tempat yang tepat untuk bertanya kepada mereka, selebihnya karena ia belum siap dengan bahasanya. Maka ia pun berbalik ke arah semula. Orang-orang dengan pikulan sudah tak tampak, kios si ibu gemuk sudah buka, bahkan kios disampinya pun sudah buka pula, yang tidur di bangku tunggu sudah tak tampak, kecuali orang gundul dengan kain kuning masih tetap di sana dengan sikap yang tetap seperti tadi. Aji pun lewat kembali di sana, melewati kantor yang juga belum buka, papan petunjuk lusuh, dan deretan bus yang jumlahnya kelihatan sudah bertambah. Selewat itu semua, ia bertemu lagi dengan deretan bangku-bangku tempat duduk. Pelataran terminal itu rupanya dikelilingi oleh kios-kios dan dua bagian tempat tunggu yang saling berseberangan, bagian depannya adalah lahan terbuka tempat dirinya tadi berdiri dan dari sana pula kendaraan yang datang masuk dan yang pergi keluar. Di sini, ternyata, ada lagi ruang berkaca seperti tadi, di dalamnya telah ada sejumlah petugas serta di depan kaca tampak beberapa orang sedang bercakap dengan orang di dalam, Aji menghampiri ke sana. Benarlah kiranya, ruang berkaca ini merupakan kantor informasi, dan petugasnya menjelaskan bahwa bus ke Denpasar ada tiga gelombang pemberangkatan yaitu bus ekspres yang berangkat pagi dan siang hari, serta bus ekonomi yang berangkat menjelang malam, ditambah bus ekstra jika diperlukan yaitu yang berangkat tengah malam. Diantara semua itu, yang dirasakan cocok harganya alias yang paling murah adalah bus ekonomi yaitu Rp. 2.400,00 sampai terminal Ubung di Denpasar. Tapi, pikir Aji, artinya harus menunggu 10 jam bahkan bisa sampai 12 jam sebab jadualnya dari pukul 18:00 hingga pukul 20:00. Jika sedang ramai, seperti dijelaskan oleh petugas informasi, bus yang diberangkatkan bisa tiap jam mulai dari pukul 18:00 tapi kalau sepi bisa saja hanya satu bus yang berangkat yaitu pada jam paling akhir. Kini, yang menjadi persoalan bagi Aji, bukanlah jam keberangkatannya sebab bagi dirinya berangkat pagi itu atau pun esok adalah sama saja. Yang diperhitungkan bahwa meski harus melewati dua kali makan yaitu sementara menunggu dan di tengah perjalanan nanti, bus malam tetaplah lebih murah dibanding bus eskpres. “Ah, bus malam saja,” ucapnya setelah menghitung-hitung di dalam kepala sambil meninggalkan kantor penerangan dan kemudian duduk di salah satu bangku tak jauh dari kantor itu.
Setelah duduk dan menatap ke muka, ternyata posisi duduknya hampir berhadapan langsung dengan orang gundul berkain kuning yang masih dalam posisi duduknya seperti tadi. Tak ayal, meski jaraknya relatif jauh, si gundul jadi perhatiannya. Terkadang pandangannya terhalang bus yang datang atau pergi. Begitu ruang pandang kembali terbuka, kini, seperti tak mau lepas, pandangan terus terarah ke si gundul di seberang sana. Kesibukan sudah jauh meningkat, matahari pun sudah agak jauh meninggalkan bubungan gedung, sengat panas matahari Surabaya sudah mulai menyiksa dirinya yang biasa di tempat dingin. Tapi si gundul itu bergeming, seolah tak terganggu sedikit pun oleh kesibukan dan segala perubahan di sekelilingnya. Ini berbeda sekali dengan dirinya yang dirisaukan oleh ketidaktahuan apapun pada apa yang mau ditujunya, kegelisahan antara harus mengisi atau membuang waktu, dan udara panas yang lambat laun terasa kian menyengat. Mandi, pikir Aji, seperti sengatan listrik yang langsung membangkitkan dirinya dan bersegera ke kamar mandi umum yang tadi telah dilihatnya saat berkeliling. Ternyata ada orang lain yang berpikiran dan bertujuan sama, di sana telah berdiri tiga orang di depan pintu kamar mandi yang bagian bawahnya telah robek-robek dan keropos, sementara di dalam terdengar seseorang sedang bersiram sambil bernyanyi-nyanyi kencang dalam bahasa Jawa atau mungkin juga Madura, Aji tak bisa membedakannya. Suara nyanyian itu sumbang dan tak berirama, yang menunggu dibuatnya menjadi saling pandang dengan senyum yang ditahan. “Jangan-jangan si gundul berkain kuning sudah pergi,” pikirnya di sela penantian. Pemandangan diam diatara kehirukpikukan termasuk hirukpikuk di dalam hati dan pikirannya, terasa begitu nyaman untuk dilihat, terasa menghibur, dan menimbulkan rindu untuk terus menikmatinya. Khawatir akan kehilangan, dengan tidak berani beranjak terlalu jauh, Aji mencoba mencari ruang pandang ke arah si gundul, sesekali ujung kaki jinjit ditinggikan, tapi memang tak ada celah ruang pandang di antara pantat dan panjangnya tubuh jajaran bus di sana. Orang yang di dalam sudah usai, ia keluar dengan separo badan dililit handuk dan pakaian di genggaman, mulutnya masih melagukan nyanyian sumbang yang tadi juga. Orang berikutnya masuk menggantikan, di belakang Aji sudah muncul yang lain, seorang ibu dengan anaknya.
Tiba pada gilirannya, Aji bersegera masuk. Saat guyuran pertama terasa seperti siraman air ke bara api, psssssttt. Api padam berganti rasa segar, ia pun jadi ingat bahwa terakhir mandi adalah siang hari kemarin di Bandung. Anak yang tadi di luar bersama ibunya terdengar menangis, muncul lagi gambaran si gundul berkain kuning. “Apakah masih duduk dengan posisi seperti itu,” pikirnya, mandi tak bersabun dan tanpa dikeringkan dengan handuk itu segera diselesaikannya, lantas mengenakan kembali pakaian yang itu juga. Begitu pintu dibuka, si ibu dan anaknya cepat-cepat menyerbu masuk dan nyaris menubruk Aji yang masih di pintu sambil membenahi sisa kancingnya yang belum selesai. Dengan kepala masih basah, Aji kembali ke tempat tunggu semula, bahkan sebelum duduk pandang matanya langsung ke seberang mencari si gundul berkain kuning. “Masih di sana,” bisiknya sambil duduk dan anehnya disertai perasaan lega. Posisi duduknya pun masih tetap, agak merunduk, kedua lutut lurus merapat, kedua tangannya di atas pangkuan. Sementara ia sendiri, dalam beberapa saat memandang itu saja, sekurangnya telah dua kali ganti posisi kaki dan sekali memindahkan tangannya di sandaran bangku. Aji kian takjub. “Apakah ia pun sedang menunggu bus ke Denpasar?” Tanyanya dalam hati dengan penuh harap.
Entah karena daya magnet si gundul atau karena kepenasarannya yang kian besar atau juga karena daya tarik keduanya, energinya mendorong Aji untuk bangkit dan melangkah berkeliling menuju seberang sana. Udara betul-betul panas, kesegaran air mandi tadi sudah tak berjejak lagi. Saat melewati ruang kantor berkaca, ia sempat melihat jam yang terdapat di dalam, menunjukan pukul 09:37 dan hanya beberapa langkah kemudian tibalah di depan si gundul berkain kuning. Sengaja ia ambil posisi nyaris tepat di hadapannya, pandangannya bergeming agak ke bawah, seolah tak hirau atas kedatangannya. Yang luar biasa dalam pandangan Aji adalah adanya gerakan tangan. “Ternyata dia bergerak juga,” ucap Aji dalam hati dengan perasaan mendapatkan kejutan. Perlahan-lahan kedua tangannya beranjak dari pangkuan mengarah ke bagian punggung kiri, meraih buntalan yang juga terbuat dari kain sewarna dengan penutup tubuhnya. Ia merogoh sesuatu dari buntalannya. Dikeluarkan dari sana sebuah cawan atau mangkuk gerabah, sepasang sumpit, dan sebuah bungkusan daun pisang yang belum diketauhi isinya, semua ditaruhnya di atas pangkuan. Ia masih merogoh buntalan, kini hanya dengan satu tangan kanannya saja. Begitu yang dirogohnya didapat, itu langsung disodorkan ke Aji yang berada tepat di hadapannya. Pandang matanya agak terangkat tapi tidak sampai bertemu titik pandang mata. Yang disodorkan adalah sebuah roti yang masih utuh dalam plastik.
“Apa, saya tak minta,” kata Aji dengan kaget.
“Tapi kamu lapar dan membutuhkannya, ambilah, saya tidak makan roti,” kata si gundul dengan suara yang halus. Aji tak segera menyambutnya karena masih tersisa rasa kaget ditambah lagi keheranan baru yang ia bisikan dalam hati, “lha, ia bisa tahu aku lapar?”
“Ambilah,” ulang si gundul.
“Dari mana bisa tahu saya lapar?” Tanya Aji memberanikan diri.
“Ini waktunya sarapan, bahkan sudah lewat waktu, tentu siapapun lapar, ambilah,” jawabnya masih dengan tenang. Kata terakhirnya, meski tetap halus, terasa seperti perintah tak tertahankan, Aji pun menyambut roti yang disodorkan. Pada saat itulah kedua pandang mereka saling bertemu. Pandang matanya terasa begitu dalam, teduh, damai. Kekuatan pandang mata halus itu pula yang dalam satu gerakan kecil terasa oleh Aji sebagai dorongan untuk duduk di sampingnya. Pada saat duduk, Aji menyempatkan memandanginya kembali. Ternyata masih muda, usianya mungkin hanya sedikit di atas usianya sendiri. Sambil membuka roti pengasihnya, Aji pun merasakan udara seperti lebih nyaman ketimbang tadi.
“Menunggu bus yang ke Bali?” Tanya Aji diantara kunyahan rotinya.
“Bukan, saya hendak ke Magelang, biasanya ada bus pagi tapi ternyata tidak ada, mungkin jam sepuluh baru ada,” jawabnya. Aji agak kecewa karena harapannya akan ada teman seperjalanan. “Hendak ke Bali, ya?” Lanjutnya ia bertanya.
“Betul,” jawab Aji ringkas.
“Ke mana tujuannya, hendak kerja atau sekolah di sana?”
“Saya tak punya tujuan bahkan tak tahu apa-apa tentang Bali, keinginan hati saja mau ke sana.”
“Bagus.”
Aji mecoba menatap karena kali ini ada yang mengatakan kepergian tanpa tujuan itu bagus, padahal hatinya sendiri berpendapat itu adalah pekerjaan tidak karuan, tidak terarah, tak jelas. Maka dengan penuh kepenasaran ia bertanya, “maksudnya?”
“Ya, sebab bisa saja itu menjadi perjalanan mencari arah, mencari cahaya. Semoga engkau menemukannya.”
“Saya belum faham,” sambung Aji.
Secara ringkas si gundul itu pun bercerita tentang masa perjalanan, masa pencarian Sang Budha, Sidharta Gautama, untuk menemukan sejatinya kebenaran. Dari ceritanya itu pula Aji menjadi tahu bahwa si gundul ini adalah orang yang telah memutuskan diri untuk menempuh jalan suci, jalan berbagi kasih dengan sesama manusia, jalan untuk menyuarakan persaudaraan, perdamaian. “Jalan sunyi,” tungkasnya.
“Ah, tapi kalau pun ada yang saya cari, bukan itu yang saya cari, buka kesunyian,” bantah Aji dengan sedikit mulai berani masuk ke dalam obrolan.
“Apakah saya masuk ke goa dan menyepi? Buktinya saya berada di tengah keramaian terminal ini, berada di tengah kumpulan manusia-manusia lain,” jawabnya.
“Maka saya tidak mengerti dengan yang dimaksud sunyi tadi.”
Si gundul yang mulai membetot simfati Aji pun kemudian menjelaskan bahwa sejatinya kebenaran itu bukanlah suara lantang, bukan suara yang diteriakan, bukan suara yang diucapkan beramai-ramai. Melainkan, katanya pula, suara yang berada di kedalaman hati, lirih, bahkan terkadang berbisik pun tidak.
“Perhatikan semua orang yang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing itu,” ajak si gundul dan kemudian Aji mengikuti ajakanannya. Tampaklah kembali manusia-manusia yang sibuk dengan pikulan barang, yang berteriak-teriak menawarkan barang dagangan atau pun jurusan kendaraan, ada juga yang tampak marah-marah kepada anaknya yang merengek, pembeli dan pedagang yang sedang tawar menawar, polisi dan penjaga keamanan yang mondar-mandir, dan banyak lagi. Sementara yang tak tampak kecuali berada di dalam dugaan pikiran Aji, bahwa di sana pun mungkin ada pencopet, jambret, atau alap-alap pencuri yang menunggu kelengahan mangsanya.
“Ya, sudah saya lihat semua,” kata Aji.
“Nah, semua yang tampak itu bukanlah wujud sejatinya kebenaran,” jawabnya. Aji semakin tidak faham tapi juga mulai menghubungkannya dengan wejangan-wejangan yang biasanya muncul di dalam cerita silat Kho Ping Hoo. Hanya samar-samar saja yang ia dapat dan belum bisa sampai kepada maksud si gundul.
“Maaf, saya belum faham,” tukasnya.
“Coba engkau bayangkan,” sambung si gundul, “engkau bayangkan ketika orang-orang itu membawa hasil kerja ke rumahnya masing-masing. Bayangkan ketika hasilnya itu diberikan kepada anak, istri, atau keluarganya. Bayangkan juga ketika hasilnya itu telah berubah berupa makanan yang mereka makan bersama-sama untuk penyambung hidupnya. Setelah membayangkan itu semua, mungkin engkau bisa menangkap perasaan apa kira-kira yang muncul di dalam hati atau di dalam kesunyian rohani si pemberi atau pun si penerima.”
“Kasih sayang,” potong Aji dengan tangkas, cepat-cepat karena tak hendak didahului oleh si pemberi penjelasan.
“Ya, bahkan tenaga mereka yang memikul beban berat-berat, mereka yang berpanas-panas, mereka yang berteriak-teriak hingga serak, sumber utamanya itu adalah dari adanya kasih,” ujar si gundul yang kali ini sambil memandang lurus ke titik pandang mata Aji.
“Tapi diantara mereka itu ada pencoleng, copet, dan semacamnya, di mana hati atau yang namanya kasih-sayang itu?” Potong Aji dengan itikad mematahkan teori si gundul.
“Tetap saja tenaga utamanya adalah kasih, paling tidak kasih kepada dirinya sendiri, kasih demi menyelamatkan hidupnya yang artinya kasih atas hidupnya,” jawabnya.
“Tapi mereka maling!”
“Ya, mencuri itu perbuatan buruk, pilihan jalan yang salah. Tapi selama tindakannya itu adalah demi mengasihani sekurang-kurangnya dirinya sendiri, maka api terdalamnya tetaplah kasih. Oleh sebab itu tidak bisa diselesaikan dengan kebencian, ia harus dihadapi juga dengan kasih,” jawab si gundul, dan kali ini tak terlalu sulit ditangkap oleh Aji karena dalam kilasan yang serba sesaat terhubung dengan tindak-tanduk Abah. Aji mengangguk, disambung dengan ulasan sekilas tentang Abahnya.
“Itu dia,” tandas si gundul dengan nada girang tapi tetap tak berlebihan kecuali dengan nada halus, “apa keyakinan atau agama Abah dan engkau?”
“Islam,” jawab Aji dengan agak bergetar.
“Bukti bahwa sinar utamanya sama, hanya jalan untuk menempuhnya saja yang berbeda-beda. Engkau melaksanakan ibadah sembahyang?” Tutupnya dengan pertanyaan. Aji tertegun, sejenak merasa didakwa oleh ujung pertanyaan tersebut.
“Sudah lama tidak saya lakukan, bahkan sudah lama menyebut kata Allah pun tidak,” tegas Aji.
“Jangan begitu, lakukanlah sembahyang, itu adalah tempat-tempat perhentian penting di dalam setiap putaran waktu,” katanya dengan khidmat dan Aji sendiri merasakan itu diucapkan dengan ketulusan hati yang bening. Tapi sementara itu pula kepenasarannya terhadap si gundul ini kian membesar.
“Dari mana mendapatkan jawaban-jawaban itu? Apakah dari kitab suci Budha?” Tanya kepenasaran Aji. Si gundul tersenyum ringan.
“Kitab suci itu,” kata si gundul, “pokok utama tapi cabang dan ranting-rantingnya begitu banyak, apalagi jaringan akarnya bisa dikatakan tak berhingga.” Sambil mebereskan kembali mangkuk tempatnya makan sepanjang berbincang, ia melanjutkan bahwa ranting-ranting dan rangkaian jaringan akar-akar itu tersebar berupa kehidupan, ilmu pengetahuan, jutaan buku yang ditulis para aulia, filsuf, sastrawan, ahli seni, ilmuwan, ahli hukum, para bijak ketata-negaraan, dan banyak-banyak lagi.
“Dari sanalah percik-percik sinar jawaban atas kehidupan itu,” lanjutnya, “tapi ketika mengikuti alur ranting atau akar, atau juga kehidupan yang kasat mata ini, orang bisa sampai kepada kerumitan karena memang tak ada ranting, akar, kehidupan yang lurus dan sederhana. Pada saat itulah sang pencari atau siapapun seyogianya kembali terlebih dahulu kepada pokoknya untuk mengenali kembali dari mana asalnya pergi dan kemudian menentukan ulang tujuan kepergiannya.”
“Oh,” hanya itu yang sanggup keluar dari mulut Aji.
“Nah, engkau akan mulai berjalan dari Wonokromo ini. Alangkah baiknya jika engkau catat, engkau tulis setiap langkah dan setiap yang tampak di sepanjang perjalanan itu,” kini nadanya terasa agak menggurui, tapi tak kurang juga merangsang kepenasaran Aji.
“Kenapa harus menulis?” Tanya Aji sekadar penasaran sebab ia yang sejak SMP telah membaca secara sembunyi-sembunyi sejumlah buku tentang Hitler hingga ia menjadi pengagum sekaligus pembencinya, itu membuatnya faham bahwa dari membaca sejumlah tulisan bisa mendapat banyak pengetahuan. Bahkan ingin sesungguhnya ia pamer pengetahuan dari bacaan sampul PH (piringan hitam) yang kerap ia sempatkan membacanya kalau sedang bermain ke pemancar-pemancar gelap. Di sana ada riawayat-riwayat tentang perubahan kebudayaan, politik, musik, bahkan paaradoks keagamaan dengan realitas sosial. Tapi ‘sensor’ di kepalanya menyatakan itu tak patut atau tidak ‘nyambung’ dengan dunia lawan bicaranya. Terlintas ia ingin juga menambahkan bahwa betul kitab suci itu memuat segala garis besar tentang kehidupan termasuk riwayat penciptaan alam semesta, tapi bukan artinya semua kehidupan itu termuat di sana. Ia ingin berpendapat bahwa dirinya yang berumah dekat masjid begitu kesal karena sering mendengar pengkhotbah atau ceramah-ceramah yang mengatakan ummat Islam itu jangan ke mana-mana lagi, cukup hanya membaca Al Quran saja karena kitab tersebut sudah lengkap memuat segalanya tentang kehidupan. “Itulah pangkal atau awal mulanya orang-orang Islam terperangkap di dalam kebodohan,” pikirnya. Ia bukan menolak kemutlakan isi ajaran Quran, tapi jelas kitab itu tidak memuat misalnya peristiwa pemberontakan di Natal dan Mandailing 1840 – 1850an. Tak akan pula ditemukan kilasan riwayat seorang Jenderal Belanda yang diduga memusnahkan lantas memalsukan keterangan dan bukti-bukti demi kehormatan dan keselamatan diri serta pejabat-pejabat lainnya. Gambaran itu hanya ada di dalam buku “Max Havelaar” yang ditulis oleh Multatuli, bukan di dalam Al Quran, Injil, Taurat, Wedha, ajaran Tao, Kong Hu Cu, atau pun kitab-kitab suci lainnya. Tapi, ia belum berani untuk berpendapat. Ia merasa belum mendapatkan keterangan apapun tentang keharusan menulis. Ia lebih memilih untuk mendengarkan tentang mengapa orang perlu menulis dan tidak cukup dengan berbicara saja.
“Tak bisa kehidupan ini hanya diarungi dengan omongan,” kata si gundul, “sifatnya omongan itu hanya berlaku sesaat dan tak bisa ditinjau ulang, termasuk omongan kita sekarang ini.” Kemudian ia pun melanjutkan, jika umat manusia menggantungkan hidupnya semata-mata kepada omongan, maka saat itulah pelajaran untuk tidak bertanggungjawab, hidup tanpa integritas, hidup yang hanya ingin benar sendiri itu dimulai. Lain halnya jika tertulis, meski tak ada kebenaran yang absolut seperti hal tak adanya kesalahan absolut di dalam tulisan, tapi itu tercatat dan bisa dibaca ulang, ditinjau ulang, ditimbang ulang, dikritik, disempurnakan meski pula pada akhirnya tak akan pernah bisa sampai kepada kesempurnaan yang mutlak. Tapi dengan itu peradaban manusia menjadi ada pijakannya, menjadi ada tempat untuk menoleh, dan yang terpenting lagi umat manusia menjadi sadar bahwa tidak seorang pun yang sempurna melainkan satu sama lain saling menyempurnakan, dan lagi-lagi meski hukumnya manakala seluruh catatan umat manusia itu dikumpulkan tetaplah tak akan sanggup mencapai kesempurnaan yang mutlak.
“Ah, saya tahu engkau tak akan langsung faham,” lanjutnya lagi dan kini nyaris dengan nada untuk dirinya sendiri, “tapi entah mengapa saya ingin menyampaikannya, semoga saja ada gunanya. Sesungguhnya saya sedang cemas, bahwa umat manusia kian lebih gemar beromong-omong ketimbang menulis dan membaca. Mereka tak menyadari kalau ini dibiarkan terus berlangsung, sesungguhnya manusia sedang mempersiapkan bencana besar bagi dirinya sendiri.”
“Menulis atau pun tidak menulis, bencana dan keberuntungan itu tetaplah akan menghampiri manusia,” lagi-lagi lidah Aji didorong oleh kepenasarannya.
“Luar biasa! Inilah, mengapa saya menjadi suka bercakap banyak denganmu, mungkin kita ini sesungguhnya dipertemukan. Saya melihat adanya cahaya di matamu. Ya, bencana dan keberuntungan itu pasangan yang senantiasa datang menghampiri kehidupan manusia. Tapi seburuk-buruknya bencana yang memiliki landasan tertulis itu bisa dipelajari ulang, lain halnya jika bencana itu datangnya dari hal yang tidak bisa dilacak lagi awal mula dan kejadiannya – selain mendapat bencana, manusia akan juga tenggelam di dalam kegelapan, di dalam kesia-siaan.”
“Kini saya bisa faham jika anda....”
“Nama saya Sadra.”
“Ya, Mas Sadra...”
“Cukup sebut Sadra saja.”
“Ya, Sadra, saya bisa faham jika anda bisa begitu tenang di tengah kehiruk-pikukan. Maafkan, saya sesungguhnya memperhatikan sejak pagi.”
Sadra tersenyum, kini giginya agak kelihatan. Ia merangkul pundak Aji.
“Berusaha tenang itu lebih berkenaan dengan jalan pilihan hidup saya sebagai biksu muda,” bisiknya ke telinga Aji.
“Berusaha tenang itu lebih berkenaan dengan jalan pilihan hidup saya sebagai biksu muda,” bisiknya ke telinga Aji.
“Nah, tolong jelaskan lagi,” pinta Aji.
Saya memang harus mencoba sekuat mungkin untuk tenang, urai Sadra, orang-orang seperti saya dalam mejalani samsara, karma, dan atman caranya ya begini, berupaya tertib, berbudi pekerti, penyucian diri, pemusatan pikiran, pembelajaran, dan meditasi. Mungkin juga sama seperti para pendeta atau Romo di kalangan Kristiani, atau ustadz dan Kyai bagi Islam, atau pedanda bagi Hindu-Bali, atau Rabbi bagi Yahudi; jika diibaratkan itu harus menjadi seperti tonggak tempat tambatan aneka ragam perahu kehidupan. Maka harus diam, tenang, syukur jika bisa kokoh. Seperti kita tahu, adakalanya datang pusaran air yang memusarkan perahu-perahu itu, jika tak tertambat maka perahu-perahu itu bisa berpusar bahkan terlempar ke mana-mana. Oleh karena itu, rohaniawan atau agamawan, seyogianya tidak menjadi perahu atau yang menumpang di perahu-perahu. Jika terjadi maka ia pun menjadi bagian dari yang terpusarkan, ia adalah pusaran, juga menjadi yang terlempar oleh dan dari kehidupan, hingga semuanya memusar di dalam pusaran khaotik.
"Sadra ini orang suci," gumam Aji untuk dirinya sendiri, tapi kenyataannya terdengar juga oleh Sadra, maka ia pun tertawa dengan mulut yang kini kelihatan terbuka meski tak sampai terbahak.
"Tidak ada manusia yang mutlak suci sekaligus tidak ada juga yang mutlak pendosa," ujar Sadra di ujung tawanya dan kemudian ia melanjutkan, "kemutlakan itu di satu sisi hanya ada pada roh suci, alam dewa, alam para malaikat, sumber utamanya Maha Dewa; di sisi lainnya adalah Mara atau iblis dan setan. Manusia berada diantara itu. Termasuk orang-orang yang menempuh jalan seperti saya, tetaplah pada dasarnya adalah manusia, maka di dalam diri saya memang ada roh suci tapi tetap ada juga iblis karena kita bukanlah malaikat sekaligus bukan pula iblis secara utuh. Hanya saja, mungkin, orang-orang seperti saya ini termasuk yang berusaha lebih keras ketimbang masyarakat umum untuk mendekatkan diri kepada roh suci. Maka di dalam praktek hubungan antar-manusia, di dalam keseharian, kami ini tak bedanya dari jembatan, alat pengantar, atau medium penghubung alam manusia ke roh suci, kepada kebenaran, jadi sama sekali bukan kebenaran itu sendiri."
"Sungguh rendah hati," bisik Aji, kali ini tak terdengar karena diucapkannya di dalam hati.
Beberapa orang yang duduk di jajaran bangku belakang dan juga di kiri-kanan mereka tampak berdiri, kemudian setengah berlari memburu sebuah bus tua dengan jendela terbuat dari kayu. Sadra pun bangkit, agak lama ia memandang Aji dan sebaliknya.
“Bus Magelang sudah datang,” ucapnya tanpa melepas pandang, “belum tentu kita akan bertemu lagi, ini sungguh melegakan, membahagiakan, Namo Buddhaya.”
“Bus Magelang sudah datang,” ucapnya tanpa melepas pandang, “belum tentu kita akan bertemu lagi, ini sungguh melegakan, membahagiakan, Namo Buddhaya.”
“Waalaikum salam, terimakasih rotinya,” jawab Aji. Mereka berpelukan, lantas Sadra pun berlalu diantar pandangan Aji.
**
Selama perbincangan, boleh jadi Aji berada di langit, ia lupa segalanya. Kini setelah si gundul pergi, kakinya kembali menginjak bumi, keriuhan terminal, teriakan orang-orang hadir dan terdengar kembali. Seorang peminta-pinta menghampiri sambil menyodorkan kaleng penyok, Aji geleng kepala, pengemis itu pun berlalu, ia memaklumi jika yang dihampirinya bokek. Matahari sudah di puncak terik, tapi Aji ingin memastikan waktu, ia beranjak menghampiri kantor untuk mengintip jam yang tergantung di sana.
"Baru jam 12:42," bisiknya, “masih sekitar tujuh jam lagi,” seluruh aliran darahnya seolah dirayapi jutaan semut kecil yang menjalar ke mana-mana, menjadi gatal, menjadi gelisah. Ia segera menyadari tidak akan sanggup untuk setenang si gundul Sadra. Lebih lagi dari itu, perutnya merasa lapar.
"Baru jam 12:42," bisiknya, “masih sekitar tujuh jam lagi,” seluruh aliran darahnya seolah dirayapi jutaan semut kecil yang menjalar ke mana-mana, menjadi gatal, menjadi gelisah. Ia segera menyadari tidak akan sanggup untuk setenang si gundul Sadra. Lebih lagi dari itu, perutnya merasa lapar.
Aji menghampiri pedagang nasi gendongan. Meski belum tahu macamnya, ia memesan nasi rawon. Ternyata terasa sedap di lidahnya. Dengan lahap dan dalam waktu singkat, ia menghabiskan nasi dengan kuah kehitaman itu. Seorang pengemis lain menghampiri. Ingat kepada 'kasih' yang diuraikan Sadra, ia terdorong ingin berbagai tapi di sisi lain ia pun sadar kondosisinya jauh dari aman. Dalam waktu yang sangat sesaat, terjadi perdebatan keras di dalam dirinya antara 'ya' dan 'tidak' berderma. Berat terasa tangannya untuk bergerak. Ia menimbang sisa uang yang gawat. Tapi begitu ingat kepada roti yang diterima dari Sadra, tangannya seperti dijangkiti aliran listrik yang begitu kuat. Dirogohnya kantung, dan Rp. 5,00 bagian dari sisa pengembalian makan, pun diberikan kepada sang pengemis yang kemudian menyampaikan doa dalam bahasa Jawa dan berlalu.
Sisa waktu yang harus dilalui, diniatkan oleh Aji untuk berlatih diam di tengah keramaian. Tempatnya pun ia pilih di tempat tadi Sadra duduk. Sejak menit-menit pertama sudah terasa betapa berat menjalani diam itu. Yang paling berat karena Aji tak tahu harus bereaksi apa dan bagaimana terhadap apa yang terlihat atau pun yang terdengar. "Harusnya aku tadi bertanya bagaimana cara menghadapi ini," sesalnya. Maka yang terjadi adalah berbagai simpang-siur di kepala, semua terjadi di dalam kilasan-kilasan perpindahan adegan dan pikiran yang serba ringkas dan cepat, melompat-lompat. Sesekali ia mencoba untuk menyusun rencana dalam menghadapi kemungkinan di Bali kelak. Mandeg. Tak bisa jalan karena tak ada sedikit pun gambaran tentang pulau itu. Dicobanya untuk memperhatikan orang per orang dalam keriuhan, sesaat dicari pula kemungkinan adanya orang lain yang memperhatikan dirinya dari kejauhan seperti ketika dirinya memperhatikan Sadra. Tak ada. Ia beralih kepada keinginannya untuk bisa menggambar. Lumayan agak 'nganteng' seperti ketika bermain layangan dengan angin yang cukup, angin yang tidak besar dan tidak juga kecil, kadang melenggok, sejenak menukik, kemudian tegak lagi dengan tenang. Di langit pun kemudian berulang hadir adegan-adengan bagai di layar bioskop besar, suatu ketika muncul gambar-gambar komik R.A. Kosasih seri Mahabharata atau pun Ramayana. Tergambar juga di sana adegan dirinya yang berusaha meniru gambar-gambar itu di kertas lain. Berulang pula muncul adegan-adegan kegagalannya manakala berusaha menggambarkan bagian tangan dan kaki. Tiba-tiba bioskop pikiran yang nganteng itu diputus oleh pertanyaan-pertanyaan; akankah ada guru gambar yang mau mengajar di sana? Di manakah? Bayarkah? Bolehkah tinggal di rumahnya? Apa yang hendak dilakukan jika guru itu menolak kehadirannya? Ke mana lagi mencari guru lain? Layangan pikiran itu putus, lepas ke langit tak berujung, semua gambar komik berubah menjadi arak-arakan awan yang terkadang menyerupai kelinci, dalam segera berubah menjadi naga, sesaat lagi telah menjadi gumpalan-gumpalan tak berbetuk. Pantat mulai terasa panas. Aji sedikit mengubah posisi duduk. Bukti lagi bahwa tubuh pun belum terlatih untuk bisa sesabar Sadra.
"Ah, tapi aku tak harus menjadi Sadra," belanya sambil mengingat pernyataan Pak Efix yang menyarankan agar menjadi diri sendiri.
"Ah, tapi aku tak harus menjadi Sadra," belanya sambil mengingat pernyataan Pak Efix yang menyarankan agar menjadi diri sendiri.
Pukul 16:45 datang dan masuklah sebuah bus putih dengan polet-polet hijau dan biru. Penjual nasi rawon, yang tak jauh dari tempat duduk Aji, memberi tanda bahwa itulah bus yang ditunggu. Betul juga seperti diceritakannya waktu makan tadi petang, bus itu tak sama sekali kosong tapi belum pula penuh. Pedagang rawon telah menerangkan bahwa biasanya bus yang datang itu telah berisi penumpang yang naik di 'pool' atau pun saat di perjalanan menuju terminal. Aji segera bangkit, naik, mencari tempat duduk, dan mendapatkannya di jajaran kiri agak ke belakang, dekat jendela. “Aku bayar dan tak mau lagi hidup dikejar-kejar ketakutan,” ucapnya perlahan saat kali pertama pantatnya menyentuh kursi sambil menikmati kemerdekaan berkendaraan umum.
Selewat adzan magrib bus mulai bergerak, Aji merasakan detak jantung meningkat, tapi tak berlanjut karena bus berhenti lantas jalan perlahan dan berhenti lagi, tak langsung keluar dari terminal. Rupanya masih mencari penumpang, bahkan tempat duduk di sampingnya pun masih kosong. Pada sekira pukul 19:00 baru beringsut keluar terminal. Itu pun tak langsung melaju, hampir di setiap persimpangan bus berhenti mencari penumpang, keneknya berteriak-teriak menyapa kerumunan orang-orang. Di suatu persimpangan yang tak dikenali Aji, bus kembali berhenti, kenek kembali berteriak, beberapa orang tampak naik, salah seorang di antaranya duduk di samping Aji. Setelah itu bus baru melaju, jam diperkirakan telah mendekati pukul 20:00 WIB.
**
Gedong duwur kari samun
Pagulingan sepi tingtrim
Pepetetan samya murag
Balingbing lan jeruk manis
Bersama kakawen sebrakan ini kita hampiri dulu keadaan di luar. Alkisah ibu negara, Tien Suharto, menggagas akan membangun sebuah lahan yang menurutnya kelak menjadi pusat kebudayaan Indonesia di Jakarta yang disebut Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Gagasan ini, tentu, disambut dengan baik, direstui, dan dicanangkan pembangunannya oleh Suharto selaku kepala negara. Dukungan pun muncul dari Ali Sadikin, Ali Moertopo, Soedjono Hoemardani, dan untuk konsultan pembangunannya ditunjuklah Ir. Hardjasudirdja. Tapi lain halnya dengan pandangan ekonom, mahasiswa, masyarakat umum. Mereka memandang proyek yang akan menggelontorkan dana Rp. 10,5 miliar itu sebagai proyek penghamburan kekayaan negara. Bahkan ekonom dari regim Suharto sendiri, Widjojo Nitisastro, menolak keras rencana tersebut dengan menyatakan “tidak ada kas negara!”
Meski suara menjadi terpecah antara yang mendukung dan tidak mendukung dan kemudian berdampak pula pada terjadinya perpecahan di tengah masyarakat, ibu negara dengan dukungan suami tetap bersikeras untuk melaksanakannya dan tahun 1972 itu pun dinyatakan sebagai awal pembangunannya. Akibatnya reaksi-reaksi mahasiswa kian memanas dan nyaris tak terkendali. Melihat kenyataan itu, Suharto mengumpulkan para jenderalnya di Wisma Ahmad Yani demi mendinginkan keadaan. Jalan ketentaraan ini untuk sesaat seolah berjalan, memang tidak sampai terjadi demostrasi besar-besaran di ibu kota. Mungkin karena lemahnya intelejen regim Suharto atau karena memang cerdiknya gerakan-gerakan mahasiswa yang didukung pula oleh seniman dan ekonom, ‘dinginnya keadaan’ itu sama sekali tak tercium sebagai merembesnya gerakan ke kampus-kampus hingga ke eksponen terkecilnya berupa kegiatan-kegiatan diskusi ilmiah atau pun kebudayaan di berbagai pelosok. Jika kalangan ekonom dan mahasiswa menyatakan proyek itu sebagai pemborosan dengan melihat bahwa sesungguhnya masih banyak lagi hal mendesak lainnya yang perlu dibangun, sementara kalangan seni dan budaya melihat rencana itu sebagai upaya pem’bonsai’an kebudayaan Nusantara serta simbol pemusatan seluruh kebudayaan itu menjadi terpusat di pusat kekuasaan, Jakarta. Beberapa suara diantara mereka diantaranya menyatakan jika memang benar hendak memuliakan kebudayaan Nusantara, seyogianya yang dilakukan adalah menghidupkan habitatnya yang berarti kebudayaan di daerah-daerah itu diurus dengan semestinya, dengan demikian pemilik kebudayaannya pun mengalami perbaikan hidup, harkat dan martabatnya tetap terjaga. Bukan sebaliknya yaitu dengan cara mengangkut ‘puncak-puncak’nya itu ke Jakarta sambil membengkalaikan sumber-sumbernya. Pertama, pengertian ‘puncak’ di dalam konteks kebudayaan itu nisbi dan cenderung salah kaprah; di sisi lain atau yang keduanya, hanya kian mengokohkan tendensi bahwa seisi bumi hingga kebudayaan daerah itu hanya patut untuk diserap atau tepatnya diperah oleh Jakarta sementara pemilik asalinya dibiarkan sekarat sambil tersilau-silau oleh kerlap-kerlip kemilau lampu pusat kekuasaan.
Kegiatan-kegiatan ‘kecil’ ini bagai bola salju yang kian mebesar. Langsung atau pun tidak langsung, pembangunan TMII menjadi semacam pangkal matarantai bagi serangkaian ‘kegelisahan’ publik lainnya. Disebut pangkal matarantai sebab isu TMII ini berkait dengan beberapa kejadian sebelumnya serta kejadian-kejadian sesudahnya. Perkara darurat ekonomi peninggalan regim Orde Lama, misalnya, masih berjejak kemiskinan yang merebak. Upaya perbaikan tahap pertama (1966 – 1973) yang dilakukan Suharto dengan metoda stabilisasi, rehabilitasi, liberalisasi parsial, dan pemulihan ekonomi; ternyata hanya tampak indah di permukaan tapi keropos di bagian dalam, seolah senyum tapi menindas, seolah bangun padahal sesungguhnya ditopang utang yang kian besar. Politik stabilitas, misalnya, adalah istilah halus atau eufemisme untuk pemberangusan, pembungkaman, hingga pengeraman mahasiswa agar tidak keluar dari kampus. Dua hantu istilah dan wacana yang selalu dikemukakan untuk menakut-takuti adalah subversi dan komunisme. Tindakan kritis dan apalagi yang bersifat menentang kebijakan regim, itu hanya ada dua kemungkinan sebutannya yaitu subversi dan komunis tadi. Kritisisme tak pernah dilihat sebagai prinsip keterlibatan publik, partisipatoris, emansipatoris, melainkan dianggap sebagai musuh pembangunan. Demikian halnya dengan rehabilitasi dan liberalisasi parsial, tak lain dari penguasaan aset dan perusahaan yang sesungguhnya milik negara yang kemudian digeser hak kelolanya menjadi di tangan rekanan dan bahkan jejaring besar putra-putri pemegang regim kekuasaan. Pemulihan ekonomi pun tak berjejak kecuali penggemukan para cukong sementara pengusaha pribumi banyak yang gulung tikar. Ini pula sebagai awal mula munculnya konglomerasi di dalam perekonomian Indonesia. Tapi untunglah sejumlah intelektual dan publik yang krtitis terus berdenyut, mereka misalnya mendirikan Aksi Pelajar 70, Komite Anti Korupsi, Komite Anti Kelaparan, serta tentu saja ada juga gerakan Anti TMII. Dilatarbelakangi oleh keberhasilan angkatan ‘66 yang menumbangkan kekuasaan Sukarno, kemudian diinspirasi oleh keberhasilan mahasiswa Thailand yang menggulingkan presidennya, Thanom Kittiakachorn, pada Oktober 1973, membuat mahasiswa kian percaya diri untuk melakukan perubahan.
Sementara rakyat kebanyakan bisa dikatakan tak mengetahui persisnya yang terjadi di tataran politik atau pun tata-kelola ekonomi negara, mereka hanya bisa merasakan bahwa hidup sulit di penghujung masa kekuasaan Sukarno ternyata tak kunjung terjadi perubahan apapun pada masa pemerintahan Orde baru. Mereka pun tidak tahu persis hitung-hitungan warisan utang luar negeri (ULN) pemerintahan Soekarno yang konon sekira USD 2,1 miliar dan kemudian secara spektakuler justru menjadi konon sebesar USD 60 miliar di masa pemerintahan Suharto. Yang mereka ketahui sekadar percakapan populer dari mulut ke mulut bahwa orang Indonesia sejak lahir telah berutang.
Bumi gonjang ganjing
langit kelap kelip
katon lir gincangingalir risang maweh
gandrung sabarang kadulu wukir monyag manyig
gandrung sabarang kadulu wukir monyag manyig
Kelak melalui berbagai pemberitaan adalah peristiwa kekerasan dan pengrusakan di ibu kota. Mobil, motor dan produk elektronik Jepang dibakar, gedung-gedung dan pusat perbelanjaan di Senen, Harmoni, pun menjadi lautan api. Korban-korban berjatuhan, disinyalir ada 11 korban jiwa meninggal, 75 luka berat, ratusan luka ringan, 775 orang ditahan, 807 mobil dan 187 motor gosong, 160 kg emas raib. Selain itu 144 gedung porakporanda termasuk gedung Astra Toyota Motors, Coca-Cola, Pertamina, dan puluhan toko di proyek Senen. Peristiwa tersebut dikenal dengan sebutan “Malari” (Malapetaka Limabelas Januari). Sebuah peristiwa yang diawali demonstrasi mahasiswa besar-besaran, tapi tiba-tiba berujung kerusuhan sosial yang terjadi pada 15 Januari 1974. Sejumlah teori menyatakan kerusuhan bukanlah dilakukan oleh mahasiswa karena pada dasarnya mereka melakukan aksi damai, melainkan karena terjadinya penyusupan yang kemudian membakar emosi dan menjadi amuk massa.
Aji tidak berada di dalam lingkaran itu semua, tapi termasuk yang ikut merasakan kegelisahan dan kecemasannya. Itu bahkan terjadi beberapa kali di B sebelum Malari. Sebut misalnya peristiwa perebutan sekolah-sekolah Tionghoa yang tanpa sengaja salah satunya ia saksikan langsung. Ia saksikan bagaimana siswa-siswi menjerit-jerit panik keluar sekolah, sejumlah orang yang menyerbu ada yang melempari dari luar dan ada pula yang masuk untuk kemudian memporak porandakan benda apapun. Di antaranya ia menyaksikan adegan sebuah piano besar diangkat ramai-ramai lantas dibanting di tengah jalan diiringi sorak-sorai. Di sekolah itu pula Aji kelak menempuh pendidikan SMP. Ia yang memiliki darah Tionghoa dari ibu, jika ada keributan maka selalu diajak Abah untuk melindungi saudara-saudaranya. Pun pada kejadian Impala Udin pada 10 Mei yang mungkin antara tahun 1965 atau 1966. Konon ada kejadian impala Udin, sebutan untuk gerobak yang ditarik kuda untuk mengangkut barang dan umumnya material bangunan, itu diserempet sebuah mobil hingga terguling. Kemarahan pun kemudian merebak di mana-mana, terjadi amuk yang merusak toko-toko Tionghoa, pembakaran kendaraan, bahkan mencegat yang di jalanan, hingga serbuan ke rumah-rumah.
Manakala berjaga-jaga di rumah saudara ibunya hingga larut malam bahkan kerap juga menginap, Aji sering bertanya dalam hati “apa kesalahan saudara-saudara ibu saya ini sehingga terus menerus dihantui ketakutan.” Bahkan, pikirnya, mereka pun dipaksa ganti nama dan pindah agama dari Kong Hu Cu ke Kristiani. Aji tahu kalau ada Tionghoa-tionghoa yang licik, cenderung tak peduli secara sosial, atau barangkali pula jahat. Tapi saudara dari ibunya ini adalah seorang yang mencari penghidupan sebagai sopir oplet, di kalangan sopir-sopir lainnya dikenal dengan sebutan Si Baret, ia bersosialisasi tak melakukan pemisahan diri dari semua sopir yang mangkal di stasiun atau pun tempat lain. Ia jujur dan hanya dengan keringatnya sebagai sopir oplet berusaha keras mendorong anak-anaknya untuk bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Sejak remaja itu pula Aji berpikiran dan berketetapan hati bahwa jahat dan baik itu bukan milik ras tertentu. Si jahat dan si baik itu bisa terdapat pada diri Tionghoa, tapi ada juga pada Sunda, Jawa, Batak, dan ras apapun. “Artinya,” pikir Aji, “itu urusan orang per orang yang tidak ada kaitannya dengan ras.”
Rebeng rebeng cinanda layan kaherin
Wis pinandak perlambange
Perlambang simungkumi
**
Mungkin karena lelah, mengantuk, bisa juga karena begitu menikmati berkendaraan tanpa perasaan dikejar ketakutan, serta bisa juga karena tidak bisa melihat apapun dari balik jendela bus kecuali kegelapan malam; Aji tertidur. Setelah sekira empat jam berjalan, bus berhenti untuk menunggu antrian naik ke kapal penyeberangan di Ketapang. Aji masih pulas, ia baru terbangun karena adanya goncangan manakala bus naik ke atas kapal.
Dengan terheran-heran Aji mengintip lewat jendela, beringsut bus yang ditungganginya memasuki gerbang besi. Terasa ada satu goncangan kecil lagi kala seluruh roda bus melewati ujung terakhir jembatan dan kemudian masuk ke ruangan yang dinding-dindingnya pun terbuat dari besi. Setelah bus berhenti, para penumpang seperti saling berburu untuk keluar, Aji mengikuti iring-iringan yang turun dari bus. Menjelang pintu keluar, lewat kaca sopir yang besar terlihat bahwa bus itu berada di antara dua buah truk, berderet ke muka serta di kiri dan kanannya lagi adalah sejumlah kendaraan lain yang bersusun, bersaf, berbaris. Orang-orang berbaris menaiki sebuah tangga menuju ke atas, kemudian tibalah di sebuah ruang terbuka dengan deretan bangku-bangku kayu dengan rangka besi. Masih dengan takjub dan heran mendapatkan pengalaman pertamanya, Aji tidak menuju ke bangku tempat duduk melainkan ke tepian. Dalam gelap malam, bias-bias lampu memantul ke bawah, tampak riak dan hempas ombak.
"Ini dia penyeberangan itu," bisiknya dalam hati setelah teringat cerita orang-orang tentang selat yang memisahkan pulau Jawa dan Bali. Angin laut berhembus kencang, Aji merasakan degup jantungnya meningkat. Bukan karena takut, melainkan campur aduk antara perasaan menuju pulau baru, gairah pengalaman pertama berada di atas kapal menyeberangi laut, dan adanya puncak rasa seperti antara meninggalkan masa lalu menuju masa depan yang belum terbaca.
"Ini dia penyeberangan itu," bisiknya dalam hati setelah teringat cerita orang-orang tentang selat yang memisahkan pulau Jawa dan Bali. Angin laut berhembus kencang, Aji merasakan degup jantungnya meningkat. Bukan karena takut, melainkan campur aduk antara perasaan menuju pulau baru, gairah pengalaman pertama berada di atas kapal menyeberangi laut, dan adanya puncak rasa seperti antara meninggalkan masa lalu menuju masa depan yang belum terbaca.
Debur ombak di bagian bawah kapal kian keras terdengar. Kapal melaju membawa Aji ke seberang.
6
Jumpa Si Codot
Sejak di atas kapal penyeberangan hingga bus menginjak kembali daratan dan melanjutkan perjalanan mulai dari Gilimanuk, Aji tak bisa tidur lagi. Rasa ingin tahu mendorong pandang matanya untuk menembus kegelapan malam di luar bus. Selepas deretan rumah-rumah, sejumlah warung, dan perkampungan dengan kerlip lampu-lampunya, perjalanan berikutnya seperti menembus hutan yang sesekali pohon-pohonya tersinari lampu bus.
"Aku sudah di Bali," bisiknya sambil melirik ke penumpang lain yang kelihatan hampir semuanya telah kembali pulas tertidur.
"Aku sudah di Bali," bisiknya sambil melirik ke penumpang lain yang kelihatan hampir semuanya telah kembali pulas tertidur.
Ingat kembali kepada Sadra, besar keinginannya untuk mulai menulis seperti yang dianjurkan si gundul itu. Tapi ruang di dalam bus gelap, lagi pula tak ada kertas dan alat tulis yang disiapkan. "Sadra tak bilang, apakah boleh menulis di dalam pikiran terlebih dahulu," pikirnya. Dengan tetap berpegang pada anjuran Sadra agar mencatat apapun yang terlihat, teralami, atau terpikirkan, maka sertamerta kalimat pertama yang muncul dalam benaknya adalah "aku pergi." Memang itulah, pikirnya pula, yang kini sedang ia jalani. Bersamaan dengan itu terasa ada yang menyandar di pundaknya. Bapak yang duduk di sampingnya, dalam tidurnya dan terbawa kelokan jalan, kepalanya terayun dan tergolek bersandar di bahu Aji. Ia tak kuasa dan tak tega menggesernya. Pada saat itulah, dibantu bersit berkas sinar kecil dari luar jendela, terlihat rambut bapak di sebelahnya itu telah memutih, beruban.
"Bukankah aku pun pergi menuju tua, kelak rambutku pun akan seperti itu, menjadi tua," bisiknya sambil mengalihkan kembali pandangnya menembus kegelapan di luar jendela. "Menjadi tua lantas mati," tandasnya. "Jadi bukankah kepergian ini berarti juga kepulangan menuju mati," pikirnya lagi mulai agak bergolak. Lantas ia pun menulis di dalam pikirannya:
dari batang pohon ke batang berikutnya
bias gambar itu sesekali tampak dari jendela bus
bunyi mesin menderu sesekali bersahut dengkur mereka yang tertidur
bus melesat menembus malam
melaju pergi menuju ke tujuan
pergi?
bukankah semua sedang menuju pulang?
bersama lelap tidurnya
orang per orang akan terbangun di usianya yang baru
bersama irama nafas yang teratur
lembar demi lembar usia secara teratur pula bertambah
semua sedang menuju pulang
semua menuju kepada kematiannya masing-masing
"Ah, puisi yang buruk," protes di dalam pikirannya juga. Hidup tak seringkas itu, hidup bukan lompatan dari lahir lantas langsung mati. Betapa tidak berartinya hidup ini jika hanya disimpulkan sebagai 'lahir untuk mati,' debatnya sambil terkenang pada nyanyian 'born to die' dari Keef Hartley Band. Musik dan nyanyian lagu itu memang bagus, Aji begitu menyukainya sejak awal mendengar di sebuah pemancar radio gelap atau radio tak resmi. Itu pula kegemarannya, yaitu mencari nyanyian-nyanyian bagus tapi di luar daftar lagu 'top hits,' 'billboard,' atau nyanyian-nyanyian yang digemari secara umum.
"Aku lebih suka memilih yang minoritas, yang terpinggirkan, yang tidak diketahui orang banyak tapi sesungguhnya jauh lebih berkualitas," akunya dengan nada kesombongan yang ganjil.
"Aku lebih suka memilih yang minoritas, yang terpinggirkan, yang tidak diketahui orang banyak tapi sesungguhnya jauh lebih berkualitas," akunya dengan nada kesombongan yang ganjil.
.................................
Saudara pembaca, sampai batas ini pelu diketahui, saya (JA) tidak menemukan data-data hubungan kecintaan tokoh kita, Aji, dengan karya-karya sastra. Yang saya ketahui di kemudian hari setelah berjumpa, saya bisa menyimpulkan bahwa ia seorang pembaca yang baik serta mengenal banyak hal tentang sastra, pengetahuannya di atas rata-rata pelukis atau seniman rupa lainnya, bahkan begitu mendalam, semendalam penyelaman di dunianya sendiri. Hemat saya, kecintaannya kepada satra itu, pun dihampiri dengan pola keberpihakan seperti pada pilihan musik yang disukainya, yaitu berpihak kepada yang tersisih, terpinggirkan, minoritas, tapi menyimpan mutiara dan gemilang cahaya. Saya sendiri menjadi ingat kepada esei Octavio Paz manakala membicarakan sastra yang posisinya minoritas tapi menginspirasi banyak kehidupan dalam waktu berabad-abad. Di dalam salah satu eseinya yang berjudul “ Yang Sedikit dan Yang Banyak,” Paz bahkan menulis “buku-buku best seller bukanlah karya-karya sastra; buku-buku itu adalah barang dagangan... buku-buku yang terakhir itu secara harfiah dihajatkan untuk dikonsumsi oleh pembaca, sementara karya sastra mempunyai kemampuan untuk kembali kepada kehidupan.”[1]
Aji, bahkan cenderung selalu menempatkan diri dan hidupnya di pinggiran, bertahan di dalam berbagai hal untuk tidak ambil bagian ke tengah. Di dunianya sendiri yaitu senirupa, ia bahkan seperti menghindar dari pencatatan sehingga keberadaannya menjadi jarang disebut-sebut. Itu paradoks sekali dengan pengetahuan dan kesungguhannya; untuk membuat sebuah lukisan “kucing” pun dilandasinya oleh seperangan latar belakang, pengetahuan, dan kedalaman emosionalnya. Untuk membuktikannya, beruntunglah saya menemukan salah satu tulisannya di dalam ceceran blog yang berjudul “Saya, Edgar Allan Poe, dan Kucing Hitam.” Kita perhatikan keseriusan serta acang-ancang untuk menyelami keberpihakan hidupnya itu di dalam tulisannya berikut ini:
Dulu, sudah lama sekali, ketika saya masih duduk di kelas dua SMA tahun 1972, saya menemukan potongan tulisan riwayat hidup Edgar Allan Poe. Tulisan pada koran tua itu tak lengkap karena sambungan halamannya tak ditemukan lagi. Ada rasa iba ketika membaca riwayat Edgar Allan Poe (EAP) tersebut. Kehidupannya begitu miskin, bahkan ayahnya yang bekerja sebagai aktor sandiwara keliling, itu meninggal karena TBC (tubercolosis). Nasib EAP sendiri kadungsang-dungsang, menitipkan diri dan kehidupannya kepada keluarga John Allan, seorang pedagang tembakau yang kemudian sebagian namanya menjadi nama EAP. Di kemudian hari pun ia masih hidup menumpang di bibinya, Ibu Clemms, bahkan istrinya meninggal karena kelaparan di suatu musim dingin.
Rasa iba yang muncul, tentu saja, tak lebih dari rasa iba yang kekanak-kanakan yaitu simfati yang muncul karena mempersamakan hidup EAP dengan kehidupan saya sendiri yang tidak jauh berbeda. Merasa sama-sama miskin, bahkan belakangan hari Abah saya mengatakan tak sanggup untuk membiayai saya untuk melanjutkan sekolah.
Kecuali riwayat hidup EAP yang sepenggal, saya tak pernah membaca hal lainnya apalagi karya-karyanya. Namun entah mengapa nama EAP tersebut seolah-olah menempel di benak dan di hati.
Pada tahun 1975an di belokan jalan Braga ke arah jalan Tamblong, Bandung, itu terdapat perpustakaan British Council. Pendaftarannya murah, pinjam bukunya pun gratis kecuali jika ada keterlambatan atau buku yang dipinjam hilang. Saya daftar di sana, dan buku yang kali pertama dicari adalah kumpulan karya EAP.
Saya tak ingat lagi penerbit dan tahun terbitnya. Buku tersebut bersampul tebal (hard cover) berwarna hitam atau tepatnya hijau pekat dekat ke warna hitam, judulnya Selected Tales Edgar Allan Poe. Buku tersebut ternyata mengalami bolak-balik peminjaman karena saya tak pernah selesai membacanya sehingga berulang-ulang harus diperpanjang masa pinjamnya. Maksud tak selesai dibaca tersebut bukan dalam arti keseluruhan satu buku, melainkan satu cerpen pun tak pernah sanggup membacanya sampai selesai. Dan masih tak selesai juga sampai British Council bubar. Alasannya tak selesai membaca, itu sederhana saja karena memang saya tak menguasai bahasa Inggris sehingga setiap membaca itu dengan cara sambil membuka kamus dan memeriksa kata per kata.
Belakangan hari ketika, katakanlah, daya baca saya pada teks berbahasa Inggris sudah agak lumayan. Cerpen yang sama yaitu “Kucing Hitam,” saya lacak kembali hingga akhirnya saya dapatkan dalam bahasa aslinya, bahasa Inggris Amerika. Saat ini sejumlah nama lain seperti Tolstoy, Chekov, Steinbeck dan karya-karyanya sudah saya kenal.
Ini adalah masa ketika saya sudah kembali ke Bandung dan sempat kuliah di jurusan teater. Di bangku kuliah, yang antara lain pelajaran sastranya saya dapat dari Pak SKM, bacaan saya pun semakin luas lagi. Untuk sejumlah karya lain, saya relatif tak mengalami kesulitan untuk membacanya. Tapi lain halnya dengan cerpen “Kucing Hitam,” lagi-lagi menthok.
Pada hari ulang tahun saya yang ke-50, sahabat kami, JR, memberi kado yang ajaibnya adalah “Selected Tales : Edgar Allan Poe” terbitan Penguin (1994). Malam selepas acara ulang tahun, itu pun segera yang saya buka adalah halaman 311 yaitu cerpen “the Black Cat.” Harus diakui, malam itu pun tidak serta-merta menjadi lancar pembacaannya. Namun, ketidaklancaran membaca kali ini dilalui sambil tertawa, yaitu menertawakan kebodohan masa lalu serta tertawa membaca bahwa kalimat-kalimat EAP itu memang melompat-lompat, terkadang kalimatnya tak lengkap, satu kalimat dengan anak kalimatnya itu terkadang ‘seperti’ tidak bersambungan, bahkan bisa pula berantakan. Sementara “Kucing Hitam” ditulis, memang manakala EAP hidupnya sudah sangat kacau di antara alkohol, obat bius, kolera, penyakit anjing gila (rabies), dan kehidupannya yang terlunta-lunta.
Dan, hemat saya, “Kucing Hitam” betul-betul mengagumkan. Sosok kucing hitam tersebut tiba-tiba menjadi metafor sekaligus menjadi jalan penghubung untuk penggambaran metamorfosa manusia yang menjadi binatang, sementara “kucing” memperlihatkan naluri kasih-sayang yang seharusnya menjadi ciri kemanusiaan.
Sepanjang tahun 1995 – 2005an, saya pun memiliki atau tepatnya selalu kedatangan seekor kucing hitam yang kami beri nama Si Timmy, sementara kucing hitamnya EAP bernama Pluto. Kami tak sengaja memeliharanya. Tapi setiap kali ia datang, kami senantiasa menyempatkan memberinya makan. Si Timmy pandai sekali menangkap tikus, gesit, dan tidak manja. Lain hal di usianya yang renta, sungguh membuat kami sering iba, Si Timmy tak bisa lagi bergerak lincah bahkan lebih banyak berdiam diri. Pada masa-masa di ujung usianya itulah Si Timmy saya lukis untuk mengenang semua kenangan panjang di atas, termasuk untuk mengenang pula persahabatan guru-murid, ayah-anak, atau kakak-adik, antara PI dan saya, dan demi mengenang Si Timmy sendiri yang pernah hadir di tengah-tengah keluarga kami bahkan para tetangga yang mengenalnya dengan baik.
Saya, bahkan ketika menyusun ini semua menjadi terpengaruh karena kerap membayangkan Aji itu tak lain dari “Si Kucing” hitam seperti yang dideskripsikannya sendiri yaitu kadungsang-dungsang (terlunta-lunta), tak ada yang memeliharanya secara formal, hidup hanya dari pengasihan, tak manja tapi tangkas menangkap tikus, kadang mencuri-curi juga jika ada kesempatan. Kemudian lebih banyak berdiam diri di masa tuanya, tanpa sanak-saudara, tak ada yang mengingat, tak ada yang mengenangnya.
Apakah betul Aji itu Si Kucing Hitam? Ah, kurang tepat juga karena tak ada kucing yang hidup di laut. Kita lihat saja bagaimana kejadian selanjutnya.
.................................
Tapi, lanjutnya masih dalam nada sanggah, tak bisa hidup disimpulkan sesingkat itu. Jika arti hidup hanya seringkas itu, betapa tak ada arti dan sia-sianya hidup indung yang sudah demikian terbanting-banting oleh keadaan, betapa tak ada arti kepergiannya sekarang ini yang jauh-jauh meninggalkan rumah. Dalam satu perjalanan ini saja sudah ada riwayat panjang, paling tidak telah memunculkan dua tokoh baru yaitu Pak Efix dan si gundul Sadra. Terutama perjuangan indung dan Abah, bukankah itu merupakan upaya manusia agar memiliki arti dalam hidupnya? Indung dan Abah itu sangat berarti, setidak-tidaknya bagi diriku. Bahkan Si S yang pernah membunuh dan masuk penjara, itu adalah juga manusia yang menjalani hidupnya, berjalan dalam memberi arti bagi dirinya. Ya, hidup ini tak lain merupakan sekumpulan arti yang muncul dari jejak-jejak perbuatan. Dari jejak-jejak arti itu pula manusia saling belajar, berupaya untuk memahami setiap jejak diri atau pun melalui jejak yang lain, memiliki kemerdekaan untuk memilih salah satu atau beberapa jejak di antaranya, dan kemudian melanjutkan hidupnya yang artinya membuat jejak-jejak baru.
"Ah, saya tak bisa terima jika hidup itu dikatakan sia-sia," cetus Aji dengan bersuara tapi tetap tak terdengar siapapun yang lelap tertidur. Tapi, sanggah pikirannya juga dengan segera, kasus dan konteks "born to die" itu berbeda. Munculah, kini, kesombongannya untuk pamer pengetahuan yang tertahan waktu ngobrol dengan Sadra yang mungkin kini telah tiba di Magelang. "Saya sangat suka musik," kata Aji seolah sedang berhadapan dengan Sadra, "bukan hanya senang mendengarkan, tapi senang pula membaca keterangan-keterangan di sekelilingnya."
Betul sekali pengakuannya itu, kesukaannya relatif di atas rata-rata, bahkan mendekati kegilaan yang artinya tergila-gila kepada musik. Itu yang membuatnya banyak berteman dengan orang-orang yang juga mencintai musik. Hanya, bedanya, Aji selalu berupaya mengejar informasi di balik musik-musik yang ia sukainya. Sejumlah informasi itu ia dapat dari sampul-sampul PH (piringan hitam). Ketika zaman kaset datang, ia tetap memilih PH karena teks informasinya jauh lebih lengkap, paling tidak begitulah menurut anggapannya. Ini pula yang membuat dirinya sering bertandang ke pemancar-pemancar radio gelap yang pernah menjamur di B. Di kemudian hari, meski harus dengan bersusah payah dan berlama-lama menabung, ia mempertaruhkan segala kekurangan hidupnya untuk mengejar PH-PH loakan di jalan Surabaya. Dengan penguasaan bahasa Inggris yang masih buruk, ia senantiasa berupaya membaca, bersusah-payah berjuang untuk faham. Tambahan atau informasi-informasi lebih jauhnya lagi, itu didapatnya dari majalah Aktuil pinjaman atau pun loakan, majalah atau pun buku-buku terbitan luar yang juga dikejarnya di pasar loak.
"Zaman born to die itu memang zaman yang penuh dengan keputus-asaan, tapi sekaligus zaman musik yang paling subur dalam hal kreativitas dan jelajah musikalitasnya, ada paradoks yang luar biasa antara daya mati dan daya hidup," gumamnya dengan nada sombong karena yakin tak ada yang mendengar dan ia yakin tak akan ada pula yang memahaminya. Nyanyian tersebut terbit tahun 1969, lanjutnya, itu berarti di dalam suasana berlangsungnya Perang Vietnam (1957 - 1975). Lagunya sendiri tidaklah berkenaan dengan perang tersebut, tapi lebih menggambarkan suasana hati anak-anak muda dari negara-negara yang terlibat perang. Sejatinya ini adalah perang antara Republik Vietnam (Vietnam Selatan) yang berhaluan liberal dan Republik Demokratik Vietnam (Vietnam Utara) yang berhaluan komunis. Vietnam Selatan bersekutu dengan AS, Korea Selatan, Thailand, Australia, Selandia Baru, dan Filipina. Sementara Vietnam Utara bersekutu dengan USSR dan Tiongkok. Selain diperkirakan menelan korban 280.000 orang di pihak selatan dan 1.000.000 di pihak utara, perang selama 18 tahun ini diketahui berbiaya sangat tinggi, sangat membetot seluruh perhatian yang bertikai hingga membengkalaikan aspek kehidupan lainnya, dan 'membunuh' sejumlah anak muda yang di'wajib militer'kan. "Ini bukanlah perang kita tapi kita dijebloskan terus menerus di ladang pembantaian," demikian suara anak-anak muda mulai memprotes. Dari kesadaran ini pula kecemasan dan perasaan kesia-siaan hidup bermula. "Kita ini dilahirkan hanya untuk mati," teriak anak muda yang lainnya lagi. Lahir di bawah bayang-bayang nasib buruk, seperti secara simbolis tercermin pada lagu "born under the bad sign." Keputus-asaan dan perasaan kesia-siaan kian menjadi-jadi ketika politik dan parlemen AS bergeming, kemudian para anak muda pun tahu tingkat korupsinya begitu tinggi, sementara gereja pun tak bersuara apa-apa dan/atau tak memberikan pencerahan atas bayang-bayang takdir buruk ini. Maka anak-anak muda menempuh jalannya sendiri untuk keluar dari keputus-asaan dan perasaan kesia-siaan. Salah satunya yaitu dengan nyanyian suasana hati, simbolik, atau pun bernada pembangkangan. "Daripada mati muda dalam derita perang lebih baik mati muda dalam keadaan senang," cetus Janis Joplin yang mungkin satu suara pula dengan Jimi Hendrix, Jim Morison, Brian Jones, dan banyak lagi lainnya; “hidup singkat, mati muda, mendingan lelah membara (Freudenberger) ketimbang menua” (live fast, die young, and ‘it’s better to burn out than to fade away), tulis Neil Young. "Let's Go Get Stoned," sebut Joe Cocker di dalam nyanyian pada peristiwa Woodstock 1969. Dengan itu lahirlah generasi beatnik: generasi apriori bahkan a-politik - membuat politik atau kehidupannya sendiri yang menolak segala macam formalisme, kepura-puraan, dan menjadi kaya karena korup; ibadatnya pun membuat caranya sendiri, bahkan satu sama lain bisa berbeda, intinya meditasi yang dilatari musik, mabuk, psychedelic. "Jika perlu tak lagi bersekutu dengan Tuhan yang tak mau lagi turun tangan membereskan derita manusia itu, tapi ayo bersekutu dengan setan saja," seperti dikatakan Robert Johson di dalam nyanyian "aku dan setan" atau 'bersimfati ke iblis'nya Rolling Stones; dan mereka ke mana-mana menyampaikan pesan 'mari bercinta - bukan perang' (make love not war).
Keef Hartley memang grup Inggris -- lanjut Aji untuk menghubungkannya kembali dengan simpang-siur pikiran yang semula -- tapi seperti 'British Invasion' yang lain, mereka tumbuh di AS, terbawa situasi umumnya anak muda AS. Jangan lupa, pencipta lagunya sendiri, Gary Thain, itu berkembangsaan Selandia Baru, salah satu negara yang terlibat di dalam Perang Vietnam. “Ah, tapi untuk apa mencatat itu semua, untuk apa membicarakan Keef Hartley” bantahnya sendiri, “adakah gunanya?” Lantas separo pikirannya terhenyak menuding sambil berdiri, “itu jika dilihatnya hanya setempurung grup musik itu!” Ia pun menambahkan, di balik itu adalah tanda-tanda zaman sedang terjadinya perubahan besar-besaran di dunia. Kita sendiri yang mengalami gerakan perubahan melalui Angkatan ’66, langsung tak langsung berada di dalam arus besar tersebut. Gairah budaya tandingan sedang merebak di mana-mana, kesadaran untuk melakukan pembebasan terhadap tirani kekuasaan atau pun kungkungan budaya hipokrit menggelegak di Kuba, Meksiko, merata di Eropa, AS. Suara-suara seperti kebebasan untuk menjelajah potensi diri, kebebasan berkreasi, kebebasan ekspresi personal, kebebasan menata diri, bebas dari kecemasan dan status hierarkis, itu disuarakan di mana-mana dengan gaya dan bahasanya masing-masing. Pola pendidikan anak pun didebat agar tidak lagi menjadi tempat yang menakutkan melainkan mesti menjadi tempat tumbuhnya keberanian, demikian halnya ihwal citarasa estetik, kecintaan kepada alam semesta, gairah musik, bahkan refleksi syahwat, itu semua begitu kuat menandai kemerdekaannya. Pada tahun-tahun ini pula Rendra mukim dan kembali dari AS lantas membuat kampung urakan dan mementaskan teater bip-bop, Sutardji Calzoum Bachri sambil mabuk bir mengeluarkan syair-syair ‘bunyi, namun anehnya teoritikus seni dan sastra yang bahkan seperti Goenawan Mohamad pun berteori dengan pendekatan antah-berantah, cenderung ngawur kehilangan konteks. Padahal inilah masa munculnya gerakan madani, kiri baru, gerakan kebebasan berpendapat, anti-perang, feminisme, environmentalisme, dsb., yaitu gerakan yang tidak semata-mata estetika seperti pada diskusi Kantian, modernisme, dan apa lagi Angkatan ’45 dan Pujangga Baru; melainkan bergerak ke arah konteks serta kebangkitan sosial.
Ketika gairah perubahan itu muncul di Indonesia, bersama gelombang gerakan Angkatan ’66 ada pula harapan yang terbit. Tapi kenyataannya hanya pergeseran kekuasaan atau bukan terjadinya perubahan. Bahkan militerisme berhias senyum sang jenderal sudah dimulai sejak awal kekuasaannya. Tak ayal kritik serta konflik baru pun segera bermunculan. Kesulitan hidup masih menjadi bagian keseharian orang-orang kebanyakan. Bahkan terjadi pemusatan di segala bidang. Jakarta yang menjadi pusat pemerintahan dan sekaligus pusat peredaran sebagian besar uang yang diterbitkan Bank Indonesia, berjalan sendiri meninggalkan daerah-daerah lain yang tak sedikit megap-megap tertinggal dalam keterbelakangan. Hedonisme dirayakan dengan cara luar biasa yang sekaligus efektif untuk menina-bobokan rakyat, menjadi sihir agar lupa kepada keadaan yang sebenarnya, anteng dalam sihir lainnya yang disebut stabilitas, sempurnalah hidup yang kian seolah-olah. Perubahan itu pun gagal.
**
Matahari menjelang terbit, hujan rintik. Mulai dari Tabanan, satu demi satu penumpang turun di perjalanan sebelum terminal Ubung. Sejak dari Canggu kemudian masuk ke jalan Diponegoro, tinggallah satu-satunya penumpang yang tersisa yaitu Aji.
“Turun di mana?” Tanya petugas bis, Aji sejenak diam karena tak memiliki jawaban.
“Denpasar,” jawab Aji sekenanya karena nama kota itulah satu-satunya yang ada di dalam pikiran.
“Oh, hotel Denpasar?” Tanya petugas itu lagi. Aji tak bereaksi apapun karena tak punya pilihan.
“Hotel Denpasar, kiri,” teriak petugas itu tak lama kemudian.
“Ini hotel Denpasar,” lanjutnya kepada Aji yang hanya bisa menatap kemudian otomatis meraih ranselnya dan turun.
“Hotel Denpasar, kiri,” teriak petugas itu tak lama kemudian.
“Ini hotel Denpasar,” lanjutnya kepada Aji yang hanya bisa menatap kemudian otomatis meraih ranselnya dan turun.
Begitu kakinya menyentuh tanah kota Denpasar yang basah, bis itu pun segera melaju dan menghilang, saat itu pula tampaklah di seberang terpampang bangunan dengan tulisan “Hotel Denpasar.” Aji sempat tersenyum membayangkan petugas bis tadi mungkin berfikiran dirinya hendak ke hotel tersebut.
“Ah, atau sudah ingin secepatnya menurunkan sisa satu-satunya penumpang,” bantah pikirannya yang lain.
Sambil bertundung ranselnya dari rintik hujan, Aji mencari tempat berteduh, dijumpainya sebuah kios rokok yang belum buka dan bertepatan menghadap Hotel Denpasar.
Dari jarak yang hanya terpisah jalan, Aji membayangkan penghuni di hotel tersebut mungkin masih tidur lelap. Hanya itu saja sebab pikiran berikutnya adalah harus menentukan arah ke mana harus melangkah. Dari punggung hotel tampak cahaya langit meremang berangsur menuju terang. Aji memastikan dari arah sana matahari sebentar lagi terbit.
"Jika itu timur," pikirnya sambil memperkirakan bahwa sebelah kiri dari tempatnya berdiri mestinya utara. "Maka," kata suara hatinya pula, "kalau sudah agak terang dan hujan reda, ke arah utara itulah aku akan melangkah."
"Klotrak," terdengar suara semacam kunci atau pintu di belakang tempatnya berdiri. Aji menoleh, pemilik kios tempatnya berteduh sudah datang dan sedang bersiap untuk buka. Senang sekali hati Aji melihat ibu setengah baya itu melempar senyum padanya. Itu senyum sekaligus orang pertama yang dijumpainya pada pagi pertama dan kali pertama pula ia menginjakkan kaki di pulau Bali.
"Mau ke mana, nak, eh, adik ini?" Tanya ibu itu ramah.
"Ke sana, bu," jawab Aji sambil menunjuk arah yang tadi dianggapnya utara. "Ke kampung Jawa, ya?" Tanya ibu itu sambil membuka papan penutup bagian depan kiosnya. "Ya," jawab Aji yang sesungguhnya asal jawab, kemudian ia membantu mengangkat lembaran papan cukup lebar berlapis seng itu. "Simpan di mana, Bu?"
"Oh, di belakang sana, Nak. Terimakasih ya."
Cahaya pagi sudah cukup terang, kini Aji bisa melihat di belakang kios si ibu itu berupa tanah kosong, kios sederhana itulah satu-satunya bangunan tak resmi yang ada di sana.
"Dulu waktu ibu baru datang dari Purwokerto, pernah tinggal sebentar di kampung Jawa," kata ibu kios membuka obrolan sambil membereskan barang dagangnya, "adik ini baru datang dari Jawa, ya?"
"Kenapa ibu menduga begitu?" Tanya Aji penasaran atas ketepatan dugaan ibu kios.
"Lha, ibu kan tinggal di kios ini, tadi waktu masih gelap mendengar bis berhenti dan ada yang turun, lantas ketemu adik ada di sini. Sepagi ini jarang sekali ada orang lewat sini, jadi mesti adik ini yang tadi turun dari bis," urai si ibu kios.
Aji jadi tahu kalau ibu ini termasuk cerewet atau tepatnya suka berceloteh, syukur nada bicaranya sangat ramah.
Lebih dari itu, ia merasa senang karena ada yang bisa diajak bicara.
"Ya, bu, saya baru saja datang... berapa jauh dari sini ke kampung Jawa?"
"Lumayan sih, ini kan jalan Diponegoro, kalau jalan terus ke sana, nanti akan ada jalan Hasanudin, belok saja ke kiri sana sampai ketemu jalan Gunung Kawi, terus ke utara lagi, sampai jalan Gajah Mada belok kanan, setelah lewat Pura Desa Lan Puseh nanti ada jalan Kartini, masuklah ke situ terussss... lurus sampai ketemu jalan Maruti, nah itu sudah masuk daerah Kampung Jawa... bis tadi bukankah berhenti di Ubung? Harusnya anak atau adik ini turun di sana, itu sudah dekat sekali..."
"Ooo, ya, tadi memang bisnya berhenti di terminal itu, Bu?"
"Ya, itu Ubung, mungkin karena mau pulang ke pangkalannya, maka dari Ubung terus jalan lagi."
"Pantas semua penumpang turun di sana tadi itu, sisanya hanya satu-satunya saya yang turun di sini."
"Bu, terima kasih atas petunjuknya, saya akan jalan ke sana," kata Aji.
"Oh, ya, sama-sama, ada saudara ya di sana?" Tanya si ibu kios seperti belum berkehendak menghentikan pembicaraan.
"Tidak ada, Bu," jawab Aji ringkas.
"Lha, jadi ke Kampung Jawa itu mau ke siapa?"
"Tidak ke siapa-siapa, hanya hendak ke sana saja," itulah jawaban Aji yang sesungguhnya. Di dalam hati pun ia menyatakan terimakasih yang sesungguh-sungguhnya sebab ketika si ibu kios menyebut Kampung Jawa maka Aji jadi mengetahui suatu tempat, menjadi ada arah yang bisa dituju, meski tak pernah tahu akan ke mana pula di sana itu.
Setelah untuk kali kedua pamit, Aji melangkah ke arah utara. Tersirat ada gurat kecewa di wajah si ibu kios. Ia, rupanya, belum siap untuk mengucapkan perpisahan.
“Ah, atau sudah ingin secepatnya menurunkan sisa satu-satunya penumpang,” bantah pikirannya yang lain.
Sambil bertundung ranselnya dari rintik hujan, Aji mencari tempat berteduh, dijumpainya sebuah kios rokok yang belum buka dan bertepatan menghadap Hotel Denpasar.
Dari jarak yang hanya terpisah jalan, Aji membayangkan penghuni di hotel tersebut mungkin masih tidur lelap. Hanya itu saja sebab pikiran berikutnya adalah harus menentukan arah ke mana harus melangkah. Dari punggung hotel tampak cahaya langit meremang berangsur menuju terang. Aji memastikan dari arah sana matahari sebentar lagi terbit.
"Jika itu timur," pikirnya sambil memperkirakan bahwa sebelah kiri dari tempatnya berdiri mestinya utara. "Maka," kata suara hatinya pula, "kalau sudah agak terang dan hujan reda, ke arah utara itulah aku akan melangkah."
"Klotrak," terdengar suara semacam kunci atau pintu di belakang tempatnya berdiri. Aji menoleh, pemilik kios tempatnya berteduh sudah datang dan sedang bersiap untuk buka. Senang sekali hati Aji melihat ibu setengah baya itu melempar senyum padanya. Itu senyum sekaligus orang pertama yang dijumpainya pada pagi pertama dan kali pertama pula ia menginjakkan kaki di pulau Bali.
"Mau ke mana, nak, eh, adik ini?" Tanya ibu itu ramah.
"Ke sana, bu," jawab Aji sambil menunjuk arah yang tadi dianggapnya utara. "Ke kampung Jawa, ya?" Tanya ibu itu sambil membuka papan penutup bagian depan kiosnya. "Ya," jawab Aji yang sesungguhnya asal jawab, kemudian ia membantu mengangkat lembaran papan cukup lebar berlapis seng itu. "Simpan di mana, Bu?"
"Oh, di belakang sana, Nak. Terimakasih ya."
Cahaya pagi sudah cukup terang, kini Aji bisa melihat di belakang kios si ibu itu berupa tanah kosong, kios sederhana itulah satu-satunya bangunan tak resmi yang ada di sana.
"Dulu waktu ibu baru datang dari Purwokerto, pernah tinggal sebentar di kampung Jawa," kata ibu kios membuka obrolan sambil membereskan barang dagangnya, "adik ini baru datang dari Jawa, ya?"
"Kenapa ibu menduga begitu?" Tanya Aji penasaran atas ketepatan dugaan ibu kios.
"Lha, ibu kan tinggal di kios ini, tadi waktu masih gelap mendengar bis berhenti dan ada yang turun, lantas ketemu adik ada di sini. Sepagi ini jarang sekali ada orang lewat sini, jadi mesti adik ini yang tadi turun dari bis," urai si ibu kios.
Aji jadi tahu kalau ibu ini termasuk cerewet atau tepatnya suka berceloteh, syukur nada bicaranya sangat ramah.
Lebih dari itu, ia merasa senang karena ada yang bisa diajak bicara.
"Ya, bu, saya baru saja datang... berapa jauh dari sini ke kampung Jawa?"
"Lumayan sih, ini kan jalan Diponegoro, kalau jalan terus ke sana, nanti akan ada jalan Hasanudin, belok saja ke kiri sana sampai ketemu jalan Gunung Kawi, terus ke utara lagi, sampai jalan Gajah Mada belok kanan, setelah lewat Pura Desa Lan Puseh nanti ada jalan Kartini, masuklah ke situ terussss... lurus sampai ketemu jalan Maruti, nah itu sudah masuk daerah Kampung Jawa... bis tadi bukankah berhenti di Ubung? Harusnya anak atau adik ini turun di sana, itu sudah dekat sekali..."
"Ooo, ya, tadi memang bisnya berhenti di terminal itu, Bu?"
"Ya, itu Ubung, mungkin karena mau pulang ke pangkalannya, maka dari Ubung terus jalan lagi."
"Pantas semua penumpang turun di sana tadi itu, sisanya hanya satu-satunya saya yang turun di sini."
"Bu, terima kasih atas petunjuknya, saya akan jalan ke sana," kata Aji.
"Oh, ya, sama-sama, ada saudara ya di sana?" Tanya si ibu kios seperti belum berkehendak menghentikan pembicaraan.
"Tidak ada, Bu," jawab Aji ringkas.
"Lha, jadi ke Kampung Jawa itu mau ke siapa?"
"Tidak ke siapa-siapa, hanya hendak ke sana saja," itulah jawaban Aji yang sesungguhnya. Di dalam hati pun ia menyatakan terimakasih yang sesungguh-sungguhnya sebab ketika si ibu kios menyebut Kampung Jawa maka Aji jadi mengetahui suatu tempat, menjadi ada arah yang bisa dituju, meski tak pernah tahu akan ke mana pula di sana itu.
Setelah untuk kali kedua pamit, Aji melangkah ke arah utara. Tersirat ada gurat kecewa di wajah si ibu kios. Ia, rupanya, belum siap untuk mengucapkan perpisahan.
Pagi telah datang, langit kian terang, di jalanan pun telah tampak tanda-tanda
kehidupan.
Menyusur pinggiran jalan berupa tanah campur kerikil, tercium wangi tanah basah karena hujan tadi. Sisa-sisa air di rerumputan pada jalan lebih pinggir lagi, tampak pula masih bergelantungan.
Menyusur pinggiran jalan berupa tanah campur kerikil, tercium wangi tanah basah karena hujan tadi. Sisa-sisa air di rerumputan pada jalan lebih pinggir lagi, tampak pula masih bergelantungan.
"Tapi," bisiknya dalam hati, "aku kenal dengan wangi tanah ini."
Kesendirian dan kesadarannya bahwa kini berada di tanah asing, itu mengajaknya
berkelana mencari sekadar teman sepi, bawah sadarnya lah yang membawa ia
singgah di tanah purbawi. Dengan itu, bumi yang jauh dari kampung halaman, bumi
yang kali pertama ini didatanginya pun menjadi terasa akrab sebagai bumi
manusia yang menemani langkah-langkahnya.
Di penghujung sebuah gang yang bertemu dengan jalan yang ia lalui, terlihat
seorang gadis dengan kebaya brokat biru agak ungu, berselendang kain kuning. Gadis
itu sejenak berhenti di tengah gang persis pula di titik tengah pertemuan gang
tersebut dengan jalan besar. Ia kemudian jongkok untuk menempatkan sesuatu,
tampak sejenak seperti yang berdoa dengan menangkupkan dua telapak tangan di
atas kepala, lalu kembali pergi.
Adegan gadis yang mungkin sebaya dengan dirinya, itu menarik perhatiannya.
Gadis tadi sudah tak tampak, tinggal lah benda yang tadi ditaruhnya di titik
pertemuan gang dan jalan. Benda tersebut berupa wadah yang terbuat dari lipatan
janur (daun kelapa muda), Aji mendekat. Tampak wadah tersebut berisi sekuntum
kembang kamboja kuning, sepotong daun pisang berisi secomot nasi dan serupa
lauknya, sepotong kue, lembaran kembang mawar. Aji lebih mendekat untuk
memastikan kembang warna oranye, ternyata dari jenis mawar pula. Dalam jarak
itu terlihat masih ada seiris pisang matang beserta kulitnya, kembang angrek
warna ungu, dan sejumput iris-irisan dari lembaran gedebog pisang.
Aji tak faham dengan benda itu, tapi perasaannya terbawa ke situasi khusuk. Ia
hanya jongkok dan merunduk sedekat mungkin, tapi tak berani menyentuh benda
itu. Ketidak tahuan dan situasi khusuk, mendorongnya untuk hormat pada benda
itu.
Itulah benda pertama yang ia lihat dan begitu mengesankan. Di kemudian hari dan
sesuai pesan Sadra yang mulai menjadi semacam keharusan, ia mencatat benda
tersebut namanya: sesajen. Tapi, seiring waktu, kata "sesajen" itu
sempat dicoretnya meski tetap terbaca, dari coretan tersebut diberi tanda panah
yang menunjuk ke kata penggantinya: "bali."
Pencoretan catatannya itu dilakukan setelah Aji mendapatkan keterangan terutama
dari sumber Bhagawan Dwija, bahwa alkisah adalah Bhuwana Tattwa Maha Rsi
Markandeya bersama pengikutnya membuka daerah baru Puakan, Taro – Tegal Lalang,
Gianyar. Sang Maha Rsi kemudian mengajarkan cara membuat berbagai bentuk
upakara sebagai sarana upacara. Mula-mula ajaran tersebut beredar hanya pada
kalangan pengikutnya saja, tapi lama kelamaan berkembang ke penduduk lain di
sekitar Desa Taro.
Jenis upakara tersebut menggunakan bahan baku daun, bunga, buah, air, dan api,
disebut: “Bali.” Sejak itu pula penduduk yang melaksanakan pemujaan dengan
menggunakan sarana upakara itu disebut sebagai orang-orang Bali.
Bersamaan dengan perjalanan waktu, ajaran Maha Rsi Markandeya ini berkembang ke
seluruh pulau, sehingga pulau ini pun dinamakan Pulau Bali, pulau dengan
penduduk yang melaksanakan pemujaan dengan sarana upakara (Bali).
Di sisi lain adalah tradisi beragama yang menggunakan "banten," yaitu
tradisi yang dikembangkan oleh Mpu Sangkulputih, Mpu Kuturan, Mpu Manik
Angkeran, Mpu Jiwaya, dan Mpu Nirartha.
Maka ada pula orang Bali yang menyebut sarana upakara itu dengan sebutan "banten." Konon berasal dari kata "wanten" yang kemudian mengalami perubahan seperti halnya kata "wantu" menjadi "bantu."
Maka ada pula orang Bali yang menyebut sarana upakara itu dengan sebutan "banten." Konon berasal dari kata "wanten" yang kemudian mengalami perubahan seperti halnya kata "wantu" menjadi "bantu."
Ah, tulis Aji di buku catatannya, dua nama itu sama, fungsinya sebagai alat
bantu pemujaan. Bali atau banten adalah “niyasa” atau simbol keagamaan umat
Hindu-Bali, yang antara lain sebagai sarana persembahan atau tanda terima kasih
kepada Hyang Widhi, sebagai alat konsentrasi memuja Hyang Widhi, sebagai simbol
Hyang Widhi atau manifestasi-Nya, sebagai alat pensucian, dan sebagai pengganti
mantra.
Setelah cukup lama memandang benda itu, Aji beranjak dengan khusuk, dan dengan
khusuk pula meninggalkannya.
Seiring langkah kakinya menuju arah utara, Aji masih menemukan bali atau banten
itu di setiap pertemuan jalan. Sebagian masih segar seperti yang pertama ia
lihat, dan sebagiannya lagi tampak sudah terlindas kendaraan yang lewat. Bali
dan banten dalam jumlah banyak, ia lihat di persimpangan jalan Diponegoro -
Hasanudn, dan simpang jalan lainnya.
Aji yang kala itu belum faham, anehnya, menyimpulkan bali atau banten yang
telah rusak terlindas kendaraan itu sebagai prinsip "berasal dari alam dan
kembali ke alam."
[BERSAMBUNG]
[1] Lihat: Octavio Paz, “Suara Lain,” Komodo Books, tanpa angka tahun kecuali versi bahasa Inggris, “The Other Voice,” terbitan Harcourt Brace Javanovich, Inc. 1991.
Komentar
Posting Komentar