Postingan

Menampilkan postingan dengan label Herry Dim

7 x 7 = ∞ infinity

Gambar
Herry Dim Indonesia, b. 1955 Art is the path of wandering to the destination as far as and as widely as possible. We always find miracles, passions, freedom, and the peak of happiness at at each point of destination. Similarly, Herry Dim's statement as written in one of his works. Furthermore he said: "The art way always brings him to meet with artists from different times and lives. Each meeting opened the way to greet each other, talk, and dig up his techniques to then use my own language."  It is not surprising that from him were born works such as "Hi Freud, Hi Dali, Hi Miró" who address Sigmund Freud, Salvador Dali, and Joan Miró, "Ketuk Tilu Naek Pablo" (Three Tap Dance Up to Pablo) in the meaning of dancing with Pablo Picasso, or "Bercanda dengan Gogh" in the sense of joking with van Gogh, etc. Herry Dim has ever painted in various sizes even...

Harry Roesli Sang Jenius Monumen Musik Indonesia

Gambar
Catatan: Herry Dim Prakata SEKIRA setahun sebelum wafatnya Harry Roesli (1951-2004), ia sudah berkata: " Herr, urang rek nerbitkeun buku kandel, moal kurang ti 200 halaman tapi kabeh halamanna kosong kecuali prakata jeung sambutan " (Herr, saya hendak menerbitkan buku tebal, tidak kurang dari 200 halaman tapi semua halamannya kosong kecuali prakata dan tulisan sambutan). "Maksud Mas Harry?" Demikian sontak saya bertanya. " Enya, engke eusian ku maneh " (Ya, nanti kamu yang mengisi), jawabnya. Pernyataannya sangat serius. Itu di luar kebiasaan Harry Roesli yang biasanya penuh dengan canda. Maka saya dan Sulasmoro (panggilannya Moro) menanggapinya dengan serius pula. " Moro, gawekeun desain jeung dummy- na ku maneh " (Moro, kerjakan desain dan dummy -nya sama kamu), tandas Harry Roesli. Sejak itu Moro ditemani Rahadian P. Paramita mulai bekerja dan saya mulai menulis seperti yang diminta almarhum. Selang sekira tiga bulan kem...
Pe rkara Rupa Kekinian atau Kontemporer Catatan: Herry Dim Di tengah pengerjaan tulisan ini, muncul kiriman foto lukisan “Rumah-rumah Berasap #1” dari pelukisnya, Eddy Hermanto, melalui jejaring bukuwajah ( facebook ). Lukisan cat minyak di atas kanvas ukuran 200 X 200 cm bertarikh 2010 tersebut, memperlihatkan pola atau tata-susun piktoral primitif, gambaran rumah-rumah serta benda-benda lain tampak tanpa perspektif, tanpa dimensi keruangan dari cara pandang yang berasal dari satu titik pusat pandang; melainkan bertumpuk, rasa dimensi dan keruangan dihadirkan dengan cara pola susun dari bawah ke atas, rumah-rumah atau benda-benda jauh sama dekatnya dengan rumah-rumah atau benda-benda yang lebih dekat ke jarak si penglihat atau pun pelukisnya. Tapi ajaibnya, efek pengolahan bidang dari tumpukan tersebut, penghadiran hal-hal yang bersifat ornamentik, munculnya elemen garis-garis vertikal hitam putih, serta perwarnaannya sungguh mengesankan teknik perupaan yang sangat modern. Ba...